Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Lidah tak bertulang


__ADS_3

Kevin melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, membaur bersama dengan pengguna jalan raya. Dikarenakan sudah jamnya ia berangkat bekerja.


Namun karena dihatinya terselip rasa iba untuk menyusul Khaira, ada rasa ingin menjemputnya, bukan tanpa sebab, karena Kevin beranggapan gadis itu belum tahu seluk-beluk jalanan Ibu kota yang padat ini, Ibu kota yang menjadi tumpuan harapan dari segala aspek pekerjaan.


Maka demi menebus rasa bersalahnya, juga karena sudah mengurung gadis itu selama tiga hari lamanya, ia pun menjemput Khaira.


Yah hanya sekedar menjemput. Kevin memantapkan dirinya.


Kali ini Khaira tidak mau lagi terjebak, ia mendekapkan kedua tangannya di depan dada seolah ia sedang menaiki komedi putar, namun membuat kepalanya pusing.


Kendati fokus melajukan motornya sesekali Kevin melihat wajah Khaira yang nampak berseri-seri dari kaca spion. Membuatnya tersenyum tipis, ada rasa senang melihat pancaran ketenangan dari wajah alami gadis yang sedang diboncengnya. “Manis.” gumamnya, lalu memelankan sedikit laju motornya.


Khaira menikmati suasana malam hari yang dihiasi lampu-lampu perkotaan. Beberapa gedung kepolisian, gedung tinggi menjulang, gedung apartemen dilihatnya dengan mata telanjang.


Untuk sampai di rumah kali ini lebih lamban di banding saat Kevin mengantar Khaira tadi pagi. Lima puluh menit sudah Kevin dan Khaira lalui, kini motor pun telah sampai di depan rumah minimalis modern yang sudah sebelas tahun Kevin tinggali.


Khaira turun dari boncengan, ia tersenyum tipis kepada Kevin. “Makasih, karena udah mau nganter aku kerja, juga jemput meskipun nggak diminta.”


Sejenak Kevin terkesima kala melihat senyuman yang terlukis di wajah Khaira.


Tak mungkin juga Kevin menganggapnya suka. Karena ia adalah tipikal pria yang tidak suka menebar jala-jala cinta. Yah begitulah kira-kira, selama hidupnya hanya satu orang saja yang baru dipacarinya.


“Mana hp lo?”tanya Kevin dingin kek es balok.


“Untuk apa?” heran Khaira bertanya .


“Mana cepet!” Kevin menadahkan telapak tangan kanannya kehadapan Khaira. Ia memaksa seperti membalik ikan yang nempel di kuali.


Khaira melihat Kevin dengan tatapan malas, seperti squid word yang menatap Spongebob bertingkah aneh. Ia lantas mengeluarkan ponsel dari dalam tas selempangnya.


Diterimanya ponsel yang diberikan Khaira. Sebenarnya Kevin merasa prihatin melihat kondisi layar ponsel Khaira yang retak-retak cukup parah, seperti keretakan hubungan asmaranya.


Namun Kevin lebih memilih diam saja. Toh bukan urusannya dan juga bukan haknya untuk mengomentari barang pribadi milik orang lain. Dinyalakannya jaringan internet, namun setelah dibuka apk WhatsApp guna mengirim nomor Khaira ke WhatsApp'nya, tidak dapat mengirim. Alias mubeng-mubeng di tempat kek obat nyamuk.


“Ini kenapa hp lo, kenapa buat ngirim wa kagak bisa?” tanya Kevin seraya menunjukkan ponsel Khaira pada empunya.


“Orang kuotanya habis,” Khaira menjawab pertanyaan Kevin dengan suara sedikit menggerutu.

__ADS_1


“Dasar kang gerutu! Kenapa kagak bilang kalau Kouta lo habis?” Kevin mengembalikan ponsel kepada pemiliknya.


“Ya memangnya kalau habis Mas Kevin mau beliin?” tanya Khaira tanpa melihat orang yang ia ajak bicara.


Nah lho kena batunya kan lo Vin, dipalak dah tuh Kouta minta dibeliin. Kevin menatap Khaira yang merunduk, “Sekarang sebutin berapa nomor lo?”


“Dua belas angka,” jawab Khaira monoton.


Kevin menatap Khaira malas, “Nomornya Neneng, bukan jumlah angkanya!”


Khaira memanyunkan bibirnya, memang salah ia menjawabnya seperti itu? Dari pada berlama-lama berbicara panjang kali lebar dengan si tuan arogan. Khaira pun menyebutkan nomor teleponnya.


Setelah mendapatkan nomor togel. Ralat! Nomor ponsel Khaira, Kevin lantas menyuruh Khaira untuk masuk kedalam rumah.


“Nih kuncinya. Dah, masuk sana. Jangan lupa kunci pintu, bahaya tau! Lo kan ceroboh. Kecerobohan lo yang udah menyebabkan kita nikah. Kalau sepuluh cowok yang masuk rumah, kan bahaya. Lo bakal nikahin sepuluh cowok pula!”


Ada yang tiba-tiba menyambar tapi bukan petir. Khaira diam membisu, ingin sekali ia lontarkan makian kepada pria di hadapannya. Karena ucapan Kevin, membuatnya merasa sangat tersinggung.


Kevin menggigit bibir bawahnya, tak menyangka tiba-tiba saja kata-kata itu meluncur mulus dari lidahnya. Memang benar istilah lidah tak bertulang.


Mendadak ada suara yang membuat Kevin terkesiap.


BRAK!!!


Khaira menjatuhkan helm yang masih dipegangnya. Ia melihat Kevin yang terkejut, “Cukup Mas Kevin!” sergahnya. Seraya mengambil kunci yang disodorkan Kevin.


Kevin terkejut melihat Khaira yang menjatuhkan helm, nampak jelas gadis itu sangat marah, mungkin saja Khaira tersinggung dan akan melayangkan umpatan serta omelan. Namun Kevin hanya melihat Khaira berdiri, diam mematung, serta berwajah murung.


Baru saja Kevin membuka mulutnya untuk mengatakan maksud dari ucapannya, ia melihat Khaira berbalik badan dan berjalan dengan langkah cepat tanpa bersuara ataupun mengeluarkan omelan seperti saat pagi tadi.


Kevin menggeplak bibirnya sendiri karena sudah asal bicara! “Lemes amat nih bibir!” gumamnya lirih.


Khaira secepat kilat membuka pagar teralis besi, lantas menutupnya tanpa menoleh kearah Kevin. Lantas segera masuk kedalam rumah dan menutup pintu sedikit kasar sampai menimbulkan suara cukup keras.


Sesampainya didalam rumah, Khaira beringsut duduk di belakang pintu utama. Kelopak matanya terasa sangat panas, ulu hatinya seakan terbelah oleh pedang Khalid bin Walid Radhiallahu Anhu, seakan mati rasa.


Ia tak kuasa menahan segala lara yang semakin menyesakkan palung di hatinya. Khaira menangis tapi tak bersuara hanya sesenggukan yang menjadi gambaran bahwa ia menangis karena terluka.

__ADS_1


Ia juga tidak menyalahkan ucapan Kevin sepenuhnya, karena ia menyadari dan memang sudah bertindak ceroboh.


“Kalau saja aku mengunci pintu, pasti masalah rumit ini nggak akan terjadi, dan aku bisa tinggal di rumah Mita, bisa mengobrol sepanjang malam sama si cempreng itu. Pasti aku juga nggak akan kesepian di sini.” ucapnya di sela-sela tangis, karena merasa kehampaan menjalari hatinya kini.


"Abah, Abah, apa salahku, sehingga aku harus menanggung karma ini. Apa dosa ku Abah?” berkali-kali ia memanggil orang tua tunggalnya. Berharap Abahnya, segera datang dan memeluknya serta mengusap lembut kepalanya, seperti biasa, saat ia masih kecil.


“Ibu, kenapa Ibu melahirkan ku. Saat Ibu pun nggak menginginkanku! Jika Ibu ku saja nggak menginginkan kehadiran ku bagaimana dengan orang lain? Ibu....” tangis Khaira pecah, kala ia mengingat sosok sang Ibu. Yang hanya bisa dibayangkan, ia butuh kasih sayang dari seorang yang bisa ia panggil Ibu.


Tapi kenyataan memang, seringkali berbanding terbalik dengan apa yang diharapkan.


Khaira selalu menjadi bahan olok-olokan, saat ia kecil, orang-orang tak punya hati itu selalu menyalahkannya, alasan sang Ibu pergi. Mereka mengatakan kalau, ialah yang menyebabkan Ibunya pergi, karena kenakalan Khaira diwaktu kecil. Sekilas bayangan masa kecil yang kelam pun terlintas dalam ingatannya.


“Aku sangat berharap ini hanyalah mimpi buruk, yang nggak ingin ku temui di kehidupan nyata.” ucap Khaira disela tangisnya. Berkali-kali ia memukul dadanya, yang seakan sesak.


Rasa sesak yang di sebabkan rasa sakit yang berkepanjangan, tidak pernah ia utarakan, bahkan kepada Abah. Rasa rindu pada sang Ibu, yang berubah menjadi pilu.


Khaira hanya takut Abahnya merasa sedih dan pergi meninggalkannya juga, sama seperti sang Ibu. Bahkan karena saking menyimpan sesal pada Ibunya, ia membuang dan membakar semua potret kenangan bersama Ibunya saat ia masih kecil.


“Rasanya aku ingin meminum racun sianida, agar aku meninggalkan rasa sakit ini. Rasa sakit yang semakin hari ku tutupi dengan senyum secerah matahari, namun berselimut sepi. Tapi aku belum siap untuk mati.”


Khaira merasa dirinya sangat rapuh, meskipun setiap harinya selalu mencoba untuk selalu tersenyum. Karena hidupnya tidak seberuntung orang-orang yang memiliki keluarga harmonis, juga bisa meraih cita-cita di perguruan tinggi tanpa memikirkan beban biaya kuliah.


Detik demi Detik, menit demi menit dan bergulir menjadi satu jalam. Dan selama satu jam sudah Khaira duduk bersimpuh di belakang pintu utama. Ia melihat rumah yang nampak sunyi senyap, hanya ada suara dari jam yang berdetak.


Sesaat kemudian, Khaira bangkit dari duduknya, dan berdiri tegar serta menyemangati dirinya sendiri.


“Nggak!” Khaira menggelengkan kepalanya.


“Aku nggak boleh kayak gini, aku harus semangat, iya semangat. Aku harus punya rasa semangat, seperti Muhammad Al Fattih, dalam menaklukkan Konstantinopel!” kata Khaira, seraya menyeka air mata, yang kian meleleh tanpa permisi.


~~


Selama satu jam pula lah Kevin menunggu di depan rumahnya, ingin cuek dan langsung pergi ke tempat kerjanya. Namun sayup-sayup mendengar Khaira menangis pilu, menjadikan hatinya tidak tega, untuk pergi begitu saja.



Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2