Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Mencintai karena Allah


__ADS_3

Kevin menyibakkan tirai hijau yang semula menutup area Khaira mendapatkan perawatan di ruang rawat inap yang memang banyak orang. Beda dengan ruang rawat inap kelas satu.


Namun pada saat Kevin mengedarkan pandangannya kepada salah seorang pasien yang masih terjaga ia mendapatkan acungan jempol dari seorang pasien wanita setengah baya yang berbaring di atas brankar.


Ia heran dan berdehem ringan, mengapa dengan Ibu-ibu itu. Kenapa ia diacungi jempol. Takut ada yang salah, Kevin celingukan, dan bukan hanya si Ibu pasien yang mengacungkan jempol.


Akan tetapi juga beberapa dari pasien dan keluarga pasien yang menjaga sedang menatapnya, ia menoleh kearah Khaira yang sedang menatapnya, dan mendapatkan kode dari istrinya itu. Seolah bertanya; (ada apa?)


Kevin menggidik pundaknya, seolah menjawab; (nggak tau)


Tak ada yang bisa Khaira lakukan selain berbaring dan memandangi tirai hijau tua yang menjadi sekat antara brankar satu ke brankar pasien lain. Karena tubuhnya terlalu lemah seperti tak bertenaga, mungkin dikarenakan obat yang disuntikkan oleh Dokter.


"Saya rasa kamu pria yang baik," ucap seorang Ibu pasien yang posisi brankarnya tepat dihadapan brankar pasien baru rawat.


Kevin celingusan ke kanan dan ke kiri. Namun Ibu yang sedang berbaring di brankar hanya menatapnya seorang, "Ibu bicara sama saya?"


Seorang pria setengah baya yang sedang duduk di samping brangkar lantas berkata, "Kadang seorang pria jika mendengar pasangannya, entah itu pacar ataupun istrinya mengomel pasti sukar di dengar, benarkan Umi," tanyanya pada sang istri.


"Saya bernama Sutini. Dan ini suami saya Marzuki," kata Bu Sutini mengenalkan diri dan mengenalkan juga nama suami yang duduk disebelahnya.


Seulas senyuman kecil menyungging di wajah Pak Marzuki yang sudah mengeriput.


"Bapak sudah yang mau menemani hidup saya. Meskipun saya sering ngomel-ngomel bahkan tanpa saya sadari mungkin saja sudah membuat Bapak jengkel. Tapi suami saya hanya diam atau kalau memang Bapak nggak mau mendengarkan saya mengomel, ya paling di peluk, atau Bapak pergi sejenak dari rumah guna menenangkan diri." kata Bu Sutini menjelaskan bahwa pertengkaran juga menjadi bumbu penyedap rumah tangga.


"Lha habis saya mau bagaimana lagi. Kasihan Ibu sudah mengurus anak-anak dan rumah, yah wajar saja kalau Ibu capek terus ngomel-ngomel apalagi kalau sampai saya narik ojek pulangnya nggak bawa uang, sedangkan semua bahan pokok makanan semakin mahal, ditambah lagi kalau anak minta jajan Ibu lagi nggak pegang uang." jelas Pak Marzuki tentang alasannya yang hanya diam saja, pada saat istrinya itu ngot-ngotan, alias garang.


"Iya, walaupun setiap hari bertengkar dan adu jotos. Tapi nyatanya anaknya banyak. Kayak Mamak ku," jawab seorang wanita yang masih terlihat muda.


"Waduh jangan sampai adu jotos dong Safitri! itu mah sudah masuk kasus kdrt," kata Bapak-bapak yang menunggu pasien tepat di sebelah brankar pasien baru masuk.


"Itu kan peribahasanya Bu Faridah." kata wanita muda bernama Safitri.


Khaira hanya bisa mendengarkan pembicaraan dari balik tirai hijau, pembicaraan di antara para pasien dan juga sepertinya kerabat yang sedang menemani kerabat yang sedang sakit.

__ADS_1


Perbincangan diantara pasien serta kerabat yang sedang menunggu pasien pun, nampaknya terlihat akrab di netra Kevin. Ia seolah mendapat petuah bijak berupa nasehat-nasehat kehidupan, dan asmara dari Bapak juga Ibu pasien yang berada di depan brankar Khaira.


Ibu yang terlihat berumur cukup tua itupun, memberikan contoh sebuah hadits Rasulullah.


"Rasulullah SAW bersabda;


["Siapa yang mencintai seseorang karena Allah. Kemudian seseorang yang dicintainya berkata, "Aku juga mencintaimu karena Allah." Maka keduanya akan masuk surga. Orang yang lebih besar cintanya akan lebih tinggi derajatnya daripada yang lain. Ia akan di gabungkan dengan orang-orang yang mencintai karena Allah."] (HR. Al-Bazaar) .


“Ada juga hadits tentang kehidupan,” ujar Pak Marzuki menyambungi hadis yang diucapkan oleh sang istri. Lalu memberikan sebuah contoh hadist tentang kehidupan, "Sabar kunci keberhasilan. [Sesungguhnya Allah menjadikan sabar sebagai kuda tunggangan yang tak kenal lelah, pedang yang tak pernah tumpul, prajurit yang pantang menyerah, benteng yang kokoh yang tak bisa dihancurkan dan ditembus. Sabar merupakan saudara kandung kemenangan. Di mana ada kesabaran, di situ ada kemenangan." {Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. Uddatus Shabirin}


Kevin manggut-manggut mendengar penjelasan hadits yang sedang diterangkan oleh Bu Sutini dan Pak Marzuki. Kevin duduk di ujung brankar persisnya di samping kaki Khaira. Tangannya secara refleks juga memijat kaki istrinya.


Khaira terkejut atas yang dilakukan Kevin, ia menatap kakinya yang ditutupi selimut bermotif loreng-loreng sedang dipijat Kevin. Ia menggerakkan kakinya, namun mengapa tangannya yang sakit. Mungkin karena lukanya dalam.


Kevin menoleh kearah Khaira, ia mengangkat bahunya seolah bertanya; (Ada apa?)


Khaira membulatkan matanya melirik tangan Kevin yang sedang bertumpu di kaki yang tertutupi selimut.


Diikutilah arah pandang netra Khaira, Kevin menyadari bahwa ia sedang memijit kaki Khaira. Kevin juga memberikan kode berupa lirikan mata kepada Khaira kearah Bapak Marzuki yang sedang memijit kaki Bu Sutini.


Namun Kevin berkata dengan sangat lirih, "Udah diam bae!" Kevin kembali memijit kaki Khaira tanpa memperdulikan apa pendapat Khaira yang tetap memijit. Ia melihat Pak Marzuki.


"Emm, Bapak Marzuki, adakah tentang hadits, untuk seseorang bisa jatuh cinta, kepada saya?” kata Kevin bertanya tentang salah satu hadits cinta, dan melirik Khaira.


Khaira geleng-geleng dibuatnya, apa lagi ini?


"Mau buat siapa Mas? Nih yah, walaupun Mas Kevin ini nggak tahu soal hadist, apa tadi? Oh, ya, hadist tentang orang yang bisa memberi cinta, tapi aku yakin banyak gadis-gadis cantik aduhai yang sedang mengejar cinta Mas Kevin," kata Khaira, menurut pemikirannya.


"Bagaimana kalau hadist itu buat kamu?" balas Kevin spontan.


Khaira dibuat salah tingkah atas ucapan Kevin, ia membuang tatapannya ke arah tirai samping brankar, "Seneng banget, tebar pesona!" nyinyir Khaira, lirih.


Pak Marzuki dan Bu Sutini mengulum senyum, melihat pertikaian diantara kaum muda di depan brankarnya. Mengingatkan keduanya saat-saat seperti itu.

__ADS_1


Begitu juga hampir semua yang berada di ruang rawat inap yang masih terjaga di jam sebelas lebih dua puluh menit, ikut tersenyum mendengar pertikaian kecil diantara pasien Khaira dan Kevin.


Yang ibarat kata banyak wanita-wanita cantik nan aduhai mengemis cinta dari Pria yang memakai Hoodie hitam bermotif motor sport di bagian sakunya.


"Bilang aja, kamu takut kan jatuh cinta sama aku?" bisik Kevin lirih.


Khaira terdiam, melirik Kevin dengan tatapan tajam.


"Ada, ada kok hadist tentang cinta,” kata salah seorang, yang sedang menunggu pasien lain, tepat di sebelah brankar Khaira.


Bu Sutini lantas memberikan contoh, sebuah hadits lagi tentang cinta, " Dari Rasulullah Saw bersabda dalam satu doanya; "Ya Allah, berilah aku rezeki cinta-Mu dan cinta orang yang bermanfaat buatku cintanya disisi-Mu. Ya Allah, segala yang Engkau rezekikan untukku di antara yang aku cintai, jadikanlah itu sebagai kekuatanku untuk mendapatkan yang Engkau cintai, Ya Allah, apa yang Engkau singkirkan diantara sesuatu yang aku cintai, jadikan itu kebebasan untukku dalam segala hal yang Engkau cintai" ( HR. At-Tirmidzi)


Pak Marzuki mengembangkan senyum kepada wanita yang sudah menemani hidupnya cukup lama, hingga hari ini. Istri yang nampak sangat Beliau cintai, menjalankan operasi transplantasi ginjal. Istri tercintanya yang ia kenal lewat Ta'aruf Cinta.


"Tuh, denger nggak kamu? Begitu-tu, kalau seseorang saling mencintai, terasa begitu adem seperti di Kutub Utara,” ucap Kevin, seraya menekan tangannya cukup keras di kaki Khaira.


"Hmm.. itu mah malah jadi beku!” jawab Khaira sekenanya.


"Ya nggak papa, asal bekunya di hatiku saja!” cetus Kevin menatap Khaira dengan mengerlingkan matanya.


"Bisa ae, kang gombal!” cibirnya sinis. Khaira merasa, Kevin sedang mengeluarkan jurus playboy'nya. Dengan sedikit-sedikit berkata-kata manis, sehabis itu anyep di buang.


Khaira merasa tidak kuat dengan tatapan mata Kevin yang seperti busur panah, ia lebih memilih mengalihkan pandangannya.


"Oh, ya, kamu menamai ku, di kontak panggilan ponselmu dengan sebutan apa?" Kevin penasaran dengan nama kontaknya di ponsel Khaira.


"Bukan apa-apa,” balas Khaira spontanitas, tanpa melihat seseorang yang sedang bertanya.


Akhirnya karena tidak mau menjawab, Kevin pun langsung mengambil tas selempang milik Khaira yang berada di atas meja samping brankar, dan merogoh kedalam tas, lalu mengeluarkan ponsel yang sudah retak dibagian layarnya.



__ADS_1


Bersambung


__ADS_2