
"Brengsek!!"
Buk.... buk...
"Aaa."
"Sial."
"Bagaimana aku bisa mendekati gadis itu?"
"Rupanya bryan telah siaga dari sebelumnya."
"Aku harus mencari cara agar bisa mendekatinya.''
"Tapi..., bagaimana caranya kalau banyak bodyguard yang menjaga nya?"
"Hah..., aku harus mencari cara yang jitu."
Yah..., sepasang mata yang terus dan masih saja mengawasi keluarga kecil bryan meskipun mobil mereka telah menghilang dengan beberapa mobil di bekakang maupun depan mereka.
"Hem..., aku akan menggunakan cara yang lama. Bahkan bisa satu tepuk dapat dua mangsa."
"Stevi..., stevi..., apa kau akan ditakdirkan menjadi bagian keluarga terkaya di kota ini."
"Hahaha..., aku akan segera menghempas semua orang yang mendekati bryan dan juga menguasai kekayaan yang tak ternilai harganya."
Langkah stevi berlenggak lenggok bak model spanyol meninggalkan rumah sakit.
Bram merasa sedikit bahagia dengan kabar berita yang di berikan oleh beberapa anak buah nya yang bertugas baik untuk mengawasi keluarga mahendra msu pun jack.
"Hahahaha...., akhirnya pelan- pelan aku akan mendapatkan kembali putra dan perusahaan mahendra yang seharusnya menjadi milik ku dan jack akan kembali ke tangan pemiliknya."
"Aku yakin sebentar lagi jack akan berbalik menentang mu."
"Bahkan akan pergi meninggalkan mu, mahemdra. Hahahaha...., kemenangan ada ditangan ku."
"Dan saat nya aku bergerak mengendalikan semuanya."
"Aku sudah tidak sabar menanti kebersamaan bersama cucu dan putra ku."
Entah apa yang di pikirkan bram dan juga direncanakan nya hingga tersenyum meyipitkan kedua matanya lalu pergi meninggalkan ruangan nya.
"Bos..., bos..., hah .., hah."
Bram terkejut mendengar panggilan dari anak buahnya yang saat ini tengah berlari menghampirinya.
"Ada apa kau ini? Kenapa berlarian di rumah ku? Bisa roboh rumah ku."
Bram mengerutkan keningnya saat merasakan sedikit getaran juga teriakan panggilan beberapa anak buah nya.
"Bos..., gawat bos."
__ADS_1
"Gawat? Apa yang gawat?"
"Gawat bos..., rencana akan gagal jika jack maksud saya tuan jack pindah dari kota ini."
"Apaa...., jack akan pindah?"
"Benar, bos."
"Beberapa hari tuan muda jack bolak - balik keluar kota untuk membeli sebuah rumah di kota lain."
"Apa kalian tak salah mencari informasi? Tidak mungkin jack pindah ke kota lain."
"Benar, bos. Kami sudah memastikan nya dan juga sengaja mengikutinya."
"Benar, bos. Jika tuan muda memindahkan kantornya, bisnis kita akan terbongkar bos."
Bram mengerutkan keningnya mengerti apa yang dimaksud anak buah nya. Beberapa saat yang lalu pengiriman barang- barang yang merupakan ladang bisnisnya selama ini terhambat karena banyaknya pencekalan dan juga tertangkapnya beberapa ansk buah nya oleh pihak yang berwajib. Tapi setelah menopang nama perusaan jack yakni JK Group yang juga terkenal dikota itu, bisnis yang dijalankan nya menjadi lancar bahkan mengalami kemajuan.
Bram telah memanipulasi data- data perusahaan nya seolah milik JK Group untuk meloloskan semua perijinan pengiriman barang- barang milik perusahaan nya. Bukan hanya itu saja, tetapi seorang yang merupakan kepercayaan jack telah berkhianat membantu atau bersekongkol dengan bram atas iming- iming yang diberikan bram selama ini.
"Jika jack memindahkan kantornya juga, berarti semua bisnisku akan terhenti."
"Sementara aku baru saja memasok stock gudang hingga penuh."
"Bagaimana dengan stock yang akan datang juga?"
Bram berjalan mondar- mandir tak tentu arah memikirkan berita yang disampaikan anak buahnya, juga kemungkinan- kemungkinan yang terjadi dengan bisnis nya.
"Mahendra group milik melaty, dan jack sebagai ahli warisnya pasti bisa memegang perusahaan itu."
"Bagaimanapun juga semua milik jack dan harus kembali ke pemiliknya."
"Tapi..., bagaimana kalau jack bersikeras memindahkan kantor nya?"
"Tidak! Aku harus segera bertindak."
"Semua bisa kacau dan pundi - pundi uang ku akan lenyap seketika."
Entah apa yang di pikirkan bram hingga membuat anak buahnya saling pandang bahkan mengangkat bahu mereka merasa sedikit bingung dengan sikap bos mereka.
Bram sengaja mengemudi mobilnya sendiri tanpa di dampingi anak buahnya atau bahkan sopir pribadinya menuju arah batas kota. Meskipun begitu tetap saja beberapa anak buahnya mengikuti dari belakang walaupun jarak agak jauh tak ingin membuat sang bos dalam kemarahan.
Mobil yang bram kendarai berhrnti di pinggir kota, tepatnya di sebuah pemakaman umum yang terbilang pemakaman tanah mahal. Yang memang di kelola secara mandiri dan terawat.
"Mel..., apa kabarmu? Apa kau tak merimdukan ku?"
"Kenapa kau tak memberitahu hal sebenarnya padaku?"
"Kenapa kau menitipkan putra kita pada musuh? Kenapa mel?"
"Kenapa kau tega membohongiku? Apa aku tak berhak membesarkan putraku sendiri?"
__ADS_1
"Sebegitu bencinya kau padaku atas sebuah kesalahan kecil yang ku lakukan, mel?"
"Tapi..., sekarang kau lihat mel. Takdir berpihak padaku, aku bertemu denhan putraku secara tidak sengaja."
"Dan sebentar lagi..., aku akan kembali merebut perusahaan kita. Dan juga putra kita tentunya."
"Apa kau ingin mendengar kabar bahagia? Putra mu telah memberikan kita seorang cucu."
"Cucu perempuan yang sangat cantik, kau pasti menyukainya."
"Aku akan membawanya kemari jika waktunya sudah tiba. Tentunya bersama putra dan menantu kita."
"Kau bisa tenang, mel."
Beberapa kali bram tampak mengusap sudut matanya menitikkan airmata, lalu mengusap batu pusara sebuah makam yang bertuliskan melaty anggoro.
Setelah menenangkan diri menunggu beberapa saat, bram menoleh pada pusara tersebut lalu pergi meninggalkan pemakaman tersebut.
"Rencana ini harus berhasil."
"Jika tidak, mimpi dan cita- cita ku akan hancur seketika."
"Tapi..., bagaimana jika jack membela mereka?"
"Tidak..., tidak. Aku yakin jack mulai membangkang dan berbelok membenci mereka."
"Yah..., itu benar. Sesuai yang dikatakan anak buahku, kalau jack akan pindah ke luar kota ini."
"Dan itu berarti...? Yah..., kesempatan ini tak kan ku sia- siakan."
Gumam jack dalam hati disela- sela matanya fokus pada arah jalan di depan nya.
Bram kembali mengemudikan mobilmya setelah menumpahkan isi hatinya pads sebuah pusara yakni istrinya yang telah meninggal.
Sebuah rencana yang telah matang disusun nya untuk mencapai ambisinya telah dijalankan nya, meskipun ada sedikit perubahan yang mengacaukan semua rencana bram namun pria licik itu mempunyai rencana cadangan.
Anak buah bram kembali mengikuti kemana arah tujuan bram melajukan mobilnya, tak ingin terjadi sesuatu pada bos mereka.
Bram tak lantas pulang ke kediaman nya atau kembali ke kantor perusahaan nya, namun berhenti disebuah restoran tak jauh dari kantor jack.
Rupanya bram telah memesan sebuah ruangan vip dan menunggu seseorang datang menemuinya. Bukan tanpa alsan bram menunggu orang tersebut, tetapi semua demi kelangsungan bisnisnya dan juga keuntungan yang didapatnya.
"Kenapa lama sekali?"
Gumam bram setelah menunggu beberapa saat.
Ceklek...
"Pak..., anda sudah lama menunggu?"
Bersambung🙏😊
__ADS_1