Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Menjatuhi hukuman


__ADS_3

“Tenang, tenang, Bapak-bapak, Ibu-ibu. Kita selesaikan ini secara baik-baik. Saya yakin ada solusi menyangkut masalah ini!” kata Pak Udin mencoba menenangkan warga. Karena beliau tidak mencurigai Khaira berbuat zina.


••


Namun orang-orang yang suka senangnya main hakim sendiri, tetap saja tak bisa membendung gejolak rasa prasangka buruk, mereka menyuarakan ketidaksukaannya pada orang-orang yang telah melakukan maksiat atau zina.


Khaira menunduk lusuh, tidak ingin melihat pria asing yang sudah menyebabkan masalah ini terjadi. Persisnya ia tidak sudi melihat si pria brengsek ini, yang kemungkinan besar sudah salah kamar!


“Dasar cowok nyebelin!” maki Khaira dalam hati.


Ketika di tanya oleh Pak Wahyu selaku pemilik kos-kosan, Mita juga tidak mengenal terhadap pria asing yang duduk berhadapan dengan Khaira.


"Betul Mit, kamu tidak kenal sama laki-laki ini?”


Mita sontak saja mengangguk kilat, "Iya Pak, Saya aja baru pertama kali lihat dia, entah mahluk asing ini datangnya dari mana?” suara Mita terdengar sinis.


Pria asing ini tidak tinggal diam, "Dih, apaan orang gue juga kagak kenal ama lo, dan ini juga? Apa-apaan gue di kerubungin kaya maling!” pungkasnya marah melihat dirinya yang di gelandang bak maling kelas kakap.


"He, lo kagak usah belagu lo, jelas lo maling dan lebih hina dari maling,” kata salah seorang warga menunjuk-nunjuk penuh emosi kepada pria asing.


"Bener tuh, lo harus bertanggung jawab!” imbuh warga lain.


"Lah, emang gue nglakuin kesalahan apaan?! Sampai-sampai gue harus bertanggung jawab?!” tanya Pria asing merasa dirinya tidak melakukan kesalahan apapun.


"Kalian tuh udah berbuat mesum, dikampung kita ini. Dan lo sama si cewek lo ini tinggal pilih hukuman cambuk dan di arak keliling kampung atau nikahin nih cewek lo sekarang juga, dihadapan kami semua!” ujar Pak Somat menjelaskan hukuman bagi pelaku berbuat maksiat.


Khaira yang masih merunduk lusuh langsung terhenyak, kala mendengar penjelasan dari Bapak berambut cepak, “Hah, hukuman cambuk? kupikir itu hanya ada di daerah Aceh. Ternyata?” batin Khaira merana, “Nikah aja aku nggak mau, apalagi hukuman cambuk!” pikirnya.


Khaira mendongakkan kepalanya, dan secara kebetulan tatapannya bertemu pandang dengan manik mata pria di depannya yang seakan membawanya ke dimensi lain. Cepat-cepat Khaira mengalihkan pandangannya.


“Nggak bisa gitu dong Pak! Saya nggak melakukan kemaksiatan apa-pun! Saya nggak bisa menikah sama orang yang saya nggak kenal! Dan saya juga nggak bisa menerima begitu aja hukuman!”tolak Khaira menyuarakan ketegasan bahwa ia memang tidak bersalah. Bersamaan dengan penolakan dari pria yang dituduhkan telah menjadi pasangan mesumnya.


"Apa?! Di cambuk atau nikah?!” seru pria asing. “enak aja berbuat mesum aja kagak, lagian gue aja kagak kenal ama ni cewek, sama gue juga kagak tau, kenapa bisa ada disini? Mendadak gue di suruh nikah aja ama ni cewek, emang gue udah bikin dia bunting?!” protes pria asing ini menatap satu-persatu orang-orang yang sedang menatapnya tajam, matanya sekilas bertemu pandang dengan gadis didepannya. Deg...


“Heleh dasar otak mesum! Udah mesum masih aja ngelak!” ujar Coki memojokkan si pria asing.


"Hoh.. gue tau, jangan-jangan gue lagi di jebak karena lo udah hamil kan? Ngaku lo?” tuduhnya tanpa beralasan kepada gadis di hadapannya lalu berdiri serta menggebrak meja yang menjadi sekat antara dirinya dan gadis yang telah di tuduhkan telah menjadi pasangan mesumnya.


Khaira membelalakkan matanya, ingin sekali rasanya mencekik leher pria brengsek itu. Khaira tidak terima atas tuduhan demi tuduhan yang dialamatkan padanya. Ia pun tak mau kalah dan ikut menggebrak meja lebih keras. Brak!.. "Hey, makhluk asing, aku juga nggak kenal sama kamu! Jangan sembarangan nuduh tanpa bukti, Tau?!” sentak Khaira lantang, matanya melototi pria asing di depannya.


Mita pun turut kesal atas tuduhan pria asing itu terhadap Khaira,“Wah seenak jidat ni bocah ngomongnya! Heh sepupu gue dalam masalah, dan dia juga harus menanggung malu untuk perbuatan yang nggak pernah dia lakukan juga gara-gara elo tau!”


Sang pria asing inipun tergelak atas perkataan dua gadis di depannya. Memang tuduhannya tidak mendasari apa yang dilihatnya sekarang, ia juga tidak mengenal mereka.


Khaira kembali terduduk lusuh, perasaannya saat ini sedang kalut dan sukar, “Malangnya nasibku. Baru pertama kali datang ke kota, tapi ini yang terjadi.”batinya merana.

__ADS_1


"Hah, iya bukti! Warga disini emang punya bukti? kalau gue ama nih cewek melakukan hubungan nganu?!” tanya pria asing ini mengambang di udara saat seorang Ibu-ibu sudah menyela ucapannya.


"Alah.. bilang aja kalau lo kagak mau bertanggung jawab!” timpal Ibu berciri khas suara Betawi.


Kedua orang yang telah tertuduh pun sama-sama melotot jika saja mata mereka berdua adalah bola pimpong pastilah sudah jatuh melompong. Keduanya ingin segera menemukan titik terang dari kesalahpahaman ini.


Beberapa warga dan juga Pak Wahyu nampak heran, karena Khaira maupun pria asing terlihat memang tidak saling mengenal.


Namun, bagi warga yang negatif serta fanatik menyangka Khaira dan orang asing ini hanya berakting.


“Halah kalian ini pintar banget akting!” kata Bu Sakinah penjual nasi Padang.


“Waduh dikira lagi syuting?” gumam Mita melihat betapa riuhnya orang-orang.


“Bapak-bapak, Ibu-ibu semua yang ada disini. Mereka emang nggak saling kenal, ini sepupu saya baru dateng dari kampung!” Mita masih berusaha membela Khaira.


“Alah udahlah Mit, jangan mentang-mentang dia sepupu kamu terus kamu membela orang yang sudah berbuat maksiat!” Wati si Ibu-ibu yang sukanya ngerumpi ikutan berkoar-koar.


“Bapak-bapak, Ibu-ibu sumpah demi Allah saya nggak kenal sama cowok asing ini.” ujar Khaira bersungguh-sungguh jujur.


"Alah.. nggak usah sok-sok'an. Sumpah serapah, kau tuh, tak berlaku disini. Pakai acara bawa Allah-Allah segala!” kata Bapak bersuara logat Batak.


Tak berselang lama, Ketua RT pun sudah tiba di tengah-tengah keributan ini. Dan melihat kedua orang yang telah di sangka telah melakukan perzinahan.


"Udah Pak, kita hukum cambuk aja, seperti yang sudah-sudah, kebanyakan dari mereka. Mereka tidak mengakui perbuatan mereka yang jelas bermaksiat!” teriak warga yang tengah tersulut emosi.


"Mereka bilang, tidak melakukannya di kampung kita. Bisa jadi mereka sudah bermaksiat di tempat lain. Betul nggak Ibu-ibu?”


"Ya betul!”


"Bener tuh Bu!”


Sangat menyakitkan dan menyayat hati, dalam sekejap Khaira merasa hidupnya seperti terjebak dalam kubangan lumpur yang hina. Khaira menahan tangisnya yang seakan menggerus rasa percaya dirinya. “Abah, karma apa yang harus ku terima ini? Ya Allah, kuatkan lah aku.” monolognya dalam hati menguatkan diri.


Mita pun merasa iba dengan apa yang terjadi pada sepupunya yang baru tiba di kota ini. Ia terus mengusap lembut pundak Khaira, untuk memberinya kekuatan.


Umi Lasmi juga sama seolah merasakan perasaan yang Khaira rasa, wanita berhijab syar'i itu, terus mencoba menenangkan warga agar tidak bertindak gegabah. Namun, lagi-lagi warga terus membantah, dan menuduh Khaira telah melakukan zina dengan pria yang belum diketahui namanya.


Suasana pun semakin rewuh dan gaduh, "Harap tenang, Bapak-bapak, Ibu-ibu. Saya akan menanyakan sekali lagi pada pasangan muda-mudi ini, kalau memang mereka berdua tidak mau menikah. Kita juga tidak bisa meninggalkan tradisi leluhur yang sudah turun temurun ini, bagi pelaku yang sudah bermaksiat di kampung kita.” pungkas Pak RT Tantowi.


“Siapa nama kalian?” tanya Pak Tantowi kepada kedua muda-mudi yang kini sedang di interogasi.


"Khaira,” jawab Mita.


“Siapa nama si laki-laki?” tanya Pak Tantowi lagi.

__ADS_1


Pria asing ini nampak sangat kesal, hingga enggan menjawab pertanyaan Pak Tantowi. Sampai seorang warga geram dan menarik baju yang di pakai pria asing ini.


“Heh di tanya tuh jawab, siapa nama lo? Udah salah masih aja blagu!” sentak Coki.


“Kevin!” jawabnya kesal, seraya mengibaskan tangan warga yang menarik bajunya, dan menghempaskannya begitu saja. “Sialan!” umpatnya arogan.


“Mana KTP kalian?” Pak Tantowi selaku ketua RT harus memberlakukan sistem keamanan dan menanyakan setiap tamu yang berkunjung, apalagi dalam situasi seperti ini.


Khaira melihat Mita, “Ada didalam tas di kosan kamu Mit,”


“Sebentar biar gue ambilin!” Mita langsung bergegas pergi ke kamar kostnya.


Sementara pria yang mengaku namanya Kevin, ia bingung saat menggeledah saku celananya, dompetnya tak ia jumpai. Kevin bingung, dengan perasaan tergelak, “Dimana dompet gue? Apa gue di copet?!” selorohnya dalam hati.


Tak berselang lama, Mita sudah kembali, dan membawa tas selempang Khaira. Lantas memberikannya pada sepupunya itu.


Khaira segera menanggapinya dan mengeluarkan kartu tanda pengenal, dan menyodorkannya pada Pak RT setempat, “Ini KTP saya Pak.”


Pak Tantowi menerima KTP dan memeriksa keaslian kartu tanda pengenal tersebut. Beliau beralih menatap pria muda yang mengaku bernama Kevin, “Terus mana KTP mu anak muda?”


Kevin kelabakan, ia celingusan, “Enggak ada Pak, mungkin dompet gue- eh saya di copet!”


Warga pun tidak terima alasan Kevin, “Alah banyak alasan lu!”


“Udah Pak Tantowi, laki-laki yang banyak alasan kaya dia tuh nggak perlu lama-lama buat menjatuhi hukuman, nanti malah jadi kebiasaan dia ternak kesana-kemari!” teriak Bu Sumi si biang kerok provokator.


Ucapan Bu Sumi pun dibenarkan oleh warga sekitar.


“Bener tuh Pak Tantowi, Bapak harus tegas!”


“Gue kagak bohong, KTP gue emang kagak ada! Jangankan ktp, dompet gue juga kagak ada!” seru Kevin jujur.


“Berapa usiamu?” tanya Pak Tantowi lagi kepada Kevin.


“27 tahun.” jawab singkat Kevin.


Karena suasananya sudah semakin memanas, Pak Tantowi pun memberi langkah tegas. ”Nak Khaira dan Nak Kevin tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatan kalian!”




Bersambung


__ADS_1


Yuk beri apresiasi dengan memberi bintang 5. Terimakasih •\_•


__ADS_2