
Jack memarkir mobilnya dengan cepat memarkir mobilnya bergegas masuk ke dalam rumah. Rumah keluarga mahendra tampak sepi karena memang kedua orang tuanya memenuhi undangan rekan bisnis mereka.
Jack bahkan tak melihat keberadaan mbok ijah, atau mungkin sedang ke pasar atau mengambil cuti bertemu keluarga nya.
Jack berjalan menuju kamar mahendra dan juga ine, meskipun ini baru kali pertama jack berani atau bahkan lantang masuk ke dalam kamar mereka.
Jack mencari beberapa bukti yang diperlukan membenarkan pernyataan bram dan juga test dna tersebut. Belum pernah jack selancang ini masuk ke kamar kedua orang tua nya seumur hidupnya, namun karena bukti itu sangat penting jack harus memberanikan diri.
Tak mungkin jack bertanya langsung pada mereka, sama saja menusuk dengan jarum yang tajam tepat dijantung nya.
Beberapa tempat jack telusuri bahkan brangkas pribadi milik mahendra maupun ine tak menampakan tanda- tanda yang menyebutkan jack bukan putra mereka.
"Hah..., tak ada satu pun bukti yang membenarkan test dna itu."
"Kemana lagi aku harus mencari bukti yang sama?"
"Bertanya pada mama dan papa rasanya tidak mungkin."
"Kantor papa. Yah..., benar. Kantor papa."
Dengan terburu- buru jack keluar dari kamar mahendra maupun ine tanpa memperhatikan kalau bi iyam secara tidak sengaja melewati kamar tersebut.
"Den jack, mengagetkan bibi saja."
"Bibi yang mengagetkan jack."
"Mencari tuan dan nyonyah, den?"
"Tidak, bi. Mereka sedang pergi ke undangan."
Bi iyam mengerutkan dahinya sedikit heran lantaran jack justru mengetahui tuan dan nyonya nya sedang pergi kondangan, tetapi kenapa jack keluar dari kamar mereka.
"Aden membutuhkan sesuatu?"
"Tidak, bi. Terima kasih, jack pergi dulu."
Jack sedikit bimbang dengan keraguan nya, membalikkan badan nya menghampiri bi iyam kembali.
"Bi... ."
"Iya, den."
"A..., e..., anu."
Jack sedikit ragu harus bertanya pada bi iyam.
"Kenapa den? Aden menginginkan sesuatu? Bibi akan membuatkan nya."
"Tidak, bi. Tapi..., apa jack boleh bertanya sesuatu?"
"Tentu saja, den. Apa yang ingin aden tanyakan?"
"Apa mama mempunyai suami lain sebelum menikah dengan papa?"
"Tentu saja tidak, den. Nyonya dan tuan menikah untuk kali pertama. Kenapa aden bertanya seperti itu?"
"Tidak, bi. Hanya bertanya saja. Apa mama pernah mengadopsi anak?"
"Mengadopsi anak? Tidak, den. Bibi ikut nyonya sejak aden lahir, bagaimana mungkin bibi tidak tahu nyonya mengadopsi anak?"
Bi iyam sedikit terkejut juga heran dengan pertanyaan jack yang mengarah pada hal yang tidak mungkin.
Setidaknya jack bernafas lega dengan jawaban bi iyam dan menepis jauh- jauh prasangka yang ada di benaknya.
"Yasudah bi, terima kasih. Jack pergi dulu."
"Iya, den. Hati- hati dijalan!"
"Iya, bi."
Jack tak harus khawatir atau pun mencari tahu lebih lagi tentang apa yang di ceritakan bram padanya. Jack meninggalkan kediaman mahendra dengan perasaan lega atas apa yang di dengarnya dari bi iyam yang memang telah sejak lama bekerja di keluarga mahendra bahkan dari keluarga terdahulu.
"Apa sebenarnya motif laki- laki itu? Kenapa memberikan hasil test dna palsu padaku?"
"Atau jangan- jangan dia salah satu musuh besar papa?"
__ADS_1
"Tapi kenapa aku yang dijadikan sasaran amukan nya?"
"Entahlah? Aku harus mencari tahu motif yang tersembunyi dari pria ini."
Jack mengemudikan mobilnya menuju kantor dan juga memikirkan cara selanjutnya menangkis serangan bram.
Apartemen jack.
"Ciee..., sudah unboxing ya?"
Silla mengerutkan dahinya ketika mendengar ejekan kakak iparnya.
"Tidak. Bulan madu saja belum."
Silla merasa malu mendapat sindiran dari kakak iparnya, meskipun kenyataan nya benar namun silla tak ingin berbagi cerita panas itu.
"Tidak? Berarti belum?"
Stela tercengang mendengar jawaban silla apalagi mendapat anggukan gadis kecil itu yang membenarkan pernyataan nya.
"Masa sih...? Berarti mama bohong?"
Stela merasa tidak percaya dengan jawaban silla.
"He em."
"Ih mama..., ngebet pingin punya cucu lagi. Jadi ngarang cerita."
"Dasar mama, awas kalau silla ke rumah!!"
Gumam silla dalam hati.
"Tak bisa dibiarkan, bisa jadi mama menyuruh kakak hamil lagi."
Stela sedikit menggerutu atas keinginan kedua orang tua nya maupun mertuanya yang menginginkan cucu banyak dari nya.
"Hihihi..., bikin lagi saja."
"Ih..., kamu saja yang unboxing. Enak lo kalau hamil minta apapun dikasih."
"Benarkah?"
"He em."
"Jadi kalau silla minta sesuatu pada kakak boleh?"
"Tentu saja, apapun akan kakak berikan."
"Hamil lagi saja."
"Yeee..., itu bukan minta tapi menyuruh."
Stela menggerutu kesal atas permintaan adik iparnya.
"Bisa dibilang seperti itu."
Ucap silla menyandarkan kepalanya pada bahu stela menatap tajam ke depan pada layar televisi di depan mereka, karena baby safa sedang tidur di kamar nya. Keduanya memutuskan melihat layar kaca meskipun di rumah.
"Kalau kakak hamil lagi baby safa bisa tinggal dengan mama dan papa."
Stela terdiam mendengar permintaan silla membuatnya berhenti mengambil popcorn di depan nya, lalu menoleh ke arah samping.
"Kasihan mereka hanya tinggal berdua dirumahnya yang begitu besar."
"Kenapa kau tak tinggal bersama mereka? Kau kan anak bungsu."
Ucap stela.
"Kak stela lupa, suami silla anak tunggal? Silla sudah diminta papa willy sejak kali pertama bertemu."
"Jadi kak rafa akan memboyong silla ke sidney, otomatis silla akan tinggal di sidney."
"Begitu..., Istri bryan saja yang suruh hamil."
"Kak dena memang sudah hamil, kak. Twin lagi, tapi kak bryan yang pelit itu tak mungkin membiarkan kedua anaknya ikut oma opa nya."
__ADS_1
"O...ya? Kenapa baru bilang sekarang? Kakak seperti kakak ipar kurang baik tak mengetahui dena hamil."
Stela terkejut mendengar ucapan silla yang menyatakan kalau dena tengah mengandung.
"Bukan salah kakak, tapi memang kak ian yang pelit."
" Hebat bryan sekali tembak dapat dua. Kamu kapan?"
Lagi- lagi silla mendapat ledekan kakak iparnya.
"Hihihi..., silla hamilnya di sidney saja. Kalau silla ngidam biar semua orang datang menjeguk silla."
"Huh..., maunya."
Stela mengerucutkan bibirmya mendengar permintaan silla.
"Eh..., ngomong- ngomong kenapa baru bilang dena hamil? Berapa bulan? Oo..., pantas saja kamu nggak mau tinggal ditempat kakak saat mama papa ke luar kota."
"Ih..., kakak ini. Pertanyaan nya seperti wartawan, bukan silla nggak mau di tempat kakak. Tapi papa yang tidak boleh.''
"Masa...? Tumben papa nggak bolehin? Hahahaha..., kakak tahu pasti karena kamu badung."
Stela tertawa sejenak mendengar jawaban silla.
"Sill..., sekarang kan sudah menikah. Jadi nggak boleh badung lagi ya! Harus nurut kata suami, jangan pergi ke luar rumah tanpa ijin pada suami mu. Kamu ingat kan kejadian kemarin?"
Ucap stela nenyentil hidung silla.
"Iya, kak."
"Eh..., kado kakak bagus nggak? Kakak punya yang baru lo, limited edition."
Ucap stela beranjak dari sofa tempat mereka mengobrol dan melihat film drama korea kesukaan mereka. Sedangkan silla mengerjapkan matanya beberapa kali melihat tingkah kakak nya.
Stela tampak keluar membawa beberapa kotak yang entah apa isinya. Silla tak begitu memperhatikan hanya fokus melihat layar televisi dan juga popcorn ditangan nya.
"Lihat sill!! Kakak sengaja membeli beberapa, tapi tentunya berbeda model. Pilihlah, satu untukmu!"
"Hem..., yang mana saja deh kak."
" Yakin tak mau melihat dulu? Nanti nyesel, modelnya bagus lo."
Silla hanya yakin isi dari kotak tersebut adalah baju, mendengar stela menyebutkan kata model.
"Kakak saja yang pilihin, lagi pula silla tak begitu paham model."
Stela mengerutkan dahinya namun tersenyum atas jawaban silla. Entah apa yang sedang dipikirkan stela atau mungkin sebuah ide lain.
"Baiklah. Sil, kapan- kapan ajak ke rumah dena ya."
"Beres."
Silla dan stela rupanya ketiduran di sofa saat tengah asyik menonton drama jesukaan mereka. Beruntung stela mempunyai pembantu, jadi tak begitu khawatir kalau safa bangun meskipun tak menginap dirumah stela.
Bel berbunyi beberapa kali, pembantu yang bekerja di rumsh stela membuka pintu sambil menggendong baby safa.
"Hai..., baby safa. Gimana kabarmu?"
"Maaf, anda siapa?"
Bibi yang memang belum mengetahui silla menikah juga suami silla tampak sedikit bingung dan bimbang
"Saya suami silla, bi. Silla nya ada?"
"Suami non silla? Tidak mungkin, non silla kan baru lulus. Tak mungkin sudah menikah."
"Atau jangan- jangan seorang penculik? Tolong..., tolong..., tolong!!"
"Eh..., eh..., kok penculik sih."
Rafa tampak bingung dengan reakdi bibi tersebut, yang kemudian berterisk histeris.
Baik silla maupun stela terkejut gugup lalu bangun dari tidur mereka.
"Penculik...?"
__ADS_1
Bersambung🙏😊