Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Rencana bram


__ADS_3

Stela yang ke kantor polisi dengan mama ine merasa sangat cemas karena lokasi baby safa dibawa oleh orang itu belum ada kepastian.


" Ma..., bagaimana ini?"


" Tenanglah! Mereka akan berusaha yang terbaik mencari keberadaan jack dan juga safa."


Ucap ine menenangkan stela.


"Stel..., kamu tak memberitahu ayah dan ibumu?"


"Tidak, ma. Stela khawatir dengan kesehatan ibu akan memburuk n


"Baiklah..., baiklah. Kita pulang dulu!"


"Tapi..., ma."


"Tidak..., jangan khawatir! Mereka pasti bisa ditemukan."


Meskipun tak ingin meninggalkan kantor pihak yang berwajib, stela tak mungkin berada disana tanpa adanya kepastian hingga menuruti mana ine yang mengajaknya pulang.


Ine mengerti perasaan stela yang khawatir pada baby safa, namun menunggu di kantor polisi bukanlah ide yang baik. Stela tampak lemah lunglai seperti mayat hidup tak bertenaga dengan kabar buruk yang menimpanya.


Langkah ine maupun stela terhenti setelah beberapa langkah keluar dari halaman gedung kantor polisi.


"Bu..., tunggu sebentar!"


Baik stela maupun ine menghentikan langkahnya menoleh ke arah sumber suara.


" Ada apa pak?"


Ucap ine ketika mendapati salah seorang anggota yang berwajib menyusul mereka.


"Begini bu..., kami telah menemukan posisi mobil yang membawa pak jack dan juga putrinya."


" Apaa...., mereka sudah ditemukan?"


Teriak stela secara reflek.


"Maksud bapak?"


Ine memastikan apa yang dikatakan petugas tersebut pada nya.


"Benar, bu. Kami telah menemukan dimana titik mobil tersebut berhenti. Dan kami juga telah menyiapkan anggota untuk segera bertindak ke lokasi tersebut, bu."


"Oh begitu rupanya. Apa kami boleh ikut pak?"


"Tapi bu..., sangat berbahaya jika ikut ke tempat lokasi."


"Tapi pak..., bayi saya masih butuh asi."


Ucap stela.


Semula pihak yang berwajib menolak permintaan stela maupun ine yang hendak ikut dengan mereka, namun karena menimbang perkataan stela bahwa safa masih membutuhkan asi akhirnya di ijinkan ikut bersama mereka.


Ine tampak gelisah beberapa kali memencet tombol dial pada suaminya tapi tak tersambung bahkan ponsel mahendra mati tak bisa di hubungi.


"Ada apa ma?"


Tanya stela yang melihat sang mama mertua tampak khawatir beberapa kali melihat ke arah ponselnya.


"Papamu sulit sekali dihubungi, ponselnya sibuk dari tadi. Tapi sekarang..., mati tak bisa dihubungi."


Ucap ine.


"Mama jadi khawatir , apalagi dengan diculiknya jack dan juga safa. Mama tak bisa tenang sama sekali."


"Maafin stela ma, jadi ngrepotin mama."


"Tidak sayang, sudah sewajarnya mama menemanimu."


"Ma...., apa mama masih menganggap jack sebagai putra mama setelah mengetahui ayah kandung jack datang kembali?"


"Ngomong apa kamu stel? Jack itu putra mama, mama tidak akan melepaskan nya untuk siapa pun meskipun itu ayah kandung nya."


"Bagaimana jika ayah kandung jack bersikeras, ma?"


"Hah..., ayah kandung jack? Mama tidak peduli meskipun harus berurusan dengan nya."


"Kenapa kau bertanya seperti itu? Justru seharusnya mama yang bertanya begitu padamu."


Ucap ine.


"Maksud mama?"


" Mama yang harusnya bertanya padamu setelah mengetahui jack bukan anak kandung mama, apa kau masih mau bersama jack?"


Stela diam tercengang dengan pertanyaan mama ine. Ia hanya diam membisu memikirkan perkataan ine.


Stela harus bertarung kuat dengan keadaan dan juga hatinya. Dalam hati nya, stela sangat mencintai safa maupun suaminya. Di sisi lain stela harus melawan tekanan dari luar jika jati diri jack terkuak di kalangan umum. Stela hampir tak berpikir ke arah sana juga tak memikirkan bagaimana menghadapi pertanyaan dari orang lain.

__ADS_1


"Mama tahu kamu berat menerimanya, tapi percayalah semua akan baik- baik saja."


Sentuhan tangan ine menyadarkan lamunan stela, seketika menoleh pada sang mama yang tersenyum padanya.


"Mama tak kan membiarkan mu menghadapi semua sendirian."


Ucap ine menepuk tangan stela, namun stela tak menjawab ine melainkan mengangguk pelan.


Mobil yang di kendarai mereka berhenti tepat di belakang mobil polisi dimana mereka menemukan titik mobil yang membawa jack maupun baby safa.


"Bu..., sebaiknya ibu tunggu disini. Akan sangat berbahaya jika ibu mengikuti kami. Jika keadaan sudah aman, anggota kami akan mengantar ibu kesana."


Ucap salah satu dari pihak yang berwajib yang bertugas melakukan penyergapan.


"Baiklah, pak."


Jawab ine.


Di sebuah gedung tua, dimana anak buah bram membawa jack dan juga baby safa yang tertidur di dalam gendongan jack. Bram telah menunggu lama ingin bertemu dengan cucunya dan juga putranya itu.


Jack tak menaruh curiga ketika memang benar disana terlihat bram duduk di sebuah kursi, namun langkah jack terhenti ketika mendengar suara mahendra.


"Hahahaha...., mahendra..., mahendra. Kau jangan lupa! Bagaimana pun juga jack adalah putraku."


"Pasti mewarisi ku."


"Jack belum mengetahui kalau kau penyebab ibunya meninggal."


"Dan kau juga yang mengendalikan perusahaan anggoro yang seharusnya menjadi milik jack."


" Tapi kau rakus..., menguasai perusahaan orang lain."


"Bagaimana kau akan memberitahu jack kalau ksu sendiri yang menguasai perusahaan itu.?"


"Bicara apa kau ini?"


Ucap mahendra dengan geram nya.


"Rupanya kau terlalu berambisi himgga nengungkit masa lalu. Apa hukumanmu kurang? Aku tak menyangka kau tidak berubah sama sekali."


"Berubah? Kau yang menyebabkan aku di penjara. Jack harus mengetahui kalau orang yang membesarkan nya menjebloskan papa kandungnya di penjara."


"Papa."


Gumam jack dalam hati saat mendengar dengan samar percakapan bram maupun mahendra.


"Bagaimana mungkin papa disini?"


"Apaa..., jadi papa mahendra yang menyebabkan pak bram di penjara?"


"Jadi benar bram adalah papaku?"


Entah memang sengaja atau rencana licik bram menyuruh mahendra ke tempat itu.


Rupanya bram sengaja berbicara seperti itu setelah melihat samar bayangan jack dari cermin pantulan gedung tersebut. Meskipun gedung tersebut terlihat tua, namun masih terawat rapi dan juga bersih.


Entah ada kenangan apa bram menempatkan gedung tersebut sebagai tempat pertemuan.


"Omong kosong apa yang kau bicarakan? Kau sendiri yang memasukkan dirimu ke dalam jeratan pasal pidana, kenapa menyalahkan orang lain?"


"Menyalahkan orang lain? Ksu yang nelaporkan ku atas tuduhan itu. Kau juga yang menyebabkan melaty meninggal. Jika tidak karena melindungimu, melaty tidak akan meninggal."


"Hah..., aku? Anak buah mu yang sengaja mencelakai melaty."


"Hahahaha..., apa aku akan lantas percaya? Istrimu yang menyebabkan melaty meninggal."


"Kau juga menguasai perusahaan anggoro."


"Bram..., bram..., rupanya watak tamak mu tidak berubah. Kau tetap rakus seperti dulu."


Ucap mahendra.


"Aku memang menjalankan perusahaan anggoro, tapi... ."


Mahendra terkejut saat bram mengalihkan pandangan nya, juga menyapa sesrorang tak lain adalah jack.


"Cucuku..., akhirnya kau datang juga."


Ucap bram berjalan menghampiri jack yang kedua tangan nya di ikat juga mulut yang ditutup dengan lakban.


"Apa kau sudah gila memperlakukan putramu sendiri seperti itu?"


Gertak mahendra dengan nada tinggi.


"Aku sengaja untuk membiarkan jack tahu tentang kelicikan orang yang membesarkan nya."


"Rupanya kau terlalu berambisi, bram. Pantas saja melaty menitipkan jack padaku."


"Kau dengar itu, jack! Aku adalah ayah ksndung mu, dan orang itu yang menyebabkan ibumu meninggal."

__ADS_1


"Apa maksud bapak?"


Tanya bram setelah anak buah bram melepas ikatan tali dan juga lakban dimulutnya. Sementara mahendra masih terikat di sebuah kursi tak jauh dari mereka.


"Demi menolong istrinya, ibumu kehilangan banyak darah hingga meninggal."


"Apaa....,jadi mama bukan mama jack?"


Bagai tersambar petir hati jack tersayat mendengar ine bukan mana kandungnya. Jack semula berharap kalau ine adalah mama kandung nya.


"Kau masih nenyebut perempuan itu mama, sementara ibumu meninggal karena wanita itu."


Ucap bram dengan sinisnya.


"Pa..., benar itu?"


"Tidak, jack. Bram sengaja membohongimu. Ia hanya ingin mengadu domba kita, meskipun kamu bukan putra kandung papa tapi papa menyayangimu."


"Aaaa...., omong kosong."


"Oek..., oek..., oek."


Teriakan bram rupanya membangunkan safa yang tengah tidur, yang kebetulan ada di dalam gendongan bram.


"Bram..., berikan bayi itu pada jack! Bsyi itu tidak bersalah."


Mahendra sangat geram dengan tingksh bram yang merebut safa dari tangan jack.


"Kenapa? Kau mengkhawatirkan apa? Aku adalah kakek kandung nya, wajar kalau aku menggendong nya."


Baby safa yang kian santer menangis rak membangunkan kesadaran jack yang syok dengan apa yang di dengarnya.


"Jack..., bangun jack! Ambil putrimu! Selamatkan dari pria jahat ini!"


"Apaa..., pria jahat? Kau terlalu munafik mengakui kejahatan mu, mahendra."


"Jack..., seharusnya kau berpihak pada ayah dan membalaskan dendam ibumu pada mereka."


"Jack..., jangan dengarkan dia jack! Ambil kembali putrimu! Sebelum terlambat, laki- laki ini akan menggunakan segala cara demi ambisinya."


"Kau dengar itu, jack! Orang yang membesarkanmu menghina ayah kandung mu sendiri."


Jack bingung dengan durinya dan juga oada perkataan dya orang yang ada di depan nya.


Stela dan ine merasa khawatir ketika mendengar sayup- sayup suara tangisan safa. Seketika stela dan ine keluar dari mobil berlari ke arah gedung, meskipun beberapa anggota kepolisian melarang namun tekad stela begitu kuat hingga tak kuasa membuat polisi akhirnya mengijinkan nya.


Beruntung mereka telah melumpuhkan pertahanan lawan, yang tersisa hanya orang di dalam gedung saja.


Dari kejauhan ine maupun stela mendengar teriakan dua orang yang sangar di kenalnya.


"Papa..., kenapa ada disini?"


Gumam ine dalam hati.


"Ma..., seperti suara papa."


"Iya, benar."


"Kenapa papa disini ma?"


"Enrahlah? Jangan- jangan ini rencana bram."


"Pak bram?"


"Kau mengenalnya?"


"Jack pernah mengwnalkan stela dengan orang yang berbama bram. Tapi..., stela tak tahu itu orang yang sama dengan yang dikenal mama atau tidak."


"Ayo kita lihat!"


Stela mengangguk pelan setelah ine menghentikan langkahnta saat hendak menghampiri sumber suara tangisan safa.


"Bram."


Ine terkejut melihat orang yang ada di depan nya yakni bram, orang yang telah memporak porandakan keluarga anggiro dan juga menyebabkan melaty meninggal.


Stela tercengang menoleh sang mama mertua yang tiba- tiba berhenti saat memandang ke arah bram yang rupanya menggendong baby safa. Stela berlari merebut baby safa dari tangan bram, tetapi mendapat penolakan dari bram yang mempertahankan baby safa.


"Berikan safa padaku!"


Teriak stela.


"Tidak. Aku kakeknya."


"Aku mamanya."


Aksi tindak berebut itu tak berhenti hingga bayi itu terlepas dari gendongan bram. Beruntung ine segera sadar berlari menangkap baby safa.


"Tidaak."

__ADS_1


Bersambung😊🙏


__ADS_2