
Beberapa hari berlalu seperti biasanya salah seorang asisten yang di pilih secara rolling akan bertugas mengajak ane berjalan mengelilingi rumah hingga saat tertentu berhenti di salah satu tempat.
Salah satu tempat yakni di depan rumah, di serambi depan yang terdapat sebuah teras kecil dan sebuah gazebo, asisten tersebut berhenti mengajak majikan nya menikmati udara pagi yang cerah.
"Non..., lihatlah bunga- bunga itu! Sangat membutuhkan keceriaan non ane."
"Kapan non bisa seperti semula?"
" Ima kangen non yang cerewet, berteriak dari lantai atas, dan tiba- tiba muncul di dapur saat kami sedang menggosipkan non."
" Hihihi..., lucu."
" Reaksi wajah kami yang terkejut dan juga malu saat ketahuan menggosip, juga reaksi kami yang tercengang saat non pergi tak marah sama sekali atau pun menegur kami."
" Merasa lega dan juga merasa bersalah."
" Dulu..., saat pertama kali bekerja ima sangat takut. Bayangan ima memiliki majikan yang sangat muda dan juga super cerewet yang lebih lagi sangat galak."
" Ternyata non tidak seperti itu, sangat baik, ndak pernah marah, yang lebih lagi tak pernah membedakan kalau kami hanya seorang asisten rumah tangga."
" Ma..., ima..., sarapannya non ane sudah siap."
Sebuah teriakan yang membuat ina mengalihkan pandangan nya juga menjawab panggiilan tersebut.
" Baik, bi."
Jawab ima.
" Non..., ina ke dalam dulu ya. Mau ambil sarapan non."
Ima meninggalkan ane sendiri di serambi samping rumah untuk mengambil sarapan yang telah di siapkan.
Tak berapa lama ima kembali membawa sebuah nampan yang berisi sarapan ane, makanan favorite ane. Secara perlahan ima menyuapi ane dengan telaten, meskipun sedikit tercecer tetapi ima berhasil menyuapi ane.
Saat yang sama, sepasang mata mengamati ane tak jauh dari pagar jeruji besi yang menjulang tinggi disana.
" Hahaha...., gadis yang malang."
"Makan saja disuapi, belepotan lagi."
"Bagaimana bisa seorang yang cacat menjadi nyonya bryan saputra?"
"Akulah sepatutnya yang menjadi nyonya bryan saputra."
Beberapa saat menunggu setelah suasana sepi tak ada satu orang pun, stevi berniat menghampiri ane yang diam membisu duduk di kursi roda.
Seorang security yang biasanya berjaga di pos penjagaan tengah menyiram beberapa tanaman di depan rumah tak memperhatikan kalau ada seseorang menyelinap masuk pagar penjagaan.
Seorang wanita yang berpakaian sexy berjalan berlenggak- lenggok bak gitar spanyol menghampiri ane yang tengah duduk di serambi samping rumah mereka.
"Hai..., nyonya bryan ah salah. Nyonya cantik yang cacat."
"Kau tak pantas di panggil nyonya bryan saputra, semua akan beralih menjadi nyonya stevi bryan angkasa, hahahaha."
"Aku tak menyangka nasib baik menghampiriku."
"Tak susah menyingkirkan mu dari samping bryan."
"Kau sendiri sudah menyingkir."
"Kasihan, kau akan selamanya berada di atas kursi ini."
Ucap stevi yang berjalan mengelilingi kursi roda ane.
"Denada..., kau benar- benar membawa keberuntunganku."
"Sebentar lagi aku akan menjadi nyonya sekaligus ibu untuk suami mu, ups... suamiku."
"Bagaimana mungkin kau akan mendampingi bryan?"
"Sementara kau akan menghabiskan seumur hidupmu di kursi roda."
"Oh..., aku lupa memberitahumu tentang hasil tes dna janin yang ada di dalam perutku."
"Kau lihat ini! Ini anak bryan, hahahaha."
"O... ya. Benarkah?"
Stevi tersentak kaget mendengar suara yang sengaja menjawab nya. Stevi yang semula membelakangi denada membalikkan badan nya.
__ADS_1
"Apaa..., kau bisa bicara?"
Stevi mengerutkan dahinya ketika melihat denada yang tak bereaksi ketika ia menatap tajam denada.
"Ah..., ternyata hanya halusinasiku saja."
"Benar."
Jawab denada dengan senyum nya yang mengembang menghiasi wajahnya.
"Kau..., bagaimana mungkin?"
"Mungkin saja. Apa kau terkejut aku bisa bicara?"
Ucap denada.
"Aku bahkan bisa berdiri dan berjalan."
Stevi semakin tercengang dengan apa yang dilihatnya dan juga tak menyangka sama sekali.
Stevi yang semula terkejut dengan kejutan yang diberikan ane, seketika sadar kalau semua itu hanya untuk mengelabuhinya bahkan orang- orang di sekitarnya.
"Oh..., haha. Ternyata kau seorang penipu ulung, kau mengelabuiku dan juga keluargamu sendiri."
"Hebat..., hebat."
Prok..., prok...
"Benar- benar seorang ahli."
Stevi yang semula merasa menang merasa kecewa, tapi seketika menguasai keadaan mengikuti permainan.
"Menurutmu? Apa kau saja yang bisa memainkan permainan?"
Ucap ane mencebirkan bibirnya seakan mengejek stevi.
"Hahahaha..., bagus..., bagus. Patut di acungi jempol. Tapi bagaimana kalau orang- orang tahu kalau kau menipu mereka? Terlebih kalau mama bryan tahu."
Ucap stevi yang sebenarnya geram.
"Benarkah?"
"Okay..., baiklah. Kalau itu tak berpengaruh dengan mu, tapi bagaimana kalau bryan sendiri mengetahuinya? Dia pasti akan membencimu."
"Bagaimana kau yakin bryan tidak tahu? Apa kau juga tahu kalau aku dan dia sudah bertunangan sejak masih kecil?"
Ucapan ane seakan menusuk jantung stevi yang semakin membuatnya geram.
"Hahahaha...., stevi stevi. Sepertinya kau terlalu berhalusinasi menjadi istri kedua suamiku."
"Apa kau yakin suami ku mau menikah dengan mu? Terlebih keluarga besar mertua ku yang pasti sudah membencimu dengan kebohongan mu."
"Apa kau yakin stevi?"
"Hahahaha..., aku tidak peduli itu. Yang penting adalah."
Belum sempat stevi melanjutkan perkataan nya, ane sudah memotong perkataan gadis itu.
"Kau mengandung janin bryan? Hahahaha..., stevi stevi. Apa kau terlalu berambisi pada suami ku?"
"Ambisi? Mungkin, tapi memang seharusnya aku yang pantas menjadi istrinya bukan kau."
Tatapan tajam stevi semakin membuat ane tersenyum bahkan tertawa karena nya.
"Apa lagi aku tengah mengandung janin nya."
"Apa kau yakin?"
" Iya, tentu saja. Lihatlah hasil tes ini! Janin ini adalah milik bryan dan mau tak mau kau harus menerimanya."
" Menerimanya? Hahahaha..., tentu saja tidak. Bagaimana mungkin aku menerima janin yang bukan milik suami ku?"
" Hahahaha..., bilang saja kau tidak menerimanya denada? Mau tidak mau kau harus menerimanya dan keluarga mahendra tak mungkin menolak darah dagingnya sendiri."
Stevi masih berbangga diri atas hasil tes dna yang entah darimana ia mendapatkan nya.
"Tentu, tentu stevi. Tak perlu memelototkan kedua matamu, takut. Hahaha..., aku dan suami ku akan menerima anak itu jika memang benar darah daging suami ku."
"Apaa..., jika benar darah daging bryan? Kau mengejek ku ini bukan anak bryan?"
__ADS_1
"Tidak, stevi. Hanya..., apa kau tahu suamiku tak pernah meninggalkan ku sedetik pun?"
"Bagaimana kau tahu itu? Dia datang ke pesta kampus saat itu dan berdansa dengan ku. Dia banyak minum hingga kehilangan kendali dan bermalam dengan ku."
"Hem..., mungkin kau terlalu berambisi jadi berhalusinasi bahwa orang itu adalah bryan."
Ucapan ane membuat stevi geram, mengerutkan dahinya bahkan mengepalkan tangan nya.
"Stevi..., stevi..., sepertinya kau harus bangun dari mimpi mu."
" Mimpi? Tidak. Di dalam kertas ini sudah jelas kalau janin ini milik bryan. Jadi kau yang harus bangun dari mimpi mu."
"Kau yakin di dalam kertas itu benar- benar tertulis nama suami ku?"
"Apa maksudmu?"
Dari kejauhan ane melihat mobil mahendra memasuki halaman, seketika ane menarik kedua tangan stevi meletakkanbnya di kedua bahunya bahkan cenderung ke arah leher seolah mencekik leher ane.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan! Lepaskan tanganku!"
Ucap stevi sedikit berteriak.
"Lepaskan!"
Namun ane tak sebodoh stevi melepaskan nya begitu saja hingga mobil mahendra benar- benar mendekat dan melihat ke arah mereka.
Benar saja, dari kejauhan ine tampak risau meminta sopir berhenti lalu berlari mendekati sang menantu.
"Apa yang kau lakukan?"
Plak... plak...
Ine melihat kedua tangan stevi berada di leher ane naik pitam seketika menariknya lalu menamparnya. Sedangkan ane diam membisu tak bergerak sama sekali bahkan tak bereaksi.
"Sayang, kau tidak apa- apa?"
"Ma..., kau menamparku?"
Stevi menyentuh pipi yangbaru saja ditampar ine, mengusapnya pelan.
"Ma...? Siapa yang mengijinkan mu memanggilku mama?"
"Hah..., hahahaha. Kenapa tidak boleh ma? Sebentar lagi stevi akan menjadi menantu mama."
"Menantu? Apa kau sedang bermimpi? Sampai mati pun aku tak kan menerima mu menjadi menantuku. Istri bryan hanya ane, camkan baik- baik!"
"Suka atau tidak, aku akan menjadi menantu mama. Lihatlah hasil tes ini!"
Stevi menunjukkan sebuah kertas pada ine dan ine pun mengambil kertas tersebut lalu membacanya dengan seksama.
"Hahahaha."
Tawa ine pecah ketika selesai membaca isi kertas tersebut. Sementara stevi mengerutkan dahinya melihat reaksi ine ketika melihat kertas tersebut.
"Sepertinya kau terlalu berambisi pada putra hingga tak bisa membedakan nama dari kertas tersebut."
Ucap ine kemudian.
"Bagaimana mungkin kau bisa berasumsi menjadi menantuku sedangkan di dalam kertas itu tertulis nama Rian sanudra."
Stevi mengerutkan dahinya ketika ine menyebutkan nama orang lain dalam kertas tersebut.
"Apa mana sudah rabun?"
"Rabun? Mungkin kau yang harus memeriksakan kondisi matamu hingga tak jelas membaca hasil tes tersebut."
Geram dengan ucapan ine, stevi merebut kertas itu dari tangab ine lalu membacanya.
"Hah..., tidak. Tidak mungkin, bagaimana ini bisa terjadi?"
Stevi yang memang tak memeriksa isi kertas tersebut terkejut melihat nama yang tertulis ternyata bukan nama bryan.
"Jadi..., pergi! Pergi dari sini, sebelum aku nemanggil pihak yang berwajib untuk menjebloskan mu dalam jeruji besi."
Stevi harus sedikit mengalah mendengar kata jeruji besi keluar dari mulut ine.
"Baiklah, tak perlu mengusirku. Aku akan pergi sendiri, tapi apa tante tahu kalau gadis yang tante banggakan itu tidak sakit?"
Ine semakin naik pitam dengan stevi yang menurutnya mengada- ada dan tidak masuk akal.
__ADS_1
"Pergi!! Pergi!"