Terpaksa Menikah Karena Jebakan

Terpaksa Menikah Karena Jebakan
Sirup merah


__ADS_3

Tiga hari berlalu...


Hotel megah di salah satu kota metropolitan ini. Adalah hotel yang dijadikan tempat gelarnya acara resepsi pernikahan Clara dan Anto.


Tentu saja Erik Laksamana selaku ayah dari Clara yang mempunyai bisnis mentereng dan banyak sekali orang-orang penting yang hadir. Pria paruh baya ini, tidak ingin kalah pamor dengan menunjukkan pernikahan megah untuk putri satu-satunya.


Margaretha, Ibu dari Clara juga turut hadir. Wanita karir yang setiap harinya selalu disibukkan dengan pekerjaannya menyempatkan diri untuk melihat putri satu-satunya menikah. Meskipun agak kecewa karena bukan pria kaya raya yang menjadi menantunya, namun apalah daya. Kala putrinya telah hamil duluan.


Margaretha maupun Erik juga sepakat menutupi aib ini rapat-rapat. Keduanya tidak mau dengan adanya Clara yang hamil duluan, mencoreng nama baik Margaretha maupun Erik di kancah deretan pengusaha termasyur dan perancang busana yang terkenal di internasional.


Di atas pelaminan, meskipun berat hati. Clara menyalami tangan para hadirin yang hadir. Di sebelahnya juga ada Anto. Jika di perhatikan, Anto cukup gagah dengan memakai jas hitam. Yah, meskipun kulit Anto lebih ke sawo matang.


Clara menyadari dirinya telah terpesona oleh pria yang telah mengikrarkan janji pernikahan dua jam lalu.


Sedangkan Anto tersenyum simpul menjabat tangan para tamu undangan yang memberikannya selamat. Sebenarnya dalam hati, Anto merasa risih dan tidak nyaman, dikarenakan telah menghamili anak seorang pengusaha kaya raya sekelas Erik Laksamana, apa jadinya nanti, jika ia tidak bisa mencukupi kebutuhan Clara.


Aish, nasi memang sudah menjadi bubur. Mau tidak mau, Anto harus memakannya, dan harus bertekad untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya yang telah berani menghamili Clara yang kini sudah menjadi istrinya.


Dari kejauhan para tamu undangan yang hadir, Netra Clara melihat seorang pria yang masih dicintainya sampai detik ini, perlahan senyumnya melebar. Terpesona dengan ketampanan Kevin, pria itu selalu bisa meluluh lantakkan hatinya. "Kevin..." keluhnya dalam hati.


Namun senyuman di wajah Clara luntur, saat netranya beralih melihat seorang wanita berhijab yang menggandeng tangan Kevin.


Clara berdecih sinis. "Wanita kampungan, untuk apa dia datang ke sini. Benar-benar nggak level!"


Anto menyadari tatapan Clara sedang menatap Kevin dan juga wanita yang datang bersama dengan pria yang dicintai oleh istrinya. Anto segera tanggap, ia menyelipkan jemarinya di tangan Clara yang terkepal.


Clara refleks melihat Anto yang sedang tersenyum menatapnya. Ia geram ingin menarik tangannya dari genggaman tangan Anto, namun Anto justru semakin menggenggamnya semakin erat, hingga membuatnya tidak bisa berkutik.


"Vin, langsung aja yuk ngasih selamat, habis itu makan." celetuk Mita, sebenarnya ia enggan untuk hadir di acara pernikahan Clara yang notabene adalah wanita yang tidak ia kenal. Namun, karena di paksa oleh duda ini, ia akhirnya pasrah dan menurut saja.


"Makanan terus yang ada dipikiran mu?" balas Rezki.


Mita menggendikkan pundaknya. "Lha memang gue mau dateng ke sini buat nemenin bos ya karena ada makanan enak. Secara hotel ini kan berkelas, pasti makanan yang disajikan enak-enak. Iya kan Ra?"


Khaira tersenyum kecil.


"Aku setuju," sahur Khaira, lantas menatap wajah menawan suaminya. "dah sana, kasih selamat."


"Dih ogah!" sahut Kevin enggan, ia juga salah satu korban akibat pemaksaan Rezki.


Rezki merangkul pundak Kevin. "Udah ayok, sama-sama. Kagak baik menyimpan dendam, lagian kan karena si Clara juga lo sama Khaira akhirnya bertemu, kalau soal kalian cocok dan jodoh beneran kan itu bonus."


Kevin melepaskan rangkulan Rezki, melihat wajah jenaka Rezki yang menaik-turunkan alis membuatnya begah.

__ADS_1


Ucapan Rezki disetujui oleh Mita. "Nah bener tuh, kan kalian ketemu karena memang Clara, coba aja kalau Khaira nggak lupa kunci pintu, dan kalau lo, Vin. Nggak salah masuk kamar, kan mungkin ceritanya lain?"


Khaira mencermati ucapan Rezki maupun Mita, ia lantas mengalungkan tangannya ke lengan Kevin yang tertutupi jas hitam.


Melihat betapa pesonanya Khaira yang saat ini memakai hijab pink kalem dengan dipadukan gaun putih, membuat Kevin akhirnya menyetujui usulan untuk memberi selamat kepada Clara dan Anto.


"Oke." sahut Kevin.


Mita dan Rezki berjalan mendahului, disusul oleh Khaira dan Kevin. Keempatnya menaiki tangga menuju pelaminan tempat dimana Clara dan Anto menjadi raja dan ratu sehari.


Sebelum menyalami kedua mempelai pengantin, Rezki dan Mita mengalami tangan Erik dan Margaretha, di susul oleh Kevin dan Khaira.


Erik menyalami tangan Kevin, pemuda yang digadang-gadang bakal jadi calon menantunya, namun harapannya pupus. Pria paruh baya yang memakai setelan jas, kemudian memeluk Kevin serta menepuk punggung pemuda yang sedang dipeluknya. Perlahan Erik mengurai pelukannya.


"Selamat Om, Tante." hanya itu kata yang dapat di ucapkan oleh Kevin pada Erik dan Margaretha.


"Terimakasih Vin." jawab Margaretha.


Erik mengangguk kecil, tatapannya nanar menatap Kevin. "Terimakasih Vin." Erik melihat wanita yang berada di belakang Kevin. "Maafkan Om, semoga kalian selalu bahagia." ucapnya pada Khaira dan beralih melihat Kevin.


Khaira maupun Kevin mengangguk kecil, serta mengaminkan doa Erik. "Amin."


Kevin merasakan haru dihatinya. Setelah bersalaman dengan Erik, ia lalu menuju Clara dan Anto.


Clara nanar menatap Kevin, ia ingin memeluk pria yang telah membuat hatinya merasakan kasmaran dan jatuh cinta. Tak mampu ia berkata, Clara hanya diam, menahan gejolak hatinya.


Setelah menjabat tangan Kevin, serta Kevin juga sedang memberi selamat kepada Anto. Kini Khaira yang mengulurkan tangannya di hadapan Clara, namun Clara tidak mau menjabat tangan Khaira, bahkan Clara tidak mau melihat wanita yang sudah dianggapnya merebut Kevin.


Kevin menoleh kearah Khaira dan geram atas sikap Clara, ia menautkan jeraminya ke jemari tangan Khaira yang masih terulur dihadapan Clara. Sontak saja Khaira menatapnya.


Kevin membawa Khaira untuk turun dari pelaminan. Lalu membaur diantara para tamu undangan yang hadir.


"Mita sama Bos Rezki kemana?" Khaira celingukan mencari kedua orang yang datang bersamanya.


"Entah, mungkin sedang menikmati jamuan." jawab Kevin.


Khaira manggut-manggut, mengedarkan pandangannya menatap tamu undangan yang hadir. Terkesan berkelas dan mewah.


"Kamu tunggu di sini, aku mau ke toilet sebentar, apa kamu mau ikut ke toilet juga?" kata Kevin, ia merasa tidak rela meninggalkan Khaira sendirian, namun rasanya di bawah sana ingin segera dikeluarkan.


Khaira menggeleng, "Aku nggak kebelet Mas, udah mas Kevin ke toilet aja."


"Tapi kamu jangan kemana-mana, oke? Kalau ada orang yang ingin mengajakmu berkenalan kamu jangan mau!" Kevin berkata penuh peringatan.

__ADS_1


Khaira mengangguk kecil membersamai dengan tersenyum lebar. "Siap."


Kevin bergegas berjalan melewati para tamu undangan yang hadir, lalu menuju ke toilet.


Khaira nampak sangat mengamati sekeliling tamu, menurutnya. Acara pernikahan di kota dan di desa sangat berbeda. Kalau di desa setiap orang yang mempunyai hajat jika mempunyai uang lebih, pasti akan menampilkan orkes dangdut, atau wayang, atau bisa jadi Gareng dipanggung pengantin.


Saat Khaira sedang memperhatikan tamu undangan yang hadir. Seorang pramusaji wanita menawarkan minuman berwarna merah padanya.


"Silahkan ambil minumannya Nona?" kata pramusaji kepada wanita hijab pink muda.


Khaira melihat pramusaji wanita yang menawarkan minuman, ia menggeleng dan menjawabnya. "Tidak, terimakasih Mbak."


Sang pramusaji wanita tersenyum ramah. "Ini hanya sirup merah Nona, minumlah sebelum menikmati hidangan yang tersaji, lihatlah semua orang juga menikmatinya." tatapannya mengedar pada tamu undangan.


Khaira melihat para tamu undangan juga memegang gelas berisi minuman berwarna merah. Untuk menghargai, Khaira akhirnya mengambil gelas yang ada di atas nampan. "Terimakasih."


Pramusaji wanita tersenyum, dan berlalu dari wanita berhijab. Ia lalu memberikan kode kepada mempelai pengantin wanita dengan mengedipkan mata membersamai dengan anggukan kecil.


Sebelum meminum minuman di gelas yang ia ambil dari nampan pramusaji. Khaira mengendus baunya, dan tidak ada yang mencurigakan. Bahkan bau dari minuman yang dikatakan sirup merah sangat enak.


Khaira meminumnya, sama seperti para tamu undangan yang hadir. Lidahnya mengecap sirup merah yang dirasa manis dan enak. Karena tenggorokannya dilanda kehausan, Khaira meminumnya sampai tandas. Tapi, baru satu menit meminumnya.


Kepalanya sangat berat. Khaira merasa lunglai, tubuhnya juga sangat panas. Ketika kakinya tidak bisa lagi menopang tubuhnya, seorang pria berperut buncit menghampirinya.


"Nona kenapa? Mari Nona, biar saja bantu." kata seorang pria sebut saja Hengki.


Khaira menggeleng seraya memegangi kepalanya. "Nggak perlu, saya bisa sendiri."


Khaira berjalan menjauhi para tamu undangan, semenit kemudian ia terjatuh di lantai dan tidak tahu apa yang terjadi.


Hengki tersenyum penuh kemenangan. Ia melihat Clara di atas pelaminan dan mengangguk kecil.


Dari atas pelaminan, Clara tersenyum senang. Rencananya berjalan mulus.


Sebelumnya Clara, telah menyiapkan rencana untuk kembali menjebak Khaira. Dengan bekerjasama dengan seorang pramusaji dan seorang pria hidung belang bernama Hengki. Dan, kini Clara melihat Hengki sedang membopong Khaira untuk pergi ke salah satu kamar hotel.


Anto tersenyum melihat Clara tersenyum, ia berpikir Clara sekarang ini sangat cantik dan nampak bahagia. Anto menggenggam tangan istrinya.




Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2