Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Psikiater


__ADS_3

Setelah mengantar Pak Wisnu, Kevin kembali ke rumah dengan wajah murung. Ada sebuah beban yang ia rasa tidak mudah dilalui. Bukan pada luka yang tertanam di dalam dada, tapi kesepian dan kehampaan.


Kevin memasuki rumah yang tidak di kunci, saat memasuki rumah hidung mancungnya mencium bau masakan yang sangat lezat membuat perutnya yang memang sedang merasa lapar semakin keroncongan.


Tapi rasa malunya kepada Khaira terlalu besar, hingga membuatnya tidak percaya diri untuk menghampiri gadis itu.


Tidak seperti biasanya dalam kurun waktu sebulan belakangan ini, saat masih tertidur lelap pun, ketika mencium bau masakan dari dapur maka ia akan langsung terbangun dan menghampiri Khaira yang sedang memasak sarapan pagi.


Namun kali ini Kevin lebih memilih segera menuju kamarnya, dan rasa malunya tidak berhenti sampai disitu saja. Ketika membuka pintu dan melihat kamar ia lebih merasa malu pada dirinya sendiri ketika mendapati ranjangnya telah rapi.


Bahkan seprei nya pun telah terganti, tidak hanya itu. Ia juga tidak menjumpai ada kelinan sedikit pun di seprei yang terpasang.


“Kenapa dia melakukan ini? Menambah beban rasa bersalah gue!” Kevin mendekati ranjang, lalu berbaring di sana. Ada rasa nyaman, entah kenapa jika sudah menyangkut Khaira memang terasa nyaman. Seperti ada energi positif yang ia dapatkan dari gadis itu.


Kevin memejamkan matanya, sekelebat ingatan saat ia menciumi Khaira kembali terngiang-ngiang di otaknya. Kevin kembali duduk, ia meremass rambutnya.


“Ah sial! Kenapa gue harus memaksanya!”


Dilihatnya tas biasa yang ia bawa guna membawa barang bawaannya ke kemana pun ia pergi tergeletak di lantai. Kevin teringat sewaktu mencumbui Khaira, ia membuang tasnya ke sembarang arah.


Diingatnya flashdisk yang diberikan oleh Stefan, bahwa ada sebuah video cctv yang mengarahkan pada kebenaran mengapa ia sampai terdampar di kampung Rawa Dengklok.


Diambilnya tas yang tergeletak yang menjadi saksi bisu, atas perbuatannya kepada Khaira. Kevin terdiam seraya memejamkan matanya dalam-dalam membersamai dengan menghembuskan nafas panjang.


"Pasti Khaira semakin takut dan mengancam lagi akan pergi dari rumah ini!"


Kevin menarik kursi lantas duduk dan membuka laptopnya yang berada di atas meja persegi panjang, biasa ia menaruh berbagai furniture. Setelah memasang flashdisk pada laptop, ia segera membuka data penyimpanan file video.


Mengeklik tombol play, video cctv pun memperlihatkan situasi di malam hari pukul 20:15 wib. Ya, pada saat itu Kevin masih ingat Clara memintanya untuk datang ke diskotek Valencia.


Kevin melihat video cctv yang memperlihatkan suasana malam itu memang tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa orang yang lewat dan berkendara.


Sedangkan Kevin baru saja tiba di parkiran diskotik, ia turun dari motornya. Secara tiba-tiba dua orang menghampiri dan langsung melakukan pemukulan menggunakan balok kayu di punggungnya. Sehingga membuatnya seketika itu juga pingsan.

__ADS_1


Selanjutnya ia yang tidak sadarkan diri langsung dibopong dan dimasukkan kedalam mobil. Kedua orang yang melakukan penyerangan terhadap Kevin pun ikut masuk kedalam mobil. Mobil Jeep warna hitam lantas melaju.


Kevin memutar mundur, dan menyetop video tepat saat kedua orang misterius itu akan memukulnya di malam itu. Tapi Kevin tidak begitu jelas melihat wajah kedua orang yang menyerang dan memukulnya dari belakang.


“Siapa mereka?” gumamnya, menerka-nerka siapakah gerangan kedua orang itu.


Berbagai asumsi pun menyambar isi kepala Kevin. Ia mengernyitkan dahinya, mengusap rahangnya yang lebam akibat mendapat pukulan dari anak buah Frans.


"Apakah ada kaitannya dengan para preman yang pernah berurusan sama gue? Para preman itu kagak terima lalu mencoba untuk membalaskan dendam? Tapi kenapa gue merasa jika memang para preman itu ingin membalas dendam, bukankah mereka bisa langsung saja membunuh gue? Kenapa harus menjebak di dalam kamar kosan kampung Rawa Dengklok?" gumamnya merasa janggal.


"Apa hubungannya dengan kampung itu? Menurut gue hal semacam itu kagak logis? Atau justru kedua orang yang memukul gue merupakan suruhan seseorang untuk memainkan permainan licik? Tapi motifnya apa? Mengapa harus di kampung yang lumayan jauh dari kawasan Ibu kota ini. Dan merupakan kampung perbatasan dari wilayah metropolitan ke wilayah pedesaan? Ada kejanggalan dalam peristiwa ini? Seperti menyusun puzzle tanpa penerangan."


Kevin memikirkan apapun motif seseorang yang menjebaknya, seharusnya memang ada pembuktian yang sahih. Agar ia tidak sembarang menuduh orang lain tanpa bukti. Ya, Kevin berprinsip akan mengurainya sendiri.


Setelah sekian lama di kamar, Kevin teringat bahwa ini sudah waktunya untuk mengantar Khaira bekerja. Ia melihat jam digital menunjukkan pukul 07:58 wib.


Waktu begitu cepat berlalu, tak terasa ia sudah hampir dua jam di dalam kamar. Sebelum keluar dari kamarnya, ia mengamati suara dari luar. Sangat sepi dan sunyi.


Bayangan Khaira meninggalkan rumah pun semakin membuat Kevin cemas, ia segera berlari ke dapur tidak ia jumpai Khaira di sana, lalu berlari menuju kamar yang ditempati Khaira. Juga tidak menemui gadis itu. Lalu kemanakah Khaira berada?


Kevin bertanya-tanya dalam benaknya, benarkah gadis itu pergi dari rumah ini tanpa berpamitan? Padahal saat ia masuk kedalam rumah, Khaira masih sibuk di dapur.


Secepatnya Kevin kembali berjalan menuju kamarnya, guna menghubungi Khaira. Namun, saat hendak memasuki kamar, ia melihat selembar kertas di samping pintu kamarnya, beserta obat luka.


Kevin lantas mengambil selembar surat yang dilihatnya, ternyata tulisan tangan Khaira.


(Maaf aku nggak izin terlebih dahulu untuk berangkat bekerja. Aku hanya ingin memberitahu, aku udah mendapatkan kosan yang paling dekat dari kosan Mita, tapi kosan itu baru bisa ku tempati seminggu lagi, karena penghuni kosan lama akan keluar semingguan lagi. Dalam kurun waktu satu minggu, anggap saja aku orang asing. Aku akan melupakan kejadian pagi ini, dan menganggap nggak pernah terjadi di antara aku dan kamu. Nggak perlu saling bertegur sapa, anggap aja aku ini angin yang tak terlihat. Maaf, karena aku sudah ikut campur dalam urusan pribadi Mas Kevin. Mas Kevin bebas untuk membawa wanita manapun ke rumah, pada saat wanita itu ke rumah. Maka aku akan bersikap selayaknya pembantu. Sekali lagi jangan menemui wanita nakal di luaran sana. Sekali lagi maaf sudah ikut campur urusan pribadi Mas Kevin, dan terimakasih sudah membolehkan ku tinggal di rumah mu. Ada obat juga, untuk menyembuhkan lebam di wajah Mas Kevin, jangan lupa untuk mengompresnya menggunakan air dingin supaya nggak bengkak.)


Khaira...


Kevin meremas surat yang ditulis tangan oleh Khaira, ia mengedarkan pandangannya menatap pintu utama rumah. Senyuman kecil menyungging di kedua sudut bibirnya.


“Pembantu? Ada-ada aja tuh cewek!” gumamnya lirih. Kevin mengalihkan atensinya menatap obat luka, dan mengambil obat tersebut. “Marah aja masih perhatian, apalagi kalau nggak marah, pasti bakalan lebih sayang. Asek ah, gue bakal bikin lo sayang sama gue Khaira, bahkan gue bakal bikin lo klepek-klepek!”

__ADS_1


Kevin mengembangkan senyumnya, melihat kertas yang ada dalam genggamannya, “Sekalipun lo maksa buat keluar dari rumah ini, maka selamanya lo akan terjebak di sini bareng gue Ra. Karena gue kagak bakal lepasin lo begitu aja!”


~~


Di angkutan umum yang sempat di ajarkan Mita, Khaira sedang duduk sambil memandangi keramaian jalanan kota. Macet? Mungkin sudah menjadi gambaran yang umum di kota metropolitan ini.


Sebenarnya bukan hanya metropolitan. Akan tetapi juga di beberapa kota-kota besar di seluruh Nusantara pun terjadi kemacetan saat jamnya berangkat kerja dan pulang kerja.


Di tambah macet lagi saat membersamai jamnya anak-anak sekolah pulang.


Teringat saat-saat sekolah dulu, membuat Khaira teringat juga dengan Asep. Ia berharap Asep dapat kembali sadar, dan kembali menjadi pria jantan yang akan menyukai lawan jenis.


Meskipun itu bukan dirinya, meskipun nantinya ia harus menerima cintanya bertepuk sebelah tangan pun tak apa. Asalkan Asep tidak seperti Kevin yang selalu menyudutkan dirinya, dan selalu membuat Khaira merasa tidak mempunyai harga diri.


Khaira mengerutkan keningnya, apa hubungannya dengan Kevin? Ada apa tiba-tiba berpikiran tentang pria itu? Pria yang telah membuatnya seperti tidak mempunyai kehormatan lagi?


Bunyi pesan masuk membuyarkan lamunan Khaira. Ia merogoh tas selempangnya, dan menyalakan layar monitor ponsel. Tertera nama si pengirim.


📱 (Aku melihat mu dan melihat sisa hidupku)


Khaira menyangsikan pesan yang dikirim oleh Kevin, “Ada angin apa? Tiba-tiba dia menyebut (aku-kamu?) Memangnya aku ini malaikat mautnya sampai melihat sisa hidupnya? Dasar Sinting!"


Seorang penumpang angkot duduk di sebelah wanita berhijab yang sedang berkomat-kamit sendirian, secara refleks menjauh.


Khaira menyadari seorang Ibu-ibu penumpang angkot yang mendadak beralih posisi duduknya.


"Mbak, saya sarankan untuk datang ke psikiater." kata Ibu-ibu penumpang angkot yang berpindah posisi duduknya.




Bersambung

__ADS_1


__ADS_2