
Resmi menandatangani kontrak dengan seorang pemilik club' diskotek, kini Kevin sudah tidak lagi bekerja di diskotek Valencia.
Dan kali ini ia bekerja di club' diskotek Boleros. Seperti pada umumnya, Kevin menghibur para audiens untuk ajojing riang.
~
Di salah satu pengunjung club' ada seorang wanita yang terus saja menatap Kevin yang sedang beraksi di atas panggung. Dialah Sonia Saraswati yang sedang duduk di kursi tunggal dengan meja bundar di depannya. Ia sedang menikmati minuman beralkohol.
Sonia kini tak lagi menjadi selingkuhan Frans, karena setelah mendapat laporan bahwa anak buah Frans di tangkap oleh pihak kepolisian keesokan harinya Frans juga turut diciduk polisi Kasatreskrim Anti Narkoba.
Jika ditanya menyesalkah ia? Tentu saja Sonia menyesal, karena telah mencampakkan orang sebaik Kevin hanya untuk merasakan sekedar kehidupan mewah nan glamor tanpa harus bersusah payah bekerja. Sonia kembali mengangkat gelasnya lantas meminum air berwarna ungu yang cenderung gelap, dengan kadar alkohol rendah.
"Gue masih cinta sama lo Vin." gumamnya membaur dengan kerasnya musik DJ yang sedang di putar oleh Kevin.
Sonia kembali menuangkan whisky kedalam gelas, dan menenggaknya sampai tandas.
Dari kejauhan Clara melihat Sonia, sang mantan pacar Kevin. Ia lantas menghampiri Sonia yang terlihat sedang terpuruk, setelah pemberitaan beredar seorang Bandar narkoba yang telah lama di cari oleh pihak kepolisian terciduk.
Clara merebut gelas yang sedang di pegang oleh Sonia, lantas meminum air berkadar alkohol tanpa memikirkan janin yang dikandungnya, sampai air berkadar alkohol habis hingga menyisakan bulir di bahu gelas.
Sonia terkesiap, "Clara!"
Clara duduk dengan santai berhadapan dengan wanita cantik yang menjadi model majalah dewasa, "Apa kabar Sonia?"
"Ngapain lo ke sini? Bukannya lo di larang untuk datang ke club malam?" Sonia heran akan kedatangan Clara di club malam.
"Bukan hanya lo yang pengen melihat aksi panggung Kevin, tapi gue juga," kata Clara, melihat hura-hura anak-anak muda ajojing ria, dan melihat Kevin yang masih sibuk mengutak-atik Controller Pioneer DJ.
Pengaruh dari kadar alkohol sudah mulai membuat pandangan Sonia mengabur, ia menatap Clara seperti pandangan mata mengantuk, "Maksud lo apa Cla? Lo masih cinta sama Kevin? Heh Clara, gue peringatin sama lo ya. Kevin itu kagak pernah cinta sama lo, please deh Cla, lo tuh harus jadi cewek yang mempunyai harga diri, jangan mengemis cinta. Soalnya, sebesar apapun lo cinta sama Kevin, Kevin tetap cinta sama gue,"
Clara menyungging ujung bibirnya, miring. Ia menerka-nerka bahwa Sonia belum mengetahui jika Kevin telah menikah, "Lo yakin Kevin masih cinta mati sama lo, Sonia? Bagaimana kalau ternyata Kevin udah nikah secara diam-diam?"
Sonia tergelak mendengar sangkaan Clara jikalau Kevin sudah menikah secara diam-diam, ia tertawa dan kembali mengangkat gelasnya, "Tentu. Kevin tetap cinta sama gue, dan atas dasar apa lo bilang Kevin sudah menikah?"
"Lo yakin?" tanya Clara memastikan bahwa memang Sonia tidak mengetahui pernikahan Kevin, "atas dasar gue tahu permasalahan Kevin, gue tau semua hal tentang Kevin, termasuk Kevin yang udah menikah secara agama dengan wanita kampung bernama Khaira!"
Sonia mengernyitkan dahinya menatap Clara.
"Hahaha...." Sonia kembali tertawa mendengar ucapan Clara, "Ya ya, lo kalau nggak mengancam kan emang suka mencampuri urusan orang lain. Meskipun lo pernah ngancem gue buat menjahui Kevin, tapi rasa cinta Kevin ke gue kagak bakal bisa menjauhkan Kevin dari gue, lo seharusnya sadar diri Clara. Kalau lo cuma jadi parasit!"
Plak.... Clara beranjak dari duduknya dan melayangkan tamparan keras di pipi Sonia.
"Clara!" seru Sonia memegangi pipinya yang mendapat tamparan keras dari Clara, ia hendak membalas tamparan Clara, namun Clara lebih dulu menangkap tangannya.
"Jangan pernah lo sentuh gue dengan tangan kotor lo ini!" Clara menghempas tangan Sonia.
__ADS_1
Keributan diantara dua wanita yang saling bertegangan ini hanya menjadi pemandangan biasa bagi para pengunjung club karena hal semacam ini sudah biasa terjadi. Para kaum ajojing kembali berjoget dan menikmati minuman yang disajikan club'.
Sonia melihat Clara berbalik badan hendak meninggalkannya, Sonia yang kadung marah dengan sikap kurang ajarnya Clara membuat Sonia gelap mata, diambilnya botol whisky yang telah kosong dan mengayunkan kearah belakang kepala Clara.
Namun belum sepenuhnya botol yang sedang Sonia ayunkan ke arah kepala Clara seseorang menangkis tangannya.
Prang... Seketika botol jatuh berserakan menghantam lantai club'.
Semua pengunjung club' yang sedang ajojing dan berpesta pora terperanjat mendengar suara botol pecah, mereka seketika menepi dari arena ajojing. Begitu pula dengan Clara dan Sonia.
Sonia terkejut dan melihat seseorang yang menangkis tangannya.
"Anto!" gumam Clara melihat ayah dari jabang bayi yang dikandungnya.
Anto mencengkram kuat tangan Sonia yang semula memegangi botol, "Jangan pernah mencelakai orang yang gue cintai!"
"Lepasin gue!" sergah Sonia. Ditatapnya pria yang mencekal lengannya dengan tatapan nyalang.
Anto semakin mencengkram kuat tangan Sonia, bukan hanya tangan. Anto juga mencengkram kedua pipi Sonia menggunakan satu tangannya yang kekar, "Gue bakal lepasin lo, asalkan lo janji, nggak bakal pernah ganggu Clara lagi,"
Sonia membulatkan matanya menatap Anto, rasa sakit ia rasakan di pergelangan tangan dan di kedua rahangnya yang di cengkram pria kekar di hadapannya, "Siapapun lo, sebesar apapun rasa cinta lo ke cewek rubah itu. Lo nantinya bakal menyadari seperti apa liciknya cewek yang lo cintai!"
Clara tersenyum penuh kelicikan melihat Anto yang mungkin bisa melakukan apa saja untuknya, membuat Clara memikirkan ide.
"Ada apa ini?" teriak sang manajer club melihat keributan diantara pengunjung.
Sang manajer club' menghampiri ketiga orang yang terlihat sedang bersitegang.
"Jangan membuat keonaran di sini! Lebih baik kalian pergi!" kata manajer club yang masih terlihat muda mengusir ketiganya.
Musik DJ terhenti, sehingga seruan dari manajer club terdengar menggelegar di ruang untuk berdisko.
Sonia melihat seorang pria yang ia cintai hanya berdiri di belakang manajer club berjarak dua meter, "Kevin!" serunya memanggil sang mantan kekasih.
Kevin melihat Sonia, beralih menatap Clara dan kini Anto. Ia enggan menanggapi ataupun berseloroh, Kevin berbalik badan dan hendak pergi dari ruangan disko.
Sonia melihat Kevin pergi, ia segera berlari kecil menuju Kevin. Lantas diraihnya pergelangan tangan Kevin yang di balut jaket jeans denim, "Kevin aku mohon, maafin aku."
Kevin menghentikan langkahnya, ia melihat tangan Sonia yang menaut di pergelangan tangannya, "Lepas!" hardiknya.
Sonia menggeleng enggan melepaskan tangan sang mantan kekasih, ia ingin kembali. "Enggak Vin, aku mohon untuk kali ini maafin aku, aku janji aku bakal menjadi wanita baik-baik untukmu, Kevin,"
"Sudah terlambat Sonia! Ter lam bat!" Kevin menghadap Sonia dan berkata dengan penuh penekanan. "Lepas!" sergah Kevin melepaskan cekalan tangan Sonia begitu saja, lantas pergi dari ruangan disko dan meninggalkan Sonia begitu saja.
Sonia menatap kepergian sang mantan kekasih dengan tatapan sedih. "Kevin!" teriaknya memanggil Kevin menahan isak tangis.
__ADS_1
Clara, Anto dan pengunjung club' melihat Kevin yang pergi begitu saja meninggalkan panggung disko yang belum usai.
~~
Setelah mengobati lukanya yang kembali harus berdarah-darah membersamai dengan rasa perih, panas, pegal dan rasa sakit yang menjalar sampai ke ulu hatinya.
Sepertinya obat pereda rasa nyeri mulai bereaksi seperti bius yang meringankan rasa sakit. Kini Khaira duduk di tempat tidur, dilihatnya amplop cokelat yang tergeletak di sampingnya.
Dahinya mengernyit heran, lalu mengambil amplop dan mengeluarkan beberapa lembaran foto didalamnya.
Diamatinya dengan seksama lebaran foto pertama, tatapan Khaira langsung tertuju kepada Kevin yang nampak sangat rupawan tersenyum kearah kamera, dilihatnya juga di samping Kevin seorang wanita yang merangkul Kevin terlihat sangat akrab.
"Apa wanita ini Clara?" gumamnya bertanya-tanya.
Dilihat foto berikutnya, sama halnya dengan foto pertama. Namun wanita yang ia sangka adalah Clara mencium pipi Kevin.
Muncullah stigma dalam hati Khaira bahwa wanita bernama Clara adalah mantan pacar Kevin. Tapi entahlah...
"Selain wanita yang aku lihat di apartemen mewah, ada juga wanita cantik satu ini sampai datang ke rumah," Khaira tersenyum kecut, "atau jangan-jangan banyak wanita-wanita cantik yang ada di sekitaran Mas Kevin?"
Khaira kembali melihat foto-foto yang berikutnya. Terlihat tanggal yang tertera di sudut foto.
"Foto ini diambil dua tahun lalu." gumamnya lirih, lantas menarik bantal dan menaruhnya sebagai sandaran tangan, "jadi, seperti apa seorang Kevin Abimana? Apa dia tipe pria playboy? Bagaimana kalau jika semisal pria playboy benar-benar jatuh cinta?"
Terhitung lima lembar foto berukuran 5 R.
Khaira tidak mengerti suasana seperti apa yang menggambarkan situasi di dalam foto. Namun ia melihat ada botol-botol di atas meja yang terlihat didalam foto.
"Apa botol-botol yang ada di atas meja merupakan botol ciu?" Khaira menggidik pundaknya tak acuh.
Entah mengapa degup jantungnya berdegup kencang ada rasa tercubit di sana, Khaira mengusap dadanya sesaat kemudian mengembalikan semua lebaran foto ke dalam amplop cokelat.
Ia merebahkan tubuhnya ke ranjang, dilihatnya plafond putih.
"Kalau benar Mas Kevin itu playboy dan banyak di krubengi cewek-cewek cantik? Lalu aku ini apa? Apa aku si buruk rupa yang nantinya akan di buang, seperti pepatah habis manis sepah di buang? Tapi jika aku yang di takdirkan untuk hidup Mas Kevin, maka aku juga nggak bisa melawan takdir. Benar apa kata Mita, seharusnya aku mulai respect sama Mas Kevin."
Khaira menghirup udara dalam kamar guna memenuhi paru-parunya lalu menghembuskannya perlahan. Pikirannya dipenuhi akan sarat teka-teki kehidupan Kevin, saat ponselnya berdering ia hanya melihat sekilas nama yang tertera di layar ponsel (Asep) lalu meletakkan kembali di atas tempat tidur.
"Sepertinya aku harus sholat istikharah lagi, semoga kedepannya sudah kutemukan jawaban dari segenap kegundahan hati ku." Kali ini benar-benar suasana hatinya tidak baik, ia sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun. Biar waktu menikam sejenak relung hatinya akan berlabuh kepada siapa. Benarkah Kevin?
Ia mulai memejamkan matanya tak lupa membaca doa dan terjun ke alam mimpi.
__ADS_1
Bersambung