
Sibuk? Sudah biasa bagi kehidupan Khaira kini di kota. Bahkan kakinya serasa pegal kian meraja. Tapi tak mengapa demi masa depan, demi cuan. Asalkan bisa buat beli sebongkah berlian.
Ya, sebagaimana kehidupan ini. Terkadang memang seperti menaiki komedi putar, kadang berada di atas, dan terkadang berada di bawah. Kadang senang, kadang sedih. Bila dijabarkan seperti makan buah cermai kadang asam banget, kadang pahit seperti minum jamu brotowali, terkadang manis seperti madu.
Dan sekarang ini, Khaira tidak mengerti rasa apa yang sedang ia alami. Karena hidup itu ya di nikmati aja prosesnya, ia merasa semakin mengeluh hanya semakin membuatnya tidak bersemangat, apalagi sekarang ini badannya kurang fit.
Hahh... kepalanya serasa berat, dan badannya serasa sumeng. Tapi, meskipun begitu Khaira mencoba sekuat tenaga untuk bergerak mengantarkan menu pesanan pelanggan dengan penuh ke hati-hatian, agar sampai di meja pelanggan dengan aman.
"Ra meja nomor sepuluh," kata Silla.
"Iya," Khaira mengangguk singkat dan menjalankan tugasnya sebagai seorang pelayan.
Waktu telah berlalu begitu saja, setelah pelanggan mulai sepi kali ini memang giliran Khaira yang di tugaskan untuk membuang sampah ke samping restauran tempatnya di mana bak sampah tersedia.
~~
19:18
Kevin melajukan laju motornya dengan kecepatan tinggi. Tak perduli terhadap jalanan perkotaan yang dirayapi kendaraan pemotor lain. Ia melewati jalan tikus, seperti gang-gang sempit, guna menghindari kemacetan.
Memang tak butuh waktu lama, Kevin telah sampai di depan restauran tempat Khaira bekerja. Ia segera turun dari motornya, dan berjalan menuju restauran, diamatinya semua karyawan Rezki yang bertugas. Namun ia tak menjumpai istrinya.
Kevin berinisiatif bertanya kepada salah satu pegawai, tak lain tak bukan adalah sepupu Khaira, "Mita?"
Mita terkejut melihat Kevin belum saatnya jam pulang kerja, "Kenapa tumben-tumbenan lo ke sini lebih cepat daripada biasanya? Eh iya, biasanya kan lo jarang jemput Khaira ya? Pan lo sibuk sama cewek-cewek lo yang banyak sampai lo rentengin di bulu ketek ya?"
Terserah Mita mau bilang apa? Kevin berargumen pasti Khaira juga banyak bercerita tentangnya kepada Mita. Kevin langsung bertanya kepada intinya, "Khaira dimana?"
Mita mengerutkan keningnya, dan tersenyum sinis, "Ngapain lo cari Khaira, dah sono lo kan sibuk sama dunia malam lo yang nggak guna itu!"
Kevin geram akan jawaban Mita yang memancing emosinya yang memang sedang tidak stabil, "Cepat kasih tau dimana Khaira?" bentaknya arogan.
Mita dan seorang temannya terkejut mendengar Kevin bertanya dengan nada tinggi, alhasil karena tidak terbiasa melihat seorang pria marah. Seorang teman Mita yang menjawab.
__ADS_1
"Khaira kayaknya lagi buang sampah di samping restauran." kata Asih menunjuk luar samping restauran.
Tanpa menunggu lama, Kevin segera berlari keluar dari dalam restauran dan mencari keberadaan Khaira. Pada saat itu juga, ia melihat Khaira berjalan dengan pandangan menunduk sedangkan kedua tangan Khaira terlihat menjinjing dua kantong plastik hitam, seperti akan membuang sampah.
Kevin langsung menghampiri Khaira yang memang belum menyadari keberadaannya.
“Ikut gue sekarang!” titah Kevin sambil memegang lengan Khaira.
Khaira spontan saja terkejut mendapati seorang pria yang tiba-tiba memegang lengannya dari samping, tanpa melihat orang tersebut. Khaira mengeluarkan jurus silat yang pernah dipelajarinya.
Sekali hentakan tangan, Khaira menarik tangan pria yang telah mengejutkannya dan membalikkan tubuh lalu membanting pria itu ke batako pelataran samping restauran.
BUHG
“Aaahh...” erang Kevin mendapati dirinya terpelanting menghantam keras jalanan berbahan dasar semen yang di cetak bulat-bulat.
Khaira melihat pria yang ia banting masih dengan mengepalkan tangannya, akan tetapi ia terkejut kala pria yang telah membuatnya terkejut. Ternyata suaminya sendiri.
Kevin menahan sakit di bahunya yang menghantam kerasnya batako.
“Ternyata tenaga lo nggak sebanding sama badan lo yang kecil itu!” Kevin terduduk seraya menadahkan wajahnya menatap Khaira.
"Kapan Mas Kevin dateng? Kenapa sampai aku nggak dengar derap langkah kakimu?" Khaira mengulurkan tangannya dihadapan Kevin, “Makanya lain kali Mas Kevin jangan asal tiba-tiba aja nongol, pakai acara megang tangan lagi. Kan aku takut, aku kira siapa? Berasa heroudang!”
Kevin menyambut tangan Khaira, ia lantas berdiri,“Karena lo udah banting gue, sekarang lo harus ikut gue,”
Khaira kelabakan, “Wah nggak bisa gitu dong Mas Kevin, aku kan lagi kerja. Nanti aku bisa dimarahi Bos!”
Kevin tidak menggubris racauan Khaira, ia juga tidak menghiraukan tatapan beberapa orang yang baru saja keluar maupun masuk kedalam restauran. Ia tetap menarik tangan istrinya menuju motornya yang terparkir.
Khaira tak habis pikir terhadap Kevin yang bertindak sesuka hati, “Mas Kevin, aku harus bilang dulu sama Bos!”
“Nanti gue yang bilang ke dia!” cetus Kevin singkat, lalu memasangkan helm di kepala Khaira tanpa menunggu persetujuan si empunya.
__ADS_1
“Tapi Mas Kevin, tas ku masih tertinggal di dalam!” lagi dan lagi. Khaira membuat alasan agar Kevin tak membawanya secara paksa.
“Nanti telpon Mita, suruh dia yang bawa,” selesai sudah ia memasangkan helm di kepala Khaira. Kevin menunjuk jok belakang dengan dagunya, “Naik!” titahnya.
“Tapi Mas!” hardik Khaira, ia menatap Kevin penuh dengan keheranan, ada apakah gerangan Kevin menyeretnya seperti anak TK yang sulit untuk diajak pulang ketika sedang asyik-asyiknya bermain.
“Nggak ada tapi-tapian! Kalau gue bilang naik, ya naik!” titahnya lagi. Kevin tidak ingin lebih didebat. Karena suasana hatinya sedang tidak baik.
“Kenapa si Mas Kevin selalu saja memaksakan kehendak sendiri. Apa karena aku terlihat gampang ditindas begitu hah?” hardik Khaira tidak tinggal diam, ia sudah jengah atas perbuatan Kevin senangnya bertindak sesuka hati.
Tak sabaran, Kevin akhirnya sedikit memaksa Khaira untuk naik ke jok belakang motor, “Naik!” titahnya.
Khaira bergeming, ia mendekapkan kedua tangannya di depan dada.
“Ini yang buat gue selalu pingin maksa lo, karena kenyataannya lo suka di paksa-paksa!” Kevin membungkuk dan mengangkat satu kaki Khaira guna melangkah naik ke boncengan motor. Tentu saja Khaira memberontak, namun itu bukanlah sesuatu yang berarti.
“Ck, ih Mas Kevin, aku bilang jangan sentuh aku. Kejadian waktu subuh masih membuatku trauma!” hardik Khaira, kini ia sudah duduk di boncengan motor sport Kevin. Nyatanya memang tidak semudah membalikkan telapak tangan dalam melupakan perlakuan Kevin sewaktu menjelang subuh.
Kevin terdiam, ia tidak menjawab racauan Khaira. Kan ia sudah menduga apa yang di tuliskan Khaira dalam suratnya tadi pagi, memang bohong. Mana mungkin secepat itu melupakan kejadian itu.
“Jelasin kita mau kemana?” tanya Khaira masih dengan nada bicaranya yang terdengar jutek.
“Udah siap!” Kevin sudah duduk di atas motor dan siap juga untuk melajukan motornya, “nanti lo bakal tau.”
Kevin pun melajukan motornya membaur bersamaan pengendara lainnya.
Khaira berpegangan di ujung jok, ia masih takut akan perbuatan Kevin tadi pagi. Seolah terpatri dalam otaknya, bahwa Kevin adalah pria mesum.
Bersambung
__ADS_1