Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Hal yang tak terbayangkan


__ADS_3

Jack maupun bram jatuh dari jendela, meskipun tidak terlalu tinggi hanya dua lantai saja tetapi tempat yang ada di bawah adalah bebatuan membuat luka disekujur tubuh jack maupun bram tampak parah.


"Jack.... ."


Stela berlari menuju jendela melihat suaminya yang bersimpuh darah. Tak kuasa melihat sang suami yang sempat tersenyum menatapnya dan melambaikan tangan nya, stela berlari menuruni anak tangga, meskipun sedang menggendong safa.


Mahendra dan juga pihak kepolisian membawa ine yang terluka akibat tembakan dari senapan milik anak buah bram ke rumah sakit terdekat.


"Jack..., huahahaha..., jack."


"Stela..., sudah nak. Kita harus segera membawa jack ke rumah sakit."


Ucap mahendra.


"Pa...., jack pa."


"Kita doakan saja mudah- mudahan jack tidak apa- apa."


Stela hanya mengangguk pelan menatap sang mertua saat mahendra menenangkan nya, lalu menatap si kecil yang terlihat menginginkan asi darinya.


Petugas kesehatan membawa jack maupun bram yang terluka parah akibat jatuh dari lantai dua gedung tua tersebut.


Jarak ke rumah sakit memang agak jauh membuat stela maupun mahendra sedikit khawatir pada ine maupun jack yang tengah terluka parah.


Mahendra tak mengijinkan stela ikut mobil ambulance khawatir akan larut dalam kesedihan nya saat melihat ine maupun jack.


Tak berapa lama, mereja tiba di sebuah rumah sakit yang membawa mereka. Stela memberika safa pada mahendra setelah melihat jack di bawa ke dalam salah satu ruang igd.


Mahendra terpaksa menghubungi kedua orang tua stela dan juga putra dan putrinya setelah insiden itu terjadi.


"Halo, kau harus segera ke rumah sakit."


"Tidak, mereka baik- baik saja."


" Aku akan menceritakan setelah kau sampai disini."


"Baiklah, aku menunggu secepatnya."


Mahendra mengakhiri panggilan nya ketika seorang dokter meminta tanda tangan mahendra sebagai penanggung jawab untuk melakukan operasi pada ine mau pun jack.


Beruntung baby safa tertidur lelap tak rewel saat mamanya bersedih dengan kondisi jack, papanya.


"Halo, dimana silla?"


"Pantas saja papa telepon tak di angkat."


"Mama mu dan kakak mu kecelakaan."


"Sekarang ada fi rumsh sakit."


"Tidak, papa tak ingin membebani kakakmu dengan kondisi ini. Kasihan dia."


"Baiklah, papa tunggu."


Rupanya mahendra juga menghubungi putri kecilnya meskipun tak tersambung langsung, tetapi setidaknya sudah memberitahu rafa.


Berbeda dengan bryan yang sama sekali tak dihubunginya, bukan tanpa alasan tetapi karena kondisi istrinya yang juga membutuhkan perhatian darinya.


Tak berapa lama orang tua stela datang ke rumah sakit setelah mahendra menghubungi mereka.


"Hen..., mana stela?"


Mahendra tak menjawab pertanyaan ibu stela yakni sang besan melainkan hanya menunjukkan jarinya pada stela yang ada di depan ruang operasi menunggu suaminya yang saat ini menjalani operasi di kepalanya.


"Safa..., kau baik- baik saja nak?"


"Sini..., biar aku yang menggendong safa."


"Hati- hati, ia baru saja tidur."


Ucap mahendra.


"Iya, jangan khawatir!"


"Sebenarnya apa yang terjadi?"


Tanya ayah stela setelah melihat istrinya menghampiri stela.

__ADS_1


"Bu..., bagaimana ibu bisa tahu stela disini"


Stela terkejut ketika melihat seseorang menyentuh bahunya yakni adalah ibunya.


"Ssts..., safa sedang tidur."


Stela mengangguk pelan yang sebenarnya menahan kesedihan dan ingin menumpahkan kesedihan tersebut namun tertahan karena putrinya tertidur pulas.


Stela beruntung mempunyai mertua seperti mahendra yang mengurus putrinya saat dalam keadaan sedih dan syok seperti ini. Bahkan papa mertuanya juga mengalami hal yang sama sepertinya karena kondisi mama ine, namun mahendra tak mengeluh bahkan cenderung mengkhawatirkan mereka.


"Hen..., ada apa? Kenapa kau diam saja?"


"Yang kita khawatirkan telah terjadi."


Ucap mahendra.


" Maksudmu?"


"Ayah kandung jack muncul membuat ulah, dan stela telah mengetahuinya."


"Apaa..., bagaimana bisa terjadi?"


"Entahlah? Setahuku bram dihukum seumur hidup, tapi ternyata ia bisa keluar dari jeratan hukum karena berbuat baik selama disana.'


"Lalu..., bagaimana ia bisa menemukan jack?"


"Entahlah? Aku sudah menutup akses apapun mengenai jack, bahkan perusahaan yang ditinggalkan paman anggoro yang semula anggoro group telah ku ubah menjadi JK group."


"Hah..., mungkin semua sudah takdir yang harus dijalani putriku."


Ucap baskoro sang besan.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Hingga terjadi seperti ini."


"Rupanya bram mencoba mempengaruhi jack hingga beberapa saat yang lalu memutuskan pindah dari kota ini. Tapi rupanya sifat licik bram tak sampai disana saja, aku pun pada akhirnya terjebak dalam permainan nya."


"Yang aku khawatirkan hanya safa dan stela, saat pagi tadi bram menghubungiku dengan sebuah ancaman yakni akan melukai safa dan stela."


"Tapi rupanya..., bram juga memanfaatkan jack yang akhirnya membawa safa."


"Hah..., malang sekali nasib mereka. Aku berharap jack selamat, aku tak bisa membayangkan hidup putriku nantinya."


"Kita berdoa saja."


Baskoro tampak menepuk bahu mahendra beberapa kali melihat sang besan dalam kesedihan yang mendalam membuatnya tak tega.


Satu jam kemudian dokter yang menjalankan operasi baik pada ine maupun jack telah keluar dari ruang operasi.


" Dokter, bagaimana keadaan istri saya?"


" Operasi berjalan lancar, pak. Kondisi ibu ine stabil dan beberapa saat lagi akan dipindahkan ke ruang perawatan."


" Terima kasih, dokter."


"Syukurlah kondisi ine baik- baik saja."


Ucap baskoro menepuk bahu mahendra. Tak berapa lama seorang dokter muncul di samping ruang operasi ine, karena memang ruang operasi tersebut bersebelahan.


" Dokter..., bagaimana suami saya dokter?"


" Maaf..., ibu ini?"


" Saya istrinya."


" Operasi pak jack berjalan lancar. Kami telah berhasil mengeluarkan gumpalan darah yang membeku di kepala pak jack akibat benturan benda keras."


" Terima kasih, dokter."


Melihat kondisi kejiwaan stela yang tak baik- baik saja, dokter memutuskan membicarakan dengan anggota keluarga lain.


" Maaf, apa kita bisa bicara di ruangan saya? Ada hal penting yang harus saya sampaikan."


" Baik, dokter. Saya akan ikut dengan dokter."


Ucap mahendra.


" Saya juga ikut, dokter."

__ADS_1


" Bapak ini?"


" Saya ayah mertuanya."


" Baiklah, silahkan ikut saya!"


Tatapan mata ibu stela merasakan ada sesuatu yang mencurigakan. Pikiran nya terbang jauh melayang memikirkan kondisi menantunya dan berharap semua baik-baik saja.


"Mudah- mudahan tidak seperti yang ku bayangkan."


Gumam ibu stela dalam hati.


Baik mahendra nau pun baskoro sampai di ruang dokter bedah yang menangani operasi jack. Pikiran mahendra dan baskoro tidak enak, berharap kondisi jack tidak dalam serius.


"Silahkan duduk, pak!"


"Terima kasih, dokter."


"Begini pak..., saya berat menyampaikan ini tapi tetap harus saya sampaikan."


"Maksud dokter?"


" Telah terjadi kerusakan pada saraf mata pak jack."


"Maksud dokter?"


"Kita hanya bisa menunggu sampai pak jack sadar dari pasca operasi, pak. Jika pak jack masih bisa melihat secara normal atau setidaknya samar- samar, kemungkinan sembuh ada."


Ucap dokter.


"Tapi kalau pak jack tidak bisa melihat sana sekali, berarti pak jack mengalami kebutaan permanen akibat dari benturan keras yang mengenai saraf mata pak jack."


"Apaa..., jadi jack akan mengalami kebutaan?"


"Kami dengan berat hati menyampaikan ini, pak. Karena kami tak ingin memberikan harapan palsu bahwa kondisi pasien baik- baik saja."


"Kami mengerti, dokter. Terima kasih."


"Kami permisi dulu."


"Silahkan, pak."


Sebenarnya baskoro enggan beranjak dari ruang praktek dokter tersebut, tetapi mahendra menariknya keluar dari tempat itu.


Baskoro tak mampu menahan kesedihan atas apa yang menimpa menantunya, bukan tidak mungkin akan mempengaruhi kondisi kejiwaan stela putri mereka.


"Bagaimana ini? Apa yang akan terjadi pada stela?"


Dengan isak tangis penuh kesedihan, baskoro tak kuasa menahan kesedihan nya. Bukan tanpa alasan, tetapi karena putri semata wayang nya.


"Kita berdoa yang baik untuk jack, bas."


Ucap mahendra menepuk bahu baskoro


'Aku menyesalkan kejadian ini, karena ulah bram semua kena imbasnya. Tidak hanya pada istriku maupun jack, bahkan menantu kedua ku juga mengalami kecelakaan dengan kondisi yang menyedihkan."


Baskoro tercengang mendengar penjelasan mahendra.


"Bahkan juga pada putri ketiga ku.'


"Apa maksudmu? Jangan bilang berita putrimu kemarin ulah dari bram?"


"Benar sekali."


"Hah..., aku tak menyangka ada orang sekeji itu."


"Benar, bahkan kau tak kan menyangka kalau bram penyebab ibu jack mengalami kecelakaan hingga akhirnya meninggal."


"Lalu..., bagaimana keadaan nya? Kau bilang dia jatuh bersama jack dari lantai dua?"


"Benar, tapi entahlah? Aku tak tahu tentang hal itu."


Ucap mahendra yang duduk di sebelah baskoro.


Baik mahendra maupun baskoro tak lantas menghampiri stela maupun ibunya, baskoro tak dapat menyembunyikan kesedihan hatinya.


Bersambung🙏😊

__ADS_1


__ADS_2