Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Menang banyak


__ADS_3

Khaira seakan mati kutu ditempatnya berdiri. Batinnya berkata, "Tolong jangan sampai Kevin yang memungutnya.”


~


Namun, sepertinya Dewi Fortuna tidak berpihak padanya saat ini. Apa yang Khaira harapkan tidak berjalan sepemikiran dengannya.


Khaira membulatkan matanya melihat Kevin mulai membungkuk, dan memunguti pakaiannya satu persatu, termasuk pakaian dalam yang berwarna cerah. Ia serasa lunglai melihat Kevin meremass bra dan cdnya. Lalu menyatukannya dengan piyama bermotif Spongebob. "Malunya aku!" selorohnya dalam hati.


Kevin kembali berdiri tegak, dilihatnya Khaira yang hanya diam mematung, Kevin menjembreng cd dan bh, "Wow perpaduan yang sangat sempurna? Antara merah dan kuning di tubuh yang...?" Dilihatnya Khaira yang nampak tercengang, pikiran nakalnya mulai berkeliaran, "seperti apa gambaran saat kamu memakai ini, hm?" ia meledek Khaira dengan menyodorkan kedua benda yang ada dalam genggamannya.


Khaira terkejut sangat-sangat terkejut melihat Kevin yang nampak santai berkata dan menyodorkan cd dan bh dihadapannya, "Haduh! Pria macam apa dia? Nggak punya rasa peka terhadapku yang malunya sampai ke ubun-ubun, ingin rasanya ku sembunyikan wajahku."


Kevin menyimpan senyuman geli kala melihat wajah Khaira yang terbengong, teringat akan tali bra yang pernah dilihatnya, "Mana bra mu yang berwarna navy, tapi bra merah ini jauh lebih seksi sih.."


Kevin menyodorkan semua pakaian yang sedang di genggaman tangannya hadapan Khaira, "Ini."


Khaira melihat bra merah di tumpukan paling atas piyama yang sedang dipegang Kevin. Tatapannya beralih menatap wajah seorang pria yang hanya memakai kaos oblong dan celana pendek ala rumahan.


"Kalau Mas Kevin mau pakai, pakai aja!" ucapnya lalu bergegas masuk kedalam kamar mandi. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan, rongga didalam jiwanya meronta, bertalu-talu, denyut nadinya terasa semakin memburu.


"Huh, huh, huh.. tenang Ra, kamu harus tenang.” Khaira mencoba menenangkan diri, menarik nafas serta mengeluarkannya perlahan.


Saat sudah berada di dalam kamar mandi Khaira kebingungan bagaimana caranya bisa membuka pakaian, sedangkan satu tangannya yang terluka masih ia gendong di dada.


Khaira hanya bisa menghela nafas pasrah, dan memilih duduk di atas closed duduk, "Gimana caranya aku mandi, bahkan membuka baju aja aku nggak bisa."


~~


Diluar kamar mandi, Kevin melihat semua pakaian ganti Khaira, tak luput juga dari penglihatannya pakaian dalam wanita yang berwarna cerah.


"Hehehe lucunya... Merah dan kuning," Kevin terkekeh geli melihat pakaian dalam wanita yang cerah.


"Kenapa dia harus malu, kan aku juga pernah melihatnya."


Ia duduk di sofa ruang tengah, seraya melihat ruangan yang menuju kamar mandi, ia menunggu dan menunggu. Sampai terhitung waktu sudah setengah jam lamanya.


Kevin gemas dan rasa penasaran semakin bertingkat-tingkat. Ia mendekatkan telinganya ke pintu kamar mandi. Tidak adanya suara gemericik air membuatnya penasaran bisakah gadis itu membuka pakaian saat salah satu tangan terluka dan harus di gendong.


"Ra, Khaira, kamu nggak apa-apa kan, di dalem situ?" seru Kevin bertanya karena sudah terhitung lima belas menit tidak ada suara air kran yang menyala.


~


Didalam kamar mandi, Khaira masih duduk di atas closed duduk. Ia mendengar Kevin memanggil membersamai dengan ketukan pintu.


"Aku harus gimana sekarang?" gumam Khaira pada dirinya sendiri. Tak ada pilihan lain, selain ia harus menahan urat malunya untuk meminta bantuan Kevin.


Dibukanya pintu kamar mandi, dengan mata terpejam, Khaira tidak ingin dan tidak mau tahu Kevin saat ini sedang menatapnya seperti apa? Apa dengan tersenyum? Atau tertawa? Ia sungguh tidak ingin melihat ekspresi mesum Kevin, "Mas Kevin, tolong bukain pakaian ku?" pintanya, masih dengan mata terpejam.

__ADS_1


Kevin mengulum senyumnya, padahal ia ingin tertawa renyah melihat Khaira yang akhirnya pasrah.


"Bilang kek dari tadi, aku juga kan mau pakai kamar mandi, kamu tahu? Udah berapa lama kamu di dalam kamar mandi?" cecar Kevin.


Khaira spontan membuka mata. Ia menengadahkan wajahnya menatap pria yang hanya memakai celana pendek ala rumahan tanpa memakai baju atasan.


Glek.. Khaira menghela nafasnya. Ada apakah gerangan pemandangan di depannya, seolah sedang menggoda iman kala melihat Kevin yang bertelanjang dada hanya dengan memakai celana boxser.


"Kan, ku pikir ini mudah," jawab Khaira, kembali memejamkan matanya, "ke-kenapa Mas Kevin nggak pakai baju?"


Kevin menunduk, dilihatnya wajah Khaira yang bersemu merah, dengan mata terpejam, "Kan gue udah bilang, gue mau mandi,"


"Kan bisa pakai bajunya dulu, sebelum aku selesai mandi." protes Khaira.


"Kenapa kamu protes, kamu kan pernah melihatnya, bahkan aku juga pernah melihat area dadamu, tapi nggak sampai ke anu-nya sih, hehe.." jawab Kevin enteng.


Kan benar saja, acap kali Kevin akan membuat kesal. Khaira menghardik Kevin, "Mas Kevin ini sebenarnya mau bantuin apa mau berkomentar?"


"Ya udah, iya, sini aku bukain bajunya." jawab Kevin, lalu mengulurkan tangannya hendak menyentuh baju putih yang Khaira pakai.


"Eh tunggu!" sergah Khaira, menghentikan aksi tangan Kevin.


"Kenapa lagi?" tanya Kevin bingung.


"Tutup mata," pintanya pada Kevin.


"Ada!" sahut Khaira, singkat.


Kevin terlihat menghela nafas dan mengalah, "Ya udah, aku merem nih, puas!" ucapnya dalan kepasrahan.


"Bukan apa-apa, Mas Kevin ini kan, mesum!” gerutu Khaira.


Dengan gerakan tangannya yang tidak terluka, Khaira lantas menuntun tangan Kevin. Hal pertama yang dilakukan kedua tangan Kevin yang dituntun oleh tangannya.


Kevin melepas peniti di bawah dagu Khaira. Dilepaskannya hijab pashmina. Lalu tangannya kembali di tuntun oleh Khaira untuk melepas baju putih berlengan panjang yang dipakai Khaira.


Plak! Khaira menggeplak tangan Kevin, kala pria ini jelas-jelas akan mencari kesempatan untuk menggerayangi anggota sensitifnya yang masih tertutupi kaos singlet tipis.


Kevin mengulum senyumnya, namun juga terkejut kala tangannya digeplak Khaira. Dalam pandangan mata meremang, Kevin melihat pakaian putih Khaira yang sudah terlepas. Dapat dilihatnya olehnya, tubuh Khaira yang masih di balut kaos singlet, Kevin tersenyum kecil. "Menang banyak dua kali, hihi."


"Kenapa pakai bajunya dobel-dobel?" kata Kevin, seraya melepaskan kaos singlet yang dipakai Khaira.


Khaira membulatkan matanya menatap Kevin.


"Jangan ngintip!" hardik Khaira kesal, memperingati pria didepannya.


"Lah, pelit amat, lagian kan kita udah nikah, emang nggak boleh, kalau aku lihat istriku yang nggak pakai baju? Kan sah-sah saja," keluh Kevin seperti anak kecil.

__ADS_1


Khaira hanya diam, tak memberikan komentar, setelah selesai membuka kerudung dan pakaian atasannya. Ia Lantas meminta agar Kevin menghentikan tangan.


"Sudah.” ucap Khaira langsung bergegas melangkah masuk kedalam kamar mandi, lantas menutup pintu.


Kevin membuka matanya, "Lah kenapa?"


"Ya emang udah!"


"Emang kamu kerja nggak pakai celana?"


"Enak aja, Pakailah!" cetus Khaira.


"Ya udah sini, biar aku bukain sekalian celananya?" tawar Kevin masih berdiri di depan pintu kamar mandi.


Khaira lebih memilih diam, dan menggerutu di bawah guyuran air dari keran yang seperti tetesan hujan. Satu tangannya ia angkat ke atas kepala, agar tidak terkena guyuran air.


Setelah mandi, Khaira bersusah payah memakai pakaian piyamanya, agar ia tidak meminta tolong kepada Kevin. Setelah selesai, ia membuka pintu kamar mandi. Di ruang tengah, Khaira mendapati Kevin sedang duduk bersandar pada bahu sofa. Seraya menatapnya yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Kenapa melihat ku seperti itu?" tanya Khaira ketus.


Kevin beranjak dari duduknya, ia mengangkat kedua bahunya, "Enggak apa-apa. Cuma lagi mikir aja, gimana caranya kamu pakai baju?"


Khaira berdecih sembari berlalu dari hadapan Kevin, yang terus saja menatapnya.


Sebelum masuk kedalam kamar mandi, Kevin tertawa kecil melihat tingkah Khaira yang kadang membuatnya ingin menguyel-uyel.


Merasa perutnya keroncongan. Khaira langsung saja menuju dapur. Diambilah baskom lalu mengambil beras dan mencucinya, setelah dirasa beras sudah bersih. Khaira meletakkan wadah rice cooker dalam tempatnya dicekleknya tombol cook.


Lalu mengeluarkan sayur sup mentah dari dalam kulkas. Dengan susah payah, dan menahan sakit dipergelangan tangannya. Khaira menahan rasa sakitnya, ia mengupas wortel dan kentang. Lalu mengupas bawang merah bawang putih.


Pada saat sibuk mencuci sayuran, Khaira dikejutkan dengan adanya suara kursi yang ditarik. Ditengoknya Kevin yang duduk di kursi meja makan.


"Kenapa nggak pesan aja?" tanya Kevin melihat bawang putih bawang merah di mangkuk kecil di atas meja.


"Udah nanggung diiris semua." jawab Khaira, memasang wajan di atas kompor.


Dilihatnya Khaira yang memunggunginya, "Ra..?"


"Hem.." jawab Khaira tanpa menoleh kearah Kevin yang berada dibelakangnya.


"Boleh nggak aku ketemu sama Abah?" ujar Kevin, mengungkapkan apa yang ada dalam benaknya.


Deg...



__ADS_1


Bersambung


__ADS_2