Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Stress


__ADS_3

🎶 Stres (stres)


Kerap melanda manusia


Tak peduli miskin ataupun kaya


(Banyak orang yang stres)


Stres (stres)


Seakan tengah mewabah


Tak peduli tua ataupun muda


(Banyak orang yang stres)


“Banyak orang yang stress!” lantang Khaira dalam menyamakan suara dari raja dangdut Rhoma irama.


Bukan tanpa sebab dalam pemilihan lagu yang sedang diputarnya melalui ponselnya yang ia taruh di sampingnya duduk. Ia memang sedang mengalami stress.


Sudah tiga hari, Khaira menunggu kepulangan sang pemilik rumah. Ia ibarat kata seperti kucing yang menunggu sang pemilik pulang untuk memberinya makan.


Tiga hari juga Khaira hanya menyantap mie instan, pagi kuah malam goreng, dan pagi goreng malam kuah yang ia temukan di lemari dapur.


Khaira harus makan-makanan yang sebelumnya jarang sekali ia makan untuk bertahan hidup. Bukan soal tidak mampu untuk membeli makan untuk dirinya sendiri di luaran sana.


Akan tetapi dengan sengaja atau tidak sengaja Kevin menguncinya dari luar. Maka Khaira pun tidak bisa keluar rumah meskipun hanya untuk membeli sayur, kala mendengar seruan pedagang sayuran yang lewat jalanan depan rumah Kevin.


Tiga pagi hari ini. Yah sudah tiga hari ia seolah menjadi penguntit Abang-abang maupun Ibu-ibu penjual sayuran keliling, entah pakai motor ataupun hanya memakai gerobak dorong.


“Sayur!”


Nah kan tukang sayur lewat lagi, Khaira segera bergegas melongoknya di jendela. Namun, ia kapok untuk memanggil penjual sayur itu.


Dua hari pertamanya tinggal di rumah Kevin. Ia pernah berteriak dari dalam rumah guna memanggil Ibu-ibu penjual sayur. Ibu sayur itu malah lari terbirit-birit meninggalkan gerobaknya di depan jalan rumah Kevin.


Dan kali ini ia hanya bisa melihat Abang-abang penjual sayur dari dalam jendela. Ia tidak mau penjual sayur itu juga lari, seperti Ibu-ibu sayur kemarin.


Khaira dibuat kebingungan.


Entah apakah gerangan yang membuat Ibu tukang sayur itu lari tunggang langgang meninggalkan gerobak sayurnya setelah mendengarnya berteriak dari dalam rumah. Khaira berpikir, apakah suaranya mirip seperti hantu, semisal Mbak Kunti, atau Mbak sundel, kan tidak mungkin juga hantu bersuara di pagi yang cerah.


Hemm entahlah ia tidak tahu! Yang jelas kini ia hanya bisa makan mie instan dalam tiga hari. Jika sampai Kevin di hari keempat masih jua tidak kunjung pulang. Maka ia akan memutuskan untuk mendobrak pintu utama berwarna putih itu.


Khaira sangat kesal, terbiasa hidup bebas di kampung guna berjualan ayam dan mencari pengalaman kerja. Kini ia terkurung seperti burung dalam sangkar.


“Seperti inikah cowok bernama Kevin setiap harinya? Nggak pulang? Nggak mandi? Nggak makan? Nggak bersih-bersih rumahnya yang berdebu, sekalinya pula bisanya cuma berantakin rumah!” Khaira duduk di sofa ruang tamu, seraya menopang dagunya.


Ia menatap foto keluarga yang terpasang di dinding ruang tamu. Terlihat foto keluarga diambil pada saat Kevin masih remaja.

__ADS_1


“Kemana perginya semua anggota keluarga kamu cowok arogan? Kenapa kamu tinggal diri, apa kamu nggak merasa hampa? Apa memang kamu orang yang suka keluyuran?” Khaira menghela nafas panjang, ia sangat-sangat kesal terhadap Kevin.


“Tiga hari aku terkurung di rumah mu, aku merasa sangat kesal dalam situasi seperti ini! Andai aja Paman Bengek itu nggak cari masalah sama Abah, pasti aku masih jualan ayam dan cuan-cuan ku pasti bertambah banyak!” Khaira menggerutu dalam dilema.


Di tambah lagi Kouta habis, pulsa habis. Maka secara otomatis tidak ada yang bisa ia hubungi. Sudah coba pakai telepon rumah Kevin, tapi ternyata telepon juga rusak.


“Ya nasib!” seru Khaira, ia menatap pintu utama rumah berwarna putih.


Lalu mengalihkan atensinya menatap jendela. “Andai saja jendela rumah Kevin nggak ada teralis besi yang melingkari jendela. Sudah pastilah aku bakalan kabur dari rumah asing ini. Rumah yang terlihat hampa, rumah yang terlihat nampak suram.”


Bosan? Yah kata tepat itulah yang menggambarkan situasinya kini terkurung di dalam rumah asing ini, sampai kapankah?


“Aku kan udah berbaik hati buat bersihin rumah ini,” Khaira menadahkan wajahnya menatap langit-langit rumah bernuansa putih bercorak cokelat keemasan, “Kenapa rumah ini nggak ada cctv nya? Kalau ada kan, aku bakalan lambaikan tangan, bakal aku nyatakan kalau aku menyerah.”


Tiga hari bagi Khaira hanya berdiam diri seperti ini, merupakan membuang waktunya percuma. Karena waktu tidak bisa di putar kembali, maka masa mudanya selama tiga hari juga terbuang begitu saja.


“Ayolah Kevin, pulanglah. Aku juga kan pengen bebas, pengen kerja. aku nggak mau makan mie instan lagi. Di kulkas mu nggak ada satupun sayuran.”


Lagu yang diputarnya pun secara otomatis berganti, kini berjudul Lari pagi. Khaira beranjak dari duduk ia otomatis berlari di tempat, masih dengan fokusnya menatap pintu rumah.


“Hey ayo Pak Haji kita lari pagi di tempat saja!” seru Khaira menahan kesal, untuk mengusir kebosanan.


🎶


“He, lari pagi (lari pagi) tua muda semua. Lari pagi (lari pagi) dan sangat digemari. Lari pagi (lari pagi) memang baik sekali. Lari pagi (lari pagi) untuk bina jasmani. Satu dua, kiri kanan, senam pagi, menyegarkan. Ayo lari, lari lagi, lari pagi, menyehatkan.” membersamai suara dari Raja dangdut, Khaira bersemangat dalam gerakkan kakinya yang lari di tempat.


“Kevin pulang! Ayo pulang!” lantang Khaira dalam meneriakkan nama Kevin, berharap agar pria itu segera pulang dan membebaskannya dari sangkar.


Waktu terasa cepat bergulir


Ya, tiga hari bagi Kevin tidak pulang ke rumah hanyalah waktu singkatnya. Ia bahkan bisa sampai sebulan penuh tak pulang. Karena ia merasa jikalau pulang pun hanya akan membuatnya merasakan hampa dan kesepian.


Makan, mandi, berganti pakaian. Kevin lakukan di studio miliknya. Studio musik DJ yang seperti rumah kedua bagi Kevin. Ia menghabiskan waktu tiga harinya dalam menyalin komponen musik ke instrumen musik musik dengan ritme cepat seperti istilah kata jedag-jedug.


Seperti halnya lagu populer dari barat yang berjudul Bad Liar, bukan liar bendel. Akan tetapi memang judulnya Bad Liar yang berarti (orang yang tidak pintar berbohong.) Yang di populerkan oleh Imagine Dragon.


🎶 But I'm a bad liar, bad liar


(Tapi aku tak pandai berbohong)


Now you know, now you know


(Sekarang kau tahu)


I'm a bad liar, bad liar


(Aku tak pandai berbohong)


Now you know, you're free to go

__ADS_1


(Sekarang kau tahu, kau bisa bebas untuk pergi)


Sebuah lagu yang bermakna tentang hubungan yang kacau dan berakhir perpisahan.


Kevin tak sendirian di studio miliknya, ada seorang teman yang sedang bermain gitar. Teman berkaca mata yang duduk di sofa belakang Kevin bernama Yoshua.


Yoshua merasa Kevin sedang merasakan kegalauan hati, karena tidak biasanya Kevin akan seperti ini selama ia berkunjung ke studio Kevin. Kevin sedang sangat fokus mengaplikasi permainan DJ yang cenderung pahit bercampur musik DJ yang jedag-jedug.


Seperti halnya, kepedihan yang dibalut senyuman.


Yoshua beranjak dari duduknya, latihan gitarnya pun seolah tidak fokus karena musik keras yang diputar Kevin, padahal dua hari lagi adalah hari paskah, dan Yoshua merupakan pengiring lagu rohani di gereja.


Ia sudah terbiasa latihan di studio musik Kevin, karena biasanya Yoshua akan bertemu dengan banyak orang dan saling sharing tentang permusikan juga banyak teman yang membantunya dalam mempelajari tentang gitar.


Yoshua lantas menepuk pundak temannya yang tengah sibuk mengutak-atik Controller Pioneer DJ dan laptop, juga alat pendukung DJ lainnya. “Vin,” ucapnya memanggil Kevin yang memakai headphones di telinga.


Kevin melepas Headphones dari telinganya, ia mengecilkan volume sound sistem, lalu menoleh melihat Yoshua yang berdiri disebelahnya, “Kenapa Yos?”


“Lo baik-baik aja kan?” tanya Yoshua.


Kevin mengangguk singkat, “Yes,”


“Lo udah tiga hari kagak pulang, dan sekarang pun lo kagak pergi kerja. Lo pasti nggak dalam mood yang baik-baik aja kan?” terang Yoshua dengan sangkaannya.


“Gue baik, hanya saja gue emang lagi nggak mood,” jawab Kevin sambil menggidik pundaknya. Ia melihat gitar Yoshua di sofa, “Apa gue ganggu lo latihan gitar Yos?” tanya Kevin, perasaannya yang buruk, membuatnya tidak memikirkan orang lain.


Yoshua menggeleng, “Nggak begitu, gue cuma iseng aja latihan, lagian gue juga mau pulang, ini udah malem,”


Kevin melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


“Oh oke. Tumben banget yang lain nggak pada dateng ke sini?” tanya Kevin. Ia memang tidak sendirian dalam meracik instrumen-instrumen musik DJ nya. Ada beberapa teman-temannya yang ikut serta dalam kegiatan di studionya. Kevin membebaskan temannya untuk berekspresi dalam menjalankan hobi. Bisa dijabarkan Kevin pendiri komunitas penggemar musik DJ. Dan malam ini memang hanya ada Yoshua.


“Kagak kayaknya Vin, mereka lagi pada sibuk sendiri-sendiri mungkin,” jawab Yoshua.


Kevin manggut-manggut


Yoshua menyambar jaketnya di sofa, lalu memasukkan gitarnya kedalam kantung dan menggendongnya, “Gue cabut Vin,”


“Ya, hati-hati Yos. Jangan sampai lo ketemu begal lagi,” jawab Kevin, memperingati Yoshua.


“Ye! Kalau ada begal, kan ada lo. Gue tinggal telpon lo, Vin.” balas Yoshua enteng, lalu keluar dari studio. Itulah salah satu alasannya, mengapa ia kenal dan berteman baik dengan Kevin, karena Kevin sudah menolongnya saat terjadi pembegalan lima bulan lalu.


Sepeninggal Yoshua, Kevin kembali memasang headphones ke telinganya, namun fokusnya seakan pecah ketika teringat Sonia yang bercumbu mesra. Ia melepaskan Headphones dan menaruhnya di meja.


Kevin beranjak dari duduknya, ia menyambar jaket denimnya lantas keluar dari studio. Rasa-rasanya pikirannya pengab, ia ingin mencari udara segar di malam hari.


Tidak disangka niatnya hanya ingin mencari udara segar dengan berjalan kaki, Kevin malah bertemu dengan dua preman yang sebelumnya pernah berduel dengan mereka.


__ADS_1



Bersambung


__ADS_2