Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Mawar biru


__ADS_3

Tiga puluh lima menit berlalu. Kini, Kevin dan Khaira sudah berada di tempat penjual berbagai tanaman hias yang berada di pinggiran kali sisi jalan raya.


Khaira nampak sangat asik, memandangi bunga-bunga yang bermekaran indah, beberapa kupu-kupu dan kumbang berterbangan hinggap di kelopak mayang bunga untuk mengambil sari sang bunga.


Mengingatkan Khaira akan halaman rumahnya di kampung. Setiap pagi, ia akan menyirami berbagai bunga yang ia tanam terkhususnya bunga mawar merah dan putih, berharap tanaman hiasnya, bermekaran indah menunjukkan kelopak mayang yang sangat indah.


Namun entah mengapa mendadak melihat pergerakan kupu-kupu, lebah dan kumbang membuatnya sedih. Khaira berhenti melangkah dan mengamati bunga sepatu warna pink muda, "Setelah bunga-bunga ini dihisap sari madunya, bunga-bunga ini akan layu." gumamnya lirih.


Tak begitu jelas mendengar Khaira berbicara apa, membuat Kevin bertanya, "Kamu bicara sama siapa?"


Dilihatnya Kevin yang sudah berdiri disebelah, Khaira menggeleng dan kembali melanjutkan langkah kakinya. Netranya menatap keseluruhan bunga mawar yang bermekaran di kios tanaman ini.


"Bunga-bunga ini kasihan, mereka akan layu setelah sarinya dihisap lebah." Khaira menunjuk bunga sepatu pink.


"Macam anak-anak remaja yah? Demi kepuasan nafssu semata sampai merelakan masa mudanya." jawab Kevin nyeleneh.


Mendengar jawaban Kevin yang menohok seketika Khaira menatap Kevin menyipit. "Lho ojo dibanding-bandingke to Mas, moso kembang karo wong? Kan jelas bedo?"


Kevin menggidik pundaknya. Alias tidak memahami perkataan Khaira. "Lain kali kamu harus mengajari ku bahasa Jawa, biar kamu ngomong apa aku nyambung."


"Wani piro?" Khaira menantang sembari membuka tangannya ke hadapan Kevin, ia lantas kembali melanjutkan langkah kakinya dalam menyusuri bunga-bunga yang akan ia pilih.


Kevin kembali mengikuti kemana derap kaki Khaira melangkah. Istrinya itu tengah mengamati, bunga mawar yang merekah berwarna biru. Berbeda dengan Kevin, yang nampaknya, sangat heran, dengan bunga mawar berwarna biru.


"Wah, jadi-jadian nih mawar.” ucap Kevin sembari menunjuk bunga mawar biru dari salah satu deretan bunga-bunga mawar warna-warni yang memang nampak indah di pandang mata.


Khaira mendengar umpatan Kevin, ia menoleh kebelakang dan melihat Kevin sedang menunjuk mawar mekar berwarna biru tua. Ia menatap suaminya dengan tatapan menyipit.


Tanpa sengaja Kevin melihat sorot tatapan tajam Khaira, membuatnya heran dan menggidik bahunya, "Kenapa?"


"Siapa yang jadi-jadian?"


"Ya tentu, bunga mawar biru ini. Mawar merah tanda cinta, mawar putih tanda suci, mawar pink tanda kasih sayang, mawar kuning tanda persahabatan, lah sedangkan mawar biru ini tanda apaan?" kata Kevin menjelaskan apa fungsi mawar sebagai lambang setiap hubungan.


"Hemm hafal banget yah tentang fungsi bunga mawar untuk setiap hubungan? Tapi apa kamu tau merek lipstik merah yang ada di jaket mu ini, hm?" kata Khaira bertanya sembari melihat bekas bibir wanita yang sangat menggoda.


Kevin tergelak mendengar pertanyaan Khaira, ketika akan membuka mulutnya akan menjawab... namun Khaira lebih dulu menghentikan ucapannya.


"Bukan mereknya yang aku ingin tahu. Tapi siapa pemilik bibir seksi itu! Kalau Mas Kevin bertemu lagi dengan wanita itu, katakan padanya kalau aku memuji keseksian bekas bibirnya." kata Khaira seraya melengos pergi meninggalkan Kevin.

__ADS_1


Kevin menghela nafas panjang, dilihatnya Khaira yang telah berjalan mendahuluinya. Laksana bom atom perbuatan Clara ini akan berbuntut panjang yang nantinya akan menjadi pertanyaan Khaira secara berulang-ulang. Ia akhirnya melepaskan jaketnya dan membuangnya begitu saja di atas tanah.


Saat Khaira berjalan dan mengamati beberapa jenis tanaman hias terkhususnya bunga mawar, sekilas Khaira mengalihkan atensinya dari bunga mawar melihat Kevin yang sedang menginjak-injak sesuatu.


Karena dibuat penasaran, Khaira lantas melongok bagian sesuatu yang sedang diinjak Kevin, barulah disadarinya bahwa pria itu sudah tidak lagi memakai jaketnya, malah menginjak jaket sampai membuat jaket jeans denim terlihat sangat kotor membaur dengan tanah liat di kios penjual tanaman hias.


"Mas Kevin! Apa yang kamu lakukan?" Khaira berseru dan kembali menghampiri Kevin yang sedang menginjak-injak jaket.


Kevin melihat Khaira yang sudah membungkuk untuk melihat keadaan jaket yang sudah kadung kotor, lalu berkata santai, "Ya habis daripada nantinya terus dipertanyakan siapa bekas bibir itu ya ku injak-injak aja,"


Khaira geleng-geleng melihat aksi kekanakan yang dilakukan Kevin, "Dasar tuan arogan! Tapi bukan begini juga caranya!" ia hendak mengambil jaket yang sedang diinjak Kevin. Namun, sang pemilik jaket justru malah menghentikannya.


"Nggak usah di ambil!" kata Kevin melihat tangan Khaira yang terulur untuk mengambil jaket.


Seketika keributan dan perdebatan kecil mengundang perhatian pengunjung kios tanaman hias, begitu juga pemilik kios. Namun, mereka tak ingin ambil pusing, toh kelakuan pasangan muda memang sering bikin geleng-geleng kepala. Mereka kembali pada kegiatannya masing-masing untuk membeli dan pemilik kios menjual berbagai tanaman hias.


Khaira bersikekeh untuk mengambil jaket yang sedang diinjak Kevin, "Kan sayang Mas Kevin ini masih bagus? Kalau kamu nggak mau pakai kenapa nggak di kasih ke aku aja?" ia memungut jaket yang sudah kotor serta mengibas-ngibaskan kotoran tanah liat yang menempel di jaket.


Tatapan Kevin membulat sempurna, "Memang kamu nggak cemburu? Aku pikir kenapa aku melepas jaket yang ada bekas bibir Clara, karena kamu sedang cemburu maka dari itu kamu mengulangi perkataan mengenai bekas lipstik merah di jaketku?" kata Kevin menunjuk jaket yang sedang dipegang oleh Khaira.


Khaira mengernyitkan dahinya, "Kenapa aku harus cemburu? Soal adanya bekas bibir lipstik merah, aku hanya ingin tau saja, perbuatannya siapa. Dan tadi Mas Kevin udah bilang bekas bibir Clara, ya berarti wanita yang kamu temui tadi orang yang mengancamku semalam,"


Berulang-ulang kali Kevin mengerjap-ngerjapkan matanya, ditatapnya Khaira dari samping, "OMG, nih cewek kenapa? Kok susah banget gue tebak?" selorohnya dalam hati. Ia lantas membuntuti Khaira.


"Memangnya ada bunga mawar biru? Terus dari bunga warna biru itu tandanya apa?" tanya Kevin mengalihkan pertanyaan yang sekiranya sudah tidak penting lagi, toh Khaira sudah tahu bekas bibir Clara ya menempel di jaketnya.


Khaira pun menghela nafasnya, dan menatap Kevin dengan tatapan malas, "Ya tentu ada!"


"Kenapa bisa ada?" sahut Kevin.


"Ya, pokoknya ada, Sayang!" ucap Khaira. Ia memilin lidahnya tak sengaja ucapa 'sayang' meluncur bebas di lidahnya tak bertulang.


Mendengar untuk pertama kalinya Khaira memanggilnya mesra seperti kata 'sayang' membuat Kevin mengembangkan senyumnya.


"Ya udah, makanya jelasin?" balas Kevin masih menahan senyumnya menatap Khaira yang nampak malu-malu.


Khaira berjalan mendahului Kevin, sembari bersenandung kecil. "Sudah ada mawar biru. Jangan cari yang merah. Sudah punya cinta suci. Jangan cari masalah..."


Kevin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Lha bukannya jawab dia malah nyanyi."

__ADS_1


"Bang..?" Khaira berseru memanggil si penjual tanaman hias yang masih terlihat muda.


Si penjual tanaman menyapa pembeli yang memanggilnya dengan seulas senyuman ramah, "Mau yang mana Mbak?”


"Aku mau yang ini,” jawab Khaira, menunjuk bunga mawar biru yang sempat menjadi perdebatan antara dirinya dan Kevin. Sudah sangat lama ia mengidam-idamkan hadirnya mawar biru dalam rangkaian mawar yang cukup langka ini.


"Mbaknya pintar, persis seperti orangnya, cantik.” jawab si penjual tanaman hias, dan memperkenalkan diri, berharap wanita berhijab yang memilih mawar biru adalah wanita single. Kendati ia melihat bahwa wanita di hadapannya jelas datang bernama dengan seorang pria dan sempat terjadi perdebatan kecil. "Nama saya, Ilham Mbak.” ucap penjual tanaman hias, menyebutkan namanya, dan mengulurkan tangannya di hadapan wanita yang saat ini memakai hijab warna marun.


"Aku Khaira.." jawab Khaira, ia hanya menangkupkan kedua tangannya sebagai tanda salam.


Namun, ibarat sebuah kumbang yang hendak mendekati bunga yang sedang mekar, si kumbang di hadang oleh seekor kucing jantan, yang siap menerkam kumbang, mencacah habis sampai tersisa tulang belulang. Kevin menjabat uluran tangan si penjual tanaman hias, dengan sedikit mengeratkan genggamannya.


"Gue Kevin, dan gue suaminya." ucapnya posesif, seraya menunjuk Khaira menggunakan isyarat matanya.


Khaira melihat posesif'nya Kevin, ia mengulum senyumnya. "Nggak enaknya gini, kalau jalan pas sama pasangan, nggak bisa berkutik! Ataupun lirik-lirik cogan."


Si penjual tanaman hias yang memperkenalkan diri bernama Ilham nampak salah tingkah, dan mengambil bibit bunga mawar biru yang baru mekar satu bunga lantas melirik sekilas kearah wanita yang bernama Khaira.


"Jangan harap, kumbang bisa mendekati bunga yang hanya milik si kucing jantan. Hahaha!" Kevin tertawa renyah dalam hatinya melihat penjual tanaman yang masih terlihat muda, ya memang akui penjual tanaman itu sedikit tampan. "Tapi nggak setampan gue."


Beberapa jenis tanaman hias pun sudah Khaira pilih, dan tinggal menghitung jumlah yang harus dibayar. Khaira mengeluarkan dompet dari saku celana panjangnya, namun ketika akan membayar segera dihentikan oleh Kevin.


"Biar aku yang bayar, nggak tau apa kalau suamimu ini calon sultan?" Kevin mengeluarkan dompetnya laksana seorang yang kaya raya.


Khaira melihat betapa sombongnya Kevin, hanya menanggapi perkataan Kevin dengan tatapan malas. Sembari mengaminkan ucapan Kevin dalam hati.


Kemudian Kevin bertanya kepada penjual tanaman hias yang sempat ingin berkenalan dengan Khaira. "Berapa semua tanaman ini?"


Ilham memberikan secarik kertas, yang berisi catatan jumlah harga. Namun, dibalik catatan itu, ia menulis nomor telepon, berharap agar wanita berhijab marun itu, mau menghubunginya.


Kevin menerima dan membolak-balikkan kertas, dilihatnya nomer telpon. Ia segera mengeluarkan sejumlah uang dan langsung memberikannya kepada penjual tanaman, "Jangan lirik-lirik bini orang!" ucapnya sadis kepada penjual tanaman hias.


Glek... Ilham hanya bisa menelan ludahnya dan menghela nafas panjang. Rasa ketertarikannya pada Khaira membuatnya berusaha untuk mengenal Khaira lebih jauh.


Akan tetapi rintangan membetang di depannya, bahkan sebelum tembok kepercayaan diri di bangun Pria yang mengaku Khaira adalah Bini atau Istri mengambil secarik kertas dan meremasnya, bukan hanya meremas, Kevin pun membuang kertas itu di genangan air. Nampaknya memang usaha untuk memberikan nomor telepon kepada Khaira gagal total.



__ADS_1


Bersambung


__ADS_2