Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Ane cidera


__ADS_3

Di rumah sakit.


Silla maupun ian berjalan mondar- mandir rak tentu arah, merasa sangat khawatir dengan keadaan ane yang masih di dalam ruang unit gawat darurat ditangani dokter.


Silla merasa cemas dengan kakak ipar sekaligus kedua baby twins, tetapi silla juga memendam kemarahan atas sikap mama nya.


Bryan menghubungi kedua orang tua ane memberitahu kalau ane kecelakaan dan sekarang berada di rumah sakit ditangani dokter.


Tak berapa lama rafa datang bersama tante widya, disusul mahendra dan juga ine di belakang nya.


"Ian..., sil..., bagaimana keadaan ane?"


Mahendra menghampiri putra dan putrinya yang tengah bersandar di tembok satu sama lain, posisi berhadapan.


"Masih di tangani dokter, pa."


Ucap ian.


Berbeda dengan silla yang menatap tajam pada mama nya karena merasa semua ulah mamanya bahkan silla memendam amarah di dalam hatinya.


"Untuk apa mama datang kesini?"


Ucap silla dengan nada sedikit keras.


"Mama masih belum puas membuat kak ane bersedih bahkan kecelakan."


Mahendra dan widya saling pandang dengan sikap yang silla tunjukkan, terlebih rafa dan juga bryan sendiri.


"Mama penyebab kecelakaan ane? Apa maksudmu, silla?"


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


Ucap mahendra.


"Papa tanya saja pada mama! Yang menginginkan wanita lain sebagai menantu baru papa."


Ucap silla memalingkan wajah nya ke arah lain.


"Wanita lain sebagai menantu, maksudnya? Ma...?"


Mahendra menatap nanar pada istrinya yang menundukkan kepala nya.


"Maafkan mama, pa. Mama tidak sengaja."


Ucap ine menyentuh pergelangan tangan mahendra.


"Tidak sengaja? Papa tidak mengerti."


"Hiks..., hiks..., hiks."


Tangis ine pecah saat mahendra bertanya lebih jelas lagi. Widya menghampiri ine mengajaknya duduk diruang tunggu agar lebih tenang.


"Sudah, mbak."


Ucap widya pada ine.


"Wid..., kamu sudah datang kan waktu kejadian?"


Mahendra menatap pada adiknya berharap ada jawaban dan juga mengetahui hal yang sebenarnya.


"Wid hanya melihat dena lari sambil menangis, mas. Kejadian sebenarnya wid kurang tahu."


Ucap widya yang membuat ineswe semakin terisak.


"Kenapa mama tidak bilang? Mana suara lantang yang sama sewaktu mengenalkan perempuan itu?"


Ucap silla secara lantang.


"Sil..., jangan begitu mama mu juga syok mengetahui dena kecelakaan."


Widya masih membela kakak ipar nya sewaktu silla berbicara sedikit keras seolah menyudutkan ine.


"Halah..., semua hanya drama saja."


"SILLA... ."


Suara lantang papa nya membuat semua orang menatap ke arah silla maupun mahendra.


" Papa..., tak perlu berteriak pada silla. Istri papa ini penyebab utama menantu papa kecelakaan."


Baik ian maupun rafa saling berpandangan dengan sikap silla yang sangat marah dengan mama nya.


"Bagaimana bisa dia membawa perempuan lain dan mengenalkan nya di depan istri sah kak ian?"


"Jika terjadi sesuatu pada kak ane dan baby twins, silla tidak akan memaafkan mama."


Ucap silla pergi berlalu begitu saja meninggalkan ruang unit gawat darurat.

__ADS_1


Ian menyenggol lengan rafa memberi isyarat menaikkan alisnya untuk mengejar silla. Rafa mengerti dengan isyarat tersebut menganggukkan kepala nya mengejar silla.


" Apaa..., baby twins? Jadi..., ane sedang mengandung? Wid..., aku tak kan bisamemaafkan diriku sendiri kalsu terjadi sesuatu pada ane."


Ine tampak sangat syok mengetahui kebenaran kalau sang menanti tengah hamil.


"Sudah, mbak kita berdoa saja."


"Ne..., yang dikatakan silla tidak benar kan?"


Semua orang terkejut mendengar suara sendu della yang datang bersama wijaya ketika mereka berhenti menghampiri keluarga mahendra akibat kemarahan silla.


"Della...?"


Terlebih ine yang menoleh sekaligus menghampiri della memegang kedua pergelangan tangan nya.


"Tidak seperti itu, del. Semua hanya salah paham dan juga karena kesalahan ku juga."


Ucap ine menundukkan kepala nya tepat di depan sahabatnya.


"Jadi benar? Kau ingin putri ku menerima madu yang kau sodorkan?"


Ucap della menitikkan air mata.


"Tidak..., tidak..., tidak del."


Ine mengangkat tangan nya menyangkal perkataan della.


"Dulu..., aku tidak merestui putriku karena janji ku padamu. Tapi setelah mendengar kau tidak mempermasalahkan nya dan mendukung putra putri kita dengan pasangan masing- masing, aku merestui mereka."


"Wijaya memberitahu kalau bryan adalah putra mu saat dalam perjalanan kesini. Rasa bahagia kalau ternyata kita berbesan menyelimuti hatiku meskipun ane tak sedang baik- baik saja."


"Tapi saat aku mendengar perkataan silla, runtuh seketika dunia ku ne. Dan aku tak menyangka kau akan berbuat seperti itu."


"Tidak..., tidak..., tidak del. Semua salah paham."


Ucap ine tetap meyakinkan della.


"Memamg semua salah ku karena kesalahpahamanku, tapi aku tak berniat memberi madu untuk ane. Apalagi ane kesayangan ku dari kecil."


Ucap ine yang duduk di sebelah della.


"Waktu itu aku sengaja datang ke penthouse ian, dan menemukan gadis itu di depan pintu rumah nya. Aku mengira kalau gadis itu adalah istri ian dan terlebih gadis itu tak mengatakan apapun."


"Aku begitu bodoh, percaya dengan setiap ucapan nya. Hingga membuat kesalahan sebesar ini karena nya."


"Aku mengira semua orang akan senang dengan kejutan ku yang ku pikir telah menemukan istei ian, tapi ternyata aku tertipu dengan wanita itu."


Ine merutuki kebodohan nya sendiri, menundukkan kepala nya.


"Apaa..., jadi yang dikatakan silla benar?"


Mahendra setengah berteriak berdiri menatap ine yang berada di samping della. Seketika otang- orang yang berada disana mengalihkan oandangan nya pada mahendra.


"Pa..., maafkan mama."


Mahendra tak menyangka yang dikatakan putri bungsu nya benar dan rasa sesal menyelimutinya karena membentak atau setengah berteriak padanya.


Ine dengan cepat berlari mendekati mahendra yang tersulut amarah.


"Papa tidak menyangka, mama tega melakukan semua itu."


" Tidak, pa. Seperti yang mama katakan gadis itu menipu mama."


Ucap ine.


"Tapi tidak seharusnya mama bicara seperti itu di depan orang lain, apalagi di depan mantu papa."


"Pa..., mama salah. Maafkan kebodohan mama."


"Del..., maafkan aku."


"Sudahlah, semua sudah terjadi ne. Kita doakan saja ane dan kedua cucu kita baik- baik saja."


Ucap della menarik tangan ine yang bersimpuh di depan nya.


"Papa tidak akan memaafkan mama jika terjadi sesuatu dengan mereka."


Ucap mahendra.


"Hee..., sudahlah. Semua juga salah kita merahasiakan kebenaran mereka."


Wijaya menengahi kemarahan mahendra pada istrinya.


"Tapi tidak dengan sembarangan percaya pada orang."


"Keluarga denada saputri."

__ADS_1


Seorang dokter yang keluar dari instalasi unit gawat darurat mencari keberadaan keluarga ane.


"Iya, dokter."


"Bagaimana keadaan denada?"


Ucap bryan berharap cemas.


"Anda...?"


"Saya suaminya, dokter."


"Kami semua keluarganya, dokter."


Ucap widya yang menyela ketika melihat semua orang akan membuka mulut.


"Oh..., begini. Ibu denada telah lepas dari masa kritis, tapi ada hal penting yang harus saya bicarakan dengan suaminya."


Ucap dokter tersebut.


"Silahkan ikut ke ruangan saya!"


Ucap dokter mempersilahkan bryan.


"Baik, dokter."


"Apa saya boleh ikut dokter?"


" Anda...?"


"Saya papa nya."


Ucap wijaya.


"Saya papa mertua nya."


Mahendra tak mau kalah ingin mengetahui hal penting yang akan mereka bicarakan.


"Baiklah, silahkan."


"Pa..., mama ikut."


Ine yang merasa bersalah juga ingin mengetahui hal apa yang akan di bicarakan dokter.


"Tidak! Mama disini saja."


"Mbak..., sudahlah."


Widya mengajak ine kembali duduk di sebelah della yang masih termenung syok dengan apa yang terjadi dengan putrinya.


"Begini pak, ibu denada mengalami cidera di bagian kepala. Bisa jadi setelah siuman, ibu denada akan mengalami kelumpuhan."


"Apaaa...., kelumpuhan?"


Mahendra berteriak hampir tak percaya yang dikatakan dokter. Berbeda dengan yang menundukkan kepala atau pun dengan wijaya yang menghela nafas panjang.


"Iya, pak. Dan untuk memastikan kelumpuhan tersebut, kita harus melakukan seramgkaian tes selanjutnya."


"Bagaimana dengan baby, dokter?"


"Kedua baby twins sejauh ini baik- baik saja, pak."


"Baiklah, dokter. Terima kasih telah mengupayakan yang terbaik untuk putri ku."


Ucap wijaya.


"Sama- sama, pak."


Wijaya mengajak bryan maupun mahendra keluar dari ruang dokter tersebut, kembali ke ruang tunggu instalasi gawat darurat dimana ane nasih terbaring lemah disana.


Wijaya tampak menepuk pundak sahabat nya maupun pundak bryan atas apa yang terjadi.


"Kau harus kuat atas musibah yang terjadi."


Ucap wijaya pada menantunya bryan.


"Iya, pa."


"Bagaimana aku harus kuat kalau yang menyebabkan semua nya adalah oma nya sendiri?"


Ucap mahendra.


"Hen..., kau tak perlu terus menerus menyalahkan istrimu. Mungkin ini sudah suratan takdir kalau kita harus kuat menjalaninya."


"Tetap saja, hen."


"Pa..., papa wijaya benar. Doakan saja ane secepatnya segera pulih!"

__ADS_1


Ketiga nya berjalan beriringan menuju instalansi gawat darurat yang mana ane belum sepenuhnya sadar, namun persiapan akan di pindahkan ke ruang rawat inap setelah bryan mengurus semua administrasi.


Bersambung🙏😊


__ADS_2