
“Kenapa jadi bahas gue!” kesal Brian, “tadi lo belum selesai ceritanya, soalnya saat ini pihak dari kepolisian sedang mencari informasi mengenai gembong narkoba. Dan mungkin saja berikutnya Babon,”
“Baguslah!” celetuk Kevin.
“Kenapa lo nggak kerjasama dengan pihak kepolisian? Untuk mengungkap jaringan narkoba?” entah sudah berapa kalinya kah, Brian mengingatkan Kevin untuk bekerjasama dengan pihak kepolisian guna mengungkap jaringan narkoba.
Kevin berdiri, ia teringat ini sudah waktunya pergi ke diskotik untuk bekerja, “Gue males di tanya ini dan itu. Lagian gue bukan pemakai dan pengedar narkoba, kalau gue kerjasama sama pihak kepolisian, kasihan polisi. Ntar nggak ada yang mereka kerjakan,”
“Anjir lu Vin!” umpat Brian, pada sahabatnya yang memang enggan berurusan dengan pihak kepolisian.
Kevin mengangkat bahunya acuh, sebelum pergi, ia menegak habis capuccino nya. “Lo yang bayar!” ujarnya pada Brian dan melenggang pergi.
Brian melihat kepergian Kevin, ia tahu bahwasanya sahabatnya itu tahan banting , itulah istilah kasarnya. Karena kerap kali melihat Kevin berwajah lebam, bahkan pernah masuk kedalam rumah sakit, karena tertusuk pisau di bagian perut saat berduel dengan begal motor yang terkenal sadis.
~~
Di luar cafe, sebelum kembali ke parkiran mol. Tempat semula ia memarkirkan motornya.
Kevin mengeluarkan ponsel dan menghubungi nomor Khaira. Dengan nama kontak (My Delfi)
Panggilan terhubung namun tidak diangkat, panggilan kedua masih tidak di angkat. Ia menghela nafas, sambil memandangi layar ponselnya, ia melihat jam di layar monitor ponsel, waktu sudah menunjukkan pukul 21:24 wib.
“Mungkin kah dia udah tidur di jam segini?” gumamnya, lalu membuka album foto di ponselnya.
Yang Kevin lihat foto Khaira sedang tertidur pulas, dengan beberapa helai rambut yang sebagkan menutupi wajah. Foto yang di kirimkan Mita saat Khaira menginap di kosan Mita beberapa hari lalu.
Bahkan sampai sekarang ini pun Kevin belum pernah melihat rambut asli istrinya yang ia nikahi secara terpaksa. Karena gadis itu selalu saja memakai hijabnya, kendati di dalam rumah.
Hemm... kata (terpaksa) mengapa sekarang ini seolah menjadi kata (kerelaan).
Kerelaan Kevin kini sudah menikahi Khaira, tinggal menunggu waktu sampai semua yang menyebabkannya terjebak di kampung Rawa Dengklok menjadi semakin jelas.
__ADS_1
Agar perasaannya lega, untuk berkata pada Khaira bahwa ia ingin menikahi gadis itu secara sah di mata hukum negara dan agama.
Ia menyesali perkataanya pada saat itu mengatakan pernikahannya hanyalah formalitas. Karena ketika terjadinya pengrebekan, Kevin syok dan berpikir masih memiliki Sonia. Meskipun belum dapat dipastikan hatinya telah jatuh cinta atau hanya sekedar menghargai gadis bernama Khaira.
Tapi Kevin ingin, Khaira mendapatkan haknya. Hak menjadi wanita yang sepatutnya di hargai dan di hormati. Bukan dikotori, bukan pula di sakiti.
Perpisahan dengan Sonia, Kevin memang tidak mengelak, bahwa ia mensyukurinya.
Karena sebelum Kevin melingkarkan cincin di jari manis wanita penuh dusta itu, Kevin sudah di tunjukkan seperti apa sifat asli wanita bernama lengkap Sonia Saraswati.
Kevin mengeluarkan kotak cincin berwarna hitam dari dalam saku celananya, yang siang tadi diambilnya dari toko perhiasan. Lantas membuka penutupnya, dan melihat cincin yang dipesannya khusus untuk melamar Sonia.
Tapi sekarang rencana itu runtuh sudah. Kevin tidak tahu harus ia apakah cincin ini? Apakah harus di buang saja? Apakah kembali di jual? Hah... tidak mungkin ia sematkan di jari Khaira, karena ia menganggap Sonia dan Khaira adalah dua wanita yang jelas berbeda.
Kevin menadahkan wajahnya menatap langit gelap, seperti biasanya ia seolah disambut oleh bintang yang paling terang diantara bintang-bintang dilangit.
Lalu kembali menatap motornya yang terparkir di pelataran parkiran mol. Niatnya untuk membeli barang keperluan DJ nya ia urungkan. Toh toko yang menjual alat-alat musik sudah tutup.
~~
Khaira mondar-mandir di ruang tengah, bahkan mencoba untuk mengalihkan pikirannya pun seolah percuma. Ia sudah menghubungi Abah dan berbincang riang. Sudah pula menghubungi Asep, namun tetap saja.
Dan juga sudah menghubungi beberapa teman di kampungnya pun tetap sama. Khaira tidak dapat mengalihkan pikirannya untuk tidak berpikir tentang Kevin? Siapa Kevin? Apa pekerjaan pria itu? Apa yang Kevin lakukan setiap malam?
Pantaskah baginya untuk menanyakan itu semua kepada Kevin? Pantaskah ia mencari tahu tentang siapa pria yang ia nikahi secara terpaksa?
Mengapa dengan kata (terpaksa) seolah menjadi belenggu di jiwanya. Khaira duduk di sofa, lalu kembali berdiri, ia mondar-mandir, tidak ingin diam padahal kakinya sudah merasakan pegal.
“Pantaskah kamu Khaira menanyakan semua itu pada Kevin? Sedangkan kamu bukan istri yang sesungguhnya. Seperti yang dia katakan padamu sewaktu dia akan menikahi mu karena terpaksa. Bahwa ia menganggap pernikahan ini hanyalah formalitas saja.” gumamnya seraya menggigit ujung kukunya.
__ADS_1
Rasanya baru beberapa hari yang lalu, Khaira mengatakan bahwa ia ingin melihat Kevin dari sudut pandang yang lain, yang lebih positif.
Tapi kenapa?
Seolah dengan melihat Kevin masuk kedalam kamar disalah satu apartemen mewah dengan di sambut oleh seorang wanita cantik, bukan hanya cantik, tapi juga seksi, sangat seksi putih bersih mulus, seperti ayam lehor. Tidak seperti dirinya yang hanya ayam kampung berwarna kuning langsat, mungkin juga agak kecokelatan seperti kulit sawo matang.
Mengapa hanya dengan melihat itu, seolah mematahkan anggapannya ingin melihat Kevin adalah orang baik!
Hal itu mengingatkan Khaira akan kejadian pada saat ia baru pertama kali datang ke rumah ini. Begitu sangarnya Kevin menyerang secara mendadak.
Khaira takut, ia merasa gelisah. Ia merasa tak nyaman, jika suatu saat Kevin akan menyerangnya lagi? Andai saja ia tahu kota ini? Andai saja ia bisa tinggal bersama dengan Mita. Andai saja ia bisa cari sendiri kos-kosan?
Mengapa di kota ini ia seperti orang yang kehilangan arah, tidak tahu kemana akan melangkah. Tujuannya untuk menghindari Paman Bonar. Malah terjebak dalam pusaran gejolak yang ia tidak tahu harus bagaimana cara mengakhirinya?
Khaira meraba dadanya, apakah kegelisahannya disebabkan karena cemburu? Oh jelas tidak bukan cemburu! Ia memastikan tidak ada kecemburuan dalam hatinya terhadap Kevin. Lalu kenapa ia merasa sangat kesal. Mengapa? Jika ia merasa bukan istri sungguhan Kevin, mengapa ia sangat-sangat kesal.
Seolah baru saja melihat suaminya berselingkuh?
Sampai pada jam dinding ruang tengah menunjukkan pukul 01:20 wib. Barulah Khaira merasa dilanda kantuk, tapi ia tak mau langsung tertidur.
Untuk mengusir rasa khawatir dan gelisahnya, Khaira memutuskan untuk sholat terlebih dahulu sebelum tidur. Bagaimanapun ia tidak boleh merasa cemas secara berlebihan.
“Aku nggak boleh cemas begini, bagaimana pun aku nggak boleh cemas. Allah pasti akan menunjukkan suatu kebenaran padaku. Yah, seperti apa yang Abah katakan, aku harus percaya bahwa jalan yang Allah pilihkan untukku merupakan jalan terbaik untuk aku bisa melanjutkan hidup.” Khaira bergumam sendiri, seolah mencari kekuatan untuk meyakinkan bahwa apapun yang mencemaskannya hanya akan melahirkan kegelisahan dan kecurigaan yang belum tentu menjadi sebuah pembenaran.
“Mungkin saja Mas Kevin hanya bertemu temannya di apartemen mewah itu?” Khaira kembali duduk, lesuh. “tapi kenapa pertemuannya harus di apartemen, bukan di restauran, atau taman atau tempat terbuka?” Khaira mengusap wajahnya agak kasar.
Ia lalu beranjak dari duduknya, “Ayo Khaira jangan berpikiran yang macam-macam, positif aja. Bila perlu kamu tanyakan langsung aja sama Mas Kevin supaya nggak menimbulkan kecurigaan, tapi gimana kalau di nggak ngaku, terlebih lagi kalau dia menyangka aku membuntutinya?” Khaira menggeleng kuat, “Enggak... Arhh sudahlah, apa perduliku? Aku kan hanya istri palsunya!”
Khaira lalu berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu.
__ADS_1
Bersambung