
"Mimpi apa kamu semalam? Sampai kamu nangis kayak di gebukin?" tanya Kevin lagi, ia penasaran dan diingatnya lagi kejadian semalam pukul 02:23 wib.
Pertanyaan Kevin membuat Khaira mengingat akan mimpinya semalam. Mimpinya sebagai seorang anak yang sangat merindukan akan dekapan hangat dari seorang Ibu.
**flashback on**
Mimpi yang hanya sekedar mimpi.
“Ibu,”
Purwasih membawa tas besar berwarna hitam, wanita berusia 29 tahun itu memandangi putrinya yang sedang bersandar di kusen pintu rumah bernuansa Jawa.
Putri kecilnya sedang menangis tersedu-sedu, air matanya menggambarkan bahwa gadis kecil ini sangat sedih, tidak ingin Ibunya itu pergi.
“Ibu,” Khaira kecil menangis, air matanya tak dapat ia bendung bercucuran dari kelopak mata kecilnya.
“Maafkan Ibu Khaira.” kata Purwasih disela-sela tangisnya. Ia lantas berbalik badan memunggungi putrinya yang sedang menangis sesenggukan serta memanggil-manggil namanya.
“Ibu jangan pergi!” Khaira kecil berteriak-teriak memanggil Ibunya, lalu berlari-lari kecil menghampiri Ibu Purwasih yang telah memunggunginya.
Situasinya sangatlah suram nampak menakutkan.
“Ibu!” kali ini Khaira terbangun dari tidurnya sambil menangis sesenggukan. Ia melihat dirinya masih berada di atas ranjang kamar yang sudah satu bulan ditempatinya.
Dalam diamnya selama lima belas tahun terakhir tidak terelakkan bahwasanya ia merindukan sosok Ibu. Meskipun terkadang rasa bencinya menutupi rasa rindu yang kian membuncah.
Khaira menekuk kedua lututnya lalu memeluk dirinya sendiri, ia berharap ada kekuatan yang bisa menguatkan diri. Tangisnya pecah, menjadi antah berantah dalam rongga jiwanya yang telah lama menahan pedih ini. Air matanya tak dapat ia bendung lagi.
Sekilas ingatan masa-masa kecilnya, yang dibelai manja oleh sang Ibu, terkenang kembali.
Namun sikap manjanya kepada wanita yang ia panggil Ibu, berubah menjadi duka lara, hingga terpatri selama lima belas tahun lamanya, perasaanya berkecamuk nelangsa. Kemanakah Ibunya pergi? Pernahkah sang Ibu berpikir untuk menemui anaknya yang kini sudah berusia hampir 22 tahun ini? Ibu...
Mimpinya benar-benar seperti nyata, meskipun lima belas tahun lalu Ibu Purwasih pergi dari rumah, Khaira kecil sedang bermain bersama teman semasa kecilnya. Saat pulang bermain dengan wajah blepotan, rambutnya yang tergerai awut-awutan. Khaira kecil tidak menjumpai Ibunya di kala senja, persisnya hari Kamis jam lima sore.
Khaira kecil hanya bisa menangis meraung rintih dalam dekapan sang Ayah yang menggenggam secarik kertas.
**flashback off**
Khaira melamun, ditatapnya jendela dapur yang mengarahkan pada taman kecil belakang rumah.
__ADS_1
Melihatnya berwajah sendu seperti itu, membuat Kevin merasa iba. Pastilah ada yang menggangu pikiran gadis yang ada di depannya, tangannya terulur memegang tangan Khaira di bawah meja, "Sekarang ada aku, ceritalah?"
Khaira tersentak dari lamunannya merasakan tangannya mendapat sentuhan hangat, ia menoleh kearah Kevin. Lalu menarik tangannya dari genggaman tangan pria disampingnya. Pria yang entah sengaja atau tidak disengaja mengubah menjadi sedikit lebih lembut tidak arogan seperti sebelumnya.
Ada rasa kecewa atas sikap dingin Khaira, namun bukan berarti Kevin juga menyalahkan gadis yang duduk didepannya,“Maafkan aku,” ucapannya bersungguh-sungguh, bersitatap dalamnya manik mata hitam Khaira.
Khaira terdiam bersitatap dengan sorot mata Kevin, lantas kembali mengalihkan atensinya, ia menatap jendela dilihatnya cahaya matahari yang menyinari taman kecil belakang rumah, taman yang hanya berdiameter sekitar dua atau tiga meter.
Khaira berusaha untuk tidak selalu menyalahkan sepenuhnya kepada Kevin. Bahwa tindakan Kevin kemarin bukan tanpa dasar, karena mungkin saja pria disampingnya hanya ingin mendapatkan haknya sebagai suami.
Akan tetapi Khaira juga tidak menginginkan hubungan itu, hubungan dengan orang yang tidak dicintainya. Hubungan keintiman yang bukan berlandaskan cinta. Akan tetapi hanya hasrat dan nafsuu semata.
Trauma terhadap sebuah hubungan pernikahan, membuatnya membentengi diri agar tidak gampang mudah terperangkap dalam jurang perpisahan. Khaira juga sedang menunggu kabar baik dari Abah, jika Abah mengabarkan bahwa Bonar tidak lagi mencarinya, Khaira berkeinginan pulang ke kampung halaman dan melupakan semua kejadian di kota.
Kevin masih sabar, menunggu jawaban Khaira. Mungkin saja Khaira sedang mempertimbangkan akan kepergiannya dari rumah ini. Ia masih berharap gadis di sampingnya mengurungkan niat untuk pergi.
Lamanya Khaira terdiam dan mengacuhkan Kevin, kini ia mengalihkan tatapannya dari semula menatap jendela kini menatap Kevin dengan seksama. Mencari silsilah kejujuran kata (maaf) dari sorot mata Kevin.
Khaira pun menggelengkan kepala,
“Kita sama-sama terjebak dalam situasi ini. Kita harus ikhlas, bahwa rencana Allah pasti lebih gagah, dari apa yang kita pikirkan,”
Kevin mendengarnya cukup senang, “Apakah itu pertanda bahwa kamu akan tetap tinggal di sini?”
Senyuman di bibirnya seketika sirna, wajah Kevin berubah menjadi datar, terselip rasa kecewa.
“Baiklah! Jika itu mau lo, gue nggak akan memaksa lo lagi.” Kevin kembali pada posisi duduk lurus, ia tidak lagi menghadap Khaira.
Tidak ada penyesalan di hati Khaira, ia sudah memikirkannya secara matang-matang. Bahwa sekiranya kepergiannya dari rumah Kevin adalah cara terbaik.
“Hari ini aku libur kerja, jadi sebelum aku pergi, aku akan membereskan rumah ini. Guna membalas kebaikan Mas Kevin karena sudah mengijinkan ku tinggal.” ujar Khaira, ia menatap Kevin dari samping.
"Itu nggak perlu, lo bukan pembantu gue!" Kevin menghentikan aktivitas makannya, rahangnya menegas. Diletakkannya gelas teh hangat di atas meja cukup keras hingga menimbulkan bunyi dentingan.
Cukup kasar pula, Kevin berdiri dan secara otomatis kursi yang semula ia duduki juga bergeser kebelakang, menimbulkan suara nyaring antara kaki kursi dan lantai berwarna cream.
Khaira melihat Kevin seperti menahan amarah, "Kenapa kamu marah Mas? Bukankah ini kesepakatan kita dari awal bahwa aku dan kamu bebas?"
Menoleh kearah Khaira dengan sorot mata tajam, Kevin berkata dengan nada tegas, “Lakukan apa yang membuatmu senang!”
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Kevin lantas pergi meninggalkan Khaira yang termangu menatapnya. Ia menuju kamarnya dan pintu kamar yang tidak bersalah ikut menjadi korban dari pelampiasan emosinya. BRAK...
Diambilnya ponsel yang tergeletak di atas ranjang, dan disusul ia yang merebahkan dirinya di ranjang dengan motif seprei Manchester united. Nafsu makannya seketika sirna, dibukanya aplikasi warna hijau. Ia melihat pesan yang dikirim Mita dari nomor Khaira beberapa minggu lalu.
Dilihatnya foto Khaira yang masih tertidur pulas. Lalu selanjutnya membaca caption di bawah foto Khaira.
(Lo menikahi Khaira karena formalitas atau lo hanya ingin bebas dari hukuman cambuk itu terserah lo. Tapi satu hal yang harus lo tau, Khaira trauma tentang pernikahan. Disebabkan broken home yang tiada kejelasan mengapa Ibunya pergi meninggalkan Khaira dan Abah, gue minta, walaupun pernikahan lo dan Khaira hanya kesalahpahaman, tapi tolong jaga dia. Gue mengatakan ini bukan hanya karena gue ini sepupu Khaira, tapi karena gue peduli terhadap Khaira. Semoga lo paham apa yang gue maksud, 'Mita)
Hah... Kevin menghela nafas panjang, rasanya sangat berat. Entah cinta? atau tanggung jawab? Atau bisa jadi rasa bersalah. Ia masih belum dapat memastikan, karena terjebak dalam rumitnya masalah pernikahan ini dan rasa sakit hati yang dikhianati Sonia masih belum sepenuhnya normal.
Jika bukan karenanya hal ini tidak akan pernah terjadi. Jika saja ia bisa membalas perasaan Clara, pastilah gadis itu tidak akan membuat rencana selicik ini.
Dan jika bukan karena obsesi Clara yang berlandaskan atas nama cinta buta, mungkin Kevin tidak akan pernah bertemu dan menikahi Khaira secara paksa.
Mengharap bisa bertemu dengan Khaira dengan cara lain, cara yang lebih baik. Dan menikahi Khaira juga dengan cara baik pula. Namun, semua itu memang hanya dalam angan-angannya saja.
Nyatanya kini, Khaira bersikeras untuk pergi dari rumah ini, bahkan mungkin selanjutnya pergi dari kehidupannya.
"Apalah dayaku?" Kevin memejamkan matanya dalam-dalam, lantas menyalakan lagu dari MP player sound sistem kecil yang berada di atas meja.
Terdengar alunan musik pelan dari band Letto. *Kepada hati itu*
🎶
*Kerasnya hatimu*
*Aku tak mampu*
*Aku tak mau memintanya*
*Betapa diriku terus mencoba*
*Tapi merasa ku tak berdaya*...
~~
Khaira duduk di kursi meja makan, ditatapnya pisang goreng bekas gigitan Kevin.
Helaan nafas panjang menjadi pertanda bahwa ia merasa tidak nyaman, ia ingin pergi dari rumah ini. Bayangan Kevin masuk ke apartemen seorang wanita cantik selalu membayanginya.
"Bayangan Ibu meninggalkan Abah membekas menjadi trauma. Aku takut, akan ditinggalkan seperti Abah." gumamnya lirih.
Khaira menyadari, bahwa bisa saja ia akan menjadi penghambat bagi jodoh Kevin yang sebenarnya. Ia mengedarkan pandangannya menatap seluruh ruangan dapur.
“Aku harus cuci pakaian dan bersih-bersih, mumpung hari ini aku libur.” Khaira beranjak, lalu membereskan piring-piring yang ada di atas meja makan.
__ADS_1
Bersambung