
Hay hallo sedulur semuanya, terimakasih telah setia membaca Terpaksa Menikah Karena Jebakan. Happy New year 2023. Semoga selalu sehat, banyak rezekinya. Barokah dan di sayang sama pasangan yang senantiasa setia bersama dalam menjalani kehidupan suka maupun duka.
Semoga doa yang belum terkabul dan rencana yang belum tercapai di tahun 2022, akan terkabul di tahun 2023 ini.
Jangan pura-pura bahagia, tapi bahagia lah tanpa harus pura-pura.
Selamat membaca kembali!
...~~~~...
Hangatnya sinar matahari pagi, berbaur jadi satu dengan semilirnya angin. Kevin sedang menikmati suasana paginya di desa, sudah sangat lama ia tidak menikmati suasana asri seperti ini. Terakhir kalinya pada saat Almarhumah Mama Lusiana dan Papa Basuki mengajaknya ke villa.
Khaira baru saja keluar dari pintu belakang rumah, ia melihat suaminya itu nampak sangat menikmati semilir dan hangatnya sinar matahari pagi yang cerah ini.
Sifat jahilnya keluar, ketika melihat empang ikan lele. Khaira berjalan dengan mengendap-endap mendekati Kevin, namun yang tidak dinyana meskipun ia berjalan tidak menimbulkan suara. Kevin berbalik badan dan malah membuatnya terkejut.
Alhasil bukan Kevin yang tercebur, akan tetapi malah Khaira sendirilah yang tercebur ke air yang berwarna kehijauan.
"Alamaakk!!!" Khaira berseru bukan riang, tapi terperanjat kala dirinya kini sudah berkubang.
Sontak saja Kevin tertawa cekakakan. "Hahaha...." Kevin merasa perutnya sangat menggelitik melihat tingkah istrinya yang kadang absurd.
"Mas Kevin!" Khaira mencipratkan air kearah Kevin yang terus-menerus menertawakannya.
Refleks Kevin menghindari cipratan air berwarna kehijauan yang dilakukan Khaira.
"Apaan, orang kamu duluan kan yang mau jahilin aku. Haha kan kena batunya, itu namanya senjata makan tuan!" Kevin tak henti-hentinya tertawa.
Khaira kesal aksinya untuk menjahili Kevin malah ia yang kena karmanya. Khaira memasang wajah memelas, lalu mengulurkan tangannya. "Bantuin naik?"
Dilihatnya tangan Khaira terulur. Kevin menggeleng, "Enggak, niat kamu mau menarik ku masuk kedalam empang 'kan?"
Khaira mendengus kesal. "Enggak!" sergahnya.
Kevin memicingkan matanya menatap istrinya yang berkubang di empang. Alih-alih mendekati Khaira, Kevin justru berbalik badan. Ketika baru selangkah menjauhi empang, telinganya mendengar Khaira berteriak.
"Mas Kevin!!!" teriak Khaira lantang, melihat Kevin malah berjalan menjauhi empang.
Kevin tersenyum lebar, ia berbalik badan. Bukan niatnya meninggalkan istrinya begitu saja. Kevin hanya ingin sedikit menguji kesabaran Khaira. "Iya, iya.."
Kevin mengulurkan tangannya, dan di sambut oleh tangan Khaira. Karena tepian empang licin membuat kakinya tergelincir dan akhirnya ia ikut tercebur ke dalam empang. "Aahh asem banget!"
Kini giliran Khaira yang tertawa renyah sampai membuatnya terpingkal-pingkal. "Kan-kan, aku nggak narik Mas Kevin saja, pada akhirnya memang Mas Kevin jatuh ke empang juga haha."
"Awas kamu.." Kevin membopong tubuh istrinya, karena kakinya yang terbenam dalam lumpur dan membuatnya susah jalan, alhasil Kevin dan Khaira terjatuh hingga membuat keduanya bermandikan lumpur seperti kerbau.
"Mas Kevin! Kan kan aku sudah seperti kerbau begini." Khaira berdiri dan memperlihatkan wajah serta tubuhnya yang dipenuhi lumpur. Tanpa sengaja, saat matanya mengedar ia melihat pohon mangga yang berbuah membuat air liurnya mengumpul di dalam mulutnya. "Aku kok jadi pengen rujak mangga."
"Kamu lihatin apaan?" Kevin melihat wajah istrinya berubah menjadi diam. Lantas membuatnya mengikuti arah kemana Khaira memandang, dan ia pun melihat mangga yang seperti melambai-lambai tertiup angin.
"Mas Kevin aku pengen mangga muda, kayaknya enak banget kalau di rujak sama sambil kacang." Khaira menguap bibirnya, seolah air liur sudah menetes. Lalu saling pandang dengan sorot mata Kevin.
"Nggak masalah, nanti kita petik. Tapi sebelum itu, karena kita sudah kadung terjebur di empang, kamu ajarin aku nangkap ikan lelenya." ujar Kevin enteng, selama di desa ia ingin lebih banyak melakukan kegiatan yang jauh dari teknologi.
"Bener yah?" Khaira menatap Kevin dengan mata berbinar-binar, dan menelan air liurnya.
__ADS_1
Kevin mengangguk kecil. "Siap."
Khaira melihat Kevin nampak sangat antusias, meskipun seluruh tubuh suaminya ini dipenuhi lumpur, sampai rambut-rambut segala juga berlumpur. Rambut atas maksudnya, kalau rambut bawah itu sudah pasti, lha kenapa jadi bahas rambut?
"Awas Mas itu ikannya..." seru Khaira menunjuk ikan lele yang seperti mengejeknya.
Hap! Kevin menggunakan jaring kecil dengan gesitnya menangkap ikan lele yang lewat di depannya.
"Dapat!" Kevin bersemangat tatkala ikannya berhasil ia tangkap.
Abah baru saja keluar dari pintu belakang rumah, maniknya melihat kelakuan anak serta menantunya yang sudah seperti anak kecil sampai Abah tidak menyadari. Abah tertawa diselingi air mata yang menetes di kerutan matanya yang keriput. Bahagia itulah yang Abah rasakan melihat anaknya bahagia.
Setelah membersihkan diri. Kini Khaira tengah memasak ikan lele yang ditangkapnya bersama dengan Kevin. Menu masakan yang ia masak cukup sederhana. Ikan lele goreng, berserta lalapan dan sambal goreng khas Lamongan, serta tak lupa tempe dan tahu, yang selalu menjadi primadona Indonesia.
Menyantap menu makanan ala kadarnya, dan melihat keharmonisan rumah tangga putrinya yang baru seumur jagung ini. Membuat Abah terharu. “Nak, semoga Allah senantiasa melindungi rumah tangga kalian dari godaan dan cobaan.”
Melihat Abahnya hanya diam membuat Khaira bertanya.
"Abah mau tambah lagi nasinya?”
Abah hanya menggelengkan kepalanya, sembari menunduk menyembunyikan air matanya yang sudah mendesak netra tuanya.
"Aku rindu suasana kekeluargaan seperti gini." gumam Kevin, disela makannya. Karena hampir enam tahun lamanya, sudah tidak ada kehangatan keluarga yang dirasa. Hingga akhirnya merubahnya menjadi kebekuan.
Khaira menatap Kevin dengan rasa haru. Menikmati makan siang di atas dipan beralaskan tikar di belakang rumah, dengan pemandangan alam sekitar.
Makan siang bersama telah berlalu, kini saatnya kembali pada aktivitas berikutnya. Abah sudah siap dengan membawa ember dan memakai topi camping nya.
"Abah mau ke sawah." ucap Abah melihat Khaira dan Kevin masih duduk santai di atas dipan belakang rumah.
"Iya, mau mencari kiong mas. Kalau ndak di pungut kiong mas, bisa merusak tanaman padi."
"Saya ikut Bah." seru Kevin antusias.
"Lho Mas, katanya mau petik mangga?" ucap Khaira mengingatkan.
"Eh iya, tapi aku pengen ke sawah seperti apa sih nyari kiong, kan kamu tahu sendiri di kota nggak ada kegiatan semacam ini."
"Dasar anak kota!" alhasil Khaira mengalah. "Ya sudah aku ikut ke sawah." Khaira mengambil dua topi camping lalu memberikannya satu pada Kevin yang terlihat senang.
Tidak bisa menolak, akhirnya Abah mengiyakan, keinginan kedua orang yang sudah bersiap ke sawah, tak lupa mengunci pintu. Khaira dan juga Kevin berboncengan sepeda ontel, sedangkan Abah bersepeda sendiri.
Tentu saja, banyak pasang mata yang memperhatikan Kevin yang tengah mengayuh sepeda ontel. Wajahnya yang rupawan, tak pelak menimbulkan polemik dan gunjingan dari orang-orang yang melihatnya.
Sedangkan Khaira hanya menunduk sepanjang jalan ia membonceng Kevin, karena Khaira tahu. Dirinya sedang di gosipkan sesuatu hal yang jelas tidak benar alias fitnah saja. Khaira terus menunduk sepanjang melewati jalan desa sampai menuju jalanan persawahan. Khaira mengingat kutipan kata mutiara dari sahabat Rasulullah; Ali bin Abi Thalib RA. "Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu. Dan yang membencimu tidak percaya itu."
Salah satu dari orang yang menatap Khaira adalah Asep. Pria ini sampai menghentikan laju motornya guna memastikan bahwa apa yang dilihatnya adalah benar. Jika itu adalah Khaira, gadis yang dicintainya pulang dari kota dengan seorang lelaki. "Jadi benar gosip yang santer terdengar bahwa Khaira telah kembali?"
Remuk hatinya, berniat hari ini main ke rumah Abah guna memastikan berita yang beredar. Akan tetapi karena sudah melihat Khaira berboncengan dengan seorang pria, membuat Asep mengurungkan niatnya.
Abah memarkirkan sepedanya di pinggir jalan persawahan. Netra Abah langsung menatap sawah yang disewanya dari kepala dusun.
Kevin juga memarkirkan sepedanya, setelah Khaira turun dari boncengan. Namun ada yang lain saat melihat wajah istrinya yang terlihat tidak bahagia.
"Ada apa?" tanyanya.
__ADS_1
"Aku nggak suka mendengar gunjingan mereka padaku, aku nggak hamil di luar nikah, aku bukan seorang pezina, dan aku nggak mengecewakan Abah dengan perbuatan tercela. Tapi ucapan mereka yang nggak tahu masalah ku seenaknya sendiri men-judge, seolah aku ini menjijikan." kata Khaira bersuara parau. Hatinya sangat sedih dan merusak moodnya dengan gosip yang ia dengar dua hari ia pulang ke desa.
Abah mengusap belakang kepala putrinya yang saat ini tertutupi hijab hijau army. "Lidah orang yang berakal berada di belakang hatinya, sedangkan hati orang bodoh berada di belakang lidahnya," Abah beralih melihat Kevin. "dan kezaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat. Namun, karena diamnya orang-orang baik. Itu semua bukan nasehat Abah, melainkan nasehat- Ali bin Abi Thalib RA, sahabat Rasulullah." sambungnya lagi memberikan nasehat yang sekiranya dapat menguatkan hati putrinya yang sedang gundah kala mendengar cemoohan orang-orang yang tidak mengerti tentang kebenaran.
"Kenali kebenaran, maka kamu akan tahu orang-orang yang benar. Benar tidak diukur oleh orang-orangnya, tetapi manusia diukur oleh kebenaran.- Ali bin Abi Thalib" Abah mengambil ember untuk wadah kiong.
"Sudah jangan dengarkan mereka, nanti kalau mereka capek mereka pasti bosen membicarakan kita. Apalagi kalau kita sudah balik lagi ke kota, kita nggak akan mendengar perkataan mereka yang cenderung menyiksa hati." timpal Kevin mengusap punggung istrinya.
"Terus kalau kita balik ke kota, Abah bagaimana?" Khaira menatap Abah dan kembali menatap Kevin.
"Sudah jangan pikirkan itu, kita cari kiong dulu. Nanti winih padi Abah habis dimakan hewan bercangkang itu."
Abah mulai mencari kiong mas, yang menjadi sumber kerapuhan akar dari tanaman padi. Di bantu Kevin juga Khaira, Kevin merasa sudah seperti bocah petualang.
"Ayo lomba?" kata Kevin, mengajak Khaira untuk lomba.
"Lomba apa?" tanya Khaira, yang berdiri di tengah-tengah tanaman padi tak jauh dari Kevin.
"Lomba, siapa yang paling banyak dapet nih Kiong mas, bakal dapat doorprize." tawar Kevin, dan disambut anggukan.
"Apa door prize nya?" tanya Khaira, ingin tahu apa hadiah yang ditawarkan Kevin, jikalau menang.
"Makan Kiong mas sepuasnya, haha" ucap Kevin tertawa terbahak-bahak.
"Heleh.. emoh aku." sergah Khaira, menolak tawaran Kevin.
Abah menggelengkan kepalanya,
"Kiong mas, mana boleh dimakan."
Kevin nampak heran. "Kenapa nggak boleh dimakan Bah?" tanya Kevin tidak tahu menahu.
"Huuuu.. anak Kota, taunya cuma diskotek aja!" ledek Khaira, membuat Kevin membelalakkan matanya.
"Sebenarnya, Kiongmas boleh-boleh aja dimakan, asal cara pengolahannya benar. Terlebih membuang racun yang terdapat pada bagian perutnya." sambung Abah, menjelaskan.
"Memang kalau nggak dibuang, kenapa Bah?" tanya Kevin, bak anak kecil yang bertanya soal PR IPA.
Khaira hanya menghela nafasnya,
"Kalau nggak ya bisa keracunan, sakit perut, sesak pernafasan, atau bisa lebih parahnya diare berkepanjangan." jelas Khaira, Kevin nampak manggut-manggut tipis, tanda suaminya itu mengerti.
"Oh begitu." jawab Kevin paham.
Sore hari pun tiba, Abah sudah lebih dulu pulang ke rumah. Kevin menuntut sepeda ontel, sedangkan Khaira berjalan beriringan menyamakan langkah Kevin. Menikmati suasana senja di desa memang sangat berbeda dengan di kota.
Namun perjalanan Khaira dan Kevin harus terhenti tatkala Ucok dan Toha serta Bonar yang berdiri paling belakang menghadang.
"Khaira..." ucap Bonar.
Khaira tergelak matanya membelalak kala melihat Paman bengek menghadang jalannya, sontak saja Khaira mundur dan bersembunyi di belakang Kevin.
__ADS_1
Bersambung...