Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Tahun gajah


__ADS_3

Di sebuah Cafe Prince, Kevin sedang menemui seorang gadis yang sudah dianggapnya sebagai adik.


"Ada apa Clara, kenapa wajah lo murung?" Kevin bertanya karena semenjak Clara datang gadis itu hanya diam seraya menunduk.


Clara mengangkat wajahnya, ditatapnya pria menawan yang ada didepannya, "Gue benci menjalani hidup gue ini, Vin,"


Berulang kali Kevin sudah mengingatkan Clara untuk memanggil dengan sebutan Kakak, namun gadis itu bersikeras memanggilnya hanya dengan nama, tapi ya sudahlah mungkin hanya dengan nama saja membuat Clara nyaman.


"Lo nggak boleh berkata begitu, lo lebih beruntung dari orang-orang yang hidupnya di jalanan, Clara," ucapnya.


Seperti biasanya, pada saat Clara curhat dengan pria didepannya membuatnya nyaman dengan kata-kata bijak Kevin yang selalu menentramkan hati.


"Tapi Vin, gue selalu merasa sendiri. Gue ngerasa Papa sama Mama nggak sayang sama gue. Papa sibuk, Mama apa lagi, bahkan sebulan ini Mama nggak menghubungi gue," ujar Clara mencurahkan segala permasalahan dihidupnya. Entah mengapa ia merasa sangat nyaman setelah curhat dengan Kevin.


"Mereka kerja kan buat lo Clara, semua orang tua ingin anaknya bahagia dan serba kecukupan. Maka dari itulah Om Erik sama Tante Margaretha sibuk, mereka capek kerja ya buat lo," tukas Kevin.


Ditatapnya wajah Kevin dengan seksama, rasanya Clara ingin mengungkapkan perasaan cintanya kepada Kevin. Rasanya ingin memeluk Kevin erat.


Namun, Clara teringat pada saat satu tahun lalu, ketika mengungkapkan cintanya kepada Kevin. Pria didepannya malah menganggapnya bercanda.


"Vin-" kata Clara ragu-ragu.


"Hem," balas Kevin hanya berdehem, karena ia sedang menyeruput coffeenya.


Degup jantungnya bertalu-talu, Clara menatap bola mata cokelat Kevin, ia ragu untuk mengatakan maksud dari hatinya.


Melihat keragu-raguan Clara membuat Kevin bertanya, "Ada apa Clara? Bicara aja,"


"Eemm... Kalau gue membuat kesalahan ke elo, lo mau maafin gue nggak?" ungkap Clara, tak berani menatap lawan bicaranya.


Kevin tak mengerti kesalahan apa yang dimaksud Clara, ia diam mengamati gadis yang terlihat imut di depannya, "Gue rasa lo nggak pernah membuat kesalahan ke gue, jadi apa yang harus dimaafin?"


Clara mengangkat wajahnya yang semula menunduk, "Kalau semisal kesalahan di masa mendatang?"

__ADS_1


Kevin mengangkat kedua bahunya, "Ya gue lihat dulu kesalahan lo apa? Kalau sampai parah, terus kalah sampai merugikan orang lain. Ya gue perhitungkan lagi buat maafin lo apa nggak,"


Clara tercengang mendengar jawaban Kevin, ia tak berani bersitatap dengan Kevin, rasa mual kembali menyeruak, namun sebisanya Clara tahan.


Kevin melihat jam dipergelangan tangannya, "Clara, gue cabut dulu." ujarnya, melihat Clara menunduk.


"Memangnya lo mau kemana Vin? Kan belum saatnya lo ke diskotek?" selidik Clara.


Kevin beranjak dari duduknya, "Emmm gue ada urusan?"


"Mau jemput cewek?" tanya Clara spontan.


Kening Kevin mengerut, "Dari mana lo tahu?"


Deg... Clara mengerjap-ngerjapkan matanya, ia sepertinya sudah keceplosan bicara, "Emmm gu-gue cuma asal menduga aja,"


Kevin manggut-manggut, ia tersenyum tipis lantas mengusap pucuk kepala Clara, "Wajar kah, kalau Abang lo ini punya cewek baru?"


Mendengar Clara menyebut nama Sonia, Kevin hanya menggidik pundaknya, "Yang jelas bukan Sonia, dilihatnya sekali lagi jam tangan yang ada di tangan kirinya, "Gue pergi, dah Clara."


Clara melihat kepergian Kevin dengan mata berkaca-kaca, ia mengusap pucuk kepala yang semula di acak-acak Kevin, "Gue bukan anak kecil lagi Vin. Gue seorang wanita yang cinta sama lo, dan ingin menjadi wanita satu-satunya yang lo cintai."


~~


Tepat pukul 20:45 wib. Kevin sudah berada di depan restauran tempat Khaira bekerja. Ia menunggu selama kurang lebih lima belas menit. Biasanya tepat pukul 21:00 wib, karyawan akan keluar dari dalam restauran.


Tapi kali ini, belum ada yang keluar sampai jam di pergelangan tangannya hampir menunjukkan pukul 21:30 wib.


Dan orang yang Kevin tunggu-tunggu pun terlihat, gadis itu tidak sendiri keluar dari samping restauran. Khaira bersama Mita dan seorang temannya lagi. Ketiga gadis itu nampak sedang asik membicarakan sesuatu hingga membuat ketiganya tertawa.


Kevin tidak melihat istrinya itu banyak bicara, namun yang ia lihat Khaira hanya sesekali menjawab pertanyaan dan kemudian tertawa kecil bersama sepupu dan seorang teman.


Hingga gadis itu menyadari keberadaannya yang telah rela membuang waktu berharganya selama satu jam lamanya di depan restauran. Kevin berwajah datar menatap Khaira.

__ADS_1


Khaira pun berlari-lari kecil seperti anak kecil menghampiri Kevin dan seperti biasanya, ia akan langsung menjabat tangan Kevin lalu membawanya di antara kedua alisnya.


Persis sama seperti Khaira menjabat tangan Abah ketika baru pulang dari bepergian. Khaira tersenyum sumringah, “Mas Kevin udah lama nunggu?”


Kevin memberikan helm kepada Khaira, “Udah dari tahun gajah!”


Khaira terkekeh kecil, “Hehehe... Berarti Mas Kevin usianya lebih tua dari Baginda Nabi Muhammad dong, beliau aja lahir bertepatan dengan 12 Rabiul Awal atau 571 Masehi sekitar 1449 tahun lalu. Yang biasanya, umat Islam memperingati kelahiran Rasulullah dengan nama Maulid Nabi. Dalam khazanah Islam, tahun lahir Rasulullah itu juga dikenal dengan istilah Tahun Gajah,”


Kevin mengangkat kedua alisnya, orang tua seperti apa yang sudah mengajarkan anaknya sampai mengakar di dalam ingatan kelahiran Baginda Rasulullah? Dan begitu getolnya Khaira menjelaskannya.


Kevin menganggukkan kepalanya, ia tidak jadi melayangkan protes karena sudah menunggu terlalu lama, ia senang mendengarkan penjelasan Khaira, namun tetap bersikap dingin.“Ya ya, apa yang lo uraikan emang bener. Ya udah ayo jalan, gue udah telat kerja!”


Khaira segera membonceng seperti anak kecil, ia melambaikan tangannya kearah Mita dan seorang rekan kerjanya yang bernama Silla, “Dah Mita! Dah Silla!”


Mita membalasnya hanya dengan anggukan kecil, beda dengan Silla ia melambaikan tangannya bukan pada Khaira tapi lebih kepada pria yang membonceng Khaira.


“Da-dah!” seru Silla.


Kevin melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, namun tidak membuat Khaira memeluknya. Gadis itu justru mendekapkan kedua tangannya di depan dada. Seolah Khaira santai saja dengan laju motor dengan kecepatan tinggi.


Melihat wajah Khaira dari spion motor membuat Kevin tidak tega, ia lalu memperlambat laju motornya. “Kenapa dia selalu membuat gue kagak tega'an. Ada apa dengan raut wajah itu? Bahkan seolah gue kagak bisa marah.” monolognya dalam hati.


Selama empat puluh menit akhirnya motor yang dilajukan Kevin pun berhenti di depan rumahnya.


Khaira segera turun dari boncengan, “Makasih Mas Kevin, makasih karena udah jemput aku. Lain kali tulis aja alamat rumah mu. Seterusnya kamu nggak perlu jemput atau nganterin aku kerja. Aku kan bisa naik angkot,”


“Siapa? Siapa yang ngijinin lo berangkat atau pulang kerja pakai angkot? Siapa?” bentak Kevin dengan rentetan pertanyaan yang membuat nada suaranya menegas.




Bersambung

__ADS_1


__ADS_2