
"Pa..., ma..., kami harus segera kembali. Istri bigbos mengalami kecelakaan, jadi jay harus menggantikan nya memeriksa beberapa pekerjaan."
Ucap jay pada kedua orang tuanya.
"Jay..., kenapa kalian tak tinggal disini saja?"
"Iya, benar itu. Mama bisa berdekatan dengan mantu mama dan juga menjaga cucu mama."
"Lagi pula papamu sudah tua, sudah saatnya kau pegang kendali perusahaan papa. Kakakmu punya bisnis sendiri yang bertolak belakang dengan papa."
Ucap mama jay.
''Istri bigbos? Siapa bigbos jay? Jay kan kerja di resto bryan, apa yang dimaksud big bos itu bryan?"
Gumam tya dalam hati.
"Kalau iya..., berarti..., ane kecelakaan?"
"Tidak..., tidak..., tidak mungkin. Beberapa hari yang lalu ane masih berbicara melalui telepon dengan ku, juga sempat mengirim pesan."
"Tapi beberapa hari ini ponselku sepi tak ada gangguan darinya, bahkan tak ada story apa pun."
"Jangan- jangan benar ane kecelakaan."
Tya masih bergelayut di alam pikiran nya bahkan tak menjawab perkataan mama jay.
" Sayang, tinggal disini sama mama saja?"
Ucap mama dian.
" Sayang, ayo kita pulang!"
Ucap tya reflek berdiri begitu saja.
"Sayang..., ee... h."
Mama dian terkejut dengan sikap mesra tya pada jay yang memanggil panggilan sayang pada jay di depan mereka. Sedangkan jay melongo mendengar istrinya bersikap mesra di depan orang tua nya. Sementara rudi menaik- naikkan alisnya menatap jay, putranya.
"Sayang, mama tanya padamu untuk tetap tinggal disini."
Ucap jay mengerutkan dahinya menghela nafas panjang.
"Hihihi..., maaf ma lain kali saja. Entah kenapa tya khawatir pada sahabat tya."
Ucap tya yang tersadar dari lamunan nya kembali duduk disamping mama dian.
"Eleh..., paling tak bisa jauh dari putra mama kan?"
Ledek dian pada tya yang tampak tersipu malu menundukkan wajahnya.
"Hihihi..., mama bisa saja."
"Mama ini..., namanya juga pengantin baru."
Papa rudi rupanya juga ikut- ikutan meledek putra dan menantunya. Jay hanya menghela nafas panjang juga menepuk jidatnya sendiri melihat orang tua mereka.
"Iya..., iya..., mama paham."
Setelah berpamitan pada orang tuanya, jay pulang bersama tyara ke kota dimana ia kuliah dan bekerja. Jay memang mandiri sejak sekolah menengah, tak tinggal bersama orang tuanya memilih hidup sendiri.
" Eh..., big bos itu siapa?"
Ucap tya yang saat ini duduk di sampimg jay memakai seatbelt.
" Eh...? Eh...,siapa?"
Jay mengerutkan dahinya mendegar ucapan tya.
" Big bos itu siapa?"
__ADS_1
" Trus..., eh... itu siapa?"
" Kamu lah, siapa lagi? Memangnya ada orang lain?"
" Apaa...,jadi kamu memanggil suami mu dengan sebutan eh?"
" Hihihi..., maaf."
Melihat reaksi wajah jay yang terlihat sedikit marah, tya harus kembali membujuk sang suami untuk kembali bersikap seperti biasanya.
"Sikapmu menunjukkan jika kau belum bisa menerimaku sebagai suami mu. Baiklah, jika memang seperti itu."
Ucapan jay membuat tya membelalakkan matanya tak percaya kalau jay akan semarah itu. Memang benar yang dikatakan jay, sikapnya sedikit keterlaluan.
Tapi bukan tya tak menerima jay sebagai suaminya, tapi karena masih ada kebiasaan masa lajang nya yang belum bisa di ubah secepat kilat.
"Setelah anak itu lahir aku akan melepaskan mu, dan kau boleh pergi sesuka hatimu."
Bagai sayatan pisau yang saat ini tya rasakan, tak menyangka jay akan semarah itu. Bayangan- bayangan buruk menghantuinya bahkan jika memang benar jay akan melepaskan nya, itu berarti dia akan menceraikan nya.
Otaknya berjalan sangat cepat menatap kosong pada jay yang tengah fokus menyetir tak memperhatikan nya sama sekali.
"Apa maksudnya?"
Gumam tya dalam hati.
"Apa dia akan menceraikan ku?"
"Apa dia semarah itu?"
"Apaa..., dia akan menceraikan ku? Jadi..., aku akan menjanda? Tidak..., tidak..., tidak."
"Tapi..., bukankah itu yang kau inginkan?"
Tya masih bergelayut di alam pikiran nya yang kosong menatap jay tanpa berkedip sedikit pun.
"Tidak..., aku tidak menginginkan nya. Bahkan aku mulai jatuh cinta pada kesabaran sikapnya."
"Bagaimana nasibku nanti? Dan anak ku? Aku akan menjadi bahan cemoohan."
Entah karena banyak pikiran atau kelelahan dan mungkin juga karena hormon kehamilan yang mempengaruhinya, tyara pingsan di dalam mobil tanpa sepepengetahuan jay.
Jay merasa sedikit curiga mulut cerewet tya yang diam membisu tak mengeluarkan suara meskipun sedang marah, jay menoleh ke arah tya dan betapa terkejutnya jay melihat tya terkulai lemas dengan matanya yang terpejam. Jay menepikan mobil nya mencari tempat yang aman.
" Sayang...., tya...., sayang."
Mencoba beberapa kali membangunkan tya tak berhasil, jay melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi mencari rumah sakit terdekat. Beruntung tak jauh dari sana ada sebuah klinik milik dari seorang dokter umum.
Jay menghentikan mobilnya di depan klinik tersebut, lalu menggendong tya ke dalam klinik.
"Dokter..., dokter..., tolong istri saya dokter!"
Setengah berteriak dan juga panik jay mencari keberadaan dokter dan staf medis yang ada diklinik terrsebut . Beberapa pwtugas medis dan juga dokter bergegas keluar mendengar teriakan jay. Setelah membaringkan tya di tempat tidur ruang gawat darurat.
Berjalan mondar mandir tak tentu arah, dan juga rasa cemas menghantui pikiran jay.
Tak berapa lama dokter keluar dengan wajah sendu dan juga ketenangan nya.
"Dokter..., bagaimana istri saya?"
"Istri bapak baik- baik saja. Beruntung bapak cepat membawa istrinya kesini, jika tidak mungkin kami tidak akan bisamenyelamatkan janin yang saat ini ada di rahim bapak."
Deg...
Bagai tersambar petir, jay tak menyangka hampir kehilangan calon buah hatinya.
" Maksud dokter..., istri saya hampir keguguran?"
"Benar, pak. Istri anda sepertinya mengalami depresi yang sangat berat, mungkin juga karena terlalu banyak pikiran. Saya sudah memberikan penguat kandungan dan juga istri anda harus istirahat total di tempat tidur."
__ADS_1
"Baik, dokter. Terima kasih."
"Setelah ibu sadar, ibu boleh melakukan obat jalan atau rawat inap. Tapi saya sarankan jika ibu ingin pulang harus bed rest."
"Baik, dokter."
"Saya permisi!"
"Iya, dokter. Silahkan!"
Jay masuk ke ruang instalasi gawat darurat klinik tersebut memegang tangan tya yang saat ini teroasang selang infus.
"Apa yang kamu pikirkan? Kenapa dokter bilang kamu depres?"
Gumam jay dalam hati.
"Sayang, bertahan diperut mama ya! Papa sangat menyayangi mu."
Jay mengusap pelan perut tya yang masih rata itu.
Menunggu memang sangat menjenuhkan tetapi tidaj bagi jay yang saat ini tengah menunggu istrinya sadar. Tak berapa lama tya mulai membuka matanya, dan orang yang dia cari adalah jay. Tya menoleh ke samping kanan namun kosong tak ada siapapun, lalu menoleh ke samping kiri dimana jay memegang tangan nya meletakkannya dipipinya.
Tya bangun memeluk jay dengan sangat erat bahkan menitikkan bulir- bulir air mata yang keluar begitu saja di kedua sudut mata tya.
"Jangan tinggalkan aku!"
Jay terkejut melihat sikap tya yang berubah juga pelukan tya secara tiba- tiba.
"Aku tak kan bisa hidup tanpa mu."
"Hiks..., hiks..., aku tahu aku salah. Aku janji tak kan mengulanginya lagi."
Jay mengerutkan dahinya tak mengerti apa yang di ucapkan nya.
"Aku tak kan sanggup mendengar cemoohan orang lain apalagi hidup menjanda dengan anakku."
Jay mulai mengerti apa yang di ucapkan tya dan mulai menyadari kalau tya tengah memikirkan ucapan nya saat di mobil.
"Bukankah kau yang tidak bisa menerimaku?"
"Tidak! Bukan seperti itu, aku hanya belum bisa mengubah kebiasaan masa lajangku. Aku juga butuh waktu menyesuaikan diri dan juga menempatkan mana yang boleh diucapkan dan tidaknya."
Dengan sesenggukan tya mengatakan hal yang sebenarnya.
"Kalau kau tidak mencintaiku buat apa mengubah kebiasaan itu?"
"Siapa bilang aku tidak mencintaimu?"
Tya menutup mulutnya serelah menyadari pertanyaan jebakan dari suaminya.
"O..., jadi kau mencintaiku?"
Jay menyipitkan matanya sengaja menatap wajah tya yang dengan cepat menganggukkan kepalanya.
Jay memeluk tya menyunggingkan senyum devilnya setelah mengetahui istrinya mulai membuka hati padanya.
"Sidahlah, jangan terlalu dipikirkan. Dokter mengatakan pikiran mu mempengaruhi janin kita. Dan kita hampir kehilangan nya."
Deg...
Tya membelalakkan matanya mendwngar ucapan jay lalu melihat ke arah perutnya, mengusap pelan perut yang masih rata itu.
"Sayang, maafin mama."
"Dokter juga mengatakan kau harus istirahat total."
Lagi- lagi ucaoan jay membuat nya merasa bersalah lalu memeluk jay menangis sesenggukan.
Tya tak ingin tinggal dirawat di klinik, ia tetap ngotot menginginkan pulang dan
__ADS_1
istirahat di rumah. Bau obat- obatan takkan mampu membuatnya tidur nyenyak, jadi memutuskan pulang.
Bersambung🙏😊