Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Memilih hukuman cambuk!


__ADS_3

Ucapan Pak RT Tantowi membuat Khaira seperti tersambar petir, air matanya pun menjadi tanda bahwa ia tertekan dengan adanya situasi panas ini. Namun secepat kilat ia menghapus jejak air matanya secara kasar.


"Tapi Pak, saya nggak berbuat maksiat! Saya juga nggak kenal sama dia!” protes Khaira lagi dan lagi, seraya menahan amarah, dan menunjuk pria bermodel rambut Medium length hairstyle scissor cut yang entahlah bernama siapa. [Model rambut tidak panjang tidak juga cepak]


Bersamaan dengan Kevin yang melayangkan protes! Ia pun berdiri dengan gagah guna membela diri, "Pak, kagak bisa begitu dong! Beneran gu- arhhh... sa-saya beneran kagak kenal ama nih cewek!”


Pak Tantowi yang terkenal akan ketegasannya pun memerintahkan salah seorang untuk mengambil cambuk yang biasa di gunakan untuk menghukum pelaku kejahatan seksuall. Atau pasangan yang telah berbuat mesum di daerahnya tinggal. “Komar ambilkan cambuk, dan yang lainnya lapor ke Pak lurah.”


“Baik Pak RT!” jawab seorang hansip bernama Komar, ia pun segera bergegas menjalankan tugasnya.


Khaira maupun Kevin kelabakan, keduanya sama-sama takut. Dan mencoba untuk membujuk Pak Tantowi serta Bapak-bapak atau Ibu-ibu yang ada disekelilingnya. Namun, tak ada yang menggubrisnya kecuali Mita dan Pak Wahyu berserta istrinya.


“Semestinya hukuman cambuk dan di arak keliling kampung itu, berlaku juga di seluruh desa-desa maupun pusat perkotaan, supaya nggak ada kemaksiatan lagi!” menurut Pak Ramli, jika pelaku zina atau kemaksiatan diberi efek jera, mungkin saja tidak adanya bayi-bayi yang tidak bersalah di buang.


“Bener sampean Pak Ramli, kalau saja Negara kita ini bisa memberlakukan hukuman ini di seluruh negeri, pasti ndak ada pelaku zina ta ye. Dan ndak ada bayi-bayi yang dibuang-buang, kan sayang. Mereka masih suci!” imbuh Pak Soha, sang ustadz berasal dari Madura yang bermukim di metropolitan ini.


Perkataan Pak Ramli dan Pak Soha di beri apresiasi baik dari masyarakat sekitar yang ikut turut serta dalam mengadili Khaira dan Kevin.


“Betul saya setuju!”


Khaira menghela nafasnya kesal, ia mencoba mengusap air matanya dengan kasar. Ucapan dari beberapa orang-orang ini memanglah benar, seharusnya hukuman cambuk dan di arak keliling kampung bisa diberlakukan untuk memberi efek jera kepada orang yang suka bertindak zina.


Tapi kan, bukan pada dirinya juga. Ia merasa ini kesalahpahaman yang fatal. Mengapa mereka tidak mempercayainya? Ia menatap sinis pada pria di hadapannya! Tangannya ia remas kuat-kuat, ingin sekali rasanya menarik jakun pria itu lalu mencincangnya. Entahlah siapa namanya, Khaira sama sekali tidak perduli!


Setibanya hansip Komar datang dengan membawa cambuk yang terlihat sangat mengerikan dan bertuah seperti turun temurun dari leluhur. Ia pun memberikannya kepada Pak Tantowi.


“Kita harus menunggu Pak lurah untuk menjadi saksi, dan juga menunggu pagi tiba.” ujar Pak Tantowi. Beliau dan warganya tidak bermaksud melakukan aksi main hakim sendiri. Namun jika dibiarkan hal kemaksiatan seperti ini terjadi, maka beliau beranggapan akan menjadi kebiasaan bagi para pelaku maksiat di kampungnya.


Pria berusia 53 tahun ini merupakan anak dari RT terdahulu maka dari itu ketegasan beliau turun temurun dari para orang-orang terdahulu yang sudah memberlakukan hukuman semacam ini. Dan itu sudah di setujui oleh pihak kepolisian serta balai kelurahan.


Khaira menelan ludahnya yang serasa sakit di tenggorokan.Ia melihat cambuk yang di pegang oleh Pak RT setempat. Inikah hukuman cambuk? Ia tidak mau menerimanya begitu saja.

__ADS_1


Mita melihat ketakutan dan kegelisahan yang tergambar jelas dari mimik wajah Khaira, ia mencoba untuk membujuk Pak Tantowi, “Pak RT, memangnya nggak ada cara lain lagi? Mereka nggak bersalah Pak, ini hanya kesalahpahaman.”


“Bener tuh Pak, ini hanya salah paham! Saya akan mencari tau kenapa saya bisa ada di sini, dan di kamar kosan bersama cewek itu! Saya yakin, saya sudah dijebak!”seloroh Kevin kala melihat cambuk yang seolah sudah menjadi tetuah di daerah sini.


“Udah diem bae lu, kejebak- kebejak! Kagak usah cari-cari alasan lagi!” seru Pak Somad.


“Ada!” tegasnya Pak Tantowi menjawab usulan Mita.


Khaira terhenyak, ia langsung bertanya apa pengalihan hukuman cambuk,“Apa Pak?!”


Pak Tantowi melihat Khaira dan beralih melihat Kevin, “Ya kalian berdua harus menikah disini sekarang juga. Dan kami akan langsung menyaksikan bahwa kalian sah secara hukum agama, lebih baik lagi dan lebih lanjut lagi kalau kalian mendaftarkannya ke KUA setempat!”


Khaira merasa lusuh, ia merunduk tak berdaya. Kenapa harus menikah? Kenapa? Apakah ini karma? Karena ia sudah merendahkan tentang pernikahan! Mengapa ia harus menerima hukuman cambuk atau menikah? Benar-benar tidak menyangka di kota gaul ini, ada juga pemberlakuan hukuman kuno semacam ini?


“Apa nikah? Kenapa lagi-lagi nikah? Memangnya kagak ada cara lain dari hukuman cambuk atau menikah? Gue kagak salah apa-apa!” lagi-lagi Kevin melayangkan protes. Kendati protesnya tidak di gubris.


“Jika kamu tidak mau di cambuk, ya kamu nikahilah saja wanita ini! Biar kalian tidak lagi berbuat dosa yang jelas dilarang oleh agama. Tujuan kita di sini kan baik, supaya nggak nambah beban dosa bagi kalian!” kata seorang Pak ustadz bernama Ali Subekhi.


“Hey anak muda, agamamu apa?” tanya Pak Ramli kepada Kevin, memastikan bisa saja pemuda itu beragama lain dari kebanyakan warga di lingkungannya.


Ingin rasanya lari dari sini. Namun itu nihil! Karena ia di kepung warga dari kanan, kiri, depan, belakang dan ia persis seperti bangkai yang dikerumuni lalat. Khaira merasa sangat terpuruk!


Pak Wahyu pun menyarankan untuk melaksanakan ibadah sholat subuh karena sudah memasuki adzan subuh dan juga guna memberi keleluasaan Khaira dan Kevin dalam mengambil keputusan, “Maaf semuanya Bapak-bapak dan Ibu-Ibu. Sebaiknya kita sholat subuh terlebih dahulu.”


Pak Tantowi pun mengangguk pelan, “Baiklah.”


“Semua warga boleh-boleh saja menunggu disini, tapi jangan tinggalkan kewajiban kita sebagai umat muslim,” ujar Pak ustadz memberikan arahan kepada warga.


“Iya Pak ustadz, kita sholat bergantian saja. Saya takut mereka berdua bakal kabur!” jawab Sondi.


“Hey anak muda, kamu nggak ikutan sholat?”tanya Pak Somad pada Kevin. Namun ia tidak mendapatkan jawaban dari pemuda yang terlihat tak bergeming.

__ADS_1


“Hem ya sudah kalau nggak mau!” Pak Somad pun pergi bersama beberapa orang dan ada beberapa orang lainnya memilih bergantian mengawasi gerak-gerik Kevin. Takutnya jika Kevin di tinggalkan seorang diri bakalan kabur.


Kevin tidak habis pikir terhadap para warga disini. Ingin teriak, tapi takut diamuk masa.


“Saya juga ingin sholat,” ujar Khaira.


Beberapa Ibu-ibu mencebikkan bibirnya, tidak percaya akan apa yang dilontarkan Khaira.


“Bilang aja akal-akalan kamu mau kabur kan!”


“Astaghfirullah!” gumam Khaira lirih.


Umi Lasmi pasang badan guna mematahkan tudingan Ibu-ibu sekitar, “Saya yang akan menjamin Nak Khaira, biar dia sholat bersama dengan saya di rumah.”


Tak berselang lama seusai waktu sholat subuh, warga pun kembali bermusyawarah di rumah Pak Wahyu.


Khaira juga sudah selesai melaksanakan tugasnya sebagai umat muslim, meskipun tak begitu taat. Tapi setidaknya ia tidak meninggalkan sholat. Ditemani Umi Lasmi dan Mita, ia kembali duduk di ruang tamu rumah Pak Wahyu, ia sudah pasrah. Jika memang ia harus menerima hukuman, semoga saja hukuman itu dapat mengampuni dosa-dosanya.


Ia melihat dengan dengan tatapan terheran-heran kepada ibu-ibu yang berkumpul untuk mengadilinya. Entah mereka sebenarnya ada masalah apa, sampai-sampai tega memperlakukannya seperti maling yang akan melarikan diri. Khaira melihatnya miris!


Kevin melihat gadis berhijab hitam yang duduk berhadapan dengannya berjarak kira-kira dua meter dengan sekat meja kayu di tengah-tengah mereka.


Gadis yang menunduk lusuh terlihat juga wajah sembab. Kevin beranggapan mungkin saja selama gadis itu sholat, gadis itu menangis tersedu-sedu karena tertekan dengan kesalahpahaman ini. Gadis yang terlihat tidak berdaya. Gadis yang tidak pernah ia kenal. Bahkan saat gadis itu melihatnya sinis, seolah ia bisa memahami bahwa gadis itu sangat tak bersalah. Namun, segitu gampangnya kah ia menerima hukuman? Atau harus menyelamatkan gadis itu dan menikahinya?


“Oh my Good Kevin! Lo salah apa sampai lo bisa terdampar di sini? Hah benar-benar gue dalam dilema, kenal aja kagak, masa harus menikahinya? Ada-ada saja orang-orang disini! Sangat primitif!”seloroh Kevin dalam hati.


Semburat warna keabu-abuan serta jingga kian menggantikan peranan warna gelap. Pertanda sang fajar pun telah tiba. Kini Pak lurah pun sudah datang dan telah duduk bersama para tetua lainnya.


Pak Tantowi pun melakukan rembukan kepada para tetua di wilayahnya. Setelah dirembuk dan dilakukan musyawarah. Kini Pak lurah yang bernama Maskun pun bertanya kepada Kevin serta Khaira,“Jadi sehubungan dengan masalah ini, dan hukum di sini sudah berlangsung sejak dahulu. Maka bagi pelaku yang berbuat maksiat di kampung kita ini, maka kalian tinggal memilih di hukum cambuk atau menikah?”


Jantungnya semakin berdegup kencang, keringat dingin mengucur disekujur tubuhnya. Membuat Khaira sedikit menggigil karena rasa takut dan gelisah yang bergelora dari dalam hatinya, jiwanya seolah redup untuk membujuk pada semua orang, bahwa ia tidak bersalah. Dan pada akhirnya pilihannya harus ia suarakan,“Baiklah saya lebih memilih menerima hukuman cambuk!”

__ADS_1


~~


Bersambung


__ADS_2