Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Sepasang mata


__ADS_3

Jay baru saja sampai di apartemen nya setelah menginap beberapa hari di klinik karena kesehatan tya yang kurang baik. Setelah pertengkaran ditengah jalan yang berakibat fatal pada janin mereka, juga karena mendengar kabar buruk dari sang sahabat kalau saat ini tengah terbaring lemah di rumah sakit.


Tya merengek meminta nya mengantar ke rumah sakit mengunjungi ane. Namun jay tak mengijinkan nya dan tak mau mengantarnya, bukan tanpa alasan tapi karena kondisi kesehatan tya yang harus istirahat setelah kejadian saat itu.


" Sayang, please! Aku ingin melihat keadaan ane."


" Tidak."


"Hem, please."


Mata tya berkaca- kaca mendapat penolakan dari jay, setidaknya membuat jay menghela nafas panjang.


"Sayang, aku tak ingin kau kecapekan dan juga kehilangan ini."


Ucap jay menarik tya ke dalam pangkuan nya juga menyentuh pelan perut tya.


"Aku tak ingin membuat kesalahan yang sama. Kau mengerti!! Aku ingin ibu dan calon anak ku sehat."


Seketika tya memeluk jay dengan mata- mata yang berkaca- kaca bahkan tak terasa jatuh bulir- bulir air mata pun jatuh juga.


" Kau sudah tak marah lagi?"


"Hah..., tidak sayang. Sudahlah, jangan bahas lagi! Aku akan menjadi seorang ayah yang buruk jika terjadi sesuatu dengan janin ini."


"Maafkan aku. Aku yang salah, dan aku janji mulai sekarang akan menerima pernikahan ini."


Ucap tya.


"Memang nya kenapa dengan pernikahan kita? Apa ada yang salah? Aku menyukaimu saat kali pertama melihatmu."


Ucap jay memainkan rambut tya disela- dela wajahnya.


"Tidak ada, aku yang keterlaluan. Sebenarnya aku juga menyukaimu."


"Lalu...?'


"Hihihi...., mungkin karena rumor yang beredar membuat ku jadi illfeel."


Tya menunduk malu mengakui semua nya.


"Hah..., kenapa kau tidak mencari tahu terlebih dahulu?"


"Hihihi."


Jay menghela nafasnya seakan paham apa yang di maksud istrinya.


"Eh..., tunggu dulu. Kau menyukaiku saat kali pertama bertemu? Apa yang kau sukai dari ku? Aku tidak secantik para idolamu."


Ucap tya seakan memikirkan ucapan jay.


"Aku juga tidak sepandai ane, juga tak se langsing atau se sexy mereka."


Jay menghela nafas nya mendengar pernyataan istrinya.


"Sayang, setiap orang punya selera sendiri, dan juga punya idaman sendiri. Tak semua orang itu sama ."


"Lalu ..., apa yang kau sukai dariku?


"Ini..., ini..., dan ini."


Jay menyentuh bagian tubuh tya dan juga mengedipkan sebelah matanya pada tya hingga membuat tya mengerutkan dahinya.


"Semua itu punya kesan sexy tersendiri, paham?"


"Tidak."


Jawab tya menggelengkan kepalanya.


"Sudahlah, kau memang tidak mengerti laki- laki."


"Hem..., entah?"

__ADS_1


Jay menggendong tya ke tempat tidur tak membiarkan nya mengerjakan pekerjaan rumah atau pun sekedar turun dari tempat tidur. Setelah kejadian kemarin, dokter memang menyuruh tya istirahat total.


"Sayang, aku sudah menyuruh mama datang untuk menjaga mu beberapa hari."


"Ingat, jangan bandel!"


"Hem..., tapi aku tak ingin kau pergi."


Tya secara tiba- tiba merajuk tak ingin ditinggalkan.


"Sayang..., sayang..., jay..., tya."


Suara dian membuat keduanya menatap satu sama lain juga menatap ke arah pintu.


"Mama...?"


"Mama...?"


"Sayang kamu ngasih kunci rumah ke mama?"


"Hihihi..., maaf sayang. Aku lupa ganti sandi."


Jawab jay tersenyum nyengir menggaruk kepalanya meskipun tak gatal.


"Sayang..., kalian disini? Mantu mama..., gimana keadaan mu?"


"Jay...,kau tidak menjaga mantu mama dengan baik?"


Keduanya saling berpandangan bahkan tak bisa berkata apa pun dengan pertanyaan mana dina yang penuh selidik.


"Tidak, ma. Tya hanya kecapekan."


Ucap tya tak ingin membahas apa yang sebenarnya terjadi.


"Nah..., benar kan? Kamu ini ngeyel. Mama kan sudah bilang untuk tidak mengemudi sendiri, ini akibatnya."


Ucap dina.


"Hah..., iyalah. Semua salah jay, titip tya ya ma. Jay ada sedikit urusan mendesak."


"Ya..., baiklah. Mama akan menjaganya dengan baik."


"Sayang... ."


Entah kenapa tya secara tiba- tiba berubah manja tak ingin ditinggalkan.


"Hah."


Jay hanya mampu menghela nafasnya mendekati istrinya, sedangkan mana dina terharu dengan sikap manja tya yang disambut hangat putranya.


"Sayang..., aku harus menyelesaikan pekerjaan ini atau aku akan lebih lama berada di luar rumah jika tak segera menyelesaikan nya."


Ucap jay mengusap pelan wajah tya lalu mencium kening nya.


"Kau ingin aku menemanimu kan?"


Tya mengangguk pelan menatatap nanar wajah suaminya. Meskipun memaksa tapi tetap saja jay harus pergi.


"Setelah masalah ini, aku akan banyak waktu menemanimu."


"Ya..., baiklah. Tapi kau harus janji cepat kembali."


"Iya, sayang."


Jay mengiyakan permintaan istrinya setelah mengecup kedua pipi gembul tya, jay meninggalkan kamar milik mereka.


"Ma, titip istri jay ya ma."


Ucap jay.


" Iya, sayang. Jangan khawatir, mama akan menjaga mantu dan calon cucu mama."

__ADS_1


Mama dina mencoba menenangkan putranya tak ingin membuatnya khawatir.


"Sayang, apa kau menginginkan sesuatu?"


"Tidak, ma. Tya sedikit mengantuk hanya ingin tidur."


"Baiklah...,tidurlah! Mama akan menemanimu menceritakan kisah jay sewaktu kecil."


Tya mengangguk pelan tersenyum memeluk dina meskipun buksn mama kandung nya, dina memperlakukan nya seperti putri kandung nya.


Di rumah sakit.


Setelah menyelesaikan admistrasi, bryan berjakan menuju kamar nya dimana sang mama mertua berkemas merapikan barang- barang mereka.


"Ma..., sudah selesa yai? Ada yang perlu ian bantu? Harusnya mama nggak perlu datang sepagi ini. Ian jadi merepotkan mama."


Ucap ian saat memasuki kamar ruang rawat ane dimana semua barang sudah tertata rapi.


"Tidak, nak. Mama tidak merasa di repotkan. Sudah semua nya, kau sudah menyelesaikan adimistrasinya?"


"Sudah, ma. Tinggal menunggu sopir saja."


"Kau sudah memberitahu orang tua mu kalau ane pulang hari ini?"


" Sudah, ma. Ian sudah mengirim pesan untuk tidak datang ke rumah sakit. Mama berniat kesini, tapi ian bilang tidak perlu. Biar datang ke rumah saja."


"Hem..., ine pasti bersedih kau tak mengijinkan kesini.'


"Tidak, ma. Ian menyuruh mama datang ke rumah saja, agar tak saling menunggu membuang waktu."


" Benar juga."


"Ma..., pulang sekarang!"


Ucap ian yang melihat dopir dan beberapa bodyguard datang didepan pintu .


"Iya, baiklah."


Bryan mendorong kursi roda ane sedangkan della mengikuti mereka dari samping, dan para bodyguard membawa barang- barang tuan dan nyonya mereka.


"Ian..., hasil tes sudah keluar?"


" Belum, ma. Tapi akan keluar lusa."


"Apa kau yakin gadis itu tidak akan melakukan sesuatu?"


"Tidak. Tapi..., mama tenang saja! Ian sudah menemukan cara lain melumpuhkan nya."


"Baiklah, mama percaya padamu."


Mereka berjalan menuju lobby rumah sakit dimana beberapa orang telah siap menyambut mereka juga menjaga keamanan nyonya mereka sesuai perintah bryan.


"Hah..., banyak sekali bodyguard yang bryan sewa. Apa tak terlalu boros?"


"Tidak, ma. Semua demi keamanan istri ian, dan ian tak ingin terjadi sesuatu lagi padanya."


Della sangat terharu mata berkaca- kaca mendengar jawaban menantunya itu.


"Apa mama merasa risih dengan mereka? Bryan akan menyuruh mereka agak menjauh."


"Tidak..., tidak nak. Mama tidak masalah, lagipula kau melakukan hal yang tepat untuk istrimu."


Ucap della menepuk bahu bryan beberapa kali.


"Mama merasa beruntung memiliki menantu sepertimu yang sangat sayang dan sangat peduli pada ane. Ternyata benar kau jodoh masa kecil ane."


"Mama bisa saja."


Tanpa mereka sadari sebuah pasang mata tengah mengawasi mereka, baik dari ruang rawat ane maupun selama perjalanan menuju lobby rumah sakit.


"Brengsek!!"

__ADS_1


Bersambung🙏😊


__ADS_2