
Selesai makan, Kevin menunjukkan kamar kosong yang bisa di pakai Khaira selama tinggal di rumahnya. Ia melihat gadis berhijab pink itu sedang teramat sangat mengamati situasi rumahnya yang memang berantakan,“Gue tau dalem hati lo!”
Khaira mengalihkan atensinya dari semula mengamati rumah yang memang terlihat berantakan kini beralih menatap Kevin. Tapi ia lebih memilih untuk diam, karena merasa canggung, hanya berdua dengan seorang pria yang baru dikenalnya.
“Lo pasti mau bilang kalau rumah ini berantakan kan? Maklum gue cuma tinggal seorang diri,”terang Kevin menjelaskan bahwa ia memang tinggal hanya seorang diri.
Khaira mengerutkan keningnya, dan berpikir kemanakah keluarganya? Ibunya? Ayahnya? Dan beberapa anggota inti lainnya? Mengapa Kevin bisa tinggal seorang diri. Yang ia tahu hanyalah Bang Andi. Namun Khaira tidak bertanya ataupun memotong ucapan Kevin, dan membiarkannya begitu saja berkomat-kamit menjelaskan tentang keadaan pria itu.
“Di rumah ini juga punya tiga kamar, dua dilantai satu, dan satu kamar lagi di lantai atas,”
Khaira mendengarkan penjelasan Kevin dengan seksama, seolah ia adalah seseorang yang akan membeli rumah. Dalam benak Khaira, mungkinkah Kevin adalah pria yang mandiri? Ia membuntuti Kevin, sampai dimana pria jangkung itu berdiri di depan pintu berwarna putih.
Kevin lantas membuka pintu kamar, “Ini kamar kosong, yang sebelumnya di pakai sama almarhumah Mama, lo bisa pakai kamar ini,”
Khaira tergelak, oh ternyata, Mamanya sudah meninggal! Hal pertama yang Khaira lihat adalah sebuah ranjang.
Melihat Khaira hanya diam memunculkan spekulasi di benak Kevin, “Apa lo takut?”
“Hem, takut apa?” tanya Khaira tanpa memalingkan muka, ia masih dalam keadaan fokus menatap kamar.
“Takut tidur di kamar orang yang sudah meninggal?”Kevin masuk ke dalam kamar, lantas duduk di tepian ranjang.
Khaira masih berdiri di ambang pintu, ia melihat Kevin duduk di ujung ranjang, “Semua manusia pasti menemui ajalnya, entah kapan dan dimana tempatnya. Jadi kenapa aku harus takut. Hidup dan mati adalah kodrat manusia,”
Kevin tersenyum sekilas, mendengar jawaban gadis yang baru ia kenal; Cerdas! pikirnya. ia lantas berdiri dan menghampiri Khaira yang masih saja berdiri di ambang pintu.
Khaira mengerjapkan matanya manakala Kevin berjalan menghampirinya. Ia canggung, dan celingusan, teringat saat pria jangkung itu secara mendadak menyerangnya. Khaira mundur selangkah.
Dengan cepat Kevin meraih tangan istri dadakannya, dan jelas saja Khaira memberontak. Kevin tersenyum licik, ia menggenggam erat tangan Khaira, lalu dengan sekali tarikan tangan Khaira masuk dalam dekapannya.
__ADS_1
Jantungnya berdegup kencang, bertalu-talu seolah menabuh genderang perang, lagi-lagi Khaira berontak, “Lepaskan aku!”
Kevin mendekati telinga Khaira yang tertutupi hijab, lantas berbisik pelan, “Gue kira lo bakal takut tidur di kamar orang yang udah meninggal, dan gue baru aja mau nawarin lo buat tidur sekamar sama gue,”
“Jangan suka bicara asal!” hardik Khaira kesal.
“Yah itukan kalau lo mau, kalau lo nggak mau juga nggak papa,” ujar Kevin sedikit bercanda meskipun garing. Ia tersenyum licik, “baru aja gue peluk, reaksi lo udah begini tegang! Apa lagi kalau gue minta jatah sebagai suami,”
Khaira melirik Kevin tajam, “Jatah apa yang kamu maksud?”
“Lo masih nggak ngerti, apa pura-pura nggak ngerti?” ledek Kevin mengerlingkan satu matanya.
“Kamu sebenarnya tuh lagi bahas apaan sih? Aku tuh benar-benar bingung dan canggung. Kenapa kamu menyentuh ku? Perkataan mu memuakkan. Ingat dengan janjimu, kalau kamu nggak bakalan menyentuhku!” sergah Khaira mengingatkan kembali janji Kevin.
“Oke-oke! Santai aja keles!”Kevin mengangkat kedua tangannya, seolah menyerah pada musuh. “dah, lo bebas mau pakai kamar ini,”
Meskipun Kevin sempat membuatnya takut dan berpikir pria dihadapannya adalah pria berotak mesum. Khaira merasa ada sisi baik dari Kevin, dengan menunjukkannya kamar, itu sudah jadi pertanda bahwa Kevin mengijinkannya tinggal, kendati pun hanya sementara waktu.
Dalam hati Kevin bersorak senang karena ia tidak perlu repot-repot memanggil tukang bersih-bersih rumah yang biasa ia panggil dua minggu sekali. Mekipun senang, ia masih sok cool, Kevin melihat Khaira sudah mulai sedikit lebih rileks. “Oke! Gue anggap tawaran lo buat bersihin rumah ini, karena ingin membalas kebaikan gue yang udah membebaskan lo dari hukuman cambuk itu.”
Khaira memutar bola matanya jengah, mendengar seolah-olah Kevin adalah sang dewa penyelamat! “Dasar sinting! Ini juga kan salah kamu!”
“Widih galak bener! Tapi gue suka ama yang galak-galak model gini!” Kevin berniat menggoda Khaira dengan mencolek dagu gadis yang berdiri disampingnya, namun Khaira mendadak menjauhinya serta mengepal kedua tangan seolah akan meninju.
Khaira memasang kuda-kuda, tak ingin sia-sia silat yang pernah ia pelajari; “Jangan macam-macam! Dan ingat janji kamu!” gertaknya.
Kevin tercenung sesaat, kemudian terkekeh kecil, “Hahaha.. Woah-woah, nggak usah sok-sokan pasang kuda-kuda, kaya jago silat aja!”
Entah seperti apa perangai pria di depannya. Entah brengsek, entah baik! Khaira hanya ingin berjaga-jaga saja. Tanpa ingin menunjukkan kemampuan bela dirinya, Khaira kembali berdiri tegak.
__ADS_1
“Oh ya, sama satu lagi. Nanti malem gue kagak bisa nemenin lo, karena gue harus kerja.” ujar Kevin sebelum membalikkan badannya.
Khaira heran, pekerjaan apa yang di maksud Kevin,“Dih aku aja nggak minta di temenin! Lagian kerjaan apa yang dilakukannya malam hari? Kayak kelelawar!”gumamnya lirih.
Agaknya telinga Kevin sedikit sensitif terhadap gerutu Khaira.“Jiyaah kepo! Ya pokoknya gue kerja!”
Kevin berbalik badan, dan kembali melenggang pergi. Tapi kemudian ia teringat sesuatu, “kalau gue nggak ada di rumah jangan lupa kunci pintu.”
Khaira melihat Kevin dari samping, ia mengerti bahwa Kevin sedang menyindirnya. Sebelum Kevin pergi meninggalkan nya, Khaira pun berucap, “Terimakasih, karena sudah mengizinkan ku untuk tinggal di sini. Aku janji bakal nyari kos-kosan secepatnya.”
Kevin berhenti melangkah, ia tak menoleh juga tak memberi jawaban. Lantas kembali berjalan menuju kamarnya.
~~
Khaira celingukan di dalam rumah yang masih sangat asing baginya, ia bingung harus mencari sapu dan pengki di mana? Karena kamar yang akan ia tempati sangat berdebu.
“Kenapa aku lupa menanyakan dimana sapu?” ia bergumam sendiri, sambil menggaruk pelipisnya, serta mata yang terus melihat ke pintu kamar yang sebelumnya Kevin masuk kedalam pintu tersebut.
Khaira berdiri berjarak dua meter dari pintu kamar Kevin, ia terus mengamati dan mengamati, tapi tak kunjung pintu itu terbuka. Khaira memiringkan sedikit kepalanya dan berpikir, ingin mengetuk tapi ragu. Bukan hanya ragu, tapi canggung!
“Tuh orang betah banget di kamar, aku kan mau tanya tentang seluk beluk rumah ini. Bagaimana pun juga, aku kan cuma sementara di sini, dan pantang bagiku keluyuran ke sana kemari.”
Pada saat Khaira terus mengamati pintu, ia terperanjat kala pintu itu bergerak terbuka bersamaan Kevin keluar dari kamar dengan hanya memakai handuk berwarna cream yang melilit di pinggang. Khaira terpaku sesaat dan kemudian mengalihkan pandangannya, memunggungi Kevin yang sedang berkacak pinggang.
Kevin tersenyum licik, ia mendekati Khaira yang sedang membelakangi nya, “Sedang apa lo di depan pintu? Apa jangan-jangan lo sedang menunggu untuk malam pertama kita, hm?”
__ADS_1
Bersambung