Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Penculikan jack


__ADS_3

Tak ingin membuang waktu, jack mengambil safa yang tengah tertidur dan juga membawa perlengkapan safa.


Bi inah terkejut melihat jack yang membawa baby safa beserta perlengkapan nya. Dan juga susu formula yang biasa diberikan pada safa.


"Den..., mau kemana?"


Ucap bi inah sedikit khawatir karena tak biasanya jack membawa pergi putrinya sendirian. Kalau bepergian stela selalu menemani mereka tak ingin terjadi sesuatu dengan bayi yang baru betapa bulan itu.


"Mau keluar sebentar, bi. Kasihan safa di dalam rumah terus."


"Apa nggak sebaiknya nunggu non dulu, den? Mungkin sebentar lagi pulang."


Ucap bi inah merasa sedikit khawatir.


"Tidak, bi. Stela mungkin agak lama dan saya mungkin sudah kembali."


Ucap jack meyakinkan bi inah.


"Oh begitu, baiklah den. Tapi..., hati- hati ya den! Bibi khawatir baby safa nenangis."


"Jangan khawatir, bi! Jack akan segera membawa pulang baby safa kalau menangis."


"Jack pergi dulu, bi."


"Iya, den. Baby safa jangan nakal sama papa ya!"


Safa bocah bayi itu seakan mengerti yang dikatakan bi inah hanya tersenyum mekebarkan pipi gembulnya.


Bi inah tak merasa curiga dengan kepergian jack yang beralasan mengajak safa menghirup udara segar di luar rumah. Namun saat tepat berada di depan lift yang tak sengaja dan juga tak disadari jack kalau bi inah masih memperhatikan nya mendengar teriakan jack.


"Apa- apaan ini? Siapa kalian? Lepaskan!"


Bi inah yang semula akan menutup pintu bergegas berlari ke arah lift berada. Namun sayang nya pintu lift sudah tertutup kembali.


Karena kekhawatiran nya pada baby safa, bi inah menelepon stela yang entah pergi kemana.


"Halo..., non."


"Den jack membawa baby safa keluar rumah, non."


"Entahlah."


"Tapi..., bibi khawatir terjadi sesuatu dengan baby safa dan den jack. Bibi tak sengaja mendengar suara teriakan den jack di depan pintu lift "


"Baiklah, non. Hati- hati di jalan!"


Bi inah tak berhenti berjalan mondar mandir tak tentu arah merasa khawatir dengan apa yang baru saja di dengar nya.


Sedangkan jack yang berada di lift tak bisa berkutik saat dua orang yang di curigainya menodongkan senjata tajam padanya. Jack sebenarnya bisa melawan keduanya namun karena sedang membawa baby safa, jack memilih diam demi keselamatan putrinya.


"Siapa orang ini?"


Gumam jack dalam hati.


" Aku salah telah menyepelekan mereka. Seharusnya aku mengikuti saran kedua security itu."


"Brengsek!!"


"Jika ini berhubungan dengan mu, aku pastikan akan membuatmu menyesal."


Kedua orang itu membawa jack dan safa berjalan menuju arah mobil mereka, tak membiarkan jack berbicara sedikit pun karena memang mereka menutup mulut jack dengan lakban dan mengikat kedua tangan jack. Dua orang security gedung yang sengaja mengintai ketika akan menyergap mereka tak menyangka kalau mereka bergerak cepat dengan menyandra jack sebagai tawanan.


Ketika mereka akan membantu jack, kedua orang itu menyadari adanya kehadiran securiry gedung lalu membalikkan badan nya memperlihatkan senjata tajam yang saat ini digunakan menyandra jack.


"Jangan mendekat! Atau orang ini tidak akan selamat."


Keduanya tak menyangka akan mendapat perlawanan hingga memghentikan langkah mereka. Jack menatap pada security tersebut lalu menggeleng pelan karena tak ingin terjadi sesuatu dengan putri kecilnya.


Setelah kedua orang itu pergi dengan menyandra jack dan juga putrinya, kedua security tersebut melaporkan kejadian itu pada pihak yang berwajib berbekal rekaman cctv yang ada di gedung tersebut.


Tak berapa lama stela datang bersama ine yang khawatir dengan kondisi jack maupun safa namun security yang berjaga di lobby gedung tersebut menghentikan langkah stela karena ingin memberitahu kalau suaminya telah di sandra atau bisa dikatakan telah di culik


"Bu stela, tunggu bu!"

__ADS_1


"Ada apa pak? Apa ada yang penting? Saya sedang terburu- buru."


"Iya, bu. Ini sangat penting. Silahkan ibu ikut kami!"


Ucap security tersebut.


"Dan ibu ini?"


"Saya ine, mamanya jack."


"Oh kebetulan sekali. Silahkan ikut kami sebentar!"


"Ma... ."


Sebenarnya stela merasa khawatir setelah menerima telepon bi inah, namun petugas security menghentikan langkahnya.


Ine mengangguk pelan menepuk punggung tangan stela menenangkan menantunya.


"Begini bu..., anggota kami tak sengaja melihat suami ibu yakni pak jack menjadi sandera kedua orang yang tak dikenal."


"Apaa..., sandera? Maksud bapak?"


Mereka lalu memperlihatkan potongan cctv kamera yang kebetulan ada disudut gedung basement dimana tempat parkir tetap bagi penghuni gedung.


"Lihatlah, bu!"


"Pak jack sempat mencari kami memastikan kedua orang itu bukan penghuni gedung ini. Kami terus memantau pergerakan keduanya sampai akhirnya anggota kami memergoki pak jack dan juga putri ibu dibawa oleh kedua orang tersebut."


"Apaa... ."


Stela terkejut tak kuasa menahan syok hingga terkulai lemas di lantai.


"Eh ..., eh..., stel."


Ine tak kuasa menahan beban tubuh stela yang tiba- tiba lemas hingga jatuh ke lantai. Ine pun meminta tolong pada security membantunya membawa stela ke apartemen mereka.


Ting tong....


"Non..., eh nyonya besar. Hah..., apa yang terjadi dengan non stela, nyonya?"


"Bi..., siapkan air mengompres stela! Dan juga minyak angin."


" Baik, nyonya."


"Terima kasih, pak. Lalu..., bagaimana dengan jack dan juga cucu saya?"


"Anggota kami sudah berusaha menolong mereka dan gagal karena rupanya mereka membawa senjata tajam, bu."


"Apaa..., senjata tajam?"


"Benar. Tapi ibu jangan khawatir! Kami sudah melaporkan kejadian ini pada pihak yang berwajib dengan bukti cctv kamera yang ada."


"Syukurlah. Terima kasih, pak."


"Sama- sama, bu. Kami permisi dulu."


"Iya, silahkan."


Setelahnya baik ine mau pun bi inah mencoba membuat kesadaran stela kembali normal dengan beberapa usaha pertolongan pertama.


"Apa yang terjadi dengan non stela, nya?"


"Stela pingsan setelah mendengar security memberitahu ada yang menculik jack dan safa."


"Apaa..., jadi tadi aden di culik?"


"Apa maksud bibi?"


"Aden bilang akan mengajak non safa keluar jalan- jalan, nya. Tapi saat di depan pintu lift, aden sempat berteriak 'Lepaskan!', bibi berlari berniat melihat aden tetapi lift sudah berjalan turun ke bawah. Makanya bibi telepon non stela."


"Apaa...., jadi jack memang diculik."


" Aduh..., bagaimana dengan non safa, nya?"

__ADS_1


"Entahlah, bi. Kita berdoa saja."


Ine tampak menghubungi seseorang yang entah siapa namun tampak nya sambungan telepon yang dituju tak menjawab telepon darinya.


"Kemana sih papa ini? Kenapa tidak menjawab telepon?"


"Telepon Ian dan rafa juga sibuk."


"Pada siapa aku harus meminta bantuan?"


"Aduh..., bagaimana ini?"


"Apa aku hubungi besan saja?"


"Iya, benar. Setidaknya mereka bisa menemani stela, sementara aku akan ke kantor polisi."


Belum sempat ine memencet tombol nomor telepon besan nya, ine samar- samar mendengar rintihan stela.


" Ma..., safa mana?"


"Stela..., kau sudah sadar nak. Tenanglah! Pihak yang berwajib sudah menangani semuanya."


Tangis stela pecah saat mendengar penuturan mama mertua nya itu.


" Mama akan menelepon ibumu untuk menemani mu, sementara ma akan ke kantor polisi."


Ucap ine.


"Stela ikut, ma."


"Tidak, nak. Kondisi mu sedang tidak baik, dirumah saja ya."


"Tidak, ma. Stela harus mencari safa, ma. Stela tak bisa hidup tanpa safa, ma."


"Tapi stel."


Melihat mata nanar sang menantu, ine tak tega menolak keinginan nya.


"Baiklah."


Dengan kondisi yang masih syok, stela berusaha kuat dan tegar demi bisa ikut ke kantor polisi dengan mama ine.


"Stela..., kau yakin ikut mama?"


"Iya, ma. Stela tak ingin berdiam diri tanpa berusaha, ma."


"Baiklah, kalau begitu."


Ine terpaksa mengajak menantunya karena stela bersikeras ikut dengan nya, meskipun kondisi stela sedang tidak baik- baik saja.


Di dalam perjalanan menuju kantor polisi, ine mencoba menelepon suaminya namun ponsel mahendra off setelah beberapa saat yang lalu masih bisa dihubungi membuat ine sedikit curiga.


"Kenapa ponsel papa tidak aktif?"


Gumam ine dalam hati.


Ine mencoba menelepon kedua putranya baik ian maupun rafa untuk membantunya mencari dimana keberadaan jack dan safa.


"Ian..., kemana saja? Kenapa ponsel mu sibuk?"


"Mama sangat khawatir dengan kakak mu apalagi baby safa."


"Kakak mu di culik orang."


"Entahlah? Mama tak mengenal orang itu. Security memergoki mereka membawa jack dan juga baby safa."


"Mama dalam perjalanan ke kantor polisi dengan kakak iparmu."


"Baiklah, mama tunggu."


" Beritahu rafa juga!"


Ine merasa sedikit lega setelah ian mengangkat sambungan telepon darinya. Sementara stela hanya diam membisu tak bisa berpikir apapun, pikiran nya melayang memikirkan putrinya.

__ADS_1


Bersambung🙏😊


__ADS_2