
Apartemen stela.
Ting tong....
Ting tong....
Ting tong...
"Itu pasti nenek, sayang."
Ucap stela.
"Ayo kita buka pintu!"
"Bu..., Akhirnya datang juga." Ucap stela yang secara tiba- tiba memberikan safa pada ibunya.
"Eh..., Eh. Stela..., Untung ibu sigap, jika tidak pasti jatuh bersama safa." Ibu stela sedikit heran dengan sikap putrinya yang sedikit berbeda dengan yang lain. Stela tak mengindahkan perkataan ibunya, tetapi pergi begitu saja meninggalkan ibunya.
"Apa safa sedang sakit hingga kau menelepon ibu?"
"Tidak, bu. Tapi stela akan pergi sebentar."
"Pergi...? Jadi kau menyuruh ibu datang untuk menjaga safa?"
" Hihihi..., Maaf bu. Stela akan ke rumah sakit sebentar."
"Ke rumah sakit? Siapa yang sakit? Apa keluarga suami mu ada yang sakit? Kenapa tidak memberitahu ibu? Ibu tak enak dengan jeng ine tak datang menjenguk?"
Beberapa pertanyaan keluar begitu saja saat steka bilang akan ke rumah sakit.
" Ibu ini..., Pertanyaan ibu banyak sekali."
Jawab stela menggelengkan kepalanya.
" Istri bryan kecelakaan bu, jadi stela berniat mengunjunginya."
" Istri bryan? Adik iparmu?"
Sedikit terkejut iya, bagaimana tidak? Ibu stela selaku besan ine belum pernah bertatap muka langsung dengan istri bryan tetapi mendengar kabar yang tidak mengenakkan.
" Heem, bu. Stela pergi dulu ya bu, titip safa. Mas jack tak mengijinkan membawa safa karena masih terlalu kecil."
Stela hanya berpura- pura memberi alasan, meskipun jack memang tidak menyuruh menjenguk atau mengatakan sesuatu.
"Hah..., Iya suami mu benar. Nanti ibu akan berkunjung saat ayahmu pulang dari kantor."
"Ya, bu. Safa..., Mama pergi sebentar ya. Jangan nakal sama nenek!"
Senyum mengembang diwajah mungil baby safa, bocah kecil yang baru berusia beberapa bulan.
Stela berniat mampir ke kantor jack sekedar mengajak makan siang, setelahnya baru berkunjung ke rumah sakit memgunjungi ane.
Stela juga berniat memberi kejutan pada jack untuk memberi sedikit semangat pada suaminya, menghilangkan kecurigaan yang ada di hatinya atas sikap- sikap jack yang berbeda beberapa hari ini.
" Mbak, jack nya ada?"
"Ibu..., Kebetulan ibu kemari. Saya baru saja ingin menelepon ibu karena pak jack tidak ke kantor beberapa hari."
Bagai tersambar petir, rasa tak percaya menyelimuti hati stela. Berharap dengan datang ke kantor stela bisa menghilangkan rasa curiga yang mendalam tetapi justru sebaliknya.
" Tidak ke kantor? Bagaimana mungkin?"
" Benar, bu. Bahkan saya menunda beberapa meeting penting dengan client karena bapak susah sekali dihubungi."
Rasa nya kaki stela tak mampu menopang beban tubuh stela saat mendengar penjelasan sekertaris jack. Bagaimana mungkin jack tak ke kantor sementara ia selalu pamit ke kantor? Lalu..., Kemana jack pergi? Rasa curiga kian menghantui hati dan pikiran stela.
"Oh..., Begitu rupanya. Apa kantor baik- baik saja?"
"Sejauh ini tidak ada masalah, bu. Hanya beberapa client saja yang sedikit cerewet menginginkan pertemuan langsung dengan pak jack. Saya hanya khawatir akan berdampak buruk pada kerjasama perusahaan."
Sekali lagi Stela menghela nafas panjang mendengar penjelasan sekertaris jack.
"Apa bapak sedang sakit bu? Beberapa hari tidak mengabari saya."
" Oh..., Tidak. Hanya jack mengatakan ada sedikit urusan di luar. Saya kira ada urusan kantor."
Stela tak mungkin bilang kalau jack selalu pamit ke kantor bahkan pagi tadi saat jack pulang dan berkata akan kembali ke kantor. Jika stela mengatakan jack berangkat ke kantor akan menimbulkan kecurigaan sekertaris jack.
" Tidak, bu. Kantor baik- baik saja."
"Baiklah, kalau begitu. Jika jack pulang nanti saya akan sampaikan pesan mu padanya."
" Terima kasih, bu."
__ADS_1
Setelah berpamitan pada sekertaris jack, stela turun ke lobby kantor memesan taksi yang kebetulan ada beberapa yang mangkal di sekitar gedung kantor jack.
Dalam perjalanan ke rumah sakit pikiran dan hati stela dipenuhi beberapa pertanyaan dan juga kecurigaan yang selama ini ditepisnya sedikit membuat dadanya sesak.
Stela masih nemikirkan hal tadi saat jack menolak kemesraan yang diberikan nya tak seperti biasanya.
" Apa mungkin jack mempunyai wanita lain? Atau seseorang yang disukainya?"
" Kenapa dadaku menjadi sesak seperti ini?"
" Bagaimana jika benar? Safa masih terlalu kecil."
" Apa ini salah satu yang dikatakan papa hendra? Sepertinya papa mengetahui kalau jack tidak ke kantor."
" Hah..., Apa yang harus aku lakukan? Darimana aku harus mencari tahu semua ini? Sikap- sikap jack yang berbeda?"
" Apa begini nasib pernikahan ku? Janji setia yang kau ucapkan? Hah..., Stela...., tak mungkin jack berselingkuh darimu."
Pikiran stela yang masih berada di alam hayalan tak mendengar apa yang di katakan sopir taksi padanya, kalau mereka sudah sampai dirumah sakit.
"Neng..., Sudah sampai di rumah sakit."
" Oh..., Iya pak. Terima kasih."
Beruntung stela cepat tersadar dari lamunan nya, setelah memberikan uang padanya sebagai biaya taksi stela pun berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Namun, lagi- lagi stela melamun tentang kehidupan nya dengan jack di masa datang.
Entah apa yang dipikirkan stela hingga tersesat di rumah sakit tersebut.
" Aku dimana? Kenapa disini? Hah..., Apa aku melamun lagi?"
"Stela..., Stela..., Ayo sadar dari lamunan mu! Kau datang menjenguk ane bukan melamun."
Gumam stela.
Stela mencoba menghubungi silla, menyuruhnya menjemputnya yang saat ini rupanya berada di depan kamar mayat.
Tak berapa lama silla pun datang menjemput stela yang saat ini sedang duduk di bangku tempat duduk *******- ***** tangan nya.
"Kak..., Bagaimana bisa sampai disini?"
Silla sedikit menghela nafas panjangnya melihat stela duduk di bangku tempat itu.
"Entahlah...? Mungkin kakak melamun."
"Melamun? Hah..., kakak ada- ada saja."
Ucap silla menggandeng kakak iparnya stela.
"Sil..., jadi memang benar ane itu istrimya ian?"
"Iya..., kakak tak menyangkanya kan?"
"Heem."
"Silla juga."
"Kalau tahu seperti itu kenapa menolak dari awal?"
Ucap stela.
" Hihihi...,karena kak ian menyukai kak dena."
" Ih..., sama saja kali sil."
"Hihihi..., safa mana kak?"
"Ada dirumah dengan neneknya, kakakmu tak mengjinkan ke rumah sakit."
"Yah..., sayang sekali."
"Kenapa?"
" Tak bisa gendong."
"Bikin sendiri saja."
Stela menyenggol silla menaik turunkan alisnya.
"Ih..., kakak. Bikin juga nggak secepatnya jadi kali kak."
"Ciyee..., yang tiap hari belah durian."
"Iya..., semua gara- gara kakak dan mama."
__ADS_1
Silla tampak mengerucutkan bibirnya srdikit kesal mengingat kado yang diberikan stela padanya.
"Kok kakak sih, memangnya kakak salah apa?"
" Iya...,kakak ngasih baju jaring- jaring jadi di capit kepiting tiap hari."
"Hahaha..., ups."
Stela tertawa terbahak- bahak ketikaemdengar gerutuan silla, namun stela langsung menutup mulutnya menyadari kalsu mereka berada di rumah sakit.
"Masih jauh, sil?"
"Tidak, itu di depan."
Rupanya memang benar ruang rawat ane tak jauh dari sana.
Ceklek ..
"Ma... ."
Stela dan silla terkejut saling pandang melihat ine keluar dengan bercucuran airmata berlari ke arah taman.
"Kak..., mama kenapa?"
Ucap silla pada bryan sementara bryan hanya mengangkat bahunya.
" Oh..., paling mamamu tak kuat menahan airmata melihat keadaan ane."
Ucap della yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Kak, silla nyusul mama dulu."
" He em."
Stela mengiyakan permintaan silla.
"Tante..., maaf stela baru datang sekarang."
"Tidak apa- apa, stel. Kau kan punya bayi jadi wajar kalau sibuk. Lagipula adik- adik mu siaga disini."
"Duduk, stel!"
" Iya, tante."
"Tante suapin ane dulu."
Melihat ane yang tak bisa mengunyah makanan namun harus tetap makan seperti anak kecil membuat hati stela terenyuh.
"Pantas saja mama nangis."
"Iya, mama mu memang tak kuat melihat semua ini."
Ucap della menghela nafas panjangnya menyelesaikan tugasnya.
"Ne..., tak sangka kalian jodoh masa kecil."
Ucap stela memegang tangan ane.
"Cepat sembuh ya, ne. Kakak hanya bisa mendoakan mu."
Setelahnya stela duduk di sofa di samoing della dan bryan berbincang tentang kesehatan ane.
Sementara silla yang berhasil menemukan sang mama yang saat ini tengah menangis, mendekatinya dan duduk disampingnya.
"Ma..., silla tahu mama sangat sedih dan merasa bersalah. Tapi..., coba mama pikir! Kalau mama tetap seperti ini apa kak ane akan kembali seperti semula?"
"Kak ane butuh dukungan ma, bukan kesedihan."
"Mama yang menyebabkan semua terjadi, sill. Mama seorang yang jahat."
"Sudahlah, ma. Menyalahkan diri sendiri tidak ada gunanya, akan semakin membuat kesehatan mama menurun. Sedangkan kak ane butuh orang menjaganya."
"Apa dengan terus menerus bersedih bisa menebus kesalahan mama? Lebih baik menemani kak ane."
"Kak ane akan sedih melihat mama seperti ini."
Ine menghentikan isakan nya melihat putei kecilnya sudah tumbuh dewasa, berpikir sangat bijaksana.
"Mama tak menyangka putri mama sudah dewasa."
"Jelaslah. Silla juga sudah menikah dan mama sebentar lagi punya cucu."
"Apaaa?"
__ADS_1
Bersambung🙏😊