Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Tidak menyangka


__ADS_3

“Kenapa kalian itu sangat bodoh! Kemana saja kalian selama ini? Kenapa menghilang setelah menculik Kevin, hah!”teriak Clara menggila, ia berdiri dengan berkacak pinggang di depan kedua pria yang ditugaskannya untuk menculik Kevin.



Mendengar pengakuan Clara membuat Kevin tercengang, bahkan seolah kakinya terpaku di tempatnya berdiri saat ini di sudut ruangan diskotek.



Sekali lagi Kevin lebih memilih menahan diri agar bisa mendengar semua pengakuan dari gadis yang sudah dianggapnya adik. Kevin benar-benar tidak menyangka, Clara telah merencanakan rencana untuk menculiknya. Apa kesalahannya pada gadis itu?



Lagi Kevin mendengar Clara berteriak di tengah-tengah ruangan diskotek.



“Lo bakal tau apa akibatnya melawan gue!" teriak Clara, setelah sebulan terakhir mencari kedua orang yang ditugaskan untuk menculik Kevin. Setelah dikabarkan oleh salah seorang yang ditugaskan untuk mencari keberadaan Aris dan Roni.



Secara kebetulan sekali Aris dan Roni datang ke diskotek Valencia guna mengambil paket sabu yang tertinggal di salah satu ruangan kosong diskotek yang tidak terpakai lagi.



Clara segera ingin mengeksekusi kedua orang yang dianggapnya tidak becus menjalankan perintahnya.



"Hajar mereka!" titah Clara kepada ketiga ajudan Papanya.



Seketika ketiga ajudan tak berani melawan perintah sang tuan, meskipun itu harus menghajar temannya sendiri.



Hidung Roni maupun Aris mengeluarkan darah, dan sudut bibir Aris mendapatkan sobekan kala mendapat tendangan bebas dari salah seorang rekan kerjanya yang dititahkan untuk memukulinya.



Kendati Aris dan Ronia telah memohon ampun, namun Clara bergeming seolah melihat kedua orang yang tidak becus menjalankan perintahnya adalah sebuah kepuasan.



Namun setelah Roni dan Aris tidak berdaya, kali ini Clara berteriak lantang.



"Stop!" teriak Clara seketika menghentikan ketiga ajudannya yang lain agar tidak lagi memukuli Roni maupun Aris.



Roni melihat Clara yang sedang berkacak pinggang di depannya berlutut,“Ampun Nona Clara, kami hanya takut!”



“Ya Non, kami kira pintu kamar kost yang bercat biru tua. Tapi ternyata biru laut, kami mengakui kami salah. Kami minta maaf, tolong jangan hukum kami,”Aris pun membela diri, serta memohon ampun kepada anak dari pemilik beberapa tempat-tempat hiburan malam di dalam kota maupun diluar kota ini.



Di sudut ruangan diskotek yang lumayan gelap, Kevin tidak habis pikir dengan kekejamannya yang dilakukan Clara. Ia tak menyangka gadis yang terlihat manja dan semua serba ada bisa melakukan hal keji seperti ini.


__ADS_1


Terlebih kepada kedua orang bodyguard yang telah menjaga kemana pun Clara pergi. Kevin ingin sekali dapat menolong kedua orang yang dipukuli oleh ajudan Clara yang lain. Namun, demi sebuah kebenaran ia hanya bisa menahan diri seraya mengepalkan tangannya kuat-kuat.



“Benarkah wanita itu Clara?” gumam Kevin bertanya-tanya melihat Clara dari sisi yang lain.



Tidak percaya bahwa orang yang menjebaknya adalah Clara, teman dari Almarhumah Kirana. Terakhir kali Kevin melihat Clara adalah satu minggu yang lalu, dalam keadaan model rambut Clara masih panjang.



Namun sekarang dengan potongan rambut pendek sebahu, seolah dalam sekejap mata telah mengubah semua sifat manja nan imut Clara. Kevin kembali mendengar Clara meneriaki Roni dan Aris.



Clara kembali berteriak lantang kepada dua bodyguardnya yang di khususkan oleh sang Ayah untuk menjaganya, “Dasar nggak berguna!”



Wanita yang sebenarnya masih pantas di sebut gadis ini mengeluarkan senjata api dari dalam tasnya lalu menodongkan senjata api nya kearah kedua bodyguardnya.



Aris dan Roni pun terkesiap, keduanya secepat kilat membuka tangannya menyelaraskan dengan bahunya menandakan bahwa ia menyerah.



“Ampun Nona Clara, tolong jangan bunuh kami,” Aris memohon bersuara gemetar.



Begitu juga dengan Roni, “Iya Non, bagi Nona mungkin sangat mudah membuang mayat kami. Tapi apa Nona tidak takut apabila polisi menemukan mayat kami dan kemudian tau siapa yang telah menyebabkan kita kehilangan nyawa, itu disebabkan karena Nona?”




Kala mendengar Kevin sudah memiliki kekasih, yaitu Sonia. Clara juga sudah melayangkan teror kepada Sonia. Cintanya kepada Kevin benar-benar membuat Clara seperti seorang sikopat.



Di sudut ruangan diskotek Kevin masih memasang kedua bola matanya dalam menyaksikan dengan seksama sikap Clara yang baru diketahuinya, bahwa Clara bisa menjadi sangar.



Kevin benar-benar tidak habis pikir atas tindakan Clara, gadis yang belum genap 20 tahun itu sudah berpikiran picik dan berlaku kejam. Ia melihat Clara akan melepas pelatuk pistol, tidak ingin terjadi pertumpahan darah.



“Clara!”gumamnya, lantas Kevin segera berlari dan merebut senjata api yang dipegang Clara. Sampai membuat Clara terhempas menghantam kerasnya lantai.



Terlanjur dengan pelatuk pistol yang sudah ditarik, Kevin melepas tembakan ke atas, tanpa sengaja membidik salah satu bola kaca atau biasa disebut Mirror Ball yang tergantung di tengah-tengah ruangan diskotek.



Suara tembakan seketika menggema dan beberapa detik kemudian, mirror ball jatuh lalu pecah berserakan menghantam lantai diskotik.



Clara tercengang, ia tergelak melebarkan matanya melihat pria yang dicintainya telah merebut senjata api.

__ADS_1



Ketiga ajudan yang sebelumnya memukuli Roni dan Aris seketika terkejut dan melihat seorang Disc Jockey yang telah merebut senjata api yang semula di pegang Clara.



Begitu juga dengan Aris dan Roni, keduanya menadahkan wajah. Netranya membulat sempurna kala melihat Kevin berdiri dan mengarahkan senjata api ke atas.



Kevin menurunkan senjata api lalu mengarahkan senjata api kepada pemiliknya, lalu beralih mengarahkannya kepada tiga ajufan yang berdiri di belakang Clara.



“Kalian berdua pergilah dari sini!” teriak Kevin dengan suara tegas kepada Aris maupun Roni.



Aris dan Roni pun terkesiap dan langsung meninggalkan ruangan untuk ajojing para pengunjung diskotek.



Kini Kevin mengalihkan pistol dan mengarahkannya kepada Clara.



Degup jantungnya bertalu-talu, Clara merasa kehilangan raganya. Ia bergeming, masih menatap Kevin tak percaya bahwa benar pria itu sedang menodongkan pistol kearahnya.



"Kevin?" ucap Clara masih dalam keadaan terperangah melihat Kevin.



Sang tiga ajudan yang berdiri di belakang Clara seketika terkesiap dan hendak memasang kuda-kuda untuk menyerang Kevin apabila Kevin tiba-tiba melakukan penyerangan.



"Gue kagak nyangka lo bisa merencanakan rencana licik seperti ini Cla," kata Kevin dengan suara gigi dikeratkan, menatap Clara nyalang.



Clara menelan ludahnya, ia tegang. Sampai membuatnya seolah tidak bisa berkedip, "Gu-gue kagak ngerti apa yang kamu bicarakan Kevin?" ucapnya menyangkal.



Lagi peluru tembakan Kevin lepaskan mengarah ke atas, lampu disko berwarna terjatuh ke menghantam lantai.



"Lo bisa mengelak Clara, ya lo bisa menyangkal semua perbuatan picik lo, tapi gue udah terlanjur mendengar semua pengakuan lo yang udah menculik gue!" kata Kevin lugas, seraya menodongkan senjata api kearah Clara.



Clara tertegun mendengar perkataan Kevin, ia menatap Kevin nanar. Entah mengapa tersayat sembilu melihat Kevin menodongkan senjata api kearahnya.



Tidak ada pilihan lain untuknya selain mati. Clara pasrah jika memang ia harus mati ditangan Kevin, di tangan pria yang dicintainya. Clara berjalan mendekati Kevin yang berjarak dua meter masih menodongkan senjata api.



Clara terus berjalan mendekati Kevin lalu mengarahkan ujung senjata api di dahinya. Clara kini pasrah, “Tembak aja Vin. Biar gue mati di tangan lo, itu lebih menyenangkan.” ucapnya gemetar.

__ADS_1



Bersambung


__ADS_2