Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Kembange wong turu


__ADS_3

Abah sedang melihat putrinya duduk di atas pelaminan, seulas senyuman kebahagiaan terpancar dari raut wajah Khaira yang nampak sangat cantik berseri-seri, anggun dengan dibalut pakaian pengantin adat Jawa.


Namun, Abah teramat sangat samar dalam melihat seorang pria yang menjadi pendamping hidup Khaira, yang kelak akan menjadi imam untuk putri satu-satunya.


Abah mengucek netra tuanya guna memastikan bahwa penglihatannya belumlah sepenuhnya bermasalah, namun tetap saja. Abah melihat pria yang mendampingi putrinya di atas pelaminan samar-samar.


Mendadak angin kencang memporak-porandakan area yang dijadikan penyediaan tamu undangan, seketika berubah senyap, cuaca yang semula terlihat cerah berubah menjadi suram sedikit lebih gelap.


Rasa khawatir menyeruak membuat Abah beranjak dari duduknya dan ingin menghampiri putrinya, beliau memanggil-manggil Khaira yang masih duduk di atas pelaminan, bahkan tak terlihat lagi pria yang semula mendampingi Khaira.


“Khaira Ningrum!” Abah berseru dan langsung terbangun dari tidurnya juga beranjak duduk, netra Abah langsung dihadapkan kepada kakinya yang masih tertutupi selimut.


“Astaghfirullah, hanya kembange wong turu. Alhamdulillah."


Beliau menyadari bahwa dirinya telah bermimpi tentang putrinya yang jauh di kota. Abah mengusap wajahnya yang keriput dikarenakan waktu telah mengikis masa mudanya. Gelisah dan resah menghinggapi perasaan Abah tentang putrinya yang sudah hampir satu bulan tidak dilihatnya.


Beliau lantas melihat jam menunjukkan pukul tiga dini hari di dinding kamar, Abah menyibakkan selimutnya. Beliau berniat berwudhu untuk menenangkan pikirannya yang gelisah, beliau juga tidak ingin mimpinya itu berubah menjadi kesengsaraan untuk anaknya.


Karena bagi Abah seberat apapun cobaan, maka hanya Allah-lah tempat meminta pertolongan dan perlindungan dari segala perbuatan yang tidak diinginkan.


Sholat malam pun dilaksanakan, sangat khusyuk sampai menetes air mata di pipi keriputnya, bahwa beliau mengharap keridhaan dari Sang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.


Doa pun dipanjatkan, suara dipelankan. Telapak tangan yang sudah renta di tadahkan.


“Bismillah, semoga Allah setiap langkah putri hamba, sehingga apapun yang dilakukan putri hamba Khaira Ningrum menjadi berkah, dan apapun yang putri hamba usahakan


~~


Pagi pun menyingsing, cahaya matahari menembus celah-celah dedaunan mangga. Menyoroti tanah yang lembab serta berlumut.


Abah duduk di dipan belakang rumah, bertemankan segelas teh hangat yang masih mengepul. Ditatapnya empang ikan lele yang beliau pelihara.


Dedaunan meliuk-liuk tertiup semilirnya angin pagi ini, membersamai dengan burung berkicau ria. Suasana pagi yang masih sangat asri. Sebulan memang berbeda dari hari-hari sebelumnya.


Dimana akan ada pisang goreng ataupun singkong goreng buatan putri semata wayangnya untuk mengganjal perut dikala pagi. Akan tetapi, sebulan terakhir ini terasa sepi dan sunyi senyap yang Abah rasakan. Demi menghindarkan Bonar dari Ningrum, maka rela tidak rela Abah menyuruh anaknya itu pergi dari rumah.

__ADS_1


Bahkan setelah Ningrum pergi pun, Bonar masih sering menanyakan tentang Ningrum kapan pulang. Maka Abah segan tidak segan akan mengancam Bonar menggunakan goloknya agar membuat Bonar jera.


Namun ancaman Abah sama sekali tak digubris oleh Bonar si lintah darat. Entah apa yang terjadi di dalam otak Bonar, apa kemauan dan keinginan si lintah darat itu? Mungkinkah hanya menganggap Ningrum seperti putrinya? Atau ada maksud terselubung?


Abah menghela nafas panjang, menyelaraskan rasa rindu kepada putri satu-satunya. Meskipun setiap hari Ningrum selalu menelepon, akan tetapi tetap saja tidak ada yang membuatkan wedang teh di pagi hari.


~~


Pisang goreng tersaji di meja dapur rumah Kevin. Seperti halnya saat Khaira di kampung, maka akan sibuk di dapur ketika pagi hari menjelang. Kebiasaan itu sudah ia mulai sejak usia sepuluh tahun.


Khaira melamun menatapi pisang goreng yang masih panas, teringat akan orang tua tunggalnya, "Apa Abah sudah membuat wedang teh?"


Rasa-rasanya Khaira merasa kasihan jika membayangkan Abah yang harus tinggal seorang diri, bahkan ketika Khaira mengatakan keinginan pulangnya, Abah selalu melarang, dengan alasan Paman Bonar masing sering datang ke rumah.


Kendati demikian Abah sudah sering mengancam akan menebas leher Paman Bonar, namun kata Abah, Paman Bonar sama sekali tak merasakan takut.


"Aku harus apa? Nggak mungkin selamanya aku akan terkurung di sini? Aku kangen jualan ayam, aku kangen kampung halaman, aku kangen pengen ke sawah cari kiong buat pakan bebek, aku juga kangen Asep." Khaira menghela nafas panjang menyelaraskan kegundahannya.


"Ada apa sama Paman Bengek itu? Kenapa dia selalu menganggu hidupku? Apa salahku sama dia? Kan urusan ibu bukanlah urusanku? Kenapa aku yang dikejar-kejar seolah aku mempunyai hutang pada lintah darat itu? Aku merasa geli sendiri, kalau mengingat Paman Bengek? Kenapa malaikat mau membiarkan orang seperti Paman Bengek tetap hidup." gumam Khaira lirih, "astaghfirullah jahatnya aku menyumpahinya."


~~


Malam ini ia memang tidak bekerja seperti biasanya. Kevin sudah berpikir sepanjang malam, bahwa ia akan keluar dari diskotik milik Erik. Ia tidak ingin lagi berurusan dengan Erik maupun Clara.


Ia juga tidak mau, jikalau Erik mempertanyakan tentang apa yang terjadi. Biarlah Clara sendirilah yang menjelaskan kepada Ayahnya.


Kevin teramat sangat kecewa, jika bukan Clara pastilah ia sudah melaporkan tindakan jahat gadis yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri ke pihak kepolisian.


Tapi apalah daya, ia tak tega untuk memenjarakan seorang wanita, apalagi Clara.


Berpikir panjang tentang Erik serta Clara, dan sudah mendapatkan pekerjaan baru di diskotek Boleros, Kevin lantas keluar dari kamar. Ia mencium bau yang sangat enak dari dapur. Namun Kevin merasakan sensasi kekeringan dalam tenggorokannya. Ia rasa butuh air untuk meredakan rasa hausnya.


Berjalan menuju dapur, setelah sampai didapur, Kevin melihat Khaira sedang duduk di kursi meja makan, sepertinya memang tidak menyadari kehadirannya.


Diambilnya gelas dari dalam lemari dapur, lalu menuangkan air dari dispenser, lalu menenggaknya sampai tandas.

__ADS_1


Kevin memiringkan kepalanya melihat Khaira dari samping, sepertinya memang Khaira sedang melamun dan tidak baik-baik saja. Ia berinisiatif mendekati dan mencium pipi Khaira singkat.


Khaira terhenyak, ia memegangi pipinya dan melihat Kevin sudah ada di sebelahnya, "Mas Kevin?"


Kevin tersenyum kecil menatap Khaira, benar apa dugaannya bahwa Khaira memang sedang melamun, "Pagi?" dilihatnya Khaira mengusap pipi bekas ciumannya.


"Mas Kevin kenapa selalu saja mengagetkanku? Apa itu memang kelebihan mu? Setelah semalaman suntuk mengganggu tidurku?" kata Khaira, diingatnya lagi. Kevin membujuk dengan mengatakan ingin tidur bersama. Tentu saja Khaira langsung mengunci pintu kamar, namun tak mudah untuk lolos dari gangguan Kevin, beberapa kali Kevin menggedor-gedor pintu kamar. Sampai pada waktu hampir tengah malam.


"Hehehe..." kekeh Kevin mengingat keusilannya semalam, "habis siapa suruh kamu nggak buka pintu kamar, bahkan aku bisa mengganggu tidurmu sampai pagi, tapi beruntunglah kamu, karena aku nggak tega," kata Kevin, ia mengambil pisang goreng yang tersaji di meja.


Khaira berdecih heran menatap Kevin dengan mata memicing, "Masih bertahan manggil aku dengan sebutan aku-kamu? Nggak lagi kaku tuh lidah? Jangan harap setelah panggilanmu berubah, maka aku akan melupakan semua perbuatan burukmu padaku, jangan harap?"


Kevin manggut-manggut, seraya meresapi rasa enaknya pisang goreng yang sedang dikunyahnya, "Ya ya ya, agaknya memang akan sulit membuatmu luluh,"


"Kenapa semalam nggak pergi kerja?" tanya Khaira penasaran dikarenakan Kevin tidak pergi bekerja malah mengganggu tidurnya.


"Gue udah keluar," kata Kevin santai.


Khaira terkejut, "Hah kenapa kok bisa?"


"Ya males aja gue kerja di dis-" Kevin menghentikan kalimatnya yang sudah di ujung lidah mengatakan kata 'diskotek.


Khaira merasa heran dan semakin penasaran, apa pekerjaan Kevin. Ia ingin tahu tanpa bertanya.


"Kenapa lo jadi mau tau sama urusan gue?" sergah Kevin pada akhirnya melihat Khaira yang sepertinya sangat penasaran.


Khaira memundurkan tubuhnya, ia kembali duduk tegak, "Iya, aku cuma nggak mau aja Mas Kevin ganggu aku kayak semalam, gara-gara Mas Kevin kepalaku jadi nyut-nyutan nih karena nggak bisa tidur nyenyak,"


"Dih apaan lo nyalahin gue, orang lo semaleman nangis sesenggukan," kata Kevin, mengalihkan sebab musabab Khaira tidak bisa tidur semalaman, bukan karena ia mengetuk pintu. Karena Kevin sempat melihat jam dinding pukul 22:00 wib, ia tak lagi mengganggu Khaira.


Khaira terdiam bersitatap dengan sorot mata Kevin.


"Mimpi apa kamu semalam? Sampai kamu nangis kayak di gebukin?" tanya Kevin lagi, ia penasaran dan diingatnya lagi kejadian semalam pukul 02:23 wib.


__ADS_1



Bersambung


__ADS_2