
Tidak disangka niatnya hanya ingin mencari udara segar, Kevin malah bertemu dengan dua preman yang sebelumnya pernah berduel dengan mereka.
“Orang songong itu Al,” ujar Wasto kepada temannya berambut agak gondrong bernama Ali.
“Iya bener, hajar aja Was!” Ali pun menghampiri seorang pria yang seminggu lalu menghajarnya saat sedang menjalankan aksi pemalakan terhadap supir truk dikawasan perindustrian.
Kevin melihat dua preman mendekatinya. Melihat dari gelagat kedua preman itu mendekat bukan untuk berdamai.
Kan benar saja, salah satu dari kedua preman itu melayangkan tinju. Dengan gerakan cepat, Kevin menangkis lengan preman berambut gondrong. Kini giliran preman satunya yang berambut cepak melayangkan tinju.
Kevin menendang perut preman berambut cepak dan membuat preman tersebut jatuh terjengkang ke jalanan. Preman dengan berambut gondrong kembali menyerang secara terus-menerus melayangkan tinju tanpa jeda. Kevin sempat kewalahan karena gerakan preman itu sangat cepat.
Di tambah preman satunya lagi, yang berambut agak cepak. Dua lawan satu, tak jadi masalah buat Kevin, toh memang ia sedang merasa kesal dan ingin ia luapkan.
Kevin melawan dengan penuh percaya diri bahwa pukulan serta tangkisannya yang melebihi kecepatan kedua preman yang menyerangnya.
Namun kali ini Kevin sulit untuk menghindari tinju dari preman berambut gondrong. Kepalan tangan preman tersebut tepat mengenai sudut bibir Kevin, ia merasakan sensasi panas membersamai pegal yang otomatis menjalar.
Kevin mundur selangkah ia terdiam sejenak seraya menadahkan wajahnya, lalu merasa ada carian keluar dari sudut bibir juga hidungnya, “Anjirt!” ia mengusap kasar darah segar yang keluar dari hidungnya.
Dua preman itu merasa Kevin sudah lengah, lalu kembali melayangkan tendangan membersamai pukulan.
Kevin berlaku cepat dalam membaca pergerakan dua preman itu, ia membalikkan tubuhnya berserta melayangkan tendangan, tepat sasaran mengenai wajah preman berambut gondrong yang lebih dominan agresif. Hingga membuat preman tersebut terpelanting dan masuk kedalam celah selokan yang tidak ada penutupnya.
“Hem rasain noh air got! Mandi-mandi dah lo!” seru Kevin kepada preman sok jagoan yang selalu meresahkan masyarakat terutama kepada pengendara truk.
Rasa puas memang bisa melalaikan, Kevin kembali fokus kala punggungnya merasakan tendangan dari preman berambut cepak. Sejenak ia oleng dan hampir saja terjatuh. “Sial!” berangnya menatap tajam kepada preman berambut cepak.
“Sini maju lo! Kalau lo mau mati, gue siap jadi malaikat maut lo!” ujar Wasto menjentikkan jarinya.
Kembali memposisikan dirinya agar berdiri tegak, Kevin dan preman itu sama-sama maju. Dengan gerakan cepat Kevin secara terus menerus melayangkan bogemannya guna membalas pukulan preman berambut cepak.
Lalu menendang lutut preman tersebut hingga preman berambut cepak berlutut, Kevin secepatnya menjatuhkan sikunya yang lancip ke punggung preman, bukan hanya itu. Kevin juga menendang dada si preman, hingga preman itu terjengkang ke jalanan.
“Aarhhh...” erang Wasto merasakan nyeri hampir di sekujur tubuhnya, lebih terasa sakit di bagian dada dan punggung.
Preman berambut gondrong sudah kembali berdiri menahan rasa sakit hampir di sekujur tubuhnya, baju yang dipakainya pun basah dan bau busuk berasal dari selokan sangat menyengat di indra penciuman. Ia mengajak Wasto untuk pergi dari hadapan pria yang memang sulit untuk dikalahkan jika hanya berdua.
__ADS_1
“Wasto, kita pergi saja!” kata Ali menarik kerah baju yang dipakai Wasto.
Wasto mengangguk dan segera beranjak, “Kita harus mengajak teman-teman kita untuk pembalasan!”
Ali mengangguk, ia menatap seorang pria yang telah mengalahkannya dalam pertarungan keduanya ini, “Awas lu, tunggu aja pembalasan dari kita! Lain kali lu kagak bakalan lolos!” peringatannya sambil menunjuk pria yang berdiri berjarak dua meter.
“Gue tunggu pembalasan dari kalian! Dah sana mandi lo, bau busuk!” balas Kevin tanpa rasa takut, ia melihat kedua preman itu pergi dari hadapannya.
Tiga teman Kevin yang kebetulan lewat menghampiri Kevin yang terlihat baru saja berkelahi, karena ketiganya melihat dua preman yang baru saja meninggalkan Kevin dengan cara jalannya yang seperti menahan sakit.
“Vin lo kenapa?” tanya Mahendra yang baru saja turun dari boncengan Rama.
Disusul Shandy, ia baru saja memarkirkan motornya pun menghampiri Kevin, “Lo habis berantem sama dua preman itu, Vin?”
Rama pun ikut menyusul, dan berdiri di hadapan Kevin, “Apa mereka bawa celurit atau senjata tajam? Terus lo luka dimana? Ayo kita pergi ke rumah sakit!”
Kevin membuang ludahnya ke jalanan, ia mengusap sudut bibirnya yang dirasa ada sobekan karena mendapat pukulan yang sangat keras hingga mengeluarkan darah segar dan melumuri jemari jempolnya, hidungnya pun serasa nyeri, tapi sudah tak mengeluarkan darah.“Arhh sial!”
“Gue kagak apa-apa,” Kevin mengibaskan tangannya.
“Bener lo kagak apa-apa Vin?” kata Mahendra.
“Biasanya dua preman itu kalau beraksi selalu membawa senjata tajam untuk menakut-nakuti korbannya,” kata Shandy, karena ia pernah melihat dua preman itu beraksi, dan ia salah satu korbannya. Namun Shandy cukup mempunyai ilmu beladiri yang canggih, karena ia si sabuk hitam.
Kevin mengedarkan pandangannya menatap jalanan yang cukup lengang dari kendaraan, “Gue baik-baik aja!” ia melihat ketiga temannya secara bergantian. “Kalian dari mana? Atau mau kemana?”
“Ada balapan liar di jalanan sebelah kawasan permai yang sepi,” jawab Rama.
“Lumayan hadiahnya gede!” seru Mahendra.
Kevin melihat dua motor king yang sudah dimodifikasi, ia manggut-manggut. “Gue ikut!”
“Kagak bisa!” tolak Shandy.
Kening Kevin mengerut, “Kenapa gue kagak bisa ikut?”
__ADS_1
Mahendra memegang pundak Kevin, “Sebaiknya lo pulang, lo kelihatannya kagak baik Vin,”
“Iya, tuh sembuhin dulu bibir lo yang berdarah. Baru dah lo bisa libas pembalap lain,” imbuh Rama.
Kevin mengusap bibirnya yang kembali mengeluarkan darah.
“Apa perlu gue antar lo pulang?” tawar Shandy.
Kevin menggeleng, apa yang dikatakan Rama ada benarnya juga
Bukan hanya bibirnya yang merasa sakit, tangannya juga serasa pegal karena memukul kedua preman itu secara terus-menerus. Hingga sedikit menguras tenaganya, jika ia mengikuti balap liar. Maka bisa di pastikan ia akan kalah.
“Semoga kalian menang!” kata Kevin, ia lantas berbalik arah meninggalkan ketiga temannya dan berjalan menuju motornya yang terparkir.
Mahendra, Shandy dan Rama juga meninggalkan tempat, dan melanjutkan kembali perjalanannya menuju balapan liar yang diadakan oleh beberapa ketua geng motor.
~~
Memasuki waktu subuh, Kevin kembali ke rumahnya dengan hati lusuh. Ia memarkirkan motornya, lantas membuka pagar teralis besi dan mendorong motor untuk masuk kedalam garasi rumah yang luasnya hanya 3x3 meter persegi, lalu kembali menutup pagar teralis besi.
Dengan langkah gontai, ia merogoh kunci rumah dari dalam tas ransel berukuran kecil yang ia bawa guna menaruh barang bawaannya. Setelah membuka pintu rumah dengan pencahayaan remang.
Kevin pun masuk dan berjalan menuju kamarnya, namun pada saat ia melewati ruang tengah ia terkejut bukan main, manakala mendengar sayup-sayup suara orang mengaji.
Ia tergelak matanya membulat, sejenak terdiam, Kevin kembali berjalan dengan mengendap-endap mencari sumber suara mengaji. Bulu kuduknya berdiri, “Merinding disko dah!”
Ia mendengar sayup-sayup sumber suara orang mengaji dari dalam kamar almarhumah sang Mama.
“Apakah itu Mamah yang kangen ama gue?” gumamnya lirih. Kevin mendengar lantunan ayat-ayat al'Quran yang dibaca sangat merdu. Mengingatkan Kevin akan sosok Mama, ia merasa sangat rindu, ia ingin sekali berjumpa dengan wanita yang telah melahirkannya.
Mengapa oh dunia begitu kejam, merenggut Ibu serta adiknya sekaligus, bahkan sampai detik ini. Bangkai pesawat maupun penumpang yang ada didalamnya tak pernah ditemukan. Tenggelam di lautan samudera Hindia.
Kevin mendekati pintu bercat putih yang terbuka sangat sedikit. Ia kemudian mengintip dari celah pintu yang terbuka, pertama kali yang dilihatnya adalah ranjang yang telah berganti seprei. Detik itu pula, Kevin teringat akan kejadian yang membuatnya menikahi gadis asing yang tidak pernah dikenalnya.
Kevin menggeplak jidatnya pelan, “Aih, dasar pikun! Gimana lo bisa lupa, kalau lo udah menikahi seorang gadis!” ia memaki dirinya sendiri dengan suara lirih, sampai pula ia melupakan hal yang satu ini. Galaunya terhadap pengkhianatan Sonia, telah melumpuhkan otaknya.
Bersambung...
__ADS_1