Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Dasar perusuh


__ADS_3

Bukan tanpa alasan, salah satu pasien yang masih terjaga, serta keluarga pasien lain yang sedang menjaga kerabatnya berkata seperti itu pada seorang pria yang keluar, karena sejak Khaira dibawa masuk ke ruang rawat.


Mereka melihat seorang pria yang masih berada di dalam kamar rawat inap dan sedang duduk di kursi samping pasien wanita yang belum lama masuk ruang rawat inap ini, nampaklah sangat mengkhawatirkan kondisi si wanita yang masih memejamkan mata, dan mengira jika keduanya merupakan pasangan.


Kevin duduk di kursi samping brankar, sembari terus menggenggam tangan Khaira yang tidak di infus, diusapnya lembut jemari tangan Khaira.


Dilihatnya perban yang melilit bagian pergelangan tangan kiri istrinya, lantas mengalihkan atensinya melihat ke tangan kanan Khaira yang tertancap selang infus.


Kevin juga melihat pakaian putih Khaira nampak berlumuran darah. Ia menerka-nerka, pasti dengan adanya darah segar yang membasahi kemeja putih Khaira, lukanya cukup dalam.


"Khaira, maafin gue, kalau seandainya saja gue jemput lo terlebih dulu, dan nggak langsung berurusan untuk menemui Erik, pasti lo nggak bakalan terluka kayak gini." Kevin bergumam lirih. Di pejamkan kepopak dalam-dalam yang serasa memanas, ada rasa sesal yang teramat sangat mendalam.


Sedetik kemudian Kevin membuka matanya, dipandanginya dengan seksama wajah Khaira yang masih setia terpejam. Terlihat tenang dan damai, pikirnya.


Muncullah stigma dalam pikiran Kevin, bahwasanya bisa saja Khaira sedang bermimpi di suatu mimpi yang indah nan menyenangkan. Sehingga Khaira enggan membuka mata.


Teringat kata (Trauma) saat mendengar penjelasan perawat wanita yang sempat dilihat Kevin bernama (Heni Astuti) yang tertera di tanda pengenal sebagi petugas medis di rumah sakit ini.


Trauma apa yang di alamai Khaira, adakah kaitannya dengan para medis di waktu Khaira kecil atau para medis yang mungkin saja Khaira pernah menjalani perawatan medis di masa lalu.


Hemm... entahlah. Kevin masih terus memantau pergerakan mata Khaira. Biar nanti ia tanyakan saja pada saat Khaira sudah siuman.


"Ra, sekarang lo lagi mimpi apaan?" Kevin bertanya dengan suara yang lembut, sambil memegang tangan Khaira diusapnya perlahan.


"Biar gue tebak, saat ini lo lagi bermimpi di padang rumput hijau nan luas, dipenuhi dengan bunga-bunga warna-warni, serta kupu-kupu yang indah berterbangan kesana kemari? Atau lo sedang bermimpi memandangi wajah gue yang tampan ini” Kevin meracau dengan suara seperti berbisik pelan, ia menyandarkan separuh tubuhnya mendekati wajah Khaira yang pucat.


Diangkatnya tangan kanan lalu menggenggam jemarinya, dan disisakannya hanya jari telunjuk, lantas mencolek hidung Khaira yang tidak terlalu mancung juga tidak pesek, sangat lembut ia menyentuh hidung Khaira dan merunut di kening, ke pipi dan kini ke bibir Khaira.


Terlintas bayangan pada saat Kevin mencium bibir Khaira dengan sangat memaksa. Penolakan demi penolakan Khaira lontarkan membuat hasratnya semakin menggebu-gebu.

__ADS_1


Namun Kevin sadari, bisa saja alasan Khaira ingin menjauhkan diri karena ia terlihat menakutkan bagi istrinya. Mungkin saja Khaira ingin di sentuh oleh seseorang yang mencintai jiwa bukan nafsu.


Kevin menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Tak terasa buliran air hangat keluar dari kelopak mata dan membasahi pelipisnya. Secepatnya Kevin mengusap air matanya.


"Dih, kenapa gue sampai nangis lagi?"


Masih ditatapnya dengan tatapan sendu, Khaira tak kunjung membuka mata.


"Kalau elo nggak segera membuka mata, maka jangan salahkan gue. Gue bakal membuat kerusuhan di dalam mimpi lo. Gue bakal babat habis semua bunga-bunga, lalu gue keringkan buat dijadiin teh herbal, dan nasib kupu-kupu malang, bakal gue masukkan kedalam sebuah pajangan dinding yang sudah gue awetkan, serta padang rumput yang hijau, bakal gue jadiin lapangan terbuka dan lapangan gersang, serta bakal gue bangun club' diskotek mewah, dan menggemakan musik sekencang-kencangnya, biarin burung kagak berkicau dan bertelur, biar habis dah tuh burung kagak ada keturunan!”


Kevin meracau dengan suara ditekankan, namun masih dengan suara pelan. Ia menundukkan pandangan melihat punggung tangan Khaira yang tidak begitu putih sembari membayangkan bahwa mimpi Khaira seperti apa yang diucapkannya barusan.


Khaira sudah membuka mata dan mendengar ocehan Kevin yang seperti burung Lovebird. Ditatapnya Kevin yang menunduk sedang mengusap tangannya yang digenggam oleh Kevin. Khaira mendengar semua yang di katakan Kevin tentang mimpi.


"Dasar perusuh!" Khaira berkata dengan nada tegas tapi masih pelan.


Karena merasa sangat senang, Kevin langsung saja beranjak dari duduknya dan mengecup kening istrinya.


"Aku sangat bersyukur akhirnya kamu siuman." kata Kevin sumringah. Seulas senyuman mengembang di kedua sudut bibirnya yang menawan.


Berulang kali Khaira mengerjap-ngerjapkan matanya menatap dan melihat reaksi Kevin yang nampak sangat senang, "Jangan tersenyum, selama kamu masih membuatku takut!" tegasnya berkata dengan suara pelan.


Kevin menggeleng singkat, "Aku nggak akan membuat mu takut lagi."


Khaira mengalihkan atensinya menatap plafond putih rumah sakit. "Kamu pernah berkata nggak akan pernah menyentuhku, tapi kamu melakukannya. Kamu sering melanggar aturan yang kamu buat sendiri."


Lagi-lagi Kevin tersenyum, mendengar ucapan tegas nan dingin Khaira, ia menyadari ada sesuatu yang terasa sangat-sangat membuatnya bahagia, meskipun dengan cara sesederhana ini.


"Aku akan melanggar semua aturan ku, dan akan aku tarik semua ucapan yang pernah aku katakan. Kini aku dibebaskan untuk menyentuhmu." kata Kevin melihat Khaira dari sisi kanan wajah gadis yang sedang menatap plafond putih rumah tangga.

__ADS_1


Mendengar perkataan Kevin membuat Khaira spontan mengalihkan atensinya, tatapan bertemu pandang dengan manik mata cokelat Kevin.


Khaira gemas sekali terhadap Kevin, rasa-rasanya ingin sekali menarik dan mengikat bibir Kevin yang terlihat lebam dan ada bercak darah.


"Kenapa lagi tu wajah?" tanyanya tegas melihat raut wajah Kevin yang tak melepaskan senyuman.


Kevin menyadari bahwa ia belum mengobati luka-lukanya, "Oh ini, tadi habis ketemu sama preman,"


"Berantem lagi?" celetuk Khaira. "kenapa masih aja senyum, nggak ngerasa sakit tuh bibir? Kenapa nggak jadi Spiderman aja biar merayap di dinding kayak cicak!" omel Khaira seperti biasanya, jika sudah melihat Kevin pulang dengan wajah lebam-lebam.


Kevin semakin senang hati. Kala mendengar, bercanda, dengan segala ocehan yang sering nggak jelas bersama dengan Khaira, melihat wajah manis Khaira, yang kalau tersenyum menampakkan gigi gingsul. Membuat Kevin benar-benar terlena.


Meskipun tidak, atau belum ada sentuhan yang berbau-bau keintiman. Kevin menyadari, bukanlah suatu hal yang harus ia lakukan, meskipun dalam sebuah hubungan, apalagi sebuah pernikahan, ciuman dan keintiman adalah hal yang wajib.


Tapi Kevin tak lagi mau memaksa Khaira, ia ingin istrinya itulah yang menyerahkan diri sepenuhnya.


Baginya kini, dapat berada disisi Khaira, sudah membuatnya kadang menjadi salah tingkah, dan bahagia. Kevin senang, dengan adanya luka di pergelangan tangan Khaira, maka istrinya itu tidak jadi pindah.


Kevin akan jadikan itu sebagai alasan agar Khaira tetap berada di rumahnya. Dan yang paling penting dalam sebuah hubungan adalah kebersamaan, meskipun kadang secara fisik tidak sedang bersama, namun hati selalu setia.


"Kubilang jangan tersenyum!" hardik Khaira yang masih melihat senyuman menghiasi wajah menawan Kevin, ia selalu merasa debaran hatinya tak beraturan kala melihat senyuman semenawan itu, dari wajah Pria berambut hitam legam.


"Kan aku lagi bersyukur, aku bersyukur karena senyuman ku yang bisa membuatmu takut, karena keberadaan ku yang membuat mu gelisah, aku suka itu, aku juga yakin, aku hadir dalam mimpimu dan membuatmu takut, lalu kamu pun sadar, haha.” ocehan Kevin yang tidak jelas.




Bersambung

__ADS_1


__ADS_2