
Studio musik.
Kevin memperkenalkan Khaira sebagai istrinya kepada teman-temannya yang sekarang ini sedang berada di studio musiknya.
Khaira sempat tercenung Kevin memperkenalkannya sebagai istri. Tapi ya Khaira anggap itu, itikad baik Kevin. Khaira jelas sangat tertarik dengan semua alat-alat komponen musik DJ. Ia juga diperkenalkan oleh beberapa teman-teman Kevin yang saat ini sedang berada di studio.
Ada Yoshua, Richard, dan ada juga Yoga. Ketiga pria itu nampak sangat serius dalam berlatih.
Richard sebagai vokal, Yoshua sebagai gitaris, Yoga sebagai dreamer dan tak ketinggalan Kevin juga sebagai pengiring organ guna melengkapi instrumental musik yang sangat pas.
Sementara Khaira duduk di sofa bersama dengan kekasih Yoshua dan kekasih Richard, seolah sedang melihat empat pria tampan konser.
Kapan lagi ya kan?
Cling... Khaira merasa matanya sangat segar bisa melihat pria-pria tampan dari jarak yang sangat dekat seperti ini. Beruntungkah ia? Ya kali tidak beruntung.
Kevin mendekati Khaira yang nampak sangat senang, ia juga memberikan mic kepada Khaira untuk bernyanyi bersama-sama selayaknya karaokean.
Tentu saja Khaira enggan menanggapi mic dari Kevin, ia tidak percaya diri untuk bernyanyi di depan banyak orang meskipun sekarang ini hanya kelima teman Kevin yang ada di ruangan studio ini.
Kini, Richard lah yang mengambil alih organ musik. Sedangkan Kevin dan Khaira berduet, namun lebih kepada Kevin yang menyumbangkan suara.
Sesi lagu yang dinyanyikan Kevin dan Khaira pun usai.
"Ayo dong Ra nyanyi lagi, jangan malu-malu sama kita-kita mah enjoy aja, iya nggak teman-teman." kata Yoshua kepada Khaira yang sejak tadi hanya sesekali bernyayi.
"Nah bener tuh," kata Ella ikut berpartisipasi dalam membuat Khaira kembali bernyanyi.
Kevin tersenyum, ia menatap Khaira yang nampak masih malu, bahkan terlihat kaku. "Bernyayi sesuka hati, anggap aja kekesalan atau perasaan mu saat ini kamu curahkan lewat nyanyian,"
Khaira akhirnya pasrah, setelah dipaksa, "Baiklah-baiklah. Tolong teman-teman, iringi musik yang akan aku nyanyikan ini."
Selayaknya seorang penyanyi dangdut dalam pementasan orkes panggung, Khaira mulai mengalun suara, kendati suaranya tidak sebagus penyayi dangdut..
🎶 Haruskah aku bertanya-tanya kepada awan
Mengapa aku kehausan di tengah-tengah lautan
Haruskah aku bertanya-tanya kepada pohon
__ADS_1
Mengapa aku kelaparan di tengah-tengah ladang
Seakan-akan aku ini tiada lagi kata
Seakan-akan aku ini terbuang dari pandangan....
Asek bukan?!
Ada kepedulian terhadap lagu yang dibawakan oleh Khaira. Entah itu menggambarkannya sebagai apa? Namun dalam pemilihan lagunya, seperti yang dikatakan Kevin, lepaskan saja kekesalan dan kesenangan lewat lagu. Dan benar saja Khaira menyanyikan seolah sedang mengekspresikan diri.
Terlihat dari kelima teman-teman Kevin juga menikmati. Tak jarang kedua wanita yang hadir juga ikut bernyanyi.
~
Keseruan di studio sampai pada pukul 22:00 wib. Kevin dan Khaira serta yang lainnya pulang, karena dirasa waktu sudah malam.
Baru saja masuk ke dalam rumah, ponsel Kevin berbunyi.
"Mas tuh angkat dulu telponnya, siapa tau penting." Khaira menunjuk tas selempang Kevin.
Dua tiga panggilan Kevin memang sengaja mengacuhkannya, dikarenakan ia sudah tahu siapa yang menghubunginya 'Om Erik, atau 'Beni. Alih-alih mengangkat sambungan telepon, Kevin malah mematikan ponselnya. "Ada apa mereka menghubungi gue? Kalau menyangkut Clara, kenapa gue diteror guna bertanggung jawab atas kesalahan yang kagak gue perbuat?"
"Lho kok di matikan Mas?" Khaira duduk di ruang tengah melihat Kevin dengan tatapan heran.
"Nggak penting." Kevin berjalan kearah kamar mandi.
Khaira penasaran, siapakah gerangan yang menelepon suaminya malam-malam begini. Ia hanya menatap tas Kevin yang tergeletak di meja ruang tengah. Dikarenakan ia tidak berani mengutak-atik barang pribadi itu.
Melihat Kevin keluar dari kamar mandi dengan wajah yang basah serta tetesan air dari ujung rambut Kevin membuat Khaira terkesima, namun secepatnya ia menggeleng kecil. Lalu bergegas masuk kedalam kamar mandi.
Melihat ekspresi istrinya yang seperti sedang mengalihkan atensinya, Kevin mengernyitkan dahinya bingung. "Kenapa tuh orang?" Ia berjalan kearah kamar, namun bukan kamarnya melainkan kamar yang ditempati Khaira.
Setelah dari kamar mandi, Khaira tersentak saat baru memasuki kamar ia melihat Kevin sudah dalam posisi PW (Posisi Wenak) terlentang di atas ranjang. "Mas Kevin kenapa masuknya ke sini bukan di kamar mu?"
"Gue mau tidur di sini," jawab Kevin santai seraya mengalihkan tubuhnya menjadi sedikit miring. Ditatapnya Khaira yang sedang membuka hijab. Melihat Khaira yang sedang menggeraikan rambut panjang nan hitam membuat aliran darah Kevin seperti bergejolak. "lagian kan kita suami istri, mana ada suami istri yang pisah ranjang. Nanti malah nggak ada keturunan?"
Khaira telah usai menyisir rambutnya yang kusut. Dilihatnya Kevin sedang memperhatikannya. Ia lantas berjalan hendak menarik kaki Kevin.
"Jangan terburu-buru memikirkan soal keturunan. Mas Kevin jangan mengkhayal! Udah sana balik ke kamar Mas Kevin! Lagian Mas Kevin nggak keluyuran, eh maksudnya nggak kerja?" seru Khaira menarik kaki Kevin agar beranjak dari ranjang.
__ADS_1
"Gue libur hari ini." tak sedikit Kevin terkecoh, bahkan seolah tubuhnya sudah dilem di atas kasur. Ia menepuk tempat tidur disebelahnya.
"Tapi kan Mas...." Khaira merajuk seperti anak kecil, ia mendengus kesal melihat Kevin.
"Udah sini aja bareng, gue janji dah kagak bakal ngapa-ngapain lo. Beneran dah suwer tekewer-kewer!" ucap Kevin seraya mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V tanda ia berjanji, karena matanya juga sudah kadung mengantuk.
Khaira mendengus kesal melihat Kevin tidak peka, karena dirasa memang matanya sudah mulai mengantuk. Khaira juga ingin tahu, Kevin bisa tidak menempati janji bahwa tidak akan menyentuhnya.
Perlahan sekali Khaira menyibakkan selimut, dan berbaring di atas kasur. Ia berbaring miring memunggungi Kevin. Akan tetapi tiba-tiba saja ia tersentak tatkala merasakan lengan Kevin memeluknya dari belakang.
"Mana ada seorang istri memunggungi suaminya, dosa lho!" seperti biasa Kevin melancarkan siasatnya. Ia memeluk Khaira dan membenamkan wajahnya di antara rambut Khaira yang tergerai panjang di atas bantal.
Lagi-lagi Khaira merasakan jantungnya senam akibat ulah Kevin. "Nah kan, pria memang nggak bisa dipegang janjinya!"
"Janji?" ucap Kevin, tak menggubris racauan Khaira yang mengingatkannya soal janji, "itukan janji kalau gue bisa menahan diri, kalau gue nggak bisa, maka jangan ingatkan gue soal janji." erat dan semakin erat Kevin memeluk istrinya, seolah sudah seabad lamanya ia tak berjumpa. Namun kali ini, sebisa mungkin ia menahan adik juniornya agar tidak bangun. "Sabar ya adik junior."
"Ehem!" Khaira tidak bisa membiarkan matanya terpejam, ia berdehem agar melonggarkan pernafasannya yang serasa tercekat di tenggorokan.
"Ya Allah kok rasane koyok ngene iki, si tuan arogan dari gua hantu selalu membuatku sulit untuk bernafas." monolog Khaira dalam hati, dalam posisi seperti ini seakan ia sedang bersemedi namun penuh dengan ketegangan.
Tak tahan lagi dengan rasa kantuknya, Khaira berpikir mungkin akan aman jika tertidur, ia juga mendengar nafas Kevin terdengar stabil dan juga tidak ada lagi pergerakan, meskipun pelukannya masih saja erat seolah tidak membiarkannya pergi.
Dalam hitungan 1, 2, 3 terjunlah Khaira ke dalam alam bawah sadar yang disebut mimpi.
Terbiasa hidup seperti kelelawar membuat Kevin hanya sebentar tertidur pulas. Dilihatnya wajah Khaira yang sedang tertidur, saat-saat seperti ini maka ia tak ingin membuang kesempatan. Kevin mencium singkat kening, pipi dan tak ketinggalan bibir Khaira.
"Hemm... menang banyak!" gumamnya lirih. Kevin memilin senyumnya. Dilihatnya jam di dinding sudah menunjukkan pukul 02:45 wib. Namun, Kevin malas untuk beranjak, meskipun tidak tidur ia masih ingin berbaring dengan memeluk istrinya.
Kevin berpikir, jikalau Khaira membuka mata. Maka ia tidak akan merasakan menang banyak seperti ini, karena ibarat kata Khaira seperti bayi yang enggan jika di uyel-uyel kala mata masih terjaga.
Akan tetapi mendadak Khaira yang terbangun serta berteriak membuat Kevin tercengang.
"Alamak!" Khaira terbangun dan langsung beranjak duduk karena bermimpi menyeramkan, ia dikejar oleh tuyul yang menyerupai wajah Kevin.
Kevin buru-buru tertidur kembali, selayaknya orang yang sedang tertidur pulas di samping Khaira.
Khaira melihat Kevin yang masih tertidur pulas, ia merasa lega. Kevin tidak berubah menjadi tuyul berkepala plontos. "Kalau kamu berubah jadi tuyul. Bakal ku kasih yuyu."
__ADS_1
Bersambung