
Pagi menjelang.
Kevin sudah terbangun lebih dulu, ia melihat Khaira dalam posisi yang sama seperti semalam. Menyandarkan kepala ke dadanya. Kevin tidak berniat untuk membangun istrinya yang tertidur lelap.
Kendati hampir disekujur tubuhnya merasakan sakit dan kaku, apalagi perkelahiannya semalam dengan anak buah Frans. Kevin bersyukur tubuhnya tidak lemah, tidak perlu repot-repot mendapatkan perawatan medis, padahal ia menyadari bahwa wajahnya mungkin saja terlihat babak belur.
Ia juga masih merasakan sensasi rasa perih yang luar biasa di area kelopak matanya. Namun, berkat kompres air dingin yang dilakukan Khaira semalam, bisa sedikit mengurangi rasa bengkaknya.
Tinggal di obati dengan mengoleskan salep guna menghilangkan rasa sakit dan memar serta meminum obat pereda nyeri. Kevin rasa tak perlu sampai saminggu ia akan kembali normal, dan lebam ruam kemerahan di wajahnya akan memudar, sakitnya pun hilang.
Hem... rasanya ia ingin waktu berhenti di kala melihat Khaira seperti ini. Jarang sekali wanita yang telah mengisi lubang dihatinya akan seperti ini. Kevin tidak ingin melewatkan momen pagi yang cerah ini.
Kevin rela menahan berat tubuh Khaira lebih lama lagi, melihat dari sisi wajah kiri Khaira yang cantik alami sedekat ini membuat Kevin terkesima.
Dilihatnya dari ujung kepala yang mempunyai rambut hitam legam nan panjang, kening yang tidak terlalu lebar, hidung juga pas, tidak mancung tidak juga pesek.
Mata yang masih terpejam, dapat Kevin lihat bahwa Khaira memiliki bulu mata cukup panjang, pipi yang agak chubby dan bibir yang pas, tidak tipis juga tidak tebal.
Benar-benar wanita pribumi Indonesia, warna dari kulit Khaira juga mencirikan khas wanita Jawa yang ibarat kata manis-manis gula Jawa.
Dilihatnya Khaira menggeliat seperti bayi, Kevin segera memejamkan matanya seperti seseorang yang belum terbangun dari tidur.
Khaira terkejut mendapati dirinya begitu pulas tertidur di atas dada bidang Kevin, dengan posisi setengah duduk, ia segera menjauhkan diri dari Kevin dan duduk, "Astaghfirullah! Kenapa aku bisa tidur nyenyak dengan cara seperti ini?"
Sedikit mendesah kala tangannya yang terluka serasa sakit dan kaku, "Aish... kenapa harus sesakit ini, gimana caranya pas aku kerja?" gumamnya lirih.
Dilihatnya wajah Kevin yang lebam-lebam, terlebih mata Kevin yang merah ruam kebiruan. Khaira menghela nafas kasar.
"Kalau berkelahi bukan keahlian mu, kamu sekarang ini pasti terkapar dan berada di atas brankar rumah sakit Mas Kevin. Untung saja kamu memiliki tubuh sekuat baja. Tapi kamu tetap bukan Gatot Kaca!" ucap Khaira bersuara kecil, lantas beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar.
Setelah kepergian Khaira, Kevin membuka mata. Ia mengulum senyumnya. Mendengar ucapan Khaira yang persis seperti menggerutu. Ia tahu bahwa istrinya itu mengkhawatirkannya. Ia juga tidak menyangka, anak buah Frans akan menghadang dan menghajarnya dengan cara brutal.
Kevin tahu konsekuensinya dalam mengungkapkan jaringan narkoba, apalagi jika sudah melibatkan bandar narkoba paling dicari di seantero negeri. Dan ia juga tahu, bahwa nyawa bisa saja jadi taruhannya.
Ia juga telah meminta kepada pihak kepolisian untuk melindungi identitasnya. Agar tidak tercium oleh Bandar narkoba. Namun, dikarenakan Frans sudah mengenalnya, maka tidak sulit juga bagi Frans dalam mencari tahu dan seperti apa aktivitasnya.
"Kali ini lo bakal hancur Frans!" ucapnya lirih, dilihatnya plafond yang dominan putih, lantas menahan sakit di perutnya yang mendapatkan pukulan dan tendangan keras dari anak buah Frans.
__ADS_1
Kevin mendesah sakit berusaha untuk bangun, namun ia merasa tidak mempunyai tenaga untuk beranjak. Akhirnya ia kembali tiduran miring.
Jika sudah menyangkut Frans, pastilah nama Sonia ikut terseret. Kevin membayangkan bagaimana kehidupan Sonia setelah Frans berhasil dibekuk polisi.
Kevin segera menepis pikiran tentang Sonia, "Gue harap lo segera bertobat Sonia."
Kevin kembali mencoba untuk bangkit dan mencoba bersusah payah mengumpulkan segenap tenaganya yang mungkin masih tersisa namun nihil.
~
Sementara itu Khaira baru saja keluar dari kamarnya, membawa pakaian untuk gantinya mandi, dilihatnya Kevin yang terlihat sudah bangun dan dengan bersusah payah untuk duduk.
Khaira segera meletakkan pakaiannya di sofa tunggal. Dan menghampiri lalu membantu Kevin untuk duduk.
Kevin menatap Khaira, ia tersenyum tipis, "Makasih Delf,"
"Sama-sama." Khaira segera beranjak dan mengambil kembali pakaian yang ia taruh di sofa tunggal.
Melihat Khaira hendak pergi, secara refleks Kevin mengangkat tangan lalu diraihnya tangan kanan Khaira, hingga menyebabkan Khaira oleng dan ambruk dengan posisi dipangkunya.
Kevin mendesis sakit menahan bobot tubuh Khaira yang berpangku di atas kedua pahanya.
"Sekeras apapun kamu menghindari ku, justru akan semakin mendekatkan kamu padaku, seperti sekarang ini," kata Kevin berbisik di telinga Khaira yang sekarang ini tidak memakai hijab.
Khaira mencolek sudut bibir Kevin yang lebam, sedikit menekannya, membuat Kevin sedikit mengerutkan kening, "Ya ya ya... Aku memang sudah terjebak bersamamu, apalagi sekarang ini aku berpangku padamu, jadi aku mohon tuan arogan, lepaskan aku sekarang juga."
Kevin memegangi wajahnya, tepatnya di sudut bibirnya yang sakit, "Udah tau sakit, kenapa masih di tekan! Kan jadi tambah sakit," gerutunya.
Khaira segera menarik dari dari pangkuan Kevin.
"Kalau sakit, kenapa berantem! Ingat Mas Kevin. Kamu bukan Gatot Kaca, dan kamu juga bukan kucing yang punya sembilan nyawa!" tukas Khaira tegas, ia kembali mengambil pakaiannya yang berada di sofa.
"Apa kamu sangat mengkhawatirkan ku? Mungkin kamu belum sepenuhnya sadar, bahwa kamu sudah jatuh cinta padaku?" ungkap Kevin melihat Khaira yang sedang berjalan kearah kamar mandi.
Khaira spontanitas berbalik badan, ditatapnya Kevin lekat-lekat. Ia tidak lagi mengelak, bawah kini mungkin Allah sudah membolak-balikkan hatinya, "Aku rasa dugaanmu memang benar. Bahwa cinta di hatiku sudah mulai bersemi--" Khaira menjeda ucapannya, ia tersenyum tipis dan kembali berkata, "namun, aku harus memastikan bahwa cintamu memang nyata dan tulus untuk selamanya, bukan hanya untuk hari ini saja. Dan agaknya memang aku harus bersiap siaga menjadi wanita tangguh! Soalnya siapapun wanitanya, bakalan terpikat dengan ketampanan mu, Mas Kevin. Dan aku, harus siap-siap membasmi pelakor!"
Kevin memalingkan wajahnya sekejap, dan kembali menatap Khaira yang berdiri dengan jarak dua meter, "Jadi kamu menyangsikan perasaan ku, nggak setia?"
__ADS_1
Khaira tersenyum devil, ia menggidik pundaknya, "Kita lihat saja dengan seiring berjalannya waktu. Jika benar kamu mencintaiku secara tulus, kamu pasti akan bertahan dengan segala kekurangan ku, dan begitu pun juga sebaliknya dengan ku. Aku akan bertahan sampai sisa hidupku."
"Apakah pernyataan mu sebuah taruhan?" sekejap pun Kevin tak memalingkan muka, ia masih menatap Khaira intens.
"Bukan, bukan taruhan. Akan tetapi, Sayyidina Umar bin Khattab Radhiallahu Anhu menjelaskan (Wanita bukanlah pakaian yang bisa kamu kenakan dan kamu tanggalkan sesuka hati. Wanita itu Terhormat dan memiliki haknya." setidaknya ada patokan bagi Khaira, bahwa setiap wanita memiliki haknya untuk tidak disakitin dan tidak hanya dijadikan pelampiasan saja.
Kevin diam terlena mendengar jawaban Khaira. Agaknya memang ia harus belajar mengenali hadist dan kata-kata bijak dari para sahabat Rasulullah, agar menjadi pedoman dalam iman dan hatinya yang telah lama kosong tentang ajaran dan anjuran agamanya.
Melihat Kevin diam saja, Khaira berniat untuk kembali ke awal tujuannya, yaitu kamar mandi.
Kevin melihat Khaira yang akan memasuki kamar mandi, namun ia tak sengaja melihat roti tawar Khaira yang tergeletak di lantai, "Ra!"
"Hemm, apa?" jawab Khaira tanpa menoleh Kevin.
"Roti tawar kamu jatuh," ujar Kevin memperhatikan roti tawar yang terbungkua plastik putih.
"Roti tawar apa sih Mas Kevin, sudah jelas aku bawa pakaian ganti, bukan lagi membawa roti?" Kali ini Khaira menoleh Kevin, ia bingung dengan ucapan Kevin yang menyebutkan roti tawar, jelas-jelas ia tidak membawa roti tawar.
"Kamu lagi menstruasi kan?" tanya Kevin menatap wajah Khaira yang menunjukkan mimik wajah bingung.
Dahinya mengernyit heran, Khaira menatap Kevin tajam, "Dari mana Mas Kevin tau?"
Khaira menoleh kebelakang, kepada celana piyama yang dipakainya, takutnya selai merah itu tembus dan dilihat oleh Kevin. Perasaannya berkata, "Nggak tembus?"
Khaira kembali menatap Kevin, yang masih duduk bersandarkan sandaran sofa.
Kevin melihat Khaira seperti sedang mencari sesuatu, ia lantas menunjuk benda pipih dengan ukuran kotak kecil terbungkus plastik putih, dengan lirikan matany, "Itu roti tawar kamu terjatuh!"
Dilihatnya arah tatapan mata Kevin, menjurus kepada sebuah benda pipis berplastik putih, Khaira memejamkan matanya. Untuk kedua kalinya ia kembali merasakan malu, sampai ingin bersembunyi di bungkus permen.
Khaira segera mengambilnya, ia segera berlari kecil menuju kamar mandi.
Kevin tertawa kecil melihat ekspresi Khaira, Ia lantas berkata dengan nada sedikit meninggi, "Ra, kamu mau dibantuin buka baju nggak?"
Tidak adanya sahutan, Kevin beranggapan mungkin saja Khaira sudah bisa melepaskan pakaiannya sendiri. Dan lukanya juga sedikit mereda.
__ADS_1
Bersambung...