Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Limited edition 2


__ADS_3

"Penculik...?"


Kedua bangun seketika mendengar kata penculik, mengingat beberapa hari yang lalu silla di culik orang tak dikenal.


"Siapa yang diculik bi?"


"Baby safa... ."


Silla gelagapan bangun dari sofa berlari ke kamar baby safa, sementara stela ke kamar nya.


"Sil...,baby safa tidak ada."


"Di kamarnya juga tidak ada, kak."


''Apaa..., tidak ada? Aduh..., cepat telepon kakakmu!"


"Iya, kak."


"Bi..., bibi..., bibi."


Stela berlarian mencari keberadaan pembantu paruh waktunya. Sedangkan sang bibi yang mendengar panggilan stela, terburu- buru menutup pintu dengan keras.


Derrr...


Rafa mengernyitkan dahinya mendapat penolakan bibi yang bekerja di rumah stela, mengira dia seorang penculik. Karena stela memang belum memberitahu bibi kalau silla sudah menikah. Tetapi rafa tak lantas pergi begitu saja, melainkan menunggu di depan pintu saat mencoba menghubungi silla tapi ternyata ponsel silla sedang sibuk.


"Iya, non."


"Kemana sih bibi? Baby safa tidak ada."


Stela yang panik tak melihat safa dalam gendongan bibi.


"Ikut stela sekarang! Kita harus ke security mengecek cctv siapa yang datang ke rumah."


"Tapi non..., baby."


"Tidak ada tapi- tapian."


Belum sempat bibi menjelaskan, stela sudah menggandeng bibi keluar rumah.


Ceklek...


"Rafa..., kenapa ada disini? Tidak masuk? Oh..., kebetulan kau datang. Ikut kakak melapor pada security! Baby safa hilang."


Rafa mengerutkan dahinya jetika stela memberitahu kalau baby safa hilang, sedangkan safa berada di dalam gendongan bibi. Sejenak rafa berpikir kalau stela mengalami banyak pikiran atau depresi bahkan mungkin baby blues mengira baby safa hilang.


"Kak rafa..., kenapa tidak menelepon silla kalau sudah datang?"


Ucap silla muncul dari dalam ruangan.


"Oek..., oek..., oek."


Kedua wanita muda itu menoleh ke arah sumber suara yang mana safa berada di dalam gendongan bibi.


"Safa... ."


" Baby safa."


Cup..., cup..., cup.


Stela meraih safa dari gendongan bibi memeluknya sangat erat, bahkan membuat baby safa semakin menangis.


"Kak..., baby mungkin lapar."


Ucap silla yang akhirnya menyadarkan stela membawa bayi kecil itu masuk ke dalam rumah di ikuti silla dan juga rafa, serta bibi yang bekerja paruh waktu di rumah silla.


Setelah kenyang menyusui safa, safa tampak sedikit ceria dengan senyum nya. Tapi tidak dengan stela yang sedikit murung bahkan terlihat sedikit marah, yang akhirnya memanggil bibi meminta penjelasan nya.


Setelah beberapa saat menjelaskan, rupanya stela yang terlalu panik hingga tak memperhatikan sekitarnya. Dan juga karena rasa khawatir yang berlebih hingga tak mendengarkan penjelasan bibi terlebih dahulu.


Rasa lega pun dirasakan keduanya baik stela maupun silla, ternyata safa baik- baik saja.


Ceklek...


"Sayang, gimana baby safa? Sudah lapor security?"


Jack datang dengan wajah paniknya, bahkan terlihat sangat cemas mendengar berita safa hilang. Yah, stela memang menyuruh silla menghubungi jack setelah mencari baby safa tak berada di kamarnya bahkan setelah mencari ke beberapa tempat.


"Lah...,ini baby safa."


Ucap jack setelah melihat safa dalam gendongan stela.


"Sayang papa tidak apa- apa?"


Jack meraih safa lalu menggendong serta menciumi bayi kecil yang hanya bisa tersenyum dan menangis itu.


"Maaf, kak. Silla dan kakak ipar ketiduran, mendengar suara penculikan jadi kami gugup. Mencari baby safa tak ada dimana- mana."

__ADS_1


Ucap silla.


"Maaf, ya sayang. Mama tak melihat bibi gendong baby."


Ucap stela mengusap lengan jack.


"Kemesraan ini..., janganlah cepat berlalu!"


Ucap silla dengan nada setengah bernyanyi, namun rafa menyenggol lengan silla.


"Sstts."


"Hihihi."


"Bagaimana ceritanya safa tak terlihat?"


Ucap jack.


"Maaf, den. Bibi yang salah, mendengar baby menangis ya bibi gendong saja ketika melihat non stela dan non silla tertidur."


Ucap bibi.


"Nah.., saat bel berbunyi bibi ajak membuka pintu. Ternyata den rafa. Bibi belum pernah bertemu den rafa jadi bibi teriak saja ada penculik. Hihihi."


"Saat non bangun, tiba- tiba mengajak bibi ke lantai bawah melapor. Nah..., bibi jadi bingung karena non stela tak mau mendengar penjelasan bibi."


Ucap bibi melanjutkan ceritanya.


"Kamu ini ma, kalau tidur di kamar disamping baby. Biar nggak bingung, kebiasaan nonton drakor."


Ucap jack.


"Hihihi..., iya papa sayang. Maafin mama ya."


"Cieee..., yang sudah mama papa."


"Hust."


Lagi- lagi rafa menyuruh silla diam, khawatir kakaknya akan bertambah marah.


"Nanti kamu juga akan begitu. Makanya cepat- cepat unboxing!"


Bisik stela yang rupanya terdengar rafa.


Huk... huk...


"Minum kak!"


"Ciee..., yang nggak sabar unboxing."


"Ih..., kak stela apaan sih."


Gumam silla.


"Kak, rafa pamit dulu ya. Rafa ada acara nobar dengan teman kampus."


"Kok buru- buru fa? Belum juga makan bareng?"


Ucap jack.


"Masih ada lain waktu, kak."


Jawaban rafamembuat stela sedikit senyum devil yang entah apa maksudnya.


"Ciee..., nobar atau nggak sabar?"


Stela mulai mengejek adik iparnya, mungkin karena mereka masih pengantin baru atau juga karena bentuk balas dendam stela yang sering di ledekin silla waktu pengantin baru.


"Hust..., sayang. Biarkan mereka punya waktu berdua untuk saling mengenal! Lagi pula wajar kalau nggak sabar namanya juga pengantin baru. Sama seperti kita dulu."


Awalnya saja jack melarang stela mengejek adiknya tapi nyatanya sama saja, hingga membuat silla ternganga mendengarnya.


"Apalagi kalau sudah dapat, kakakmu tidak mau turun dari ranjang."


Ucap jack menggerak- gerakkan alisnya ke atas melirik pada rafa dan silla. Stela ikut mencebirkan bibirnya juga menggerakkan hidungnya ke atas sedikit kesal karena jack menceritakan sedikit kisah mereka.


"Iya..., karena kau yang tak mengijinkan nya. Hingga safa berada di perutku."


Ucap stela berlalu pergi mengambil paperbag untuk barang yang diberikan pada silla.


"Nih..., jangan lupa di pakai! Limited edition."


Ucap stela.


"Terima kasih, kak. Kami pamit dulu."


"Hati- hati di jalan!"

__ADS_1


" Iya, kak."


Rafa dan silla menghilang dibalik pintu apartemen mereka yang mana mereka bernafas lega tak mendengar petcajapan absurd kedua kakaknya.


Rafa melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dan juga diam seribu bahasa tanpa membahas apapun dengan silla.


" Loh..., kok ke arah rumah kak? Nggak jadi nobarnya?"


" Nggak sayang."


"Oo."


Rafa sedikit tersenyum melihat wajah silla yang sedikit murung, tetapi tak mengatakan apapun.


Rupanya bukan tanpa alasan rafa nengajak pulang tapi ternyata kedua mertuanya menunggu mereja di depan rumah. Mahendra memang mengirim pesan akan mampir ke rumah mereka juga ingin melihat keadaan putrinya.


"Papa..., mama."


Silla berhambur memeluk papanya daripada mamanya hingga protes dilayangkan ine pada pada putri bungsunya itu.


"Hei..., anak nakal. Mama disini.'


"Hihihi..., silla maunya peluk papa."


"Awas ya, mama akan balas!"


Ucap ine melihat tingkah putrinya padanya.


"Kakak..., mama nakal."


"Eh..., ngadu lagi. Mentang- mentang sudah punya suami."


"Silahkan masuk ma..., pa."


Rafa sedikit terkekeh geli mendengar sikap manja istrinya begitu juga mahendra.


"Bagaimana keadaan mu sayang? Apa kau baik- baik saja?"


Ucap mahendra.


"Apanya yang tak baik, putrimu sebentar lagi akan memberikan cucu untuk kita."


"Mamaaa."


Silla sedikit berteriak mendengar ledekan mamanya.


"Iya, kan?"


Bukan berhenti mengejek silla, tapi ine justru semakin menjadi.


"Mamaa..., apaan sih. Malu tahu."


"Apanya yang malu? Seperti mama dan papa tak pernah muda saja."


"Hah..., terserah mama lah."


Akhirnya silla mengalah pada ine agar mamanya itu diam tak semakin banyak berbicara, apalagi beliau mengetahui saat mereka unboxing.


Silla rupanya pergi ke dapur membuatkan minuman untuk jedua orang tuanya dan juga suaminya.


"Ma..., tumben mampir? Tadinya silla ingin ke rumah mama."


"O ya...? Ke rumah mama? Tak bulan madukah?"


"Mamaaa."


Sekali lagi silla berteriak atas ejekan mamanya, merasa sedikit kesal.


"Tunggu saja, kalau semua persiapan sudah selesai. Mama akan menangis merindukan silla."


"O ya? Ada dua kakakmu."


"Baiklah, kita tunggu saatnya."


"Lagi pula siapa suruh tak mengunci pintu, unboxing enak lagi sill. Biar mama cepat dapat cucu."


"Mama ini, cucu terus. Sudah ada baby safa."


"Kan lain, sill. Mama maunya darimu ."


"Ogah, mama bikin adik lagi saja."


"Apaaa..., adik? Mama kan sudah tua sayang."


"Mengaku kalau sudah tua?"


" Hihihi..., iya. Sudah tumbuh uban."

__ADS_1


Entah apa yang diperbincangkan mahendra dan rafa terlihat serius, sedangkan silla mengobrol sedikit absurd atau percakapan orang dewasa.


Bersambung😊🙏


__ADS_2