Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Duri di balik uang


__ADS_3

Sesampainya di dalam rumah Khaira menghempaskan tangan Kevin begitu saja, “Sayang-sayang gundul mu!” hardiknya pada Kevin, lalu melenggang pergi ke dapur meninggalkan Kevin yang menampilkan mimik wajah slengean.


Kevin mengacak-acak rambutnya sendiri, “Jelas rambut gua kagak gundul!”


Kevin tersenyum melihat Khaira yang cemberut, ia menyusul Khaira ke dapur dengan membawa dua kantung plastik belanjaan sayuran dan menaruhnya di meja makan. “Kenapa lo marah?”


Khaira mengambil gelas dan menekan air minum dari dispenser, lalu menarik kursi dan meminum air sampai tandas.


Setelah dirasa tenggorokannya tidak haus lagi, Khaira menjawab Kevin sedikit melunak, “Aku nggak marah, kenapa aku harus marah? Dan hampir semua yang Mas Kevin ucapkan adalah benar, hanya saja aku nggak suka jika orang-orang menuduhku hamil di luar nikah!”


Kevin manggut-manggut, ia pun menarik kursi lantas duduk.


“Oh cuma itu, tenang. Lo nggak usah marah. Kalau lo mau hamil di dalam nikah pun gue siap ladenin, tinggal lo bilang aja kapan waktunya gue siap garap telinga, mata, bibir, dan hidung biar mancung kayak gue ini, hm?” ujar Kevin seraya menaik turunkan kedua alisnya yang cukup tebal.


Khaira jelas saja ingin melempar Kevin dengan gelas yang sedang dipegangnya, “Dasar sinting!” ia pun beranjak dari duduknya enggan meladeni celotehan Kevin yang sudah seperti burung kenari.


“Gue kagak sinting! Itukan kalau lo mau hamil di dalam nikah, biar nggak di kata hamil di luar nikah.” ujar Kevin melihat raut wajah Khaira yang nampak lucu ketika sedang marah.


Khaira dleming! Tidak ingin mengulur waktu karena pagi sudah beranjak siang, ia juga harus berangkat bekerja, Khaira mengambil sayur-sayuran yang dibelinya, dan mengeluarkannya satu persatu dari dalam kantung plastik. Tanpa memperdulikan Kevin yang sedang memperhatikannya.


Kevin melihat Khaira, ia memiringkan sedikit kepalanya.


Dapat dilihat dari ekor matanya, Kevin sedang memperhatikannya. Khaira merasa risih ditatap begitu oleh Kevin, ia menatap Kevin dengan memicingkan mata,“Kenapa Mas Kevin ngelihatin aku begitu? Jangan berpikiran mesum yah! Karena aku nggak suka!”


Kevin tidak menjawab Khaira, ia langsung saja beranjak dari duduknya dan berjalan masuk ke kamarnya.


Khaira heran akan sikap Kevin yang menurutnya sulit dimengerti, terkadang Kevin terlihat baik, kadang terlihat dingin dan acuh tak acuh! Entahlah, ia mengangkat kedua bahunya.


Dan kembali menyiapkan sarapan pagi dari sayuran yang dibelinya, hanya sekedar cah kangkung dan tempe serta tahu goreng. Selain itu, ikannya ia taruh di dalam freezer untuk lain waktu.


“Beres!” Khaira melihat masakannya yang telah tersaji di atas meja makan, tak lupa juga menanak nasi. Setelahnya ia pun berniat mandi terlebih dahulu sebelum sarapan.


Selama lebih dari dua puluh menit, Khaira telah mandi dan bersiap dengan memakai stelan kemeja polos warna navy dipadukan hijab warna senada serta celana hitam agak longgar. Soal makeup ia tak ingin ribet, hanya cream siang dan lip balm warna pink, agar membuat wajahnya lebih segar.

__ADS_1


Khaira pun keluar dari kamar, dan dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul 07:35 wib. Ia pun segera menuju dapur dan bersiap untuk sarapan sebelum berangkat bekerja.


Senangnya bukan main, untuk pertama kalinya ia makan makanan dengan cara yang benar di rumah Kevin.


Di ambilah piring dan sendok, lalu mencentong nasi cukup satu setengah centong nasi pun sudah membuatnya kenyang sampai jamnya makan siang di tempat kerja.


Saat sedang menyantap sarapannya, Khaira melihat Kevin menarik kursi disebelahnya.


“Ehmm Ra-” ucap Kevin, namun ia menghentikan kalimatnya kala Khaira sudah terlebih dahulu memperingatinya bahwa gadis itu sedang makan.


“Aku lagi makan Mas Kevin, dan kalau lagi makan jangan di ajak ngobrol ntar bisa keselek!” ucap Khaira, ia pun melanjutkan makannya, “Mas Kevin mau makan? Aku ambilkan piring?” tawarnya melihat Kevin terus saja menatapnya.


Kevin mengangguk


Lantas Khaira beranjak dan berjalan menuju lemari dapur, dan mengambil piring serta sendok. Lalu mencentong nasi, setelahnya ia pun memberikan kepada Kevin, tak lupa ia mengambilkan lauk yang dimasaknya.


Inilah kali pertama bagi Kevin merasakan kembali masakan rumahan, terakhir kali ia memakan makanan rumah itu ketika Almarhumah Mamanya masih hidup.


Kini yang terdengar hanya sendok dan piring yang saling bersahutan.


Selama kurang lebih lima belas menit, setelah makan Khaira lantas mencuci piringnya dan piring bekas Kevin makan, lalu kembali duduk di kursi meja makan,


“Tadi Mas Kevin mau bicara soal apa?” tanya Khaira, ia menatap Kevin, sebelum Kevin menjawab. Khaira kembali mengeluarkan statementnya.


“Oh apa soal biaya sewa aku tinggal di sini? Tenang Mas, aku janji setelah gajian aku pasti bayar sewa selama aku tinggal. Secepatnya juga aku bakalan cari kos-kosan, tapi maaf yah uang yang ku bawa dari kampung belum cukup buat bayar sewa ku tinggal di rumah mu dan belum bisa bisa sewa kos-kosan,” ada jeda dalam ucapannya, Khaira menatap Kevin dengan seksama.


“tadinya aku berpikir mau tinggal di kosan Mita, tapi aku takut warga kampung Rawa Dengklok. Tanya soal ini dan itu, aku takut nantinya di cecar pertanyaan lagi,” jelas Khaira panjang lebar sampai ia merasa nafasnya ngos-ngosan, dihirupnya oksigen guna memenuhi paru-parunya dan menghembuskannya perlahan.


Kevin menghela nafas panjang, ia melihat Khaira yang berceloteh ria tanpa memberikannya kesempatan untuk berbicara. Ia tidak habis pikir di jaman sekarang ini mengapa masih ada seorang wanita yang tidak enakkan seperti gadis di depannya.


“Udah ngomongnya? Boleh gantian gue yang ngomong?” tanya Kevin, bersitatap dengan manik mata Khaira.


Khaira mengangguk cepat, ia mengerjap-ngerjapkan matanya.

__ADS_1


Kevin merogoh saku celana pendek yang dipakainya, ia mengeluarkan sejumlah uang yang berwana merah lalu menaruhnya dihadapan Khaira.


Khaira nampak terkejut Kevin menaruh uang di depannya. Ia mengerjap-ngerjapkan mata berkali-kali, ia kembali melihat Kevin, “Bu-buat apa uang ini Mas?” tanyanya tergagap.


Khaira menelaah sesuatu yang mungkin saja Kevin harapkan dari hubungannya yang sudah menikahinya.


“Ini buat lo-” lagi-lagi ucapan Kevin menggantung di ujung lidahnya. Karena Khaira buru-buru menyelanya.


Khaira menggeleng kepalanya, pikirannya dipenuhi dengan berbagai dakwaan, jangan sampai ada duri di balik uang yang diberikan Kevin. “Jujur aku nggak mau kalau sampai Mas Kevin mau membeli ku, aku nggak mau melakukan hubungan seperti suami-istri, aku tau kita memang sudah menikah secara agama, dan aku sudah membaca kemarin malam, perihal artikel sah atau enggaknya jika pasangan suami-istri yang menikah hanya secara hukum agama melakukan hubungan int*m, tapi aku nggak mau Mas, aku nggak mau. Apa kata Abah nanti, kalau sampai aku pulang dari sini tiba-tiba aku hamil, bisa-bisa Abah jatuh pingsan. Kan nggak lucu!”


Astaga! Kevin tidak habis pikir mengapa wanita dihadapannya sangat polos. Sampai-sampai telah membaca artikel tentang hubungan yang dilakukan suami-istri pada umumnya. Sebegitu takutnya kah gadis itu? Kevin tertawa dalam hati, begitu manis sampai-sampai ia ingin mengunyah Khaira tanpa menelannya.


Kevin beranjak dari duduknya, ia mengambil gelas yang sebelumnya digunakan Khaira untuk minum, lalu menuangkan air dan memberikan gelas tersebut kepada Khaira, “Minumlah, biar bisa ngomong panjang kali lebar lagi.” ucapnya lalu duduk kembali.


Khaira mendengus kesal, tapi ia juga menerima gelas yang disodorkan Kevin, lantas meminumnya sampai habis lalu meletakkan gelas di atas meja kaca cukup kasar, sampai menimbulkan bunyi.


“Ini uang buat lo belanja kebutuhan rumah, macam sayur dan yang lainnya. Selebihnya lo juga boleh membeli apa yang elo butuhin buat keperluan lo sendiri, tapi ingat, jangan boros juga,” ungkap Kevin, maksud darinya memberi uang kepada Khaira.


Khaira membulatkan matanya, ia menatap Kevin dan beralih menatap uang yang ada di atas meja. Entah berapa jumlahnya.


“Tapi kan aku bukan istri sungguhan kamu Mas Kevin, kamu nggak perlu bersikap terlalu baik sama aku, aku juga punya uang walaupun nggak seberapa, tapi masih cukup untuk membeli kebutuhan hidupku sendiri sampai waktunya gajian,” Khaira merasa Kevin tidak perlu sampai memberikannya uang untuk belanja, seperti suami sungguhan.


“Udah jangan kebanyakan ngomong, terima aja uangnya. Intinya gue ikhlas ngasih! Sekarang ini udah siang kalau lo mau berangkat kerja ayo siap-siap, gue anterin!” tukas Kevin, tanpa ingin lagi mendengar bantahan Khaira, ia segera saja beranjak dari duduknya.


“Tapi Mas Kevin!” ucap Khaira terhenti kala melihat Kevin sudah berjalan mendahului ke ruang tamu.


Khaira menghela nafasnya, dilihatnya uang merah di atas meja. Bukannya senang, ia justru merasa mempunyai tanggung jawab atas uang itu. “Hehhh apa lagi ini Ya Allah, kenapa seolah-olah aku udah jadi istri beneran? Padahal aku bahkan nggak pernah membayangkan seperti apa kehidupan setelah menikah!” gumamnya.




Bersambung

__ADS_1


__ADS_2