Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Kecewa dan Percaya


__ADS_3

Taman yang pernah Khaira datangi bersama dengan Kevin, tak jauh dari kompleks perumahan Kevin. Khaira duduk termenung di ayunan. Ia melihat perosotan, bernostalgia saat ia masih berusia lima tahun.


Masih ingat dengan sangat jelas ingatan saat Ibu Purwasih menemani Khaira kecil bermain ayunan, bahkan saat Khaira kecil terjatuh dari ayunan. Ibu Purwasih memeluk serta mengusap luka di lutut Khaira.


Rasanya jika mengenang masa kecilnya sangat sesak. Khaira berulang kali mengusap air mata yang kian luruh. Wajahnya yang semula memanas kini menjadi lebih dingin karena terpaan semilirnya angin malam.


Lagi, pesan masuk dari Clara. Entah ke berapa pesan telah diterimanya. Tapi tidak ada yang ia balas. Khaira tidak ingin ambil pusing, toh jika memang Clara dan Kevin ingin menikah dan juga Clara kini sudah hamil anak Kevin. Khaira berpikir ia tidak akan rugi, karena selama ini tidak berhubungan badan dengan Kevin.


Jadi Khaira merasa tidak perlulah dibesar-besarkan. Istilah kata yang terjadi biarlah terjadi, dan yang belum terjadi belum tentu dapat di cegah.


Khaira menadahkan wajahnya menatap hamparan bintang-bintang di langit yang gelap, tentunya bukan di langit yang biru. Karena memang pada malam hari, langit bukan berwarna biru, seperti yang selalu di nyanyikan oleh anak-anak.


Khaira lantas bersenandung kecil, menyanyikan lagu anak-anak yang dahulu pernah ia nyanyikan bersama dengan sang Ibu


"Bintang kecil di langit yang biru, amat banyak menghias angkasa, aku ingin terbang dan menari jauh tinggi ke tempat kau berada."


Huft... rasanya sangat sesak. Sampai hatiku terasa sangat lara. Ibu aku merindukanmu. Ibu, kenapa menjadi wanita itu nggak mudah. Saat mencoba menjaga harga diri di bilang sok jual mahal. Saat terlalu cepat akrab dibilang kecentilan. Aku merasa manusia memang nggak pernah sempurna di mata manusia. Karena manusia menilai berdasarkan apa yang dilihatnya. Jika aku berkata bahwa aku nggak percaya sama suamiku sendiri apa aku akan disalahkan, Bu?


Khaira menghela nafas panjang. Mendadak lamunannya terganggu oleh seseorang yang tiba-tiba duduk di ayunan sebelahnya. Khaira menoleh ke samping melihat seorang wanita berpenampilan nyentrik. Sedangkan tangannya itu memegang kaleng minuman.


"Mau minum?"


Khaira melihat wanita itu menawarkannya minuman, ia menggeleng.


"Nggak mau ya sudah."


Khaira tersenyum simpul, dan melihat wanita itu meminum dalam kemasan kaleng yang berwarna kebiruan. Khaira berpikir sudah lama berada di taman ini untuk menenangkan diri. Dan soal pengakuan Clara yang hamil anak Kevin, biarlah. Ra urus!


Khaira berdiri dari ayunan. Namun, wanita itu seperti mengajaknya berbicara.


"Gue Ane, lo siapa? Kenapa wanita seperti lo bisa ada di taman malam-malam begini? Bukankah wanita berhijab seharusnya anteng di rumah dan tidak keluyuran?" kata wanita yang mengaku bernama Ane.


Khaira menoleh kepada wanita yang bernama Ane, ia melihat raut wajah Ane yang tersenyum simpul. "Aku hanya sedang menenangkan diri. Menepi dari permasalahan dan mencari solusi."


Ane berdiri dan mengetuk-ngetuk dada wanita berhijab di depannya. "Dengarkan gue, manusia itu tempatnya mengeluh dan berbuat salah. Saat penyesalan datang padanya, dia hanya berkata khilaf." Ane kembali duduk di ayunan, dan meminum minuman kaleng. "siapa nama lo? maukah menemani gue minum?" Ane menyodorkan kantung plastik putih yang berisikan kaleng minuman beralkohol 0.

__ADS_1


"Aku Khaira, maaf aku tidak minum minuman seperti itu." Khaira masih berdiri, matanya melihat kantong plastik putih dan beralih melihat wajah wanita yang dipenuhi dengan riasan makeup tebal.


Ane menarik Khaira agar duduk di atas rerumputan. Ia lantas duduk berhadapan dengan wanita berhijab yang baru ditemuinya ini.


Khaira terkejut mendapati wanita bernama Ane menariknya, sampai ia terduduk di atas rerumputan.


"Siapa orang yang lo paling percaya di dunia ini?" Ane bertanya lalu meminum minuman kalengnya.


Khaira terdiam, soal memikirkan kepercayaan. Sebenarnya ia hanya percaya kepada orang tua tunggalnya. Ia juga tidak percaya dengan ucapan Clara dan surat DNA yang ada di tasnya. Ia juga tidak percaya dengan Kevin, suaminya.


Khaira lalu menggeleng, "Sebenarnya kita seringkali dikecewakan oleh orang yang benar-benar kita percayai. Jadi aku nggak percaya siapapun kecuali Abah."


Ane mengangguki ucapan Khaira. "Ya betul. Gue setuju, kadangkala kita memberikan kepercayaan penuh oleh orang yang kita cintai, contoh teman, pacar, atau bahkan suami, bisa jadi keluarga kita sendiri. Tapi tiba-tiba dia meremess kepercayaan yang udah kita kasih. Beh, menurut gue itu sih sakit hati banget."


Khaira tersenyum lebar, mendengar jawaban wanita disebelahnya.


"Minumlah, ini bukan minuman keras, sekali-kali lo tidak perlu pura-pura menjadi baik. Keluarkan saja emosi lo, elo berhak marah, berhak mengutuk, berhak untuk hak lo. Kita ini manusia, saling mencaci, saling membenci, tempatnya dengki." Ane berseloroh, lalu berbaring memandangi langit gelap.


Khaira melihat wajah Ane, ia melihat ada guratan kesedihan. Khaira mengambil satu kaleng minuman bertuliskan Bintang non alkohol. Lalu membuka penutup dan meminumnya, rasanya sedikit asam, ada pait, dan ada sedikit manis. Benar-benar tidak enak dilidahnya. Tapi ia tetap meminumnya.


"Hahh?" Ane menoleh ke samping menatap Khaira. "enggak, gue ke sini mau ketemu sama klien gue, dia bilang mau memesan psk yang gue siapin, tapi sampai sekarang tuh lelaki hidung belang kagak muncul-muncul juga, sampai gue di kejar sama gerombolan polisi dan gue terpisah dari psk. Dan akhirnya karena gue capek lari, gue beli minum di Alfamart, dan disinilah gue berada. hehe... lucu hidup gue, kagak pernah melayani lelaki, tapi gue jadi mucikari." jelas Ane panjang kali lebar mengenai perjalanan hidupnya yang berada di lingkaran hitam kelamnya dunia prostitusi online maupun offline.


Khaira terdiam, ia tidak ingin mengintimidasi perkejaan yang dipilih oleh wanita asing ini. Ia juga tidak ingin berspekulasi bahwa Ane salah. Bukan juga membenarkan segala bentuk prostitusi.


"Kenapa Mbak memilih pekerjaan itu?"


"Karena pengen hidup enak." jawab Ane spontan.


Khaira manggut-manggut. "Seringkali bermimpi hidup enak, acap kali membuat beberapa orang gelap mata dan menutup hati nurani."


"Kalau lo mau, lo juga bisa bergabung sama gue." tawar Ane, menyeringai senyumannya.


Khaira tersenyum kecut. "Terimakasih atas tawarannya, tapi aku masih menikmati pekerjaan ku saat ini. Aku memang memimpikan hidup enak, tanpa perlu susah payah bekerja, tapi bukan enak dengan cara instan seperti itu."


Ane beranjak duduk, ia manggut-manggut tipis. "Ya ya, gue tau. Orang berhijab memang seharusnya menjaga, bukan hanya menutup aurat saja. Tapi juga harus menutup perilaku juga tindakan. Seringkali gue melihat, ada wanita berhijab, tapi kagak bisa menjaga harkat dan martabatnya."

__ADS_1


Khaira tercenung, ia mengerti maksud dari ucapan wanita bernama Ane ini. Banyak wanita menggunakan hijabnya, tapi tidak menjaga perilakunya. Dan dari sekian banyaknya wanita berhijab untuk menutupi aurat juga kena imbas dari negatifnya.


"Satu orang baik akan tertimbun dengan sepuluh orang yang berbuat jahat. Tapi, dalam hidup ini, baik dan jahat nggak akan selamanya kekal. Akan ada masanya silih berganti, orang baik akan bisa jadi jahat, dan orang jahat akan jadi baik. Satu perempuan melepas hijab, bisa jadi sepuluh perempuan mulai hijrah dan memakai hijabnya." balas Khaira lalu tersenyum simpul.


"Gue maksud apa yang lo sebutkan tadi, tapi ngomong-ngomong gue belum siap pakai hijab hehe.." Ane lantas berdiri, dan menoleh kearah Khaira yang masih duduk. "gimana minumannya apa enak?" Ane melihat kaleng minuman yang dipegang Khaira.


Khaira menggidik pundaknya membersamai dengan menggelengkan kepala. "Sama sekali nggak enak. Tapi terimakasih."


Ane mengangguk singkat. "Ya sama-sama. Gue cabut."


"Iya, hati-hati Mbak Ane, semoga nggak ketemu sama gerombolan polisi lagi." kata Khaira dan melihat Ane.


"Ya kalau ketemu sama polisi, ya gue lari lagi, hahaha..." jawab Ane enteng, lalu pergi dari hadapan Khaira.


Khaira ikut tertawa kecil mendengar jawaban enteng seorang mucikari,


"Iya, seperti keadaan yang ku jalani saat ini. Kalau aku nggak lari, maka aku akan terjebak dalam situasi ini. Dan terus menerus disalahkan karena nggak percaya sama Mas Kevin, meskipun sebenarnya antara Clara dan Mas Kevin, aku sama-sama belum lama mengenal mereka." gumamnya seorang diri. Khaira beranjak dari duduknya. Lalu kembali menyusuri jalan. Dan kembali lagi ke rumah Kevin.


Setelah sampai di depan rumah Kevin, Khaira mengamati halaman rumah yang nampak sangat sunyi. Lalu mengedarkan pandangannya menatap keseluruhan kompleks perumahan yang sepi. Biasanya akan ada satpam penjaga yang keliling guna memastikan keamanan kompleks. Tapi tidak untuk kali ini, nampak sepi. Khaira masuk kedalam rumah.


Khaira merasa Kevin belum pulang, lalu segera bergegas membersihkan diri setelah ritualnya di dalam kamar mandi usai. Khaira berwudhu dan melaksanakan sholat hajat. Ia berharap hatinya yang gundah akan lebih tenang setelah sholat.




Bersambung



Hemm terimakasih banyak masih setia membaca karya yang tidak sempurna ini.



**Semoga masih ada yang berharap karya ini up sampai selesai. Yah, semoga saja**.

__ADS_1


__ADS_2