Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Kau separuh ku


__ADS_3

Tak terasa waktu berlalu begitu saja, senja telah tiba. Setelah menyelesaikan segala urusan yang terbilang cukup padat, dari bengkel ke studio musik. Seperti janjinya pagi tadi, sebelum Kevin akan berangkat ke diskotek tempat barunya bekerja.


Ia akan menjemput Khaira. Namun, tidak seperti hari-hari sebelumnya, kali ini Kevin menjemput Khaira masih agak sorean, semburat warna jingga masih terlihat di ufuk barat.


Sekilas Kevin memandangi awan-awan putih berkumpul seperti jumpatan-jumpatan kapas yang melebur menjadi satu-kesatuan dengan semburat merah keemasan.


Hari-harinya kini tidak lagi gamang, tidak lagi merasa kehampaan. Namun pada saat kembali berpikir bahwasanya kehadiran Khaira sebagai pelipur hampa atau cinta? Masih belum sempurna ia membedakan. Atau mungkinkah cinta akan hadir karena terbiasa? Ataukah hadir seiring berjalannya waktu? Hemm entahlah, Kevin merasa sekarang ini lebih enjoy daripada sebelum hadirnya Khaira.


Sesampainya di parkiran restaurant, Kevin turun dari motornya. Dan berjalan menuju restauran. Namun, sebelum memasuki restauran ia melihat Khaira keluar dari dalam restoran, terlihat membawa dua kantong plastik berukuran jumbo.


Kevin heran, apakah Khaira kini telah beralih fungsi kerjanya sebagai pengantar delivery? Karena dilanda penasaran, ia lantas menghampiri Khaira yang terlihat sangat kesusahan dengan mata menundukkan pandangan kearah dua kantung plastik besar warna merah.


"Apa ini?" tanya Kevin, dilihatnya Khaira yang sepertinya terkejut karena belum menyadari keberadaannya.


"Astaghfirullah, Mas Kevin ngagetin wae!" seru Khaira langsung menatap Kevin yang sudah berdiri dihadapannya.


"Apa sekarang ini, kamu udah beralih fungsi kerjanya, nggak lagi jadi waiters?"


"Hah maksud Mas Kevin?" tanya Khaira belum ngeh apa yang sedang ditanyakan Kevin.


"Iya, sekarang kamu udah jadi pengantar pesanan?" tanya Kevin lagi.


Khaira hanya menggeleng, "Enggak,"


"Lha terus buat apa makanan sebanyak ini? Ini nasi kotak kan?" tanya Kevin lagi, masih dengan perasaan heran.


"Aku..." sahut Khaira, dilihatnya Kevin yang terlihat kebingungan.


"Hah, perasaan nggak sebanyak ini kamu makan?" masih dengan keheranan, Kevin yang tidak mengerti akan pikiran Khaira.


"Mau bantuin bawa nggak?" ujar Khaira, melihat Kevin sejak tadi hanya bertanya tentang kantong plastik yang dibawanya.


"Iya, kamu belum jawab, kamu beli kotak nasi banyak banget, kayak mau ada perayaan?” tanya Kevin masih dengan mode heran.


"Aku dapat diskon dari Bos Rezki. Dan aku juga udah minta izin supaya pulang lebih awal. Aku nggak nyangka Bos Rezki baik banget," ucap Khaira memuji Bos-nya yang telah berbaik hati.


Ada yang mencubit hati Kevin, kala mendengar Khaira menyebut nama pria lain, apalagi disertai dengan pujian.


"Oh, jadi karena dapet diskon, jadi lo beli banyak banget makanan. Gue juga bisa beliin lo makanan yang lebih banyak dari ini! Biar lo jadi Khaira bolo-bolo!” kata Kevin tidak mau kalah menunjukkan sifat sombongnya.


"Hemm, sombong nih, ceritanya. Aku tau Mas Kevin banyak duit, bukan cuma ganteng doang!” jawab Khaira.


"Baru nyadar, kalau gue ganteng?" bangga Kevin pada dirinya sendiri.


Khaira menggidik pundaknya mendengar sombongnya Kevin keluar.


"Mas Kevin udah sholat?” kata Khaira bertanya.


"Udah, di masjid dekat sini," jawab Kevin, akhir-akhir ini, Khaira mengingatnya untuk sholat. Ia lalu mengambil kantong plastik yang dipegang Khaira.

__ADS_1


"Alhamdulillah,” balas Khaira. Lalu berjalan ke parkiran motor, dimana Kevin memarkirkan motornya.


"Terus Mas Kevin udah makan?" tanya Khaira lagi, sembari berjalan.


"Udah juga," balas Kevin lalu menyusul Khaira yang jalan mendahuluinya, "terus kotak nasi ini buat apa?" Kevin bertanya kembali, dikarenakan belum mendapatkan jawaban dari Khaira.


"Nanti juga Mas Kevin bakal tahu, ayo udah jalan sekarang," jawab Khaira.


"Baiklah, baiklah." seperti halnya saat tadi pagi, Kevin dengan telaten memasangkan helm, dan tak lupa mengaitkan tali helm agar aman.


Kini dengan susah payah Khaira membonceng motor dengan memeluk kantong plastik berukuran jumbo samping pahanya.


Kevin masih tidak mengerti akan dibawa kemana semua kotak-kotak, yang dibawa oleh istrinya. Tak berselang lama, akhirnya ia pun mengerti. Setelah Khaira memintanya untuk menghentikan laju motornya, di depan seorang (maaf) pengemis.


"Stop Mas Kevin." ujar Khaira agar Kevin menghentikan laju motornya.


Khaira turun dari boncengan dan memberikan satu kotak berisikan nasi catering dari restoran Rezki kepada pengemis dan gelandangan yang kerap kali ia jumpai tatkala berangkat dan pulang bekerja. Ia sungguh miris melihat (maaf) pengemis dan gelandangan di jalanan. Ada yang sudah terlihat sepuh, ada juga wanita yang menggendong anak-anak mereka untuk mencari belas kasih dari orang-orang yang lewat, dan tak sedikit pula anak-anak yang mengamen di jalanan.


Dengan di bantu Kevin, semua kotak nasi telah habis dibagikan kepada pengemis, tukang ojek yang mangkal dan seorang pengamen dan beberapa gelandangan yang temui.


~~


Kini setelah selesai membagikan nasi kotak, haira duduk di kursi depan supermarket berlogo biru kuning seraya menelpon Abah. Ia juga sedang menunggu Kevin berbelanja dalam supermarket.


Didalam supermarket, Kevin terus melihat luar supermarket. Dilihatnya Khaira yang sedang duduk seraya menelpon seseorang.


Mengagumi? Barangkali satu kata itu yang menjadi tolak ukurnya dalam hati. Bahwa ada energi positif Khaira ada di kehidupannya. Kevin tersenyum kecil menatap Khaira, istrinya yang ia nikahi karena terpaksa. Akan tetapi lamat-lamat kata terpaksa itu menjadi?


Setelah memilih beberapa minuman botol, Kevin membayar di meja kasir lalu segera keluar dari dalam supermarket, diamatinya Khaira yang sedang memanggil Asep di sambungan telepon namun tak lama Khaira menyadari keberadaannya dan mengakhiri percakapan di sambungan telepon.


"Ehem.." dehem Kevin, ada yang mengusik hatinya. Entah apa, tapi rasanya sangat pedih. Ia lantas duduk berhadapan dengan Khaira.


"Apa tadi Asep?"


Khaira mengangguk singkat.


Kevin manggut-manggut, dan menaruh kantung plastik berisi kemasan minumam botol.


"Minumlah, gue rasa setelah berbincang-bincang di telepon membuat lo sakit tenggorokan," ucap Kevin menatap Khaira sedetik kemudian membuang tatapannya menatap jalanan.


Khaira melihat wajah Kevin yang nampak murung. Mungkinkah cemburu? "Tadi Asep hanya menanyakan kabarku, hanya itu."


Masih menatap lalu lalang kendaraan, Kevin menegaskan rahangnya. Membersamai dengan menghela nafas panjang, "Kenapa lo nggak bilang kalau mau membagi makanan? Kan gue bisa ikutan berpartisipasi,"


Khaira melihat beberapa minuman botol, dan melihat wajah Kevin yang segan melihatnya, "Aku sudah bernazar setelah mendapatkan gaji pertamaku. Aku akan berbagi makanan walaupun sedikit. 50 nasi kotak yang telah di diskon sama Bos Rezki. Awalnya aku enggan untuk memberitahu Bos Rezki atas niatku yang sudah bernazar. Namun Bos Rezki curiga dan memaksaku untuk berkata jujur, jadi Bos Rezki menambahkan lagi 50 kotak nasi untuk dibagikan, total semua 100 nasi kotak."


Mendengar cerita yang disampaikan Khaira, Kevin mengalihkan atensinya. Kali ini ia menatap Khaira intens, "Lain kali ikut sertakan aku juga, jangan sungkan,"


"Dengan senang hati." tukas Khaira menjawabnya senang, "Lalu malam mingguan pertama kita kemana?" tanyanya tentang rencana Kevin yang mengajaknya malam mingguan.

__ADS_1


"Maunya kamu?" tanya Kevin menurut keinginan Khaira.


Khaira menggidik pundaknya, "Entah, aku nggak tau seluk beluk kota ini?"


Kevin beranjak dari duduknya, "Baiklah, ikut aku."


"Kemana?" Khaira antusias.


"Ke suatu tempat yang mengasikkan." jawab Kevin, menggandeng tangan Khaira.


"Tunggu sebentar!" sebelum pergi, Khaira membereskan minuman botol yang dibeli Kevin, lantas membawanya bersama dengan kantung plastik.


~~


Sepuluh menit telah berlalu, kini Kevin mengajak Khaira untuk mengunjungi sebuah pertunjukan musik live di salah satu pusat kota.


Duduk berhadapan dengan Khaira, seraya menikmati suasana malam yang cukup ramai dan musik live yang disajikan oleh penyanyi di atas panggung yang hanya setinggi lutut.


"Siapa di sini yang ingin ikut bernyanyi?" tanya seorang MC kepada para pengunjung.


Seorang pria mengangkat tangannya, ia lantas berjalan ke atas panggung.


Seorang MC bertanya kepada pria yang telah berdiri disebelahnya, "Siapa namanya Mas?"


"Damar, nama saya Damar Mangkulangit." jawab Damar.


"Wow terdengar nama yang sangat hebat, nama saya Rara, Mas Damar" seru sang MC bernama Rara, lalu memberikan mic kepada pria bernama Damar, "Mas Damar mau nyayi lagu apa?"


"Separuhku," jawab Damar.


"Separuhku yang dipopulerkan oleh band Nano. Pemilihan lagu yang sangat bagus untuk dipersembahkan untuk seseorang yang kita sayangi, kalau boleh Rara tau. Lagunya untuk siapa Mas Damar?" tanya MC.


"Untuk istri saya tersayang, Nawang Wulan. Terimakasih sudah mau menjadi istri ku, dan melengkapi hidupku, kini kamulah separuhku." kata Damar seraya menunjuk seorang wanita yang sedang hamil besar sedang duduk di deretan kursi pengunjung.


Wulan tersipu malu.


"Wah, wah... bisa langsung semperin saja Mas Damar, Mbak Wulan nampak malu-malu." kata MC Rara.


Empat pria pengiring lagu pun mulai mengalun musik.


Damar turun dari atas panggung, berjalan menuju sang istri dan mencium singkat kening Wulan tanpa risih kepada pengunjung yang hadir, ia lantas bernyayi di depan Wulan, wanita yang dinikahinya satu tahun lalu, "Senyuman terlukis di wajahku. Di saat ku mengingat kamu. Tawamu, manjamu, membuatku rindu. Tak sabar ingin bertemu. Suara lembut menyapa aku. Lembutnya, selembut hatimu. Tulusnya, setulus cinta padaku. Kusadar beruntungnya aku. Hidupku tanpamu. Takkan pernah terisi sepenuhnya. Karena kau separuhku. Berbagi suka duka. Saling mengisi dan menyempurnakan. Karena kau separuhku..."


Terkesima itulah yang tengah Wulan rasakan, ia tak menyangka setahun menjadi istri Damar. Baru kali ini suaminya menyanyikan lagu untuknya didepan khalayak ramai. Niatnya datang ke kota metropolitan menemani Damar berbisnis sekalian menemui keluarga besarnya yang sebagian besar ada di kota ini.


Bukan hanya wanita yang bernama Wulan, Khaira juga terkesima melihat seorang suami menyanyikan lagu yang sangat romantis untuk istrinya, "Ya Allah romantisnya..." tanpa sadar ia menggenggam tangan Kevin.


Dilihatnya tangan Khaira yang menggenggam tangannya, Kevin membalas dengan menggenggam tangan Khaira.


__ADS_1



Bersambung


__ADS_2