Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Rasa Rindu


__ADS_3

Diluar rumah, seseorang yang memakai topeng segera berlari keluar dari halaman rumah Kevin. Setelah mendengar seseorang yang menjadi targetnya teriak dengan sangat kencangnya.


Keadaan di kompleks perumahan malam ini sangat lengang, lantas dibuangnya topeng ke sembarang arah, dan masuk ke dalam mobil yang terparkir di depan rumah kosong sebelah rumah Kevin.


"Gue bakal bikin lo kagak betah tinggal di rumah Kevin, supaya lo nggak bakal ada di sekitar Kevin lagi. Dan seharusnya gue yang menikah sama Kevin bukan lo perempuan kampung!" ucapnya sinis, ia menatap rumah Kevin dari samping.


Cara ini menjadi sesuatu yang menarik untuk menakut-nakuti seorang perempuan kampung, ia ingin secara perlahan seorang perempuan kampung yang menikah dengan Kevin dengan sendirinya menjauhi kehidupan Kevin. Sang pujaan hati.


Mobil berwarna merah inipun melaju dengan kecepatan sedang.


~~


Bangun dari pingsannya, Khaira merasa lunglai. Dan mengingat kembali seseorang yang memakai topeng menyeramkan berlumuran darah.


Khaira beranjak dari tempatnya pingsan, dan langsung menjauhkan diri dari bawah jendela. Tangan kanan mengusap peluhnya yang membasahi kening, dan tangan kirinya memegang dada.


Detak jantungnya tidak beraturan, ditatapnya kembali pintu utama rumah. Nafasnya seperti memburu, berulang kali menelan ludahnya yang serasa mengganjal.


"Siapa pun orangnya, nggak lucu bercanda memakai topeng seperti itu!" Khaira lebih memilih tidak ingin mencari tahu siapa orang yang telah bermain-main dengan menggunakan topeng menyeramkan itu.


Ia berjalan dengan tergesa-gesa ke ruang tengah, diliriknya jam dinding sudah menunjukkan pukul 02:15. Sekiranya sudah dua jam ia pingsan.


"Nanti aku tanyakan saja sama Mas Kevin, siapa tahu. Mas Kevin punya musuh yang mencoba ingin meneror," gumamnya gemetar.


Daripada terus menerus berprasangka buruk, Khaira berjalan ke arah kamar mandi dan diambilnya air wudhu.


Seterusnya, Khaira berjalan ke kamar yang ditempati sekarang ini di rumah Kevin. Selama prosesnya memakai mukenah, ditatapnya bingkai foto keluarga Kevin yang terlihat amat sangat bahagia.


Khaira menggeleng, lalu fokus menatap sajadah panjang membentang. Diucapkannya niat untuk melaksanakan sholat tahajud.


Diharapkan setelah berwudhu dan sholat tahajud, ia tidak akan lagi merasakan takut ataupun gelisah. Di kota ini ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi.


Usai melaksanakan sholat tahajud dengan sangat khusyuk sampai menetes air mata membasahi pipi, membersamai dengan isak tangis yang tertahan.


Khaira memejamkan mata dalam-dalam, lalu memanjatkan doa yang pernah diajarkan Abah.


"Auzdu bi kalimaatillahit taamati min kulli syaithonin wa hamaatin wa min kulli'ainin lamaatin. Amin."

__ADS_1


[Artinya: Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang telah sempurna dari godaan setan, binatang beracun, dari pengaruh 'ain yang buruk.]


Menerawangkan pandangannya menatap lampu tidur berwarna kuning matahari pagi. Terbesit rasa rindu ingin kembali merasakan hidup di kampung halamaan.


Terdengar suara gemuruh petir, mungkin akan turun hujan. Ia mengalihkan atensinya menatap ponsel yang tergeletak di atas kasur, "Nggak mungkin aku menghubungi Abah malam-malam begini, dan nggak mungkin juga Asep. Pria letoy itu pasti sedang tidur pulas seraya mendengkur."


~~


Di luar daerah, terkhususnya di daerah Kulon Progo Yogyakarta, di dalam rumah bergaya klasik Jawa, tepatnya di kamar, seorang pria sedang duduk di atas sajadah. Baru saja selesai melaksanakan sholat malam.


"Ya Allah inilah pertama kalinya aku merasakan cinta kepada seorang wanita, bernama Khaira," menadahkan kedua telapak tangan ke atas bersamaan dengan doa yang dipanjatkan, "Jika dia bukan jodohku. Ya Allah janganlah membuatku selalu rindu mengaitkan hati kepadanya. karena sungguh sangatlah menyakitkan jikalau aku tahu bahwa dia tidak rindu padaku." menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


Mengapa rasanya sangat berat, seperti berjalan tertatih-tatih di atas lumpur. Asep teringat kembali pada saat masih satu sekolah dengan Khaira empat tahun lalu.


Sangatlah menyenangkan, dan selalu ramai pada saat membicarakan soal pelajaran dengan Khaira. Kendati Khaira adalah adik kelas, namun dapat Khaira pahami pelajaran yang diutarakan oleh Asep.


Namun Asep dilanda kebingungan manakala Khaira tiba-tiba saja berubah dingin, membuat Asep bertanya-tanya ada apakah gerangan yang terjadi dengan perubahan sikap Khaira.


Empat tahun berlalu, Asep baru mengetahui sebab musababnya Khaira terlihat dingin, jutek, cuek dan membencinya.


Bahwasanya, seorang teman Khaira yang bernama Sarmila menceritakan bahwa Khaira pernah melihat Asep seolah sedang mencium seorang teman cowok di belakang sekolah.


Tentu saja Asep sangat terkejut mendengar cerita dari Sarmila, ingatannya memutar di empat tahun lalu mengingat kembali pada saat kejadian dibelakang sekolah. Kala itu seorang teman Asep bernama Rama sedang kelilipan semut kecil.


Asep mencoba menolong Rama dengan meniup-niup dan mencoba mengambil semut yang terjerembab di kelopak mata Rama.


Sebab itukah Khaira salah paham terhadapnya, dan menganggap Asep telah berciuman dengan sesama jenis. Bahkan jika Asep benar-benar seorang gay, ia akan mempertimbangkannya dengan mengingat burung berbiji dua yang menjadi bawaannya sejak lahir ke dunia.


Ia tidak mudah beralih fungsi begitu saja. Meskipun ia menjauhi wanita karena dianggapnya wanita sangatlah ribet. Dan sedikit tertarik dengan lawan jenis. Itu karena ia mempunyai alasannya.


Asep menarik nafasnya dalam-dalam, ingin sekali menyatakan bahwa Khaira sudah salah paham. Namun tidak berkenan menjelaskannya melalui sambungan telepon.


Ia ingin bertemu secara langsung dan menjelaskannya kepada Khaira dengan menatap mata gadis itu.


Perasaannya seperti tercubit, Asep mengusap dadanya. "Khaira." ucapnya lirih, dilihatnya foto Khaira bersama dengannya di sebuah jalanan pedestrian.


"Semoga kamu baik-baik saja di kota Ra, aku kangen sliramu." gumam Asep.

__ADS_1


Diingatnya kata-kata bijak dari Jalaluddin Rumi. [perpisahan hanya untuk orang-orang yang mencintai dengan matanya. Karena untuk orang yang mencintai dengan hati dan jiwanya, tidak ada kata perpisahan.]


Asep merenungi kesalahannya, bahwa tidak menyadari lebih awal rasa cintanya. Ia mengira Khaira benar-benar membencinya.


Dari cerita Sarmila, bahwa Khaira mencintainya sejak lama, bahkan dari semasa sekolah dulu. Asep merutuki dirinya sendiri yang tidak peka untuk bertanya ada apakah dengan sikap dan perubahan Khaira yang semula ramah berubah menjadi dingin dan jutek.


Mengapa demikian ia tidak mencari tahu dan bertanya kepada Khaira. Lagi-lagi Asep hanya bisa menunduk lusuh, ditatapnya sarung kotak-kotak yang dipakainya saat ini.


"Aku menanti kamu pulang Ra."


~~


Ada seseorang di rumah membuat Kevin cukup lega, sekiranya saat ia pulang tidak merasa kesepian. Tidak lagi merasa hampa, meskipun tidak pernah di sambut seperti khalayak seorang istri yang menyambut suaminya ketika baru pulang bekerja.


Tak mengapa, tak jadi masalah, yang terpenting ada seseorang di rumah. Yang mungkin bisa saja selama ini orang-orang dilingkungannya tinggal menganggap rumahnya adalah rumah kosong.


Kevin mematikan mesin motornya di depan jalanan depan rumah. Saat sedang mengedarkan pandangannya ke jalanan, tanpa sengaja ia melihat topeng menyeramkan berlumuran warna merah di jalanan depan rumah. Dahinya mengernyit heran.


Diambilah topeng menyeramkan, dan di usapnya warna merah guna memastikan apakah warna merah yang melumuri topeng berupa darah atau hanya sekedar cat warna merah.


"Ini hanya cat merah." gumamnya, lalu dibuangnya topeng menyeramkan berlumuran cat warna merah ke tempat sampah samping kanan depan pagar rumah.


Dilihatnya rumah yang nampak dari depan dengan pencahayaan dari dua lampu guna penerangan teras rumah. Lantas membuka pagar teralis besi, dan memasukkan motornya ke bagasi rumah.


Gerimis tipis turun dari langit.


Tak lupa ia menutup pagar teralis besi, dan berjalan menuju pintu rumah. Dirogohnya tas ransel lalu mengambil kunci dan membuka pintu, hal pertama yang dilihatnya dari dalam rumah sangatlah gelap, seperti tidak adanya kehidupan.


Lantas berjalan masuk dan mengunci pintu, namun pada saat Kevin membalikkan tubuhnya, ia terkejut bukan main kala melihat sesosok putih tiba-tiba saja muncul mengangetkannya.


"Aaarrrhhh..." teriak Kevin lantang.




Bersambung

__ADS_1


__ADS_2