Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
List masuk surga


__ADS_3

Setelah menyelesaikan sarapannya, Kevin keluar dari dalam kosan Mita, disusul Khaira beserta si empu pemilik kamar kos.


Mita tidak lupa untuk mengunci pintu kosannya. Karena yang di jaga pun bisa di curi, apalagi yang sengaja tidak dibiarkan.


“Lo jalan duluan aja Ra, gue mau pergi ke bengkel ambil motor,” ujar Mita, namun ia merasa aneh melihat sepupunya itu yang masih saja terus berusaha menutupi area bok*ng dengan kedua telapak tangan.


“Asli, beneran sumpah Mit, aku nggak percaya diri. Ini kayak bukan aku, aku nampak seperti penyayi dangdut jaman dulu,” tukas Khaira masih sibuk merunduk, ia sekilas menatap Mita dan beralih menatap Kevin yang sama-sama sedang melihatnya sambil tersenyum ja'im.


Khaira tidak suka ditatap seperti itu oleh Kevin, satu tangannya ia pindahkan ke area sensitifnya yang berada di depan, karena pakaian atasannya memang tidak menutupi area sensitif tersebut, “Kenapa Mas Kevin ngeliatin aku begitu? Aku nggak suka di tatap begitu! Seolah aku ini kayak lagi pakai bikini!”


Kevin mengulum senyumnya, mendengar protes dari Khaira. Kevin secepatnya memalingkan wajah, mengedarkan pandangannya menatap deretan kos-kosan.


“Ra, lo napa sih? Apa yang salah? Masih ngerasa nggak nyaman?” ujar Mita, ia melihat dari ujung kaki hingga ujung kepala yang tertutupi hijab warna hitam.


Khaira mengangguk, namun dengan pandangan menunduk, ia merasa sangat risih dengan pakaian yang ia pinjam dari Mita, “Kenapa kebanyakan pakaian mu kurang bahan si Mit?”


Ia merasa b*kongnya terlihat menonjol meskipun memakai pakaian yang lengkap, tapi karena pakaian atasannya tidak menutupi b*kongnya membuat Khaira dilema.


Area dada masih mending tidak terlalu menonjol karena hijab yang dipakainya lumayan menutupi area yang terbilang sensitif. Akan tetapi area b*kong, Khaira sangat merasa malu dan tidak percaya diri, selama ini pakaian yang ia pakai sehari-hari berlengan panjang agak longgar dan pasti menutupi area pinggul.


Alhasil Khaira pun menggunakan kedua telapak tangannya guna menutupi area yang menurutnya berpakaian tapi sepertinya telanjang.


Tindakan Khaira, malah membuat Mita tertawa terbahak-bahak, “Hahaha.. udah nggak pa-pa Ra, ayo jalan. Ini udah siang loh,”


Begitu juga dengan Kevin, bedanya ia hanya tersenyum-senyum melihat istrinya itu terlihat lucu. Bukannya menutupi area b*kong, malah terlihat seperti orang yang menahan sembelit.


Kevin lantas melepas jaket jeans denim yang dipakainya, lalu menarik Khaira dan memasang jaketnya di area yang sedang Khaira tutupi, lantas mengikat bagian lengan jaket di depan perut Khaira.


Khaira tersentak, manakala tiba-tiba saja Kevin menarik dan memakaikannya jaket di pinggangnya. “Ma-mas Kev-” kalimat Khaira terhenti, manakala telunjuk Kevin mendarat di ujung bibirnya.


“Ssstt... ini biar aman, bukannya lo menutupi area b*kong, malah kamu terlihat seperti menahan sembelit.” Kevin tersenyum dibarengi dengan berkedip nakal kepada Khaira yang bengong melompong menatapnya.

__ADS_1


Khaira mendengus kesal, melihat Kevin dan Mita yang sedang terkekeh kecil.


“Nah beres dah, ” seru Mita senang, akhirnya kekhawatiran sepupunya itu dapat teratasi. “Gue pergi dulu ya, soalnya mau ke bengkel dulu ambil motor.”


Khaira mengangguk tipis, “Iya, bagaimanapun juga makasih udah di pijemin pakaiannya Mit,”


Gadis berambut sebahu ini pun mengangguk sekilas, “Oke, kalau lo gajian, gue tunggu traktiran dari lo Ra,” ujar Mita.


Khaira mengangguk singkat.


Pada saat seperti ini, maka Khaira pun tak bisa berpendapat apa-apa tentang pakaian Mita yang ia pinjam, ia akhirnya memutuskan membonceng Kevin tanpa bersuara. Namun sesaat kemudian Khaira dibuat penasaran melihat paper bag berukuran sedang yang di tenteng oleh Kevin.


“Mas Kevin, itu apa?” tanya Khaira sambil menunjuk paper bag warna putih.


“Sarung sama baju koko yang tadi subuh gue pakai buat sholat, di kasih sama Pak Wahyu. Katanya ini masih baru, dan menurut beliau, sarung sama baju kok ini cocok buat gue,” jawab Kevin, lalu memberikan paper bag kepada Khaira, “tolong lo bawain ini, gue susah,”


Khaira menerima paper bag yang di sodorkan Kevin.


Namun, jalan di depan kosan lumayan lebar dengan ukuran hampir mencapai tiga meter.


Kawasan ini terbilang kawasan padat penduduk, maka dari itu, jika ada suara yang terbilang cukup keras maka akan mengundang perhatian orang-orang sekitar. Dan itulah mengapa saat pengrebekan beberapa hari yang lalu cukup menyita perhatian warga.


Sampai detik ini pun Kevin terus mencoba mencari tahu, mengapa ia sampai terdampar di kawasan ini. Kampung Rawa Dengklok. Yah, kebenaran harus bisa ia ungkapkan.


~


Di perjalanan, menuju restauran tempat Khaira bekerja. Kevin menghentikan laju motornya di depan sebuah toko pakaian khusus wanita muslimah.


“Loh Mas Kevin kenapa berhenti?” Khaira bingung, mengapa Kevin menghentikan laju motor. Padahal tinggal setengah jam lagi ia sudah harus tiba di restauran sebelum jam waktunya restauran buka.


Kevin mengedipkan matanya, “Turunlah,” pintanya.

__ADS_1


Meskipun bingung, entah apa yang dilakukan Kevin. Namun Khaira tetap menuruti Kevin, saat Khaira melihat jaket milik Kevin, tiba-tiba terlintas dalam benaknya.“Nggak mungkin Mas Kevin mau memintaku untuk melepas jaket mu kan?” tanya Khaira curiga.


Khaira memegangi jaket Kevin yang digunakan untuk menutupi area b*kongnya.


Kevin tersenyum menatap wajah Khaira yang memperlihatkan mimik wajah bingung, “Lo nggak mungkin nggak paham kalau seorang cowok ganteng datang ke tempat pakaian cewek? Lo pasti paham, nggak usah gue jelasin pun lo paham.”


Khaira baru saja menyadari ia sekarang ini sedang berada di depan sebuah toko pakaian wanita. Dikarenakan ia terlalu fokus menatap bangunan disebelah kiri jalan, maka ia pun tidak fokus menatap bangunan di sebelah kanan.


Setelah sekilas mengamati toko pakaian wanita, ia kembali menatap Kevin, “Apa Mas Kevin mau memintaku untuk memilihkan pakaian untuk pacar Mas Kevin? Agar mau balikan lagi? Memangnya seleraku sama, sama selera pacar kamu? Tolong ya Mas Kevin, Mita aja yang sepupuku cara pakainya beda, apalagi pacar mu?”


OMG! Kevin tak habis pikir, mengapa ada wanita yang selugu Khaira. Kevin jadi bertanya-tanya bagaimana kah dulu saat Khaira bersekolah? Berapa nilainya? Bisakah gadis itu mengerjakan PR di rumah? Kevin menghela nafas, lalu menggetak kening Khaira. “Bisa nggak tinggal ikut masuk aja? Jangan kebanyakan protes, ingat seorang istri harus mematuhi suaminya.”


Kevin berjalan mendahului Khaira yang nampak enggan untuk masuk kedalam toko.


Alhasil karena melihat Kevin yang sudah berjalan terlebih dahulu menuju toko membuat Khaira mengikuti Kevin, ia mendengus kesal. “Kalau dia mau balikan sama pacarnya, ya udah sana balikkan, kenapa harus melibatkan aku?!”


Setelah di dalam toko, begitu banyaknya pakaian-pakaian muslimah yang berjejer rapih di etalase.


Teringat soal ucapan Kevin yang mengatakan kepatuhan istri terhadap suami, membuat Khaira teringat akan pesan Abah saat menasehatinya.


(Nduk.. ketika menikah nanti, surga telah berpindah kepada suamimu. Maka berbaktilah kepadanya, seperti kamu berbakti kepada ibu dan bapakmu. Bersikaplah lemah lembut meski dia sekeras batu. Karena semua pria akan luluh pada satu wanita yang bersikap lemah lembut kepadanya.” salah satu pesan Abah dikala beliau menasehati putrinya.)


Khaira manggut-manggut, ia sedikit memiringkan kepalanya, melihat pakaian-pakaian yang kebanyakan model syar'i. Ada juga baju atasan dan celana kulot berbagai model berwarna-warni lebih dominan warna cokelat, hitam dan navy, lalu ada juga beberapa yang berwarna cream.


“Tapi aku kan bukan istri sungguhan, aku bukan istri sungguhan Mas Kevin. Apa nantinya aku nggak akan berada di list masuk surga?” gumam Khaira lirih, seraya tangannya memegang abaya warna cream.




Bersambung

__ADS_1


__ADS_2