Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Berhasil


__ADS_3

Setelah beberapa hari di rumah sakit dan keadaan Clara juga jauh lebih baik. Kini ia kembali ke rumahnya, lagi pula ia tidak tahan berlama-lama di rumah sakit.


Dikarenakan Anto sering mengunjunginya, meskipun ia sudah mengusir bahkan mencecar Anto dengan perkataan yang kasar. Namun, Anto seperti seorang pria yang tidak mempunyai harga diri. Pria itu selalu saja datang ke rumah sakit, dengan membawa bunga atau buah-buahan.


Anto selalu saja pintar dalam mencari alasan. Alasan yang digunakan Anto, masih seputaran janin yang di kandungan Clara. Clara sangat geram, meskipun ia telah mengatakan bahwa bayinya adalah benih dari Kevin. Tetapi Anto bersikekeh dan mengatakan bahwa pria itu yang akan menikahi dan akan bertanggung jawab.


Di kamarnya, ia sedang berbaring saja. Guna mengembalikan stamina agar seperti sediakala. Ia juga sudah menyusun rencana selanjutnya, untuk bisa membuat wanita kampungan yang tinggal di rumah Kevin jera, dan meninggalkan Kevin dengan sendirinya.


"Kevin sudah menikah Pa," kata Clara memberikan pengakuan.


"Apa? Dengan siapa Kevin menikah?" Erik terkejut bukan baik, tidak menyangka tanpa sepengetahuannya Kevin telah menikahi wanita lain, dan bukannya menikahi putrinya yang telah hamil.


"Kevin menikahi wanita kampung, dan pernikahan itu masih berstatuskan nikah siri," jelas Clara, dilihatnya Papa Erik yang menegaskan rahang, netra Papa Erik mengedar menatap sebuah bingkai foto lawas dengan tatapan nyalang.


Papa Erik beranjak dari duduknya di samping Clara berbaring. "Papa akan segera meminta Basuki untuk pulang dan melaksanakan pernikahan untukmu dan Kevin secara meriah dan resmi yang tercatat pengadilan negeri. Soal wanita itu, tak perlulah dipikirkan, toh mereka hanya menikah secara agama!"


"Berhasil!" seloroh Clara dalam hati, tujuannya untuk membuat Papanya semakin murka. Dilihatnya Papa Erik yang mengambil gawai dan menghubungi seseorang, "Itu pasti Om Basuki? Ah bukan lagi Om, agaknya gue harus terbiasa memanggil Papa Basuki."


~~


Selepas mendengar pengakuan bahwa Kevin telah menikahi gadis kampungan. Erik segera mencari tahu, sebelum pergi ke tempat kerjanya. Kini ia sedang berada tidak jauh dari rumah mantan disc jockey handalannya.


"Jadi itu, wanita yang dinikahi Kevin?" kata Erik bertanya kepada Agus, ia sedang mengintai dari dalam mobil dan melihat seorang wanita muda berhijab sedang menyirami tanaman.


"Siap Bos," jawab Agus.


"Kalian sudah selidiki mengapa bisa Kevin menikahi wanita itu, apakah wanita itu juga sedang hamil?" Erik tak mengalihkan sedikitpun, tatapannya masih sama fokus melihat wanita yang dinikahi Kevin.


"Berdasarkan informasi yang kami dapat, wanita itu bernama Khaira. Dia datang dari desa, tapi tidak sengaja terjebak di dalam kamar kosan yang sebelumnya Nona Clara rencanakan," kata Ifan menjelaskan tentang jebakan Clara yang salah sasaran.


Netra tajam Erik langsung menyoroti Ifan. Beralih kepada tiga ajudannya yang lain, heran dengan para ajudanya yang tidak mengetahui rencana Clara, sampai berantakan seperti ini.


"Jebakan? Kenapa kalian sangat bodoh dengan membiarkan putri kecilku bertindak sendirian!" Erik geram.


Tiada yang berani menatap Erik, semuanya yang beranggotakan tiga ajudan yang saat ini berada satu mobil dengan Erik hanya tertunduk.

__ADS_1


"Maafkan kami tuan, Aris dan Roni lah yang lebih tahu. Karena mereka secara khusus mengawal kemanapun perginya Nona Clara." jawab Ifan gemetar.


Erik menegaskan rahangnya, ia melihat kembali wanita yang salah jebakan bersama dengan Kevin. Tak berselang lama, netra Erik melihat Kevin keluar dari dalam rumah, dengan menyalami tangan wanita bernama Khaira, bukan hanya itu, Kevin juga mengusap pucuk kepala istri yang dinikahi secara siri.


Kening Erik mengernyit, ia berkata dengan gigi dikeratkan, "Kevin! Kamu sudah menghamili anakku, tapi kamu menikahi wanita lain. Kenapa kamu mengecewakan ku!"


Setelahnya Erik melihat Kevin pergi dari rumah dengan mengendarai motor sport, sesegera Erik keluar dari dalam mobil lantas menghampiri rumah Kevin. Dilihatnya wanita yang bernama Khaira akan memasuki rumah, sesegera Erik memanggil.


"Khaira..."


Khaira terkejut mendengar seruan seseorang dari depan rumah, ia membalikkan badan, netranya melihat seorang pria setengah baya yang masih terlihat gagah, namun tetap saja keriput tak bisa terelakkan bahwasanya usia terus mengikis masa muda.


"Iya, saya.." jawab Khaira sopan.


"Boleh saya bicara padamu," kata Erik pelan, meskipun dalam hatinya begitu geram.


"Maaf, Bapak ini siapa? Jika sedang mencari pemilik rumah ini. Dia sedang tidak ada di rumah," kata Khaira.


"Saya Erik, Kevin cukup baik mengenal saya. Dan saya sudah dianggapnya seperti Ayah baginya." kata Erik meyakinkan.


"Tapi saja tidak bisa menerima tamu, jika pemilik rumahnya sedang keluar, dan saya rasa juga tidak baik menerima tamu orang yang saya tidak kenal." Khiara melihat dua pria yang berpakaian hitam sedang berdiri di belakang pria yang mengaku bernama Erik.


Melihat keragu-raguan Khaira, membuat Erik mencoba meyakinkan dengan bujukan halus, "Kamu tidak perlu khawatir Nona Khaira, mari ikut saya. Hanya sebentar saya ingin berbicara tentang Kevin, hanya sebentar."


Khaira mengerjapkan matanya melihat seorang pria yang seperti sedang memohon, dan apa kaitannya dengan Kevin?


"Kevin? Ada apa sama Mas Kevin?" tanya Khaira penasaran.


Erik berbalik badan dan jalan terlebih dahulu meninggalkan depan rumah Kevin, ia yakin dengan tidak menjawab pertanyaan Khaira. Pasti wanita yang Kevin nikahi itu akan merasa penasaran. Erik mempunyai siasat agar anak buahnya saja yang menangani wanita bernama Khaira. Erik merasa Khaira cukup cerdik, hal itu terlihat dari cara Khaira yang tidak langsung percaya, dan malah bertanya ini dan itu.


"Silahkan ikut kami Nona," kata Agus kepada wanita bernama Khaira.


"Iya tapi kemanakah saya harus pergi?" tanya Khaira dihinggapi rasa penasaran atas ucapan pria setengah baya yang bernama Erik yang menyatakan ingin berbicara mengenai Kevin.


"Cafe, Nona, hanya sebuah Cafe yang tidak jauh dari sini," kata Badrun meyakinkan Khaira.

__ADS_1


Alhasil karena rasa penasarannya tergugah, Khaira berpikir sejenak. Dan bisa jadi pembicaraan akan lebih serius, "Baiklah, saya akan mengunci pintu terlebih dahulu."


Agus dan Badrun tersenyum senang penuh dengan siasat melihat punggung Khaira yang sedang mengunci pintu, namun kembali berwajah datar, kala melihat Khaira sudah berbalik badan dan berjalan menuju keluar pagar.


Mobil mewah, dengan pintu yang bisa di tarik. Dalam hati Khaira, Erik bukanlah seorang pria sembarangan, ia melihat Erik yang duduk di kursi mobil bagian tengah.


Erik melihat Khaira masih ragu, "Silahkan Nona, jangan takut. Saya bukanlah orang jahat, saya hanya akan membicarakan tentang Kevin."


Khaira masuk kedalam mobil, meskipun dengan perasaan takut, namun ia mencoba memberanikan diri untuk ikut. Ia jadi merasa lebih penasaran akan hal apa yang ingin dibicarakan Erik tentang Kevin.


Pintu mobil pun tertutup oleh Agus, ia lantas berjalan menuju belakang dan menyusul masuk kedalam mobil.


Sepanjang perjalanan Khaira merasa tegang, tiga pria. Ralat! Empat pria asing, ia sekarang berada dalam satu mobil bersama dengan pria asing, sama halnya saat ia pertama kali satu mobil dengan Bang Andi dan Kevin.


Memang tidak menunggu waktu lama, Khaira rasa lima menit, dari jarak rumah Kevin menuju sebuah Cafe. Pintu mobil pun terbuka dengan adanya pria yang sebelumnya menutup pintu mobil.


Khaira keluar dari dalam mobil, dan melihat bangunan yang sebelumnya ia dan Kevin pernah datang ke sini untuk membeli kue cokelat.


"Masuklah." kata Erik sudah berdiri di sebelah Khaira yang mengamati bangunan Cafe yang hanya satu lantai. Lantas berjalan mendahului Khaira dan duduk di salah satu stand sofa yang tersedia.


Khaira melihat seorang pria bernama Erik telah masuk kedalam pintu kaca dan telah duduk di sofa, lalu mengedarkan pandangannya menatap keseluruhan cafe. Terlihat aman, karena pegawai dan pengunjung cafe cukup ramai. Ia lantas mulai mengayunkan langkah kakinya menuju pintu kaca dan masuk kedalam cafe.


"Silahkan duduk Nona Khaira." kata Erik basa-basi mempersilahkan Khaira untuk duduk berhadapan dengannya dengan sekat meja di tengah.


Mengerjap-ngerjapkan matanya melihat sofa tunggal berbentuk bulat. Khaira menghela nafas panjang, guna menetralkan rasa gugup serta tegangnya, ia lantas duduk di sofa tunggal persis berhadap-hadapan dengan Erik. Dilihatnya dua orang yang berpakaian serba hitam berada di luar cafe.


Khaira kembali melihat kearah pria bernama Erik yang sedang duduk dengan menyilang satu kaki diatas paha berbalut celana panjang, dilihatnya juga pakaian yang sangat formal seperti orang kantoran. Rasanya seperti aliran darahnya membeku.


Tak ingin berlama-lama, Khaira mengajukan pertanyaan, "Apa yang ingin anda bicarakan mengenai Mas Kevin?"




Bersambung

__ADS_1


__ADS_2