Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Kenyataan pahit


__ADS_3

Flash back.


Jack meninggalkan safa bersama kedua neneknya setelah opa dan kakek mereka pamit kembali ke kantor. Jack teringat amplop coklat yang diberikan pak bram padanya saat keluar dari gedung kantor mahendra.


"Apa isinya?"


Gumam jack setelah meraih amplop tersebut. Dengan hati- hati, jack membuka amplop tersebut. Mata jack membulat melihat isi kertas tersebut, rasa tak percaya bahkan kemarahan menyelimuti jiwanya.


Brakkk....


"Dasar brengsek!! Kau kira dengan memberikan ku hal seperti ini, bisa mempengaruhiku?"


"Bagaimana mungkin aku bisa percaya? Papa yang membesarkanku dari kecil hingga sekarang?"


"Hah..., aku benar tak menyangka. Pria itu punya rencana busuk."


Jack mengingat kartu nama yang diberikan bram padanya, mencoba menghubunginya namun tak tersambung sama sekali. Jack meremas kertas tersebut melempar sembarangan ke lantai lalu bergegas keluar membawa kartu nama tersebut, setelah memakai jas nya kembali.


"Jack, kau mau keluar sayang? Kenapa terburu- buru seperti itu?"


Ine tak sengaja melihat putranya yang terburu- buru dari ruang kerjanya.


"Eh... anu, iya ma. Ada sedikit urusan kantor."


Jack sedikit gugup dengan wanita yang berada di depan nya, yang membesarkan nya dengan kedua tangan nya itu. Jack tak kan mampu menyakitinya atau pun membohonginya.


"Baiklah, hati- hati ya sayang!"


" Iya, ma."


Jack bergegas pergi tanpa pamit pada istrinya ataupun ibu mertuanya.


"Bicara dengan siapa, jeng?"


Mama stela tiba- tiba muncul dari pintu setelah jack menutup pintu apartemen nya.


"Dengan jack, jeng."


"Jack?"


" Iya, katanya ada urusan kantor sebentar."


" Oh..., begitu."


Ine mengangguk pelan pada besan nya yang menanyakan putra nya. Keduanya tak ambil pusing dengan kepergian jack karena sibuk dengan baby safa.


Jack mengemudikan laju mobilnya dengan kecepatan tinggi bahkan kegusaran nya hampir membuatnya celaka.


Tit....tit...


"Hah..., hampir saja."


Jack membanting stir kemudi setelah sempat melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Kertas itu benar- benar membuat pikiran nya kacau dan juga sedikit gusar.


Tak berapa lama, jack sampai di sebuah gedung menjulang tinggi di depan nya. Ia sengaja nemarkir mobilnya di ruang bawah tanah yakni basement gedung tersebut. Dengan nafas panjang, jack mengatur smarah dan juga emosi yang saat ini tengah nenyelimutinya. Setelah sedikit tenang dan juga merasa nyaman, jack melangkahkan kakinya menuju rempat dimana bram berada. Yakni sebuah perusahaan yang entah bergerak dibidang apa?


Jack berada tepat di lantai dimana kartu nama itu menyebutkan letak kantor bram. Tak banyak yang bekerja di kantor tersebut, hanya beberapa orang saja. Seorang perempuan cantik seperti pekerja kantor tersebut menghampiri jack yang terlihat seperti kebingungan.


"Apa anda sedang mencari sesuatu, pak?"


Ucap wanita itu.

__ADS_1


"Oh..., nona benar ini kantor pak bram prasetyo?"


"Benar, pak. Anda mememerlukan sesuatu?"


"Tidak. Hanya..., saya ingin bertemu pak bram. Apa beliau ada ditempat?"


"Oh..., apa anda sudah membuat janji?"


"Belum. Katakan pada beliau, jack ingin bertemu."


"Baiklah, pak. Silahkan duduk dan tunggu sebentar! Saya akan menyampaikan pesan anda."


"Terima kasih, nona."


Jack duduk di sofa ruang tunggu seperti yang di katakan nona itu padanya. Sementara nona itu pergi menyampaikan pesan nya.


Tok... tok ... tok...


"Permisi, pak. Di luar ada pak jack ingin bertemu bapak? Apa bapak akan menerimanya?"


"Jack...?"


"Benar, pak."


"Jadi dia sidah melihat test dna itu."


Gumam bram dalam hatinya.


"Pak... ."


"Ya..., cepat suruh dia masuk!!"


"Baik, pak."


"Putraku..., akhirnya kau datang juga. Aku sudah menantikan saat seperti ini."


Gumam bram.


Ceklek...


"Silahkan masuk, pak."


Ucap wanita itu mempersilahkan jack.


"Terima kasih, nona."


"Jack, putraku."


Sapaan bram seperti seorang orang tua yang merindukan anaknya dan lama tak bertemu mbuat jack sedikit jengah.


"Tunggu, pak! Tolong hentikan sandiwara anda! Apa yang anda inginkan sebenarnya?"


Ucap jack menahan tangan nya melihat bram yang mendekatinya dengan merentangkan kedua tangan nya seakan ingin memeluknya.


"Sandiwara? Tidak, jack. Aku... ."


"Stop!! Jangan diteruskan! Aku tahu anda memiliki persaingan bisnis dengan kedua orang tuaku, tapi tolong jangan memperalatku merusak hubungan keluarga kami. Itu tak akan berhasil sama sekali."


Ucap jack tanpa basa- basi hingga membuat bram sedikit tercengang. Setidaknya ia harus memikirkan cara lain untuk memberitahu jack tentang kenyataan yang ada.


"Tidak, jack. Kau salah paham."


"Salah paham? Hanya seorang pebisnis kotor yang menggunakan segala cara memenangkan petarungan melawan musuhnya."

__ADS_1


Ucapan bram terpotong oleh pernyataan jack. Seakan tertampar kenyataan pahit, bram mengepalkan tangan nya meremas sendiri.


"Atau jangan- jangan berita yang beredar adalah ulah anda? Sangat disayangkan, padahal saya sangat menghormati anda seperti orang tua saya."


"Tapi sepertinya anda memanfaatkan kedekatan anda dengan saya. Atau anda memang sengaja mendekati saya karena persaingan bisnis anda?"


"Pak, anda salah jika bisa memanfaatkan saya. Saya tekankan pada anda untuk berhenti mendekati saya atau pun keluarga saya. Permisi."


Seperti disambar petir, bram tertampar oleh setiap ucapan jack.


"Tunggu, jack!"


Langkah jack terhenti saat pria tua itu menghentikannya.


"Apa anda ingin membela diri? Atau punya segudang alasan untuk itu? Oh..., pasti anda tidak terima dengan setiap kata- kata yang saya lontarkan. Karena memang semua yang saya ucapkan benar."


"Tidak. Menjelaskan nya pun percuma, keluarga itu sudah mencuci pikiran mu... ."


"Cukup!! Jangan menuduh keluarga saya seperti itu! Saya tidak akan menerimanya."


Jack tersulut emosi mendengar ucapan bram.


"Tapi kenyataan nya memang benar, apa kau tidak merasa ada kejanggalan dengan nama belakangmu? Kenapa tidak sama dengan kedua anak mahendra?"


Ucap bram.


"Karena kau bukan putranya tapi putraku, kenyataan yang disembunyikan nya puluhan tahun. Apa kau mengetahui alasan nya?"


"Karena mereka ingin menguasai harta mamamu yang telah meninggal juga karena mereka."


Bagai disambar petir, jack semakin tersulut emosi dengan apa yang dikatakan bram padanya. Namun apa yang dikatakan bram memang benar, kenapa nama belakangnya tidak memakai nama belakang mahendra?


"Tidak, semua itu tidak benar. Kakek yang memberikan nama belakang padaku."


Ucap jack.


"Kakek...? Kakek yang mana? Kedua orang tua mamamu meninggal sebelum mama mu melahirkanmu. Jack, kau tak perlu mempercayai ucapan papa. Tapi kau bisa melihat semua isi flash disk ini, dan juga mengecek kebenaran test dna itu."


Ucap bram memberikan sebuah flash disk pada jack. Bram rupanya telah menyiapkan rencana lanjutan nya jika terjadi penolakan pada jack. Laki- laki itu benar- benar patut diwaspadai atas rencana liciknya.


"Pergilah! Cek kebenaran nya, kau tak mungkin percaya pada papa jika belum melihat kebenaran nya."


Ucap bram.


Jack pergi dengan sedikit kemarahan memegang flash disk yang diberikan padanya, meninggalkan kantor bram. Langkah gontai tampak terlihat jelas kebimbangan yang tengah jack rasakan.


Sementara senyum sinis mengembang di wajah bram, rencananya kali ini tidak akan gagal karena ia pun telah menyiapkan bukti- bukti yang membuat jack percaya padanya.


"Mahendra, kali ini putraku yang akan menyerangmu."


"Aku akan menghancurkan keluarga kalian seperti kau memisahkanku dengan melati dan juga putraku."


"Kau akan merasakan bagaimana berpisah dengan putraku selama puluhan tahun."


"Akan aku pastikan itu."


Brakk....


Bram menggebrak meja kerjanya sendiri tersulut kemaharan yang selama ini dipendamnya, bahkan mendarah daging dengan aliran darahnya.


Jack menyetir mobilnya dengan pikiran kacau, juga teringat kertas yang dibuangnya di ruang kerjanya. Sejenak pikiran nya teringat pada istri dan anaknya, bagaimana kalau test itu memang benar? Jack tak mungkin memberitahu stela khawatir stela akan meninggalkan nya.


Bersambung🙏😊

__ADS_1


__ADS_2