
Khaira mengalihkan atensinya yang semula menatap jalanan yang nampak licin, kini melihat Mita, “Kemana?”
Mita menampol pundak sepupunya yang lupa akan perbicangan saat istirahat siang, “Masa lo lupa yang gue bilang tadi siang, gue pengen ngajakin lo main ke pusat perbelanjaan, lagian kan Kevin udah ngabarin lo kalau dia nggak bisa jemput,”
Khaira merasa malas, “Jauh nggak?”
Mita menggeleng, “Nggak jauh, cuma lima belas menit dari sini,”
Khaira merasa sangat malas untuk mengikuti Mita, “Pusat perbelanjaan, seperti mol?”
Mita mengangguk, “Yap betul!”
Khaira menghela nafasnya, “Males! Lagian aku belum gajian, ntar kalau mata ku jelalatan ngeliatin barang bagus, aku cuma ngiler doang, karena nggak punya uang, dan di sana kan pasti mahal-mahal, ”
“Kita cuma lihat-lihat aja. Lagian lo kan di kasih duit ama Kevin, apa udah habis?” tanya Mita, ia berjalan menuju motornya yang terparkir khusus parkiran karyawan.
Khaira pun menyusul Mita, “Belum aku pakai malah, aku takut. Dan aku merasa aku nggak punya hak buat ku pakai beli kebutuhan ku, aku kan bukan istri sungguhan Mas Kevin,”
Mita memberikan helm kepada Khaira, “Lo gimana sih, hampir sebulan lo nikah sama Kevin, dan lo belum merasa jadi istri dia. Jangan bilang lo belum ngapa-ngapain sama pria itu?”
Khaira bingung atas perkataan Mita, “Ngapa-ngapain apa maksud kamu, Mit?”
Mita mendengus kesal, ia memang tahu jikalau sepupunya itu pintar di sekolah. Tapi kenapa bisa dungu jika soal asmara dan perasaan, “Ya ciuman, atau hubungan in-” ucapan Mita terhenti kala telapak tangan Khaira sudah mendarat di bibirnya.
“Sshhuut, kamu bisa nggak sih Mit jangan bicara soal begituan di tempat umum, suaramu itu kan cempreng!” hardik Khaira melepaskan tangannya dari bibir Mita, agar sepupunya tidak melanjutkan pembahasan yang menurutnya sensitif jika sampai di dengar orang lain.
“Ya udah ayo, lo mau ikut apa kagak?”sentak Mita sambil mengusap bibirnya dari bekas tangan Khaira.
Dengan sangat terpaksa, Khaira pun ikuti apa kemauan Mita, ia pun membonceng sepupunya yang sudah lebih dulu stan by di atas motor matic nya.
~~
__ADS_1
Di perjalanan menuju pusat perbelanjaan, Khaira mengamati jalanan yang licin. Ia juga mengamati deretan gedung-gedung yang ia lalui.
Dan benar apa kata Mita, bahkan tak sampai lima belas menit. Keduanya telah sampai di parkiran luar pusat perbelanjaan khusus pengendara motor.
Khaira pun menadahkan wajahnya menatap tingginya gedung yang ada di sekitarnya. “Apa gedung-gedung ini hanya mol, Mit?”
“Bukan hanya mol doang, ada di sebelahnya gedung tinggi itu,” Mita menunjuk gedung yang tepat bersebelahan dengan gedung mol yang menjadi tujuannya, “Itu apartemen mewah, hanya di miliki orang-orang elit saja,” jelas Mita ia pun mulai berjalan mendahului sepupunya yang masih saja terheran-heran melihat gedung tinggi menjulang.
Khaira manggut-manggut tipis, ia mengerti desa dan kota memanglah berbeda 180 drajat, kalaupun ada gedung tinggi itu hanya di beberapa titik pusat kota Jogja. Ia menyusul Mita, namun ada yang menarik perhatiannya.
Matanya secara tidak sengaja menangkap seseorang yang mirip seperti suaminya. Ralat! Kevin, iyah pria itu memanglah suaminya, tapi bukan suami sungguhan. Ia terus mengamati seseorang yang mirip sekali dengan Kevin.
Khaira melupakan Mita yang terus saja berjalan menuju pintu masuk pusat perbelanjaan. Ia justru teralihkan perhatiannya untuk mengikut pria yang berjalan dengan tergesa-gesa. Khaira melihat orang yang mirip seperti Kevin keluar dari parkiran pusat perbelanjaan dan berjalan menuju gedung yang dikata Mita adalah apartemen mewah.
Berjalan dan terus berjalan mengikuti orang yang mirip seperti Kevin, Khaira dibuat sangat penasaran benarkah itu Kevin? Atau hanya orang yang sekedar mirip.
Sampai pada saatnya pria yang Khaira ikuti masuk kedalam lobi apartemen yang berkelas dan mewah. Khaira terus berjalan dengan jarak yang lumayan jauh dari pria itu, saat orang itu memasuki sebuah ruangan kecil Khaira sempat bingung.
“Yah, ruangan kecil itu bernama lift. Aku pernah lihat di film-film Hollywood yang pernah ku tonton.” monolognya dalam hati. Setelah lift tertutup Khaira secepatnya keluar dari tempat persembunyiannya, dan melihat nomor 21 yang tertera di atas pintu lift yang membawa Kevin.
Tanpa malu Khaira meminta pada seorang wanita di sebelahnya, “Mbak tolong bisa pencetkan nomor 21 nggak?”
Wanita yang berdiri tepat disebelah Khaira, menatapnya dengan tatapan aneh. Khaira melihat jarinya yang terlilit perban putih.
“Tolong Mbak, jari saya terluka kena pisau tadi siang.” ia bersyukur tergores pisau bisa menjadi alasannya agar tidak berbohong sedang mengikuti seseorang.
Meskipun aneh, namun wanita ini pun menerima alasan dari wanita berjilbab yang berdiri disebelahnya.
“Di sini, memang benar. Lo'lo, gue'gue. alias ora urus! [Nggak perduli]” cetus Khaira dalam hati.
Selama menunggu kurang lebih lima menit, ia pun sampai ke lantai nomor 21. Ia sempat pusing berada di ruangan pengap seperti lift tadi. Khaira pun keluar dari lift sama seperti ia masuk kedalam lift, ia melompat lagi. Yang Khaira takutkan, kakinya akan terjepit di pintu lift yang terbuka dan menutup secara otomatis.
__ADS_1
Sebelum pintu lift tertutup kembali, Khaira mengucapkan terimakasih kepada wanita yang telah memencetkan nomor 21, “Makasih.” setelah itu, pintu lift pun tertutup.
Khaira cukup terkejut kala melihat pria yang mirip seperti Kevin juga keluar dari lift, ia cepat-cepat menyembunyikan diri dengan cara berjongkok di samping pot tanaman hias yang berbahan dasar plastik.
Setelah pria itu lewat, Khaira menoleh kearah pria itu, ia merasa seperti agen mata-mata yang sedang membuntuti seorang bandar narkoba. “Dengan cara apa aku membuktikan kalau itu bukan Mas Kevin?” gumamnya sambil berpikir dengan mata yang masih terus mengawasi pria itu yang sedang berjalan melewati deretan pintu.
“Telfon! Iyah telfon!” cetus Khaira, ia segera mengeluarkan ponsel dan menghubungi nomor Kevin. Panggilan pun terhubung bersamaan pria itu yang menghentikan langkahnya.
“Halo!” suara dari sebrang telepon membuat jantung Khaira berdegup kencang.
“Benarkah orang itu Mas Kevin?” benaknya bermonolog. Khaira melebarkan tatapannya menatap kepada pria yang juga sedang mengangkat panggilan telepon.
“Halo.”
Deg... Khaira mendengar suara di sambungan telepon, “Ma-mas Ke-vin ada di mana se-sekarang?”
Pria itu nampak gelisah dari gesture tubuhnya terlihat, ia menoleh ke kanan dan ke kiri.
“Lagi ada di tempat kerja, kenapa?” suara Kevin tersambung di telepon.
Entah mengapa Khaira merasa sensasi terbakar dalam dirinya, ada rasa pedih yang tergores di sana, di lubuk hatinya.
“E-nggak pa-pa!”jawabnya singkat, lantas Khaira mematikan sambungan telepon secara sepihak. Dan ia melihat begitu juga oleh pria yang sedang ia tatap.
Terlihat pria itu berjalan lagi dan sampailah di depan pintu. Seorang wanita cantik nan seksi sudah menyambut pria itu.
Pria yang Khaira sangka adalah Kevin lantas masuk kedalam kamar apartemen mewah.
Khaira duduk bersimpuh dilantai mewah apartemen, ia merasa seluruh tubuhnya lemah seolah tak bertulang. “Jadi pria yang ku lihat itu, benar kamu Mas Kevin?”
__ADS_1
Bersambung..