Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Lempar batu sembunyi tangan


__ADS_3

"Ada apa ini Vin?" Erik bertanya kepada Kevin, maniknya melihat Kevin sangat marah dengan emosi menyala-nyala.


Kevin bergeming, tatapannya terus menatap nyalang pada Clara yang dilihatnya sudah gemetaran, sesekali bersembunyi di balik punggung Anto.


Tanpa pikir panjang, Kevin segera menghampiri dan menarik tangan Clara agar mendekati Hengki. Lalu menghempaskan Clara begitu saja, sampai membuat Clara terhuyung-huyung dan hampir saja terjatuh ke lantai jika saja Anto tidak segera tanggap menangkap Clara.


"Kevin!" teriak Anto pada Kevin yang telah berlaku kasar, ia mengepalkan tangannya dan hampir saja melayangkan tinjunya kearah Kevin. Namun Kevin sudah lebih dulu menghardik dan juga menghalau tinjunya.


"Jangan pernah ikut campur!" tegas Kevin berkata membersamai dengan mencengkram kuat tangan Anto yang terkepal lantas menghempasnya begitu saja.


Para tamu undangan yang hadir terperangah dan sekaligus berdecak heran melihat situasi yang semula membahagiakan kini berubah menjadi ketegangan saat seorang pemuda yang terlihat lusuh itu hadir dengan menyeret seorang pria berperut buncit.


Bisik-bisik mulai terdengar sumbang di tengah-tengah ruangan megah yang di jadikan pesta pernikahan anak dari seorang pengusaha bernama Erik Laksamana.


Anto naik pitam dengan apa yang dilakukan Kevin. Anto memposisikan dirinya sebagai perisai dari istrinya, lantas membusungkan dada seolah ialah sang gladiator.


"Sekarang gue suami Clara, kagak bakal gue biarin lo seenak jidat menyeret dan berlaku buruk pada istri gue!" seru Anto lantang berdiri gagah berjarak satu meter dari Kevin.


Clara terpaku menatap suaminya.


"Gue kagak perduli, mau status lo sekarang apa. Gue kagak ada urusannya sama lo Anto!" sergah Kevin tidak mau kalah menggelegar dari suara Anto. "Minggir!" hardiknya lagi.


Erik dan Margaretha serta kedua orang Anto heran dan bingung melihat situasi ini.


"Kevin, sebenarnya apa yang sudah kamu lakukan? Kenapa kamu mengacaukan pesta pernikahan Clara yang sudah kamu anggap sebagai adikmu? Tidakkah kamu sudah membuat malu saya?" Erik mendekati Kevin, ia ingin tahu apa yang membuat Kevin sangat marah.


Manik mata Kevin beralih dari menatap Anto dan Clara, kini melihat Hengki detik berikutnya menatap Erik nyalang.


"Pengacau?" kata Kevin bersuara gigi dikeratkan. Telunjuknya menunjuk Hengki. "manusia biadab ini akan melecehkan istri saya! Dan anda sebut saya pengacau?" Kevin menatap Erik tajam. " Apa Anda tahu tuan Erik? Siapa pengacau yang sudah mempermalukan anda tuan?" Kevin berjalan mendekati Anto, meskipun badan Anto besar bukan berarti ia tidak bisa melawan. Kevin hendak menarik tangan Clara, tapi segera dihalau Anto. Alhasil Kevin menunjuk Clara yang sedang bersembunyi di balik punggung Anto. "Dialah pengacau yang sebenarnya, dialah putri yang selama ini anda bangga-banggakan tuan, dialah Clara! Gadis kejam, jahat, hatinya sangat licik dan dialah orang yang menjebak serta akan menculik istri saya, padahal istri saya tidak mengenal anak anda tuan Erik!" sambungnya geram, marah, emosi membaur jadi satu dalam kilatan matanya menatap Clara bagaikan kilat petir yang menyambar bumi.


Semua orang tertuju melihat Clara, terutama Erik dan juga Margaretha. Tentunya kedua orang tua ini tidak percaya dengan apa yang sudah dikatakan oleh Kevin.


"Jangan asal memfitnah putriku Kevin! Aku tahu kamu adalah anak dari Basuki. Tapi jangan seenaknya sendiri memfitnah putriku!" seru Margaretha lantang meneriakkan suaranya tentunya kepada Kevin.

__ADS_1


"Nyonya Margaretha!" Kevin melihat wanita paru baya yang masih terlihat cantik, tentu saja sebagai seorang wanita karir Margaretha merawat wajahnya dengan sangat baik. "Tahu apa anda hah? Tahu apa anda tentang putri anda, Clara hah? Selama ini anda lebih sering tinggal di luar negeri, bahkan sebulan sampai dua bulan anda tidak memberikan kabar kepada putri Anda? Tahu apa anda dengan kelicikan Clara? Dialah gadis rubah yang telah menjebak saya, agar seolah-olah saya yang menghamilinya!" sambungnya geram berkata mengeratkan gigi.


Beni dan para ajudan Erik mendekati Kevin, dan akan menjegal pemuda itu. Tapi tentunya Kevin sudah berseru lantang, agar Beni tetap di tempatnya.


"Diam kalian!" seru Kevin menunjuk para ajudan Erik yang telah mengambil ancang-ancang untuk menjegalnya.


Bisik-bisik dari para tamu undangan semakin tak terkendali, membicarakan mempelai pengantin wanita.


Margaretha tidak bisa lagi berkutik, bahkan ia menyadari dengan matanya yang terbuka. Bahwa wanita 43 tahun ini lebih mementingkan karir daripada keluarga.


Anto tergelak mendengar semua perkataan Kevin, ia tidak menyangka telah berurusan dengan seorang gadis yang kini telah menjadi istrinya. Anto berpikir, ia mempunyai tantangan berat dalam membina rumah tangganya kelak.


"Apa buktinya jika pria ini suruhan Clara, Kevin?" seru Erik tidak tinggal diam. Sebagai seorang ayah yang merawat Clara seorang diri tentu lebih memahami dan membela Clara.


"Disinilah buktinya, tuan!" Rezki berseru lantang. Ia dan Mita memapah Khaira yang lemah tidak berdaya.


"Dialah Khaira, wanita yang dijebak Clara, dan Khaira ini adalah istri Kevin! Saya bisa menjadi saksi dengan di sumpah, bahwa Clara memang sangat jahat!" imbuh Mita bersuara lantang.


"Dan saya telah melihat pramusaji ini telah memberikan minuman keras kepada Khaira, hingga membuat Khaira seperti ini. Saya mengikutinya sampai ke pantry hotel." Brian menatap Erik dan menyapukan pandangannya menatap keseluruhan tamu yang hadir lalu menatap Clara yang terlihat terkejut. "Mengakulah! Atau kalau tidak saya akan panggil polisi untuk memenjarakan mu! Saya Jaksa penuntut akan menuntut mu dengan hukuman setimpal kalau kamu tidak mau mengaku!" ancamannya pada sang pramusaji.


Sang pramusaji seketika itu bertekuk lutut. Lantas menangkupkan kedua tangannya di depan dada, dengan gesture tubuh gemetar ia mengakui perbuatannya. "Maafkan, maafkan saya. Saya hanya di suruh sama nona itu," Pramusaji menunjuk Clara, "saya hanya di suruh memberikan minuman, agar nona itu pingsan. Dan saya tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya." lalu menunjuk Khaira.


Kevin mencengkram kuat kerah kemeja Hengki, lalu berkata dengan nada ancaman. "Lo juga, ngaku lo! Atau kalau tidak kurungan penjara bagi tindak pelecehan seksuall 15 tahun. Dan gue bakal membuat lo seumur hidup membusuk di penjara!"


Hengki yang sudah sangat merasakan kesakitan akibat pukulan dari Kevin, semakin dibuat tidak karu-karuan mendengar ancaman penjara yang dialamatkan padanya. "A-ampun, ampuni gue, gue di suruh sama Clara, gue di suruh sama dia." Hengki menunjuk Clara.


Clara tidak bisa berkutik lagi, kini bukti itu mengakui bahwa dirinya telah memberikan titah untuk membuat suatu jebakan pada Khaira.


Erik tercengang matanya membulat sempurna melihat Clara. Ia tidak menyangka, Clara telah merencanakan rencana selicik ini, ia juga tidak menyangka Clara akan mempermalukannya di hari yang seharusnya membahagiakan ini.


"Cla-ra." ucap Erik terbata, ia berjalan hendak menghampiri Clara yang terlihat ketakutan. Namun secara mendadak, jantungnya seolah dihantam bongkahan batu besar. Seketika itu juga Erik memegangi dadanya, dan membuangnya tidak seimbang lalu berlutut seraya mengerang sakit. "Aaarhhh..."


Clara membelalakkan matanya melihat Papa Erik mengerang sakit seraya memegangi dada dan berlutut. Ia menghampiri Papanya. "Papa..." air mata jatuh membasahi pipinya.

__ADS_1


Begitu juga dengan Margaretha, ia mendekati suaminya, dan bersimpuh di samping suaminya yang sedang mengerang sakit. "Erik.."


Para ajudan Erik juga mendekati tuannya. "Tuan."


"Tuan."


Dramatis, semua tamu undangan melihat situasi ini sangat dramatis. Heran sekaligus bingung membaur jadi satu dalam benak mereka masing-masing yang tidak tahu akan apa yang sebenarnya terjadi. Karena yang mereka dengar hanyalah tentang keburukan dan kebobrokan anak dari seorang pengusaha kaya raya Erik Laksamana.


Kevin tercengang melihat tubuh gagah Erik jatuh berlutut serta memegangi dada. "Om Erik?" gumamnya lirih, ia seolah sedang melihat Papa Basuki. Namun Kevin menahan diri untuk tidak mendekat pria paruh baya yang sepertinya mendapatkan serangan jantung.


"Tolong panggil ambulans!" teriak Margaretha gemetar.


Tanpa di suruh pun Beni sudah memanggil ambulans darurat.


Clara berdiri dengan berjalan terhuyung-huyung menghampiri serta menghardik Kevin. "Puas lo Vin?! Puas lo udah buat Papa seperti ini?!" teriaknya gemetar menahan tangis.


Kevin bergeming mendapatkan pukulan dari tangan Clara yang terkepal di dadanya. Tatapannya nanar melihat Erik mengejan sakit.


Anto mendekati Clara, serta memeluk istrinya. Tatapannya tajam menatap Kevin, "Sudah Clara, sudah. Jangan seperti ini."


Clara berteriak serta menghempaskan tangan Anto yang mencoba untuk memeluknya. "Lepaskan gue, ini juga semua salah lo, Anto brengsek!"


Anto tertegun mendengar makian dari istrinya. Bukan karena malu, tetapi ia merasa bersalah. Akibat dari kesalahan satu malam, jadi berakhir runyam.


Kevin menjegal tangan Clara, lantas berkata sangat tegas. "Ingat Clara, lo yang sudah lempar batu, jangan kemudian lo sembunyikan tangan! Lo yang licik, lo harus mendapatkan hukuman!"


Tak berselang lama, polisi dan petugas ambulance datang.




Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2