
Khaira terhenyak mendengar, kala Kevin sudah berdiri di belakangnya dan berbicara pelan, ia maju selangkah dan berbalik badan menghadap Kevin.
Glek.. ia menelan ludahnya kala bertemu pandang dengan manik mata pria yang masih asing dihadapannya. Namun secepatnya ia menetralkan rasa gugup yang menjalari hati.
“Malam pertama apa yang kamu maksud?” ketusnya, tidak mengerti apa yang sedang Kevin bicarakan, “Aku berdiri disini cuma mau tanya dimana sapu? Aku kan nggak mungkin keluyuran di rumah yang jelas saja bukan rumahku, ini pantang bagiku!” jelas Khaira akan tujuannya berdiri seperti patung di depan pintu kamar pria dihadapannya.
Kevin mendekapkan tangannya di depan dada, “Oh sapu? Ada di ruangan samping dapur, atau sekalian lo mau bersihin gue juga? Ayo, mumpung gue mau mandi!”
Khaira menatap Kevin malas, “Sinting!”
Kevin terkekeh kecil, “Haha... lo tuh bisa nggak sedikit lebih rileks kalau diajak ngomong nggak usah galak!”
Khaira enggan menjawab, ia membuang tatapannya ke sofa ruang tengah.
Kevin menatap Khaira dari samping, ia mengamati perangai Khaira, bisa saja gadis didepannya ini tidak segalak yang terlihat saat ini. Hemm tapi entahlah? “Selama lo masih di sini, dan lo masih jadi istri gue. Gue kasih kebebasan buat lo keluyuran di rumah ini. Atau kalau lo mau, lo juga bisa memuaskan gue,”
Khaira dleming, ia merasa semua ucapan yang Kevin lontarkan memang sangatlah memuakkan. Tanpa melihat Kevin yang masih berdiri di sampingnya, ia bergegas menuju dapur yang Kevin tunjukkan.
Kevin melihat kepergian Khaira hingga gadis itu sampai ke dapur rumah minimalis nya. Ia geleng-geleng kepala melihat ekspresi wajah Khaira yang bermuran durja, “Dasar galak!” ia masih berdiri dan tak kunjung pergi kearah tujuannya ke kamar mandi, Kevin mengetuk-ngetuk dagunya, “tapi dia cukup manis juga!”
Menyadari dirinya telah lama berdiri, Kevin pun segera menuju kamar mandi yang berada di luar kamarnya. Karena kamar mandi di rumahnya hanya ada dua, satu dilantai atas dan satu dilantai bawah. Persisnya kamar mandi lantai satu berada di tengah-tengah kamar utama dan kamar kedua.
~~
Malam semakin larut, Khaira baru saja selesai membersihkan kamar yang semula berdebu. Kini terlihat lebih rapi dan bersih, ia lantas keluar kamar dan melihat Kevin yang juga akan keluar dari rumah tanpa menoleh ke dalam rumah.
Khaira mengerutkan keningnya, heran dengan pekerjaan apa yang dilakukan pria itu malam-malam. Suara mesin motor membersamai suara knalpot bervolume besar mengiringi kepergian Kevin.
Seketika senyap, yang Khaira dengarkan hanya ada jam berdetak di dinding lalu mencari keberadaan jam tersebut.
Jam yang berada di dinding ruang tengah, Khaira melihat waktu sudah menunjukkan pukul 22:45 wib. Ia kembali mengamati ruang tengah, dan dilihatnya tangga menuju ke lantai dua, namun ia tak punya keberanian untuk menelusuri setiap jengkal rumah ini. Lantas berjalan ke ruang utama. Tidak terlalu ribet rumah minimalis ini. Sederhana tapi arsitekturnya sangat berkelas dan modern.
__ADS_1
Ia merasa keluarga Kevin misterius, jika Ibunya sudah meninggal. Lalu kemanakah anggota keluarga yang lainnya? Khaira menggidik pundaknya, dan berspekulasi mengenai keluarga Kevin.
“Mungkin saja anggota keluarganya menjalani kehidupan mereka masing-masing. Kadang orang kota berbeda dengan orang di kampung, dan begitu juga dengan Kevin. Dan mungkin juga orang kota lebih suka kebebasan.”
Khaira berpikir sangatlah tidak sopan jika memanggil seseorang yang usianya lebih tua tanpa menggunakan embel-embel.
“Terus aku harus memanggilnya dengan sebutan apa?”Khaira diam sejenak dan berpikir, tapi kemudian ia teringat. “ah aku kan cuma sementara menjadi istrinya, kenapa aku pusing dengan sebutan itu?”
Khaira menghela nafas panjang, ia menadahkan wajahnya menatap plafond bernuansa putih bercorak cokelat keemasan. Terlihat elegan.
“Kamu harus segera mencari kost atau kontrakan Ra, dan secepatnya pergi dari sini. Tapi melihat keuangan ku saat ini, mungkin akan sulit bertahan hidup di kota.” gumamnya lirih.
~~
Di perjalanan dengan mengendarai motor sport yang punya tampang seperti Harley Davidson ini memiliki kapasitas mesin 249 cc. Penampilan Kevin di dukung juga dengan helm sport, dan pakaiannya yang memakai celana panjang hitam, sepatu sneaker shoes, serta Hoodie berwarna navy dan tak lupa juga ia gunakan masker.
Tidak seperti biasanya Kevin akan memacu adrenalin dengan kecepatan tinggi dalam membelah kesunyian malam yang hanya segelintir orang-orang saja yang berlalu lalang di jalanan perkotaan.
Dalam penerangan lampu jalanan. Ia teringat sesuatu, berasa ada yang tertinggal di rumah. Tapi apa? Kevin masih mengingat-ingat, “OMG! Ada seseorang di rumah, dan gue perginya kagak bilang!”
Selama kurang-lebih tiga puluh lima menit. Kevin sampai di depan sebuah club malam dengan aksen lampu warna-warni sebagai kiasan dari tulisan dari nama club' Samba. Ia lantas memarkirkan motornya di parkiran luas club yang memiliki gedung lima lantai.
Wanita-wanita seksi, berpakaian mini. Sudah biasa Kevin jumpai, beberapa laki-laki yang datang sendiri atau bersama teman, pasangan dan bisa jadi selingkuhan pun sudah menjadi pemandangan di setiap malamnya.
“Banyak juga kupu-kupu malam berkeliaran!” gumamnya lirih mengamati situasi di luar gedung club.
Sehari sebelum kejadian ia terdampar di kampung Rawa Dengklok yang menjadikannya berstatus suami dalam sekejap. Kevin mendapat panggilan oleh seorang manajer club terkenal untuk menjadi DJ guna meramaikan suasana ulangtahun anak konglomerat di Jabodetabek ini.
Ya, profesinya adalah seorang DJ. Memanglah, Kevin sudah menjadi DJ tetap di salah satu diskotik terkenal di kota ini. Namun, ketika ada job di club atau tempat hiburan malam lain yang datang menawarkannya. Maka ia akan meminta sang pemilik diskotik untuk absen.
Club malam yang Kevin datangi memanglah menampilkan sebuah club untuk karaoke, akan tetapi saat lewat jam di atas sebelas malam maka akan beralih fungsi menjadi tempat dugem bagi orang-orang yang ingin mencari tempat hiburan dan berpesta pora.
__ADS_1
Kevin langsung masuk kedalam gedung club' untuk menuju tempat kerjanya di lantai tiga. Melewati wanita-wanita cantik nan seksi di sokong dengan badan gemulai yang aduhai, serta beberapa pasangan yang sedang beradu kasih. Tanpa rasa malu mereka mempertontonkan ciuman dan gairah seksuall, untuk sesaat kemudian membawa kedalam hotel yang sudah di pesan.
Tentunya sudah terbiasa bagi Kevin, jika banyak dari kupu-kupu malam yang sengaja datang ke club atau tempat hiburan, ataupun yang sudah menjadi langganan om-om hidung belang!
Tak sedikit pula kupu-kupu malam yang menggodanya untuk di jamah secara gratisan, karena memang tampang Kevin yang rupawan nan tampan, maka tidak heran jika kupu-kupu malam itu mengejarnya.
Tapi bagi Kevin, ia tidak ingin menjadi laki-laki yang tidak mempunyai kehormatan. Kendati ia bekerja di tempat-tempat hiburan malam. Karena ia hanyalah seorang seniman yang sudah mengalir dalam dirinya musik-musik ritme cepat seperti DJ, pekerjaan yang seolah sudah menjadi hobinya.
Dari arah pintu ruangan yang dijadikan tempat acara ulangtahun anak konglomerat, kemunculan Kevin ternyata sudah dinanti-nanti. Salah satunya seorang waria berpakaian nyentrik.
“Halo Kevin, gue udah lama nunggu lo. Gue kira lo nggak jadi dateng?” seru Madam Mali, ialah seorang laki-laki yang mempunyai kelainan hormon dan menganggap dirinya adalah seorang wanita. Namun, ia belum berani melakukan operasi ganti kelaminn. Madam Mali juga seorang manajer di club' bernama Samba club.
Seorang gadis berpenampilan modis, dress seksi memperlihatkan belahan dada juga menghampiri Kevin, gadis ini selalu saja ingin dipandang dan diperhatikan oleh Kevin, ia bergelayut manja di lengan sang pujaan hatinya. “Kevin,”
Kevin melihat gadis cantik bermake-up tebal seperti gorengan mendoan yang dilumuri adonan tepung. “Clara! Lo lagi ngapain di sini?”
“Gue kan di undang sama tuan rumah party, jadi ya gue dateng,” Manja Clara, ia mengalungkan lengannya semakin manja di lengan Kevin.
Madam Mali kesal, karena Clara anak dari pemilik diskotik Valencia tiba-tiba menyerobot percakapannya dengan Kevin.
Kevin mencolek ujung hidung Clara, “Sebaiknya lo pulang, nggak baik anak gadis keluyuran malam-malam. Lagian pakaian apa yang lo pakai ini Clara?”
Clara mendengus kesal, selalu saja Kevin menganggapnya seperti anak kecil. Padahal ia ingin Kevin memandangnya sebagai wanita yang mencintai Kevin sejak lama. Clara sangat kesal, ia menarik dirinya kembali berdiri tegak, “Kenapa si lo Vin, nggak pernah ngebiarin gue seneng-seneng? Gue muak sama semua cemarah lo, terus kenapa lo nggak pernah melihat gue sebagai wanita dewasa, gue kan bukan gadis di bawah umur lagi!”
Kevin tersenyum kecil, ia memegang kedua pipi gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya, “Clara sayang, lo emang wanita dewasa yang sangat cantik, dan lo lebih cantik lagi kalau sekarang lo pulang, di sini bukan tempat lo Clara. Jadi Clara, gue lebih suka kalau lo selalu dan akan selamanya menjadi gadis baik-baik,”
Clara mendengus kesal atas semua yang Kevin lontarkan. Mengapa Kevin tidak pernah menganggapnya seperti wanita dewasa, “Gue bukan anak kecil Vin!” ia berlalu dari hadapan Kevin dan berjalan dengan langkah jenjang menuju ruangan party.
Madam Mali tersenyum lebar melihat Clara kesal, Madam Mali cukup tahu. Gadis itu akan melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
__ADS_1
Bersambung