
Brian mengantar Kevin yang sedang dalam kondisi mabuk untuk pulang, ia tahu bahwasanya ada seorang istri yang sekarang ini ada di rumah sahabatnya. Mungkin saja istrinya itu akan merawat Kevin dan menanyai Kevin dengan sangat baik. Perihal apakah yang sedang mengacau pikiran Kevin.
Setelah melalui perjalanan dari club' malam ke rumah Kevin memakan waktu hampir satu jam, Brian dengan susah payah mengeluarkan Kevin yang sedang dalam keadaan mabuk dari dalam mobil lantas memapah Kevin guna masuk kedalam halaman rumah.
Diketuknya pintu rumah, menunggu di teras rumah. Dan kembali mengetuk pintu. Dikarenakan ketukan pintu saja tidak ada respon dari dalam rumah, Brian mengucapkan kalimat salam.
"Assalamualaikum..."
~~
Dari dalam rumah, setelah makan dan minum obat. Karena tidak adanya aktivitas lain, selain menonton televisi dikarenakan juga netranya belum dilanda kantuk.
Khaira memilih membaca buku yang diambilnya dari rak buku yang terdapat di ruang tengah atau ruang keluarga. Buku yang diambilnya adalah berjudul {Titip Satu Cinta, karya Elmy Suzanna}
Setelah membaca beberapa bab, dan di rasa ceritanya sangatlah menarik. Mengisahkan kisah nyata tentang Elmy sang penulis buku yang mengalami ginjal kronis, lalu bagaimana Elmy menjalani kehidupan dan cobaannya dengan ikhlas. Bahwa sekiranya cobaan yang dialami Emly merupakan pelajaran bagi siapa saja yang membaca buku tersebut. Dan pada saat Elmy mengharap ada seorang pria yang menerima dan mau menikah dengan wanita penyakitan seperti dirinya. Allah mendatangkan seorang pria bagai malaikat tak bersayap, yang rela dengan kesediaannya untuk menerima dan menikahi Elmy yang notabene adalah wanita cacat. Karena sangat tipis kemungkinan kecil untuk Elmy bisa hamil.
Pada saat sedang asyiknya membaca buku, terdengar ketukan pintu utama rumah. Khaira terpanjat, ia beranjak dari duduknya dan melongokkan kepala untuk melihat pintu utama masuk kedalam rumah.
Teror yang akhir-akhir ini dialaminya membuat Khaira takut untuk membuka pintu dimalam hari, dilihatnya jam menunjukkan pukul 00:45 wib. Sudah lewat tengah malam.
Khaira tidak mengindahkan ketukan pintu yang berulang, ia berjalan menuju kamar. Namun sebelum melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam kamar terdengar suara seorang pria mengucapkan kalimat salam.
Netranya membulat, rasanya semakin tegang saja. Khaira bingung harus bagaimana. Ia menyambar kerudungnya yang ia letakkan di sandaran sofa ruang tengah dan pada akhirnya memutuskan untuk memberanikan diri berjalan keruang tamu dan diurungkan niatnya masuk kedalam kamar.
Ia menyingkap tirai tebal jendela, dan dilihatnya dua orang pria didepan pintu. Netranya membelalak kala melihat Kevin yang terlihat lunglai bersandar di bahu seorang pria yang tidak ia kenal.
Secepatnya Khaira membuka pintu dan benar-benar melihat Kevin yang sepertinya tidak sadarkan diri, ia mengalihkan atensinya menatap seorang pria yang sedang memapah Kevin.
Brian melihat seorang wanita yang terlihat sangat familiar membuka pintu, "Kamu Khaira?"
"Iya," jawab Khaira membersamai dengan anggukan.
__ADS_1
Khaira mempersilahkan seorang pria yang memapah Kevin untuk masuk kedalam rumah. Lantas menyusul ke sofa.
Brian membaringkan Kevin di sofa. Ia melihat keadaan Kevin terlihat tidak baik-baik saja.
Khaira berlutut di depan sofa, mendongakkan wajahnya menatap seorang pria yang semula memapah Kevin.
"Ada apa sama Mas Kevin? Kenapa dia bisa seperti ini?" tanya Khaira kepada pria yang baru dilihatnya sedang memapah Kevin. Ia kembali menunduk melihat suaminya yang tidak berdaya.
Brian menghela nafas, dilihatnya Kevin yang memejamkan mata, "Kevin mabuk, gue rasa dia punya masalah pribadi,"
Khaira mengusap wajah Kevin memperlihatkan lebam ruam kemerahan, bahkan mata Kevin mulai membengkak dan samar-samar ruam kebiruan, "Lalu kenapa wajahnya lebam-lebam seperti ini?" tanyanya mengkhawatirkan kondisi Kevin.
Brian melihat Khaira, diamatinya wajah Khaira dari samping yang sedang menunduk mengecek kondisi Kevin, "Dia berkelahi,"
"Lagi?" Khaira mengucapkannya secara spontan, "kenapa selalu saja seperti ini? Benarkah Mas Kevin pamit kerja atau hanya sekedar mengadu otot saja?" kata Khaira selalu saja dibuat keheranan, acap kali melihat wajah Kevin yang lebam.
"Kalau Kevin udah bangun, sebaiknya lo tanyakan sendiri sama Kevin," jawab Brian, ia menunjuk Kevin dengan dagunya, "gue yakin, lo istrinya. Dan kalau elo mau membuka diri dan saling sharing sama Kevin, lo nantinya bakal tau seperti apa Kevin yang sebenarnya," sambungnya lagi.
"Gue Brian, gue teman Kevin. Gue rasa dengan diamnya elo, lo paham apa yang baru saja gue utarakan," kata Brian tersenyum ramah, "Gue cabut dulu." lantas Brian keluar dari rumah Kevin.
Melihat pria yang menyebutkan dirinya bernama Brian keluar dari dalam rumah, Khaira segera saja berlari mendekati pintu, "Terimakasih." ucapnya, dan diangguki oleh Brian.
Khaira menutup pintu dan menguncinya, sebelum berjalan menuju dapur, diliriknya Kevin yang masih memejamkan mata.
Diambilnya baskom dan air dingin dari kulkas, lantas diambilnya handuk kecil ia berjalan terlebih dulu ke ruang tamu dan menaruh baskom di atas meja, dan kembali berjalan menuju ruang tengah guna mengambil kotak obat.
Semua hal yang dikerjakannya hanya dengan menggunakan satu tangan, dan satu tangannya yang terluka ia gendong di depan dada.
Setelah semua barang yang diperlukannya untuk mengobati Kevin sudah siap di atas meja. Khaira duduk di tepian sofa samping tubuh Kevin yang berbaring.
Dengan susah payah Khaira memeras hansuk kecil guna mengompres lebam di wajah Kevin.
__ADS_1
"Apa yang membuatmu brutal seperti ini Mas Kevin? Apa hanya dengan berkelahi bisa membuatmu bahagia?" ucap Khaira bersuara kecil.
Lantas menekankan handuk kecil basah ke wajah Kevin, terutama di bagian sudut mata kiri Kevin. Berulang-ulang lagi Khaira menghela nafas, dengan pria seperti apa ia tinggal. Bahkan sampai detik ini ia belum tahu apa pekerjaan yang digeluti Kevin.
Khaira sempat berpikir untuk menanyakan kepada Kevin, namun ia selalu saja mengurungkan niatnya. Mencoba untuk terus menghilangkan rasa truama tentang pernikahan, dan berbaikan dengan masa lalu. Nyatanya tak semudah membalikkan telapak tangan.
Trauma itu masih melekat kuat. Trauma Khaira ditinggalkan pergi begitu saja oleh sang Ibu yang telah melahirkannya. Bahkan tak pernah sekalipun ia melihat wajah Bu Purwasih selama hampir enam belas tahun ini.
Seolah sang Ibu telah di telan bumi, hilang dari peradaban dunia ini.
Ketika melamunkan diri, dengan tangan kanan yang mengompres mata lebam Kevin, secara langsung tangan Kevin memegang tangannya erat, membuat Khaira terkejut.
Ia mengerjap-ngerjapkan matanya menatap mata Kevin yang masih terpejam, lantas beralih melihat tangan Kevin yang menggenggam erat tangannya. Khaira berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman tangan Kevin,
Namun pria yang masih memejamkan matanya itu malah semakin erat, dan kali ini menarik tubuh Khaira agar mendekap dada bidang Kevin.
Khaira terkejut atas apa yang dilakukan Kevin, akan tetapi ketika berusaha menarik diri. Kevin sudah kadung memeluk dan mendekapnya erat di atas dada layaknya seperti bantal.
Tak dapat melawan tenaga Kevin hanya dengan tangan satu, Khaira akhirnya pasrah, kini ia hanya bisa mengerjapkan matanya dipelukan Kevin. Matanya juga didera rasa kantuk meskipun tidak ingin tertidur dengan cara seperti ini. Tapi Khaira tak kuasa menahan kantuknya.
Sebenarnya Kevin tidak benar-benar mabuk, ia masih menyadari Brian mengantarkannya ke rumah, dan ia juga merasakan Khaira yang susah payah mengobati lebam di wajahnya menggunakan metode kompres air dingin.
Kevin sumringah dalam hati, meski kendati demikian Khaira mengacuhkan perasaannya yang mulai ada benih-benih cinta. Akan tetapi Khaira perduli terhadapnya. Mungkin ia harus menunggu sedikit lagi agar dapat menemukan kunci untuk membuka hati Khaira yang masih tersegel.
Diciumnya singkat pucuk kepala Khaira yang bersandar di dadanya. Untuk ketiga kalinya Kevin merasa untung banyak.
Bersambung
__ADS_1