Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Pembahasan Adam dan Hawa


__ADS_3

Seorang wanita berpenampilan kebaya sedang duduk di teras rumah joglo. Tidak ada seorang pun yang mau mendekat ataupun berteman dengannya.


Dikarenakan wanita ini berkulit hitam, berwajah pas-pasan serta terlihat tidak menggairahkan. Maka tempatnya tinggal hanyalah di rumah joglo kecil.


Ketika suatu hari ada seorang pria lewat, pria rupawan nan tampan menghampiri si buruk rupa dan ingin meminangnya.


Alangkah bahagianya si buruk rupa, ketika semua orang menjauh ada seorang pria gagah, rupawan nan tampan ingin mempersuntingnya.


Pada saat sang pria yang datang bagaikan seorang pangeran akan mendekat dan mencium wanita si buruk rupa.


Si buruk rupa juga memanyunkan bibir pecah-pecahnya.


~


Kevin sedang memandangi Khaira yang sedang tertidur pulas, dilihatnya Khaira yang senyum-senyum, dalam pikiran Kevin berspekulasi bahwa Khaira pasti sedang bermimpi sesuatu yang menyenangkan, sampai tidur pun tersenyum.


Namun lama-kelamaan Kevin melihat Khaira memanyunkan bibirnya, dengan inisiatifnya sendiri, ia mencium bibir Khaira yang mengerucut.


Padahal dalam mimpi Khaira, pangeran mencium si wanita buruk rupa. Namun alam bawah sadarnya, mempertanyakan mengapa seolah wanita si buruk rupa adalah dirinya. Ia merasakan ciuman sang pangeran yang dialamatkan pada si buruk rupa.


Kevin terbawa suasana, ia memejamkan mata dan membalas ciuman Khaira yang semakin dalam.


Khaira mengernyitkan keningnya, alam bawah sadarnya berkata, "Kenapa semakin nyata?" lamat-lamat ciuman sang pangeran semakin terasa seperti nyata.


Seketika itu juga Khaira membuka matanya dan melihat Kevin yang sedang menciumnya detik itu juga Khaira melepaskan pautan bibirnya dan menjauhi Kevin, sampai tersudut di ranjang.


Kevin terkesiap, namun ia hanya memasang seringai senyuman jahilnya melihat Khaira yang nampak gusar. Berbaring miring, tangannya ia gunakan untuk menjadi tumpuan kelapa. "Halo My Delf.." sapanya sembari mengerlingkan matanya menatap Khaira.


"Ma-mas Kevin!" kejut Khaira seperti tersengat aliran listrik bertegangan tinggi melihat Kevin yang tiba-tiba menganggu mimpi serta berada di atas ranjang dengan santainya menyangga kepala dengan tangan.


Muaachh.... Kevin menggoda Khaira dengan memberikan kiss dari jarak jauh, dan tersenyum melihat raut wajah Khaira yang menampilkan mimik wajah bingung, "Kenapa kamu bingung istriku, aku ini suamimu. Bukan jelmaan pangeran... Kamu nggak perlu sekaget itu, apa aku ini sudah seperti pangeran, hm?"


Khaira mengusap bibirnya kasar, ia tak menyangka mimpinya akan menjadi nyata, "Se-sejak kapan Mas Kevin pulang? Te-terus kenapa bisa Mas Kevin a-da di sini?" gagapnya menatap Kevin seksama.


Hahhh... Kevin merebahkan tubuhnya ke ranjang, diusapnya bibirnya dengan lembut, "Menggoda."


Khaira menelan ludahnya melihat Kevin yang seperti orang gila.


"Kamu mimpi apa tadi?" Kevin mengalihkan posisi berbaringnya menjadi telungkup, ia mendekati Khaira yang sedang duduk dengan menekuk kedua lututnya.


"Bu-bukan urusan mu!" kata Khaira galak.

__ADS_1


Kevin hanya mengangkat kedua alisnya, "Ya ya terserah, tapi akibat mimpimu itu, kamu akhirnya mau mencium ku tanpa adanya paksaan," ucapnya santai.


Khaira menelan ludahnya, matanya membulat sempurna melihat Kevin dengan menampilkan mimik wajah yang seperti tiada dosa, Khaira hendak turun dari tempat tidur namun tidak semulus yang di harapkan. Kakinya terpeleset di antara kelinan seprei membuat pergelangan tangannya yang terluka menghantam kerasnya lantai.


"Aaahhh..." erang Khaira kembali merasakan sakit yang luar biasa sampai-sampai merasa seperti tulangnya terlepas.


Kevin langsung beranjak dari atas tempat tidur, ia hendak membantu Khaira yang terjatuh. Namun Khaira menghalau tangannya.


"Mas Kevin tetap di sana, jangan mendekat!" kata Khaira memperingati Kevin.


Alhasil Kevin duduk di lantai dan memandangi Khaira yang terlihat kesakitan.


"Kamu itu kenapa keras kepala? Bukan hanya keras. Mungkin kepala kamu itu isinya bukan otak, tapi batu," kata Kevin santai, seraya bersandar pada samping tempat tidur.


Khaira melirik Kevin tajam, ia memegangi pergelangan tangannya yang sangat-sangat terasa sakit, "Terserah kamu mau anggap aku kepala batu, atau batu kepala!"


Melihat raut wajah Khaira yang menampilkan mimik wajah masam, membuat Kevin seolah dialah yang terluka, "Apa sangat sakit?"


"Iya!" sahut Khaira singkat.


"Sini gue lihat?" tawar Kevin menyodorkan tangannya yang terbuka di hadapan Khaira.


Khaira melirik tangan Kevin dan beralih melihat wajah Kevin yang menurutnya menyebalkan, "Nggak perlu!" ia lantas duduk di depan meja kecil berjarak satu meter dari Kevin dilihatnya amplop cokelat. Lalu kembali melihat Kevin yang masih terduduk bersandar pada samping tempat tidur, "Siapa wanita yang sudah kamu campakkan?"


Khaira membulatkan matanya sempurna menatap Kevin, "Dasar playboy!"


Terkejut mendengar umpatan dari Khaira, Kevin beranjak dari duduk dari lantai, "Aku nggak playboy, hanya merekanya aja ya GEER. Walaupun aku suka sama cewek juga pilih-pilih kali. Apalagi soal cinta,"


"Dengar yah Mas Kevin, mau kamu yang playboy atau banyak wanita yang menyukaimu, kenapa harus aku yang menjadi sasaran mereka? Sampai-sampai datang ke rumah?!" kata Khaira mengingat Clara yang telah melayangkan ancaman.


Kevin kembali dibuat kebingungan dengan perkataan Khaira, "Maksud kamu apa? Tolong jangan mengucapkan kalimat penuh dengan teka-teki, ingat seorang pria diciptakan bukan untuk menebak isi kepala perempuan,"


"Dan ingat Mas Kevin, perempuan diciptakan untuk menemani hidup dari seorang pria. Perempuan diciptakan bukan untuk disakiti ataupun di lukai,"


"Tapi ingat Khaira, Hawa yang telah membujuk Adam untuk memakan buah khuldi, dan membuat Adam terusir dari surga! Dan Hawa adalah perempuan, maka perempuan lah yang seharusnya diwaspadai," Kevin semakin dibuat bingung dengan perkataan Khaira, entah pembahasan apa yang sebenarnya akan diutarakan oleh istrinya.


Netra Khaira membulat sempurna melihat Kevin. "Kenapa jadi membahas soal Adam dan Hawa? Sepertinya pembahasan kita sudah melebar kemana-mana,"


Kevin mengerjap-ngerjapkan matanya, bingung mengapa demikian yang jadi pembahasan, "Ya habis kamu mulai duluan!"


Khaira mengusap pergelangan tangannya yang dirasa sakit, "Pernahkah kamu mendengar dengan seksama kisah Adam dan Hawa, agar kamu nggak salah mengasumsikan bahwa Hawa lah yang salah?"

__ADS_1


Kevin terdiam, melihat raut wajah Khaira yang nampak kesal. Kemudian ia bertanya, "Ya udah ceritakan biar aku nggak gagal faham?"


Khaira kemudian beranjak, lalu duduk di kursi depan meja rias. "Alasan Mengapa Hawa Tercipta Saat Adam Tidur | Dalam berbagai riwayat diceritakan bahwa ketika Adam diciptakan oleh Allah dan ditempatkan di surga, dia merasa kesepian karena nggak ada kawan. Surga yang begitu luas hanya dia sendiri yang menghuninya. Karena itu Adam memohon kepada Allah agar diberikan seorang teman.


Ketika Adam sedang terlelap tidur, Allah mengambil 1 (satu) tulang rusuk Adam untuk menciptakan manusia lain sebagai teman bagi Adam. Hadirlah Hawa di samping Adam..."


Kevin melihat Khaira dengan seksama.


Dilihatnya Kevin masih diam. Khaira kembali berkata, "Ada pertanyaan yang muncul kemudian. Mengapa Hawa yang tercipta dari tulung rusuk Adam ini diciptakan Allah ketika Adam tertidur? Inilah alasannya. Seorang laki-laki jika dia kesakitan, maka dia akan membenci..."


Kevin masih terdiam, tak sedikit pun ia memotong perkataan sang istri yang sedang menjelaskan peranan Hawa diciptakan dari diri yang satu yaitu Adam.


Sorot matanya tak seperti semula, ada perasaan yang membuatnya merasakan sedih, Khaira menunduk seraya memilin jari jeraminya, "Sebaliknya wanita, saat dia kesakitan, maka semakin bertambah sayang dan cintanya. Seandainya Hawa diciptakan dari Adam saat Adam terjaga, pastilah Adam akan merasakan sakit keluarnya Hawa dari sulbinya, hingga dia membenci Hawa. Akan tetapi Hawa diciptakan dari Adam saat dia tertidur, agar Adam tidak merasakan sakit dan tidak membenci Hawa. Berbeda dengan seorang wanita...."


Kevin melihat Khaira dengan seksama yang sedang menjeda ucapannya, ia melihat Khaira mulai menunduk lusuh. Seolah ada beban di kepala sehingga Khaira menghentikan perkataan di ujung lidah.


Sebersit ingatan seorang Ibu membayang dalam benak Khaira, suaranya pun kian mengecil, "Wanita akan melahirkan dalam keadaan terjaga, melihat kematian dihadapannya karena proses melahirkan itu, namun dia akan semakin sayang dan cinta kepada anak yang dilahirkan, bahkan ia rela menebusnya dengan kehidupannya."


Sekumpulan air mata menggenang di pelupuk matanya menjadi bendungan air yang lamat-lamat mengalir seperti anak sungai yang bermuara di pipi. Secepatnya Khaira menghapus air matanya yang luruh tanpa permisi.


Kevin menghampiri Khaira, yang seperti sedang menghapus air mata di pipi yang kadung sudah dilihat olehnya, ia berlutut di hadapan Khaira yang sedang duduk di kursi tunggal meja rias.


Jari Ibu dan jari telunjuknya memegang dagu Khaira, dilihatnya dalam diam Khaira menangis. Kevin melihat kelopak mata Khaira yang menggenang air bening yang siap kembali menetes.


Khaira mengerjapkan matanya, sampai air matanya menetes di ibu jari Kevin yang sedang memegang dagunya.


"Nggak semua air mata menandakan kekecewaan dan kesedihan. Akan tetapi air mata juga bisa menggambarkan kebahagiaan, jadi menangislah jika kamu mau menangis, bahkan kamu boleh menangis sembari jejeritan." ucap Kevin, berniat ingin menghibur Khaira yang mungkin saja sedang mengingat sang Ibu yang telah pergi entah kemana.


Khaira terdiam, ia bersitatap dengan mata seorang pria yang mempunyai sorot mata tajam di hadapannya. Mendengar ucapan Kevin yang seperti lawakan, Khaira tersenyum dan menjadi kekehan kecil.


Melihat Khaira tertawa kecil dengan kelopak mata yang masih basah. Membuat Kevin itu tertawa dan secara refleks memeluk Khaira.


Terbawa oleh suasana oleh kehangatan yang dihadirkan Kevin, Khaira membalas pelukan Kevin, "Terimakasih sudah menghiburku, maaf jika aku sok menggurui mu, Mas Kevin. Soal kisah Adam dan Hawa."


Kevin masih tersenyum simpul di balik punggung Khaira, ia mengangguk, "Tak mengapa, aku senang, justru kamu membuka pikiran ku mengenai sudut pandang Hawa menjadi lebih terbuka, dan kini aku merasa sudah menemukan tulang rusukku,"


Khaira mengurai pelukannya, bersitatap dengan sorot mata tajam Kevin, "Tapi siapa Clara?"



__ADS_1


Bersambung


__ADS_2