Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Jasmine greentea


__ADS_3

Semua ruangan sudah bersih, tinggal satu yang belum. Yaitu kamar Kevin, kali ini Khaira memberanikan diri untuk mengetuk kamar pria arogan itu. Diketuknya pintu kamar membersamai dengan suaranya memanggil Kevin. “Mas Kevin,”


“Masuk!”


Khaira mendengar Kevin menyahut dari dalam kamar, jadi bisa dipastikan pria itu sedang tidak tidur.


Dibukanya pintu kamar Kevin dengan sangat hati-hati, lama-lama pintu pun terbuka lebar, sekilas ingatan perbuatan Kevin dua malam lalu yang terjadi di kamar ini kembali teringat, namun secepatnya Khaira menyadarkan dirinya agar tidak perlu lagi merasa takut terhadap Kevin.


Khaira tidak mau selalu berpikiran sempit yang nantinya hanya akan membuatnya semakin berpikir negatif. Jadi selama pikiran selalu positif nggak ada yang perlu ditakutkan dari Kevin, "toh Kevin juga suamiku!" gumamnya lirih.


TING! Seperti alarm pengingat dalam pikirannya, "lho, sejak kapan baru sadar, kalau pria tampan itu adalah suamiku? Wah otakku perlu di sleding!" benaknya berkata.


Setelah membuka pintu selebar-lebarnya, Khaira dikejutkan dengan pemandangan roti sobek yang sedang berdiri di depan lemari.


"Wow, onde mande nampak tampan pula suamiku, kekar dan perkasa." seloroh Khaira dalam hati melihat bentuk tubuh Kevin yang ma the co alias Maco! Secepatnya Khaira menggeleng dan menyadarkan dirinya sendiri, "Kalau begini caranya, apa aku rela meninggalkan pria setampan itu? Oh Ayolah Khaira! Kenapa hatimu goyah?"


Kevin masih berdiri di depan lemari yang pintunya terbuka lebar guna mengambil kaos dari dalam lemari. Ia berbalik badan melihat Khaira yang masih termangu di ambang pintu, “Oi, Kenapa nggak masuk?”


TING! Alarm pengingat dalam pikiran agar tidak terlena terhadap Kevin membuat Khaira tersadar.


“Ehem.” Khaira berdehem kecil, guna menetralkan rasa gugupnya melihat Kevin yang bertelanjang dada, ia langsung nyelonong masuk kedalam kamar tanpa melihat Kevin.


Kevin mengamati Khaira yang sedang membawa sapu serta pengki, rupanya Khaira masih memakai hijab instan warna navy, "Kenapa kamu masih memakai hijab? Setelah apa yang kulihat kemarin malam?"


"Emm.. Karena aku belum terbiasa melepas hijabku. Kenapa Mas Kevin nggak pakai baju?" jawabnya tanpa melihat Kevin yang belum memakai baju, Khaira mulai menyapu lantai.


Kevin mengamati jalannya Khaira yang sama sekali tidak melihatnya, “Hey lihatlah aku Nona, apa kamu takut tergoda olehku? Bukankah kamu pernah melihatku bertelanjang dada sayang, ingatkah kamu saat kita di gerebek?" selorohnya sambil menunjuk dadanya yang sis the pek alias sispek.


"Udah dipakai belum bajunya?" kata Khaira sama sekali tidak melihat Kevin.


Kevin mengulum senyumnya, perlahan menjadi sebuah gigitan kecil di ujung bibirnya. Kevin sengaja tak memakai baju lalu berjalan menghampiri Khaira. Lantas di peluknya sang istri yang keras hati, dari belakang hingga membuat si empunya tersentak.


“Mas Kevin!” seru Khaira memberontak, seraya memejamkan matanya.


Kevin tak mengindahkan peringatan Khaira, ia malah semakin gila. Dan mengendus leher Khaira yang tertutupi hijab. Sekali hentakan tangan, Kevin berhasil membalikkan tubuh Khaira menghadapnya,“Kamu terlalu indah untuk diabaikan Delf.”

__ADS_1


Ada sensasi geli di area leher dan telinganya yang mendapat bisikan mesra dari Kevin. Secara refleks Khaira membuka matanya dan melihat wajah Kevin begitu dekat. Hepp... nafasnya serasa berhenti, "Aku kesulitan bernafas Mas Kevin!"


"Masa?" Kevin lebih mendekatkan lagi wajahnya ke wajah Khaira.


Daripada memberontak tapi tidak ada hasilnya, alhasil Khaira hanya diam mematung seraya memejamkan matanya, sembari menyiapkan ancang-ancang untuk mengeluarkan jurus silatnya. Diinjaknya kaki Kevin, lantas berbalik badan hendak melancarkan aksinya menendang burung liar di sela-sela paha Kevin.


Dapat dengan mudah Kevin membaca pergerakan jurus silat yang Khaira tunjukkan. Ia hendak menarik lengan Khaira, namun tangannya melenceng, bukan tangan Khaira yang ia dapatkan melainkan hijab yang Khaira pakai.


Seketika Kevin melihat Khaira memutar badannya dan tergerai lah rambut hitam legam Khaira yang terlepas dari jepitan rambut. Terkesima Kevin melihat keindahan alamiah yang ada di depannya, "Wow luar biasa!" gumamnya takjub membayangkan bahw Khaira sedang menari balerina.


Khaira segera menyadari bahwa ia tak lagi memakai hijabnya, karena ia melihat hijabnya sedang di pegang oleh Kevin, "Mas Kevin!" serunya kesal membulatkan matanya menatap Kevin yang termangu.


Kevin terpana, ia menatap Khaira dengan seulas senyuman. “Cantik.”


Khaira langsung saja mengambil selimut yang terdapat di atas ranjang Kevin guna menutupi rambutnya yang tergerai sepanjang pinggul.


“Mas Kevin!” hardiknya mendelikkan matanya menatap pria yang berdiri dengan jarak satu meter sedang menatapnya dengan senyuman sumringah.


"Iya aku di sini sayang?" ucapnya, detik berikutnya ia menyadari bahwa hijab Khaira sedang dalam genggamannya, Kevin menggidik pundaknya, “Aku nggak sengaja menarik hijabmu,”


Kevin memasang cengiran kuda, “Hehe kalau mau nih ambil sendiri,” Ia mengangkat tangannya ke atas seperti tiang bendera mengibarkan hijab Khaira.


Khaira dibuat geleng-geleng kepala dengan sikap keusilan Kevin, ia melihat ke atas lebih tepatnya tangan Kevin yang menjunjung tinggi hijabnya.


“Mas Kevin!” kali Khaira berteriak agak lantang.


Namun tak mempan bagi Kevin, mau gadis itu berteriak ataupun tidak. Karena pada dasarnya ia sudah terbiasa dengan suara keras.


“Kalau lo mau hijab lo balik, maka ambillah, harus ada usaha untuk meraihnya, lagian kenapa lo masih pakai hijab, pan gue udah lihat rambut lo tadi, jelas lagi hehehe.. ” kata Kevin melihat wajah Khaira yang sudah nampak sangat kesal.


Khaira mendengus kesal, ia menatap Kevin tajam.


“Kalau Mas Kevin mau ambil, maka ambilah. Aku masih ada banyak hijab!” ucapnya, lantas memilih pergi dari kamar Kevin dengan selimut tebal yang dipakainya untuk menutupi rambut.


Kevin melihat Khaira keluar dari kamarnya, ia menghela nafas, “Dasar kepala batu!” gumamnya.

__ADS_1


Dilihatnya hijab instan berwarna navy di tangannya, Kevin tersenyum lantas mencium bau hijab yang beraroma parfum Jasmine greentea. “Baunya, memang khas orang Jawa.”


Ia lantas menaruh hijab Khaira di atas meja, lalu memakai bajunya dan kembali duduk guna melihat tingkat penjualan dari produk bengkelnya.


Tak berselang lama, Khaira telah kembali ke kamar Kevin. Tentu saja guna membersihkan kamar dari sang tuan rumah. Ia merasa sebelum benar-benar pergi dari rumah ini. Rumah Kevin sudah dalam keadaan bersih, untuk balas budi. Karena Kevin sudah berbaik hati membiarkannya tinggal.


Beberapa kali Kevin melirik Khiara yang datang ke kamarnya tanpa bersuara sedikit pun. Dan kini melihat gadis yang sudah berganti hijab berwarna cokelat sedang menyapu lantai kamar.“Kamu marah?” tanyanya.


Tanpa melihat kearah Kevin, Khaira menjawab pertanyaan Kevin dengan jawaban lain, “Panggil aja gue'elo. Kalau emang nggak terbiasa dengan sebutan aku, kamu!”


“Apa lo marah?” tanya Kevin lagi, guna memastikan bahwa Khaira memang terlihat bermuram durja.


Kali ini Khaira mengindahkan ucapan pria yang sedang duduk menghadap laptop, “Kenapa harus marah?”


Kevin mengalihkan atensinya menatap laptop, kini menatap Khaira, Kevin tersenyum penuh arti,“Aku senang kalau kamu marah, karena wajahmu terlihat manis,”


Khaira menyangsikan ucapan Kevin, ia mencebikkan bibirnya, "Moso sih?"


Kevin hanya mengangkat bahunya tak acuh, lalu mengajukan pertanyaan,“Kamu pernah lihat disc jockey memainkan alat Controller Pioneer DJ?”


“Iya pernah,” jawabnya, Khaira lantas kembali menyapu debu di lantai kamar Kevin.


Kevin cukup terkejut mendengar jawaban Khaira, “Hah dimana?”


“Di YouTube,” jawab Khaira singkat tanpa menatap lawan bicaranya.


“Oh... aku kira kamu pernah lihat aslinya di tempat hiburan malam? Memang jenis musik favorit mu apa?” kata Kevin masih terus memperhatikan Khaira menyapu kamarnya. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, dalamnya hati, Kevin bermonolog, “Hemm... istri idaman banget. Tapi sayang, hati dan kepalanya sekeras batu karang.”


Akan tetapi kemudian munculah stigma dalam pikiran Kevin kala mengingat batu karang, ia masih berkata dalam hati seraya mengamati Khaira yang sedang menyapu lantai. "Kan batu karang juga lama-lama terkikis ombak? Bisa jadi hatinya lambat laun bakalan luluh, lah kenapa hati gue begini? Apa keyakinan yang gue punya untuk menyakinkan Khaira? Sedangkan Khaira trauma tentang pernikahan? Apa sebaiknya gue menghilangkan traumanya terlebih dulu, baru bisa membuat hati Khaira luluh."


Khaira dapat melihat dari ekor matanya, bahwa Kevin sedang mengamatinya, "Kenapa Mas Kevin melihat ku begitu?" ucapnya tegas tanpa melihat Kevin.



__ADS_1


Bersambung


__ADS_2