Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Black Hero


__ADS_3

Di depan diskotik, setelah Kevin menyelesaikan pekerjaannya. Ia segera saja ingin pulang ke rumah, ia sangat penasaran apa penyebab Khaira tumben-tumbenan meneleponnya. Selama hampir sebulan ia tinggal dengan gadis itu.


Tidak pernah sekalipun gadis itu menghubunginya, atau bahkan sekedar menanyakan ia berada di mana? Lalu apa sore tadi. Ralat! Bukan sore, tapi di jam tujuh malam. Apa yang mendorong gadis itu tiba-tiba menghubunginya?


Bahkan Kevin menganggap Khaira sangat dingin dan tak acuh padanya, meskipun setiap pagi Khaira selalu menyiapkannya sarapan.


Tunggu sebentar?


Apakah Khaira masih marah padanya?


Oh sial! Kevin melupakan sesuatu, bahwa ia belum meminta maaf atas perlakuan buruknya selama Khaira tinggal di rumahnya, terlebih sampai sekarang Kevin belum meminta maaf, atas apa yang dilakukannya pada saat Khaira baru datang kerumahnya.


Mungkinkah karena alasan itu, Khaira bersikap dingin padanya. Bahkan tak pernah Kevin melihat gadis itu melepas kerudung walaupun sudah ada di dalam rumah.


Kevin manggut-manggut, ia memang seharusnya mengingat itu. Dan segera minta maaf.


“Vin!” seseorang datang dari arah samping Kevin, dialah Stefan.


Kevin menoleh kearah pria bermata agak sipit seperti orang China, "Lo dari mana Stef, di jam segini?"


Stefan menunjukkan flashdisk kepada Kevin, “Coba lo lihat video di dalam flashdisk ini,”


Sorot mata Kevin langsung beralih menatap flashdisk yang disodorkan Stefan, ia lantas mengambilnya, “Memang video apa?”


“Lo pernah bilang kalau lo sering nanya ke pos satpam tentang cctv malam sabtu bulan lalu? Tapi satpam jaga berulang kali kagak ngizinin lo untuk memeriksa cctv?” jelas Stefan yang bekerja sebagai pakar telematika.


Kevin mendengarkan penjelasan Stefan, dan membenarkan apa yang dikatakan pria yang sudah menjadi sahabatnya sejak tiga tahun lalu, “Apa ini video saat kejadian malam itu?”


Stefan mengangguk, “Yoi, kalau lo udah sampai di rumah. Lo lihat aja tuh video, siapa tau lo kenal sama dua orang yang mukul lo dari belakang,”


Kevin mengangguk antusias, “Ternyata feeling gue kagak pernah salah! Oke, thanks brother! Tapi ngomong-ngomong lo dapet darimana video ini?”


“Noh!” Stefan menunjuk salah satu cctv di salah satu bangunan di samping diskotik yang memang langsung menyoroti sampai ke pelataran diskotek Valencia.


Kevin terkejut ia tidak kepikiran ada cctv lain, “Anjir! Gue kagak ngeh kalau ada cctv lain, selain yang ada di tiang-tiang itu,” tunjuknya kearah tiang-tiang.


“Dah sana pulang, kapan-kapan lo harus traktir gue whisky paling mahal di diskotek ini,” ujar Stefan, menepuk pundak sahabatnya.

__ADS_1


“Siap! Kalau gitu gue pulang dulu. Lo sendiri mau langsung pulang atau masih mau di sini?” tukas Kevin menanyakan kemana kah lagi tujuan Stefan.


“Gue juga mau langsung pulang. Capek, baru pulang nemuin klien, karena gue akhir-akhir ini sibuk takutnya kagak sempet buat ngasih flashdisk ini ke elo, ya sekalian aja gue nemuin lo di sini dan memang satu arah,” jelas Stefan.


Kevin menggenggam erat flashdisk biru yang ada di tangannya, lalu memasukkan ke dalam tas. Tidak ingin barang bukti yang menunjukkan sebuah kebenaran itu hilang. “Oke Stef, sekali lagi thanks banget, meskipun lo sibuk lo udah mau bantuin gue,”


Stefan mengangguk, “Apa yang gue lakukan belum seberapa dari apa yang pernah lo lakuin buat gue, Vin.”


Kevin tersenyum lantas memakai helm sport, “Lo yang terbaik Stef. Hati-hati pulangnya.”


Stefan melihat kepergian Kevin, ia terus memandangi sahabatnya itu hingga tak terlihat. “Lo juga terbaik Vin, kalau bukan karena lo yang nyelametin gue dari preman anarkis di malam tiga tahun lalu, mungkin sekarang ini, gue udah jadi abu yang ditabur ke lautan, dan gue kagak berdiri di sini.”


Sekelebat ingatan pun terbayang di otak Stefan. Saat ia baru saja pulang dari club', motornya dihadang tiga preman yang membawa senjata tajam berupa celurit dan parang, satu lagi membawa senja api.


Ketiga preman itu, akan merampas motor dan juga barang yang ada di tas Stefan. Jika tidak maka nyawanya adalah taruhan, Stefan tidak mau begitu saja menyerahkan barangnya, ia mencoba melawan.


Karena merasa pernah belajar ilmu bela diri, namun ia terkejut ketika melihat ketiga preman itu mengeluarkan senjata tajam dari balik punggung.


Satu sabetan celurit tempat mengenai pergelangan tangan Stefan yang tertutupi jaket hijau army. Hingga merobek jaket yang dipakai Stefan juga membuat Stefan seketika berdarah-darah, lalu terhuyung-huyung hingga jatuh ke jalanan.


Bhugg!!! Preman itu jatuh tersungkur ke jalanan, yang lengang di jam dua dini hari. Parang yang sebelumnya dipegang oleh preman pun terlepas dari tangan.


Dua preman lainnya pun berbalik arah dan menyerah seseorang itu. Satu preman mengayunkan celurit, namun dengan cekatan, seseorang itu membalikkan badannya 180 drajat, lalu mengayunkan kakinya dan menendang tangan preman yang sedang memegangi celurit, hingga celurit itu jatuh ke jalan.


Menghajar dengan pukulan jurus pukulan jitu, Stefan melihat seseorang yang ia sebut Black Hero dengan cekatan dan terlihat sangat hebat dapat mengalahkan ketiga preman bengis. Bahkan salah satu preman yang sedang memegangi senjata api dapat direbut oleh Black Hero.


Namun pada saat Black Hero menodongkan senjata api yang direbutnya dari preman, preman itu tersenyum sinis. Dan ternyata senjata api itu palsu, alias hanya untuk menakut-nakuti orang-orang saja.


Black Hero lantas membuang senjata api palsu itu ke sembarang arah, hingga senjata api pun pecah menjadi dua bagian.


Black Hero yang memakai tudung Hoodie hitam lantas melayangkan tendangan seperti Bruce Lee dalam laga film Way to The Dragon. Ketiga preman itupun terkapar di jalanan dengan luka-luka legam hampir memenuhi sebagian tubuh dan wajah mereka.


Ketiga preman itupun lari terbirit-birit, meninggalkan seorang korbannya dan seorang lagi yang entah siapa telah menggagalkan aksi mereka.


Stefan merasakan sensasi rasa pegal, sakit dan lemas. Karena darah terus menerus keluar di pergelangan tangannya yang tersayat celurit preman.


Wajahnya pucat, bukan hanya itu. Pandangannya mulai mengabur, sehingga melihat seseorang yang ia sebut Black Hero hanya samar-samar. Stefan melihat Black Hero mendekati dan berjongkok di sampingnya.

__ADS_1


“Lo nggak pa-pa?” tanya Black Hero.


Stefan mengulurkan tangannya yang berlumuran darah, mulutnya tak mampu berkata, seolah tenaganya sudah terkuras habis. Black Hero nampak panik, dan langsung saja memapah Stefan dan memboncengnya seraya berkata.


“Lo terluka, lo harus ke rumah sakit!”


Dengan setengah kesadarannya, Stefan bersandar di punggung seseorang yang menyelamatkannya. Sampai motor yang dikendarai oleh orang yang telah menyelamatkannya sampai di parkiran rumah sakit terdekat.


Hingga pada akhirnya Stefan mendapatkan pertolongan medis, dan juga mengetahui seseorang yang ia sebut Black Hero, seseorang yang telah menyelamatkannya bernama Kevin.


Dari kejadian itulah, Stefan beserta keluarga besarnya menganggap Kevin adalah malaikat penyelamatnya. Meskipun Kevin hanya beranggapan bukan apa-apa karena Kevin setiap harinya lewat dan secara kebetulan melihat Stefan yang sedang berhadapan dengan tiga preman.


Stefan tersenyum mengingat kejadian itu, ia tidak akan melupakan kebaikan Kevin. Meskipun saat itu bisa saja Kevin membiarkannya mati ditangan para preman, karena sebelum malam tiga tahun lalu ia maupun Kevin sama sekali tidak mengenal satu sama lain.


Tapi keberanian dan rasa kemanusiaan Kevin sepatutnya di acungi dua jempol. Bukan hanya dua, bahkan kalau ia punya seribu jempol, maka Stegan akan mengacungkan seribu jempolnya kepada Kevin.


Stefan lalu berbalik badan, dan menuju ke mobilnya yang terparkir di bahu kiri jalan.


~~


Pukul 03:45 wib. Kevin baru sampai di rumah. Setelah memarkirkan motornya di bagasi, ia segera menuju ke dalam rumah.


Dalam keremangan lampu kecil, Kevin terkejut kala mendapati gadis yang telah menjadi istrinya sedang tertidur di sofa, pelan-pelan sekali Kevin mendekati gadis yang tertidur seperti bayi.


“Gue salut, meskipun di dalam rumah, dan tidur pun dia masih pakai hijab.” gumam Kevin lirih.


Ia berjongkok di depan sofa, berhadapan dengan wajah Khaira yang memang memiliki wajah cantik alami. Khas wanita Indonesia berkulit eksotis, Kevin ingin sekali sedikit saja ia bisa menyentuh pipi Khaira. Namun, belum sampai Kevin dapat menyentuh pipi Khaira.


Khaira sudah lebih dulu membuka matanya dan menatap tajam kepada Kevin, bukan hanya menatap. Namun Khaira juga menepis tangan Kevin yang akan menyentuhnya.


“Jangan sentuh aku!” sergah Khaira langsung beranjak duduk.




Bersambung

__ADS_1


__ADS_2