Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Wanita dan uang


__ADS_3

Kevin memegang belakang kepala Khaira, dibenamkannya wajah sang istri ke dadanya. Ia melihat keadaan sekitar, bukan hanya dirinya dan juga Khaira yang terkejut atas peristiwa pelemparan sebuah benda seperti batu.


Akan tetapi Kevin kemudian melihat seorang wanita yang berjalan menjauhi kerumunan, wanita yang seperti ia kenal.


Benarkah itu Clara? Sedangkan Clara seperti yang dikatakan Anto, bahwa wanita itu overdosis dan masih memerlukan perawatan, apa jangan-jangan Clara sudah pulih? Gue harus menyelidikinya.


Kevin mengurai pelukannya dan segera berlari menjauhkan dirinya dari Khaira.


Terkesiap yang Khaira rasakan tatkala Kevin tiba-tiba saja melepaskannya, termangu sendiri memandangi kepergian pria itu yang semakin menjauh, ada apakah gerangan yang menarik perhatian Kevin?


Seperti dicampakkan begitu saja, mengapa rasanya sangat perih dan pegal seperti terusuk duri kecil. Khaira tercengung seperti inikah rasanya ditinggal pas lagi sayangan-sayangnya? Dan apakah ini yang dirasakan Abah selama ini.


Cinta kenapa kau hadir hanya menggoreskan luka.


Khaira berjalan menyusuri jalanan taman, ia berjalan melewati pasangan muda-mudi dan beberapa orang yang menikmati waktu malam bersama teman.


Ia terus berjalan, netranya menatap kakinya yang memakai sandal teplek menapaki jalan batu alam. Sampai pada akhirnya Khaira melihat sebuah bangku taman yang kosong. Ia lantas duduk dan menunggu Kevin yang entah pergi kemana.


~


Sementara itu, Kevin menarik lengan seorang wanita yang diduga adalah Clara.


"Clara...?" Kevin terpekur, tertanyata ia sudah salah orang. Bukanlah Clara, melainkan wanita dengan gaya rambut yang sama.


"Ih apaan sih Mas, sembarangan pegang-pegang! Modus lu ya?" kata seorang wanita yang dicegat langkahnya oleh seorang pria yang tidak dikenalnya.


Seketika itu juga Kevin melepaskan cekalan tangannya di pergelangan tangan seorang wanita yang dikiranya adalah Clara, "Sorry, gue kira orang yang gue kenal."


"Rawan cowok modus pengen kenalan pakai cara gini!" Wanita ini mendengus kesal, lantas melenggang pergi berlalu dari hadapan pria yang telah salah mengira.


"Ah sial! Kenapa gue selalu berprasangka buruk. Hanya karena Clara berambisi, tapi bukan berarti dialah orangnya," Kevin bergumam sembari menyugar rambutnya, seketika ia teringat, "Khaira...?"


Kevin segera berlari kecil menuju tempat semula ia meninggalkan Khaira, namun tidak mendapati istrinya. Ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Khaira yang bisa saja masih berada di sekitar jangkauan pandangannya.


Berlarian untuk mencari seseorang yang di cari, dan ternyata sedang duduk di bangku kayu persis di sebelah lampu. Kevin menyesal telah pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa.


Apakah Khaira akan berpikir bahwa ia sengaja meninggalkannya begitu saja? Untuk meluruskan suatu hal yang nantinya bisa jadi salah paham, Kevin mendekati istrinya.


Alih-alih duduk di sebelah Khaira, justru Kevin mengulurkan tangannya kehadapan gadis sedang duduk dengan menundukkan pandangan seperti melihat kaki yang digerakkan.


"Pulang yuk." Kevin mengajak Khaira untuk pulang, ia merasa Khaira dalam posisi tidak aman.


Mendengar seseorang yang sedang ia tunggu, Khaira mendongakkan wajahnya menatap tangan Kevin yang terulur dihadapannya dan merunut pada wajah pria yang sedang tersenyum menatapnya.


"Mas Kevin darimana?"


"Ngejar orang yang kayaknya sengaja melempar batu," Kevin duduk disebelah Khaira.


"Hmmm..." Khaira mengalihkan posisi duduknya sedikit menyamping menghadap Kevin, "benarkah, ada orang yang sengajak melempar batu sampai lampu kaca pecah?"


Kevin mengangguk singkat, "Yah, sepertinya disengaja,"


"Terus Mas Kevin nangkep orangnya?" Khaira bertanya antusias.


Kevin menggeleng singkat, "Enggak, gue salah orang,"


"Memang Mas Kevin mencurigai siapa?" Khaira sedikit memiringkan kepalanya menatap wajah Kevin yang nampak serius.


"Clara, gue curiga sama dia,"


"Memang segila apa sampai Clara bertindak demikian Mas?"


"Yah mungkin karena aku ganteng, atau mungkin nggak ada pria lucu sepertiku. Atau jangan-jangan bagi dia pria di dunia ini sudah punah kecuali aku." Kevin menunjuk dirinya sendiri.


Khaira terkekeh geli. "Haha... memangnya Mas Kevin ngaku pria paling tampan?"


Kevin menggidik pundaknya. "Ya bisa jadi, aku seorang pria yang paling tampan, paling lucu, paling imut, dan paling setia."


Khaira tersenyum menatap wajah Kevin tanpa berkedip.


"Ya ya aku menyadari itu, jadi apa kamu mau bilang, kalau aku wanita paling beruntung yang bisa dekat-dekat dengan pria paling ganteng dan paling lucu ini?" Khaira mencubit pipi suaminya, ia gemas. Bukan karena pipi Kevin chubby. Tapi karena ucapan yang dilontarkan Kevin seolah-olah pria di depannya ini ingin mengatakan hal demikian.

__ADS_1


Kevin menarik tengkuk leher dan mendekati wajah Khaira, ia mencium singkat bibir istrinya tanpa ancang-ancang terlebih dahulu. Hingga membuat sang istri tercenung.


Khaira mengerjap-ngerjapkan matanya. Ditatapnya bangku kosong, karena Kevin sudah berdiri.


"Hey, ayo pulang..." Kevin mengulurkan tangannya kehadapan Khaira.


"Mas Kevin, kamu....?" Khaira menadahkan wajahnya menatap wajah Kevin yang terlihat berseri-seri, ia jadi mengurungkan rasa geramnya pada sang suami yang telah berani menciumnya di tempat umum, meskipun gelap. Namun, inilah kali pertama baginya berciuman di tempat terbuka.


Kevin tersenyum kecil. "Apa? Anggap saja itu upahku karena melindungi mu dari lemparan batu, hm..." Ia mengulurkan tangannya kehadapan sang istri yang nampak menahan kesal. "jadi ayo pulang." melihat Khaira menatap tangannya yang terulur. Ia berpendapat Khiara tidak mau menjabatnya dikarenakan ulahnya barusan.


Kevin berniat menarik tangannya kembali, namun begitu saja Khaira menggenggam erat tangannya. Dilihatnya wajah Khaira tersenyum kecil.


"Makasih sudah melindungi ku, tapi lain kali jangan mencium ku ditempat umum. Aku malu." Khaira menyusul Kevin berdiri, lalu berbisik di telinga suaminya.


Kevin mengulum senyumnya. "Kalau begitu apa aku boleh melakukannya di rumah, kapan saja?"


Khaira berdecih lalu mencubit lengan Kevin yang tertutupi jaket berlengan panjang. "Sudah ayok jalan."


"Dasar wanita ini." Kevin mengikuti langkah kemana istrinya berjalan menuju motornya yang terparkir. Sejatinya dalam hati sangat senang.


"Mas Kevin." Khaira mengambil helm di kaca spion.


"Apa?" Kevin sudah standby di atas motor dengan sudah memakai helmnya.


"Siapa pria bernama Erik?" Khaira duduk di boncengan.


Kevin terhenyak kala sang istri menyebut Erik. Ia menoleh kebelakang. "Kamu tahu darimana nama itu?"


"Siang tadi dia menemui ku."


Kevin mengernyitkan dahinya mendengar jawaban Khaira. "Maksud kamu?"


"Iya, pria yang mengaku ayah dari Clara. Datang menemuiku, dia memintaku untuk menjauhi mu, dia bahkan memberikan ku uang yang sangat banyak, lalu menghamburkannya ke wajahku."


Kevin geram tangannya mengepal kuat-kuat. "Lalu, kamu jawab apa?"


"Aku jawab....?" Khaira menatap mata Kevin yang tajam seperti busur panah. Tak berani berlama-lama menatap mata Kevin. Ia membuang tatapannya menatap penjuru jalanan.


Khaira kembali menatap wajah suaminya. "Hemmm... aku jawab, aku akan memikirkannya. Lalu mengambil uang-uang yang berserakan."


Tatapan Kevin berubah nyalang. "Apa kamu sangat butuh uang, sampai kamu mengambil uang yang sudah dihamburkan ke wajah mu, aku sudah bilang. Bilang saja padaku, aku akan memberikan banyak uang padamu, kenapa wanita selalu berpikir uang-uang dan uang!" Kevin membuka telapak tangannya kehadapan istrinya. "Sekarang mana uangnya?"


"Sudah habis." jawab Khaira spontan.


"Apa?" Kevin terkejut dengan jawaban monoton sang istri. Plethak... Ia menjitak kening Khaira.


"Haduh Mas Kevin. Sakit tau!" Khaira mengeluh sakit seraya mengusap keningnya.


"Aku nggak nyangka kamu pandai menghabiskan uang!" Kevin geram, ingin rasanya menelan istrinya bulat-bulat.


Khaira berdecih kesal, ia masih mengusap keningnya. "Wong aku bagi-bagikan ke orang-orang di jalanan kok!"


Kevin tergelak mendengar pertanyaan Khaira. Ia sepertinya telah salah paham. "Kenapa kamu nggak bilang?"


"Mas Kevin nanya? Iya nanya?" jawab Khaira kesal. "makanya dengerin dulu, jangan langsung menggetak keningku. Seolah-olah aku ini wanita o'on!" ia masih di mode super ngambek.


"Ucup-ucup-cup... maaf yah." Kevin menarik tengkuk leher istrinya. Ia mengusap bekas getokan tangannya di kening sang istri.


Kadung kesal, Khaira melepaskan tangan Kevin. "Sudah ayo jalan. Besok aku mau berangkat kerja, aku nggak mau bangun kesiangan!"


Kevin tersenyum kecut. Lalu menuruti titah istrinya.


Siapa lelaki yang akan membantah, kalau sikap istri sudah berubah menjadi singa betina. Mengaum dan menunjukkan gigi taringnya.


Kevin bergidik ngeri, perlahan rodanya memutar di jalanan dan membaur dengan pengendara lain.


~~


Dari kejauhan Clara menggolara menahan kesal, ia sengaja menyuruh orang lain untuk melemparkan batu kearah Khaira, namun kenapa Kevin bisa membaca pergerakan batu yang melasat dengan sangat jeli.


"Sebenarnya apa pengaruh wanita kampungan itu di hidup Kevin, kenapa Kevin sangat melindunginya? Apakah Kevin memang cinta sama istri sirinya?" Clara menggejuk rerumputan taman, ia sangat geram. Lagi-lagi rencananya untuk melukai Khaira dan membujuk Kevin gagal.

__ADS_1


Kini, ia harus memikirkan bagaimana caranya menjatuhkan Kevin dalam perangkapnya. Bukti DNA, jika ia bisa membuktikan bahwa bayi yang dikandungnya merupakan DNA Kevin, maka sudah dipastikan bahwa Kevin mau bertanggung jawab.


~~


Sesampainya di rumah.


Kevin memandangi Khaira yang nampak puncat, "Istirahatlah,"


"Terus Mas Kevin mau berangkat kerja?" Khaira melihat Kevin masih standby di atas motor.


"Iya, ada kerjaan yang nggak bisa aku batalin," Kevin melihat Khaira nampak kecewa, "Kenapa kamu nggak mau aku pergi?"


Khaira tertegun mendengar Kevin bisa mengerti sedikit kekecewaannya, namun ia lebih memilih menggelengkan kepala, "Aku nggak pa-pa, Mas Kevin berangkat kerja aja. Kalau begitu aku masuk dulu, Mas Kevin hati-hati di jalan."


Dilihatnya Khaira mengambil tangannya, lantas menciumnya singkat. Kevin melihat Khaira berlalu dari hadapan dan menuju teras rumah, ia memperhatikan Khaira sampai istrinya itu benar-benar masuk kedalam rumah.


Kevin menghela nafas panjang, rasanya memang berat. Namun ia harus menjalani pekerjaannya.


Diperjalanan Kevin berpikir untuk datang menemui Erik. Namun, apa jadinya jika Erik menyangkalnya dan kembali menemui Khaira tanpa sepengetahuannya. Ia kenal baik Erik maupun Clara, bahwa ayah dan anak sama saja. Jika sudah mempunyai keinginan pasti harus dan wajib terkabul.


Kevin mengurungkan niatnya untuk menemui Erik.


Lebih baik untuk sementara waktu, gue berpura-pura saja tidak mengetahui rencana Clara maupun Erik. Lalu bermain di belakang dan melindungi Khaira. Gue pengen tau, sejauh apa ayah dan anak itu mempermainkan gue.


~~


Esok harinya...


Tak terasa waktu cepat berlalu, menyongsong hari esok yang baru.


Seperti biasanya, Khaira akan bangun waktu subuh. Setelah menyelesaikan sholat dan bersiap dengan stelan celana panjang hitam dipadukan dengan kemeja kotak-kotak dominan warna hijau army dan hijab warna hitam.


Sebelum terjun ke dapur, hal yang dilakukan Khaira adalah menggiling pakaian dalam mesin cuci. Meskipun ia berpikir mencuci memakai mesin kurang bersih, namun agaknya memang ia membutuhkan alat ini untuk sementara waktu. Karena lukanya dipergelangan tangannya belum sepenuhnya kering total.


Setelah itu, ia menyapu lantai tak perlu mengepelnya. Karena ia merasa dua hari sekali saja sudah cukup. Dan alhamdulillahnya kemarin di bantu Kevin untuk membersihkan rumah.


Kini Khaira tengah sibuk di dapur, untuk menyiapkan sarapan pagi. Diambilnya bawang merah, bawang putih, lalu membuka kulkas dan mengambil telur dua butir serta cabai dan wortel juga daun bawang.


Menunya pagi ini cukup sederhana saja nasi goreng yang dicampur wortel sebagai vitamin A, dengan toping telur dadar pakai irisan daun bawang, biar telurnya berbau sedap. Betul betul betul.


Dua puluh menit Khaira telah siap memasak sarapan pagi. Diingatnya tanaman hias yang belum disirami.


Khaira berjalan menuju halaman depan rumah, ia menarik selang dan menyimkan air ke dahan-dahan pohon bunga mawar yang setinggi dua puluh sentimeter.


Dari dalam rumah, Kevin baru saja terbangun dari tidurnya. Ia mendengar gemericik air dari teras depan rumah. Lalu berjalan menuju pintu yang terbuka lebar, dilihatnya Khaira yang sudah berpakaian sangat rapih sedang menyirami tanaman hias yang beberapa waktu lalu dibeli.


Terkesima, itulah yang tengah Kevin alami melihat eksotisnya wajah berseri alami Khaira.


"Ehem.." Kevin bersandar pada kusen pintu dengan menyilangkan tangannya di depan pintu.


Khaira terkesiap mendengar deheman seseorang, ia mencari sumber suara dan melihat Abang sayur lewat, namun agaknya bukan Abang sayur maupun Abang tukang bubur. Ia kembali fokus menyirami tanaman. Namun terkejut ketika melihat tiba-tiba saja Kevin muncul dihadapannya.


"Astaghfirullah, Mas Kevin?"


Kevin tersenyum kecil melihat Khaira yang terkejut, "Yang berdehem di mana, kamu carinya kemana?"


"Ya habis Mas Kevin ngagetin wae!" Khaira melihat Kevin sekilas.


Kevin melihat Khaira dari ujung kaki sampai ujung kepala, "Kamu rapih kayak gini mau kemana?"


"Kerja.." jawab Khaira spontan.


Kevin membulatkan matanya menatap Khaira, "Kerja? Memangnya lukamu sudah sembuh?"


"Memangnya Mas Kevin lupa aku bicara apa semalam?"




Bersambung

__ADS_1


__ADS_2