
Khaira tersenyum tipis, ia enggan menjawab pertanyaan Kevin. Ia tak ingin terlihat sok menggurui orang yang lebih tua, pada dasarnya semua orang punya pendapatnya masing-masing dari segi pandang berspekulasi tentang orang lain.
Ditatapnya wajah lebam ruam kemerahan, lebih tepatnya di bagian pipi bawah di ujung bibir kanan. Khaira tak tega melihat wajah Kevin seperti itu, karena ia diajarkan oleh orang tua tunggalnya untuk mengasihi orang lain, sekalipun orang yang dikasihi nantinya akan menggoreskan luka. Itulah sebabnya, Abah selalu menuturkan pada Khaira agar tidak membenci sang Ibu.
“Dimana kotak obat?”tanya Khaira.
Kevin terhenyak atas pertanyaan Khaira. Ia tidak kecewa karena tidak mendapati Khaira menjawab pertanyaannya. Kevin beranggapan dengan adanya Khaira menanyakan kotak obat, sudah mewakili bahwa gadis dihadapannya bukanlah gadis yang buruk, atau tidak perduli terhadap penderitaan orang lain.
“Di laci bawah tv,” jawab Kevin. Ia melihat Khaira segera bergegas ke luar kamar.
Karena kepedulian orang lain seringkali dilihat dari tindakan, bukan dari ucapan.
Tak berselang lama, Khaira kembali ke kamar dengan membawa baskom kecil berisikan air dingin ditangan kanan dan kotak obat di tangan kirinya. “Nih!” ia memberikan baskom dan kotak kepada Kevin.
Kevin tercenung melihat baskom kecil berisikan air serta kotak obat yang disodorkan Khaira, “Ya ampun nggak peka amat jadi cewek!”
Khaira heran atas perkataan Kevin, “Kenapa aku harus peka? Ya ini obatin tuh lukanya biar nanti nggak bengkak!”
Kevin murung ia menunduk sambil mengusap jemarinya, “Ya bantuin obatin kek!”
“Dih manjanya!” sergah Khaira.
“Beberapa tahun belakangan ini, gue cuma tinggal sendirian. Jadi apa salahnya kalau gue sedikit manja, ditambah lagi pacar gue yang kagak peka.” Kevin masih menunduk, ia mengusap pipinya yang mulai membengkak.
Melihat Kevin seperti anak kecil yang sedang merajuk mengingatkan Khaira pada masa kecilnya, saat ia bermain lari-lari dan terjatuh di kerikil jalanan membuat tangannya terluka. Kelopak matanya serasa memanas mengingat momen dimana ia hidup tanpa kasih sayang dari seorang Ibu, ia masih beruntung mempunyai seorang Abah yang sangat menyayanginya.
Khaira menadahkan wajahnya menatap langit-langit kamar, tak ingin kesedihannya di tatap oleh orang lain.
Kevin menadahkan wajahnya menatap Khaira yang sedang menatap langit-langit kamar, “Gara-gara lo kan gue jadi seolah-olah curhat!” dijulurkan tangannya guna meminta baskom yang masih dipegang Khaira. “Sini dah baskom sama kotak obatnya, kalau lo kagak mau bantuin gue.”
Khaira kembali menundukkan pandangan, ia melihat wajah Kevin yang sendu, serta dilihatnya tangan Kevin yang terulur. Menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia pun duduk di samping Kevin, tentunya masih ada jarak diantaranya dan Kevin. “Ngadep sini!” ujarnya agar Kevin mengalihkan posisi duduknya.
Seketika itu Kevin mengalihkan posisi duduknya, kini ia menghadap Khaira dan tersenyum tipis.
Melihat senyuman Kevin membuat Khaira kembali canggung, “Jangan senyum!” sentaknya agar Kevin tidak memperlihatkan senyumannya yang seperti seorang penguntit.
Mendengar peringatan gadis yang masih memakai mukenah, membuat Kevin seketika berwajah datar. Ia sangat bersyukur, meskipun gadis dihadapannya bersikap dingin dan galak. Saat terburuknya seperti ini, ia tidak sendiri. Tapi Kevin merasa ada yang lain dalam dirinya, “Lah kenapa gue jadi manja begini!” selorohnya dalam hati.
Khaira memeras handuk kecil seperti sapu tangan yang ia sengaja bawa dari kampung, namun sebelum menempelkannya ke wajah Kevin, Kevin sudah lebih dulu menghentikannya.
Merasa asing dengan handuk kecil bermotif bunga mawar yang di pegang Khaira membuat Kevin mengerutkan dahinya, “Handuk siapa itu?”
Khaira melihat handuk kecil miliknya yang sedang ia pegang, “Handuk ku,” jawabnya spontan.
“Habis buat lap ingus ya?” sangka Kevin menunjuk handuk basah yang dipegang Khaira.
__ADS_1
Khaira tergelak mendengar sangkaan Kevin, ia menatap Kevin malas. Lantas mengambil tangan Kevin dan memberikan handuk kecil yang dipegangnya ke telapak tangan Kevin, “Nih obatin sendiri!”
Kevin menarik tangan Khaira, dan mengembalikan handuk kecil yang basah kepada pemiliknya,“Gue cuma becanda! Gitu aja galak bener!”
Khaira malas menanggapi perkataan Kevin yang selalu saja membuatnya bad mood! Ia langsung saja menekan-nekan wajah Kevin yang terlihat memar.
“Ish! pelan-pelan.” ucap Kevin, lalu memegang punggung tangan Khaira yang sedang mengompres lebamnya.
Khaira canggung, ia melihat tangan Kevin yang bertumpu di tangannya. “Ehem tangan!” hardik Khaira memperingati Kevin.
Kevin menyadari posisi tangannya yang memegang tangan Khaira, lantas menariknya dari sana.
Tidak ada yang membuka suara, Kevin maupun Khaira. Sama-sama bergulat pada pikirannya.
Khaira merasa gugup di pandangi Kevin, namun ia mencoba untuk terlihat tenang. Agar tak berkesan seolah-olah ia sedang gelisah ditatap intens oleh Kevin.
Sementara itu Kevin merasa gadis dihadapannya cukup hangat, cukup membuat nyaman, dan tak ketinggalan masih tetap galak, namun cukup membuatnya merasa lebih baik dari kehancuran hatinya saat ini.
Khaira berdehem guna mengusir kecanggungannya, “Ehem..” ia membuang tatapannya, masih dengan tangan yang menekan-nekan handuk kecil ke wajah Kevin yang memar.
Begitu pun dengan Kevin, ia cukup canggung dalam keadaan seperti ini. Meskipun terbiasa bertemu dengan banyak wanita-wanita yang melebihi cantiknya dari Khaira, namun ditatap Khaira seolah membuatnya nervous.
“Emmm.. Mas Kevin belum menjelaskan kenapa Mas Kevin bilang pacarnya kamu bosan?” Khaira bertanya untuk menetralisir kegelisahan dihatinya.
Kevin menunduk, tarikan nafasnya seolah menggambarkan ia tidak baik-baik saja. Namun ia tidak ingin terlihat cengeng, ia kembali bersitatap dengan Khaira dan tersenyum hambar. “Biar gue perjelas, gue putus sama pacar gue, puas!”
Kevin terus memperhatikan Khaira yang menunduk yang sedang mengompres lukanya, “Ya bisa, karena memang udah nggak cinta!”
Khaira lagi-lagi manggut-manggut, “Berapa lama Mas Kevin pacaran sama pacar Mas Kevin?”
“Dua tahun,” jawab Kevin singkat, jelas, padat.
Khaira lagi dan lagi manggut-manggut, “Lama juga ya, dua tahun,” ia sekilas menatap Kevin dan kembali menunduk menekankan handuk kecil di punggung tangan Kevin.
“Ya begitulah!” balas Kevin, mengenai kandas hubungan asmaranya.
“Cinta bukan hanya sekedar berapa lamanya mereka menjadi pasangan, tapi seberapa kuat mereka bertahan untuk bersama melewati cobaan.” ucap Khaira ia menaruh handuk kecil di baskom kecil yang berisikan air es.
Kevin merasa apa yang dikatakan Khaira adalah kebenaran. Tanpa bisa berkata-kata Kevin menyandarkan kepalanya di pundak Khaira.
Khaira terhenyak atas apa yang dilakukan Kevin. Namun tiba-tiba ucapan Kevin membuat Khaira mengurungkan niatnya untuk menjauhi Kevin.
“Hanya sebentar, tolong!” ucap Kevin lirih, seperti memohon.
Khaira diam mematungkan diri, pundaknya serasa sedikit berat menyangga kepala Kevin yang bersandar. Melihat seorang pria seperti ini, membuat Khaira beranggapan bahwasanya pria juga butuh sandaran.
__ADS_1
Para pria bisa saja menyembunyikan rasa sedihnya, kecewanya, terlukanya, bahkan air matanya. Namun sama halnya seperti wanita, pria juga punya sisi hati yang rapuh, yang ingin di mengerti, yang ingin di perhatikan, yang ingin meneteskan air mata tanpa dianggap lemah.
Itulah mengapa Khaira sangatlah menyayangi orang tua tunggalnya yang telah sekian lama hidup dalam kehampaan setelah kepergian Ibunya.
“Dalam suka aku percaya, kita akan bisa menemani. Dalam duka aku bertanya bagaimana kita bisa bertahan, dalam hati kita bicara bagaimana saling menguatkan atas cobaan, menceritakan kisah yang kita punya agar orang yang mendengarnya nggak mengaggap kita sedang mengeluh dan beranggapan kita lemah?” ucap Khaira menerawangkan pandangannya menatap lukisan bunga tulip di dinding kamar almarhumah Mama Kevin yang belum ia ketahui bernama siapa.
Kevin merasa tersentuh mendengar ucapan Khaira, ia menarik dirinya melihat wajah gadis dihadapannya. Kelopak matanya serasa ada yang membakar, begitu panas dari dalam matanya seakan bendungan air yang menusuk-nusuk akan tumpah ruah.
Namun Kevin tak menghendaki satu tetes air matanya dilihat oleh orang lain. Ia mengangkat tangan kanannya lantas mengusap pipi Khaira lembut.
Khaira bersitatap dengan netra Kevin yang teduh, ada kesedihan di sana. Di sorot mata tajam Kevin.
Bunyi dering ponsel membuyarkan keduanya. Kevin menoleh kebelakang, ia melihat ponsel yang berdering membersamai dengan layarnya yang menyala, tanda panggilan masuk. Terpampang nama si pemanggil (Asep)
Tak berkata apa-apa, Kevin langsung beranjak dari duduknya lalu keluar kamar yang ditempati Khaira.
Khaira melihat kepergian Kevin, wajahnya serasa menghangat. “Kenapa dia pergi, kan lukanya belum dikasih salep,”
Ia memegang pipinya yang sekian detik lalu di usap oleh Kevin. “Abah, pernikahan Ning hanya sesaat. Jadi Abah nggak perlu khawatir, Ning akan menjaga diri Ning baik-baik. Dan semoga Abah juga selalu sehat dan baik juga.”
Dilihatnya ponsel yang masih berdering. Cepat-cepat ia mengangkat panggilan non aplikasi dari Asep.
“Halo,” ucap Khaira setelah panggilan tersambung. “Untuk apa kamu telepon di jam subuh?” sambungnya lagi, langsung to the point.
📱“Pengen denger suara kamu bangun tidur,” jawab Asep sebrang telepon seluler.
Khaira terkekeh geli mendengar gurauan Asep, “Ahayy... telingaku berasa geli denger kamu ngomong gitu Sep, hahaha,”
Tawa Khaira yang pecah disambut juga akan gelak tawa Asep.
Panggilan terhubung selama hampir setengah jam, bagi Khaira sangatlah menyenangkan bisa mendiskusikan tentang apapun dengan Asep.
~
Begitu juga sebaliknya dengan Asep. Ia sangat senang dan bersemangat setelah mendengar percakapannya dengan Khaira.
~
Di luar kamar yang ditempati Khaira, Kevin berdiri di samping pintu kamar yang masih terbuka lebar, ia menyandarkan kepalanya di dinding, seraya menadahkan wajahnya menatap langit-langit ruangan tengah. Mendengar gelak tawa Khaira yang renyah, seolah menular padanya. Kevin tersenyum tipis.
“Siapa Asep?” gumamnya lirih, “apa yang orang itu katakan, mengapa Khaira sangat senang, apa Asep adalah pria yang dicintai Khaira?” ia menggidik pundaknya. Lantas berjalan menuju kamarnya.
__ADS_1
Bersambung...