Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Masih cinta


__ADS_3

Ketika Khaira kembali Mambawa pesanan pelanggan, ia masih melihat ketiga wanita cantik itu sedang bercengkrama, kali ini ia fokus untuk bekerja.


Dan bukan sengaja juga mendengar pembicaraan ketiga pelanggan restauran yang berada tepat di sebelahnya meja ia memberikan pesanan pelanggan lainnya. Tapi Khaira dapat menyimpulkan bahwa kehidupan di kota memang sangat jauh berbeda dengan di desa.


~


Cowok tajir? Ya memang tidak terelakkan lagi. Bahwa Sonia menginginkan seorang pria yang akan menunjang kehidupannya, ia tidak ingin kerja capek-capek guna mendapatkan apa yang ia inginkan.


Bagi Sonia, secara instan adalah cara yang paling mudah untuk mendapatkan apa yang ia dambakan dalam hidup. Tak perlu bersusah payah memeras keringat mengumpulkan rupiah hanya untuk membeli barang yang ia suka.


Sonia mengalihkan atensinya, ia menatap kedua temannya secara bergantian, “Gue ngegaet cowok lain karena gue udah bosen jalin hubungan sama Kevin gini-gini aja. Gue ngerasa, gue nggak bisa aja jadi Ibu rumah tangga setelah nikah sama Kevin,”


“Ya udah lepasin Kevin, mau Kevin jalan sama cewek manapun ya lo jangan cemburu!” sela Putri mengadili kecemburuan Sonia yang tidak adanya kejelasan.


“Gue setuju sama Putri, kalau lo masih mengharapkan cinta dari Kevin lo berarti blangsak!” kata Nagita ikut menimpali ucapan Putri.


“Ya itu karena gue nggak bisa monoton menjalani hidup ini hanya sebagai Ibu rumah tangga,” ujar Sonia, ia enggan setelah menikah harus direpotkan dengan urusan rumah tangga yang itu-itu saja.


Nagita menggeleng heran, akan sikap materialisme dan egoisnya Sonia, “Wah parah lo, terus tujuan lo hidup buat apa Sonia? Nggak selamanya lo bakal muda dan cantik terus kek gini? Dan nggak selamanya materi bisa membuat bahagia,”


“Kata siapa materi nggak bisa buat bahagia. Nyatanya orang-orang berduyun-duyun susah payah capek kerja buat apa coba? Ya buat materi!” tukas Sonia menanggapi tanggapan Nagita.


“Iya gue tau materi memang penting dan gue kerja juga buat ngumpulin materi, buat menyukupi kebutuhan hidup gue dan anak gue. Tapi kan, apa yang gue lakuin saat ini karena untuk masa depan gue, kalau gue udah tua nanti Sonia, nggak harus mengandalkan suami, Sonia.” tentunya argumennya dan Sonia berbeda, Nagita seorang istri juga seorang Ibu anak satu. Ia dan suami banting tulang guna mencukupi kebutuhan hidup dan menabung untuk masa depan.


“Kalau gue lebih memilih no comment, karena argumen gue agak mirip ama Nagita,” sela Putri melihat kedua temannya yang sama-sama sedang bersikeras dengan argumentasi nya masing-masing.


“Putri, elo juga salah satunya cewek yang suka ama Kevin, gue curiga setelah mendengar kerenggangan hubungan gue sama Kevin, lo pasti seneng kan?” tanya Sonia berserta sangkaannya terhadap Putri.


“Ya betul itu, sampai detik ini pun gue masih suka sama Kevin,” tak menepis tuduhan Sonia, Putri menjawabnya santai.


“Kalau seandainya si Kevin suka sama gue, gue pasti terima dengan lapang dada, sayangnya dia cuma suka sama lo doang Sonia. Dari sejak masih kuliah, dia bahkan nggak pernah tuh ngelirik gue atau gadis-gadis di kampus!” Putri membayangkan bahwa ia sudah memendam perasaan sangat lama terhadap Kevin. Namun, sayangnya Kevin tak pernah mencintai wanita lain kecuali hanya Sonia.


“Ini kan bukan sepenuhnya salah gue Na, Put!” Sonia merasa ia berselingkuh bukan pula kesalahannya, “Kevin selalu saja nggak punya waktu lebih buat gue, lagian juga biaya hidup gue yang mahal membuat gue berpikir, apa Kevin mampu menyukupi kebutuhan hidup gue, hanya dengan mengandalkan skill DJ nya?”ujar Sonia, menatap kedua temannya dari kuliah hingga sekarang ia menjadi seorang model dan kedua sahabatnya lebih memilih menjadi pegawai kantoran.


“Wanita tuh boleh-boleh aja matre Sonia, tapi ada matre yang jahat dan matre yang baik,”ucap Putri, seorang manajer di salah satu perusahaan yang tidak jauh dari area restauran. “Lah siapa tau, Kevin punya bisnis yang menjanjikan tanpa lo tau Sonia?”


Anggapan Putri pun dibenarkan oleh Nagita, “Nah bener tuh, matre buat kebutuhan rumah tangga, suami apalagi anak dan kebutuhan diri kita yang masih dapat kita jangkau. Jangan maksa buat beli barang mahal kalau kita nggak mampu, nanti malah jatuhnya nyiksa diri!”


Sonia masih tetap bersikukuh pada pendiriannya, “Ya tapikan gue juga pengen tetap cantik, tetap awet muda dan pengen punya barang-barang branded! Pakai mobil class, dan apartemen mewah. Emang gue salah? Kita hidup di jaman milenial bukan di jaman kolonial Belanda!”


Nagita dan Putri saling bersitatap heran dengan anggapan Sonia.


“Iya, elo maunya cowok yang tajir, ketimbang cowok yang sayang. Iya kan?” cetus Nagita.


~~

__ADS_1


Setelah menyempatkan diri untuk bertemu dengan kedua temannya di restauran Padang Bulan, dari segenap kesibukannya sebagai seorang model dan artis figuran. Kini Sonia harus kembali menjalani rutinitas sehari-harinya sebagai model dan artis figuran.


Namun terlebih dahulu ia ingin menyambangi rumah Kevin, dikarenakan memang satu arah.


Sudah sekitar dua bulan terakhir ia tidak datang ke rumah pujaan hatinya itu. Sonia ingin meminta maaf atas apa yang ia sudah lakukan.


Tiga hari juga Kevin tidak membalas pesan bahkan tidak menjawab panggilannya. Ia juga ingin bertanya perihal wanita yang dilihatnya tadi pagi.


Sonia lantas menghentikan laju mobilnya di depan rumah Kevin, ia mengamati situasi di area kompleks yang terlihat lengang. Lalu dilihatnya rumah bergaya minimalis modern yang juga nampak sangat sepi, tapi kemudian ia melihat motor sport Kevin terparkir di depan garasi rumah.


“Dia di rumah,” gumamnya lirih, lantas membuka pintu mobil.


~


Di dalam rumah Kevin sedang berbicara memalui sambungan telepon via WhatsApp dengan seorang temannya.


“Ya Stefan, gue nitip motor gue. Soalnya gue belum sempat ambil,” ujar Kevin, dalam insiden dimana ia di bekap oleh seseorang hingga membuatnya terdampar di kampung Rawa Dengklok, ia meninggalkan motornya di depan diskotik tempatnya bekerja.


📱“Oke, motor lo ada di rumah gue, nanti kalau lo ke diskotek gue bawa,” balas Stefan diseberang telepon.


“Oke, thanks.”jawab Kevin, lantas mematikan sambungan telepon.


Tak berselang lama ia menaruh ponselnya di sofa, ponselnya kembali bergetar. Dilihatnya layar ponsel, kali ini manajer club.


Ia mendengarkan penjelasan dari seorang manajer club yang mengajaknya untuk bekerja sama.


“Gue harus mempertimbangkannya lagi, gue kagak bisa semena-mena keluar dari diskotik milik Om Erik, gue udah tanda tangan kontrak, dan nggak segampang itu gue keluar,” kata Kevin menjawab pertanyaan dari seorang manajer club.


Kevin terdiam dalam mendengarkan jawaban manajer club yang sudah ia kenal. Namun, fokusnya pecah tatkala mendengar pengait pagar teralis besi di bunyikan oleh seseorang.


“Oke, nanti gue kabari lagi. ” ujarnya mengakhiri percakapan. Dikarenakan ia juga sedang menunggu teknisi perbaikan telepon rumah.


Kevin segera beranjak dari duduknya dan berjalan dengan langkah jenjang menuju pintu utama rumah, sesegera saja ia membuka pintu. Namun ia terkejut kala mendapati seseorang yang tidak ingin ia temui, “Sonia!”


Wanita cantik dengan pundak semampai itu tersenyum kearahnya, Kevin terdiam namun dengan pikiran bertanya-tanya, mengapa Sonia datang ke rumahnya?


Sonia membuka pengait pagar teralis besi karena memang tidak di gembok, seulas senyuman terlukis di wajah cantiknya.


“Kevin,”panggil Sonia lembut. Ia lantas mendekati Kevin yang hanya berdiri di teras rumah.


“Ngapain lo ke sini?” tanya Kevin dingin.


Sonia mengangkat kedua tangannya, lalu ia sandarkan di kedua pundak Kevin, “Ya tentu saja untuk melihatmu honey, aku kangen,” jawab Sonia manja.


Kevin menyangsikan ucapan Sonia, ia melepaskan rangkulan manja tangan Sonia di pundaknya, ia mengalihkan posisi berdirinya menyamping, tak ingin melihat wajah wanita yang sudah mengkhianati cintanya.

__ADS_1


Melihat Kevin tak acuh padanya membuat Sonia kecewa, ia memeluk Kevin dari belakang, “Maafin aku Kevin, aku masih cinta sama kamu. Aku nggak bisa bohongi perasaan ku. Tiga hari, iyah tiga hari aku nggak dengar suaramu membuatku serasa hampa,”


Kevin tersenyum sinis, ia menatap tangan mulus Sonia yang melingkar di perutnya, “Bulshet!”cibirnya.


“Sungguh Kevin, aku cinta sama kamu,” lagi Sonia berbicara dengan suara mendesah.


Kevin berpikir Sonia memang sudah sepenuhnya berubah, suara Sonia yang terdengar seolah-olah dibuat mendesah membuat Kevin menyadari bahwa memang Sonia sama halnya seperti kupu-kupu malam yang sering kali menggodanya. Diusapnya tangan Sonia dengan lembut.


Sonia mengulum senyumnya, mendapati Kevin mengusap tangannya dengan lembut. Ia berpikir Kevin telah memaafkan dan menerimanya kembali. Namun, lama-kelamaan tangan Kevin berubah menjadi cengkraman yang menyakitkan. “Kevin,” panggilnya.


Dicengkeramnya tangan Sonia, hingga wanita yang sedang memeluknya dari belakang ini memberontak, Kevin tersenyum kecil. Lalu membalikkan tubuh gemulai Sonia, kini ia yang berada di belakang Sonia. Lantas berbisik sinis, “Dengerin gue Sonia! Gue kagak suka cewek murahan!”


Dihempaskannya tubuh Sonia begitu saja, hingga membuat wanita itu terhuyung ke depan.


Sonia tercengang dengan apa yang dilakukan Kevin. Baru kali inilah Kevin bersikap kasar padanya, segera saja membalikkan tubuhnya menghadap Kevin, namun apa yang dilihatnya wajah Kevin terlihat dingin, “Kevin kenapa kamu sekasar ini sama aku?”


Kevin menatap tajam, “Lo yang udah merubah kelembutan gue jadi monster, Sonia!”


“Tapi niatku datang ke sini mau minta maaf, Kevin,” kata Sonia bersuara gemetar, kelopak matanya mulai berkaca-kaca.


“Ya udah tinggal minta maaf aja!” balas Kevin sinis.


Sonia teringat akan wanita yang dibonceng Kevin, “Siapa wanita tadi pagi yang kamu bonceng?”


Kevin terkejut atas pertanyaan Sonia, mungkinkah Sonia melihatnya saat mengantarkan Khaira pagi tadi, “Bukan urusan lo!”


“Vin, aku cinta sama kamu Kevin. Jangan cari wanita lain, please honey. Aku akan menebus kesalahanku,” balas Sonia, seraya memegang tangan Kevin.


Suara seorang pria pun membuyarkan perbincangan tegang yang terjadi antara Kevin dan Sonia.


“Permisi, apa ini rumah Kevin?” tanya Pria yang berdiri di depan pagar teralis besi.


Kevin maupun Sonia mengalihkan atensinya menatap pria yang berdiri di depan pagar. Kevin melepaskan tangan Sonia sedikit kasar.


“Ya, masuk aja Pak!” seru Kevin mempersilahkan teknisi perbaikan telepon untuk masuk kedalam halaman rumah, ia lantas beralih menatap Sonia. “Pergilah.”


Lantas Kevin mempersilahkan teknisi perbaikan telepon untuk masuk kedalam rumah, “Silahkan masuk Pak,” diangguki oleh Bapak teknisi.


Kevin lantas masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan Sonia.




Bersambung

__ADS_1


__ADS_2